
Papa Devan sama Mama Nayra
Kiara Adiba Ayasi
Kenan Abizar Ayasi
................
Pagi hari di keluarga Devandra Ayasi terlihat begitu tenang. Tak begitu ramai seperti biasa nya. Mengingat hari ini adalah weekend dan sekolah libur, Kenan dan Kiara melanjutkan kembali masuk ke dunia mimpi mereka setelah sholat subuh. Begitupun Nayra. Dia juga melanjutkan acara tidurnya setelah sholat subuh tadi.
Devan sendiri, dia setelah subuh langsung menuju ruang gym nya untuk membakar kalorinya. Karena semalam dia menghabiskan sendiri tiga bungkus nasi padang. Dan juga menghabiskan sisa nasi padang yang di makan Nayra. Atau lebih tepatnya mengganggu Nayra yang sedang makan.
Flashback On
"Sudah stop!" Nayra merebut nasi padang yang akan Devan buka untuk dimakannya lagi.
"Ini sudah malam dan kamu sudah menghabiskan lebih dari tiga bungkus nasi padang, Dev.!!"
"Dan itu gak baik Devandra Ayasi buat kesehatan kamu nantinya." Nayra geram akan sikap Devan. Yang hamil siapa yang makannya banyak siapa. Ini tu bukan ngidam, melainkan rakus. Pikir Nayra.
"Tapi aku masih kurang sayang." Devan menampakkan wajah memelas. Memohon supaya diijinkan makan sekali lagi. Devan sendiri juga heran kenapa dia makan begitu banyak tapi tak kunjung kenyang.
"Gak..!" tolak Nayra tegas dan meminta Miss Kimy untuk membagikan sisa nasi padang yang belum dibuka pada pekerja yang lainnya.
"Sayang, Kok dikasih ke Kimy semua sih." Devan terlihat marah saat nasi padang yang dibelinya tadi di bawa Miss Kimy. Ralat, yang dibeli Romi maksudnya hilang dibawa Miss Kimy ke belakang untuk dibagikan ke pekerja yang lain.
"Kamu mau tidur diluar." ancam Nayra membuat Devan langsung diam. Pasalnya setiap malam semenjak Kenan dan Kiara mau tidur di kamar mereka sendiri Devan dan Nayra selalu bermain dengan anatomi tubuh mereka dengan leluasa tanpa adanya gangguan. Kalau nanti harus tidur diluar dia tidak bisa bermain dong sama anatomi tubuh istrinya itu yang begitu menggoda iman itu.
"Papa.." Devan menatap putrinya yang memanggilnya.
"Papa gak takut gemuk ya?"
"Memang Papa gak takut kalau Mama nanti di ambil Paman Ilyas?" Kiara mengompori Papa Devan membuat Devan menatap tajam Nayra.
"Iya benar. Kemarin Paman Ilyas juga menanyakan kabarnya Mama loh, Pah." timpal Kenan membuat darah Devan semakin mendidih terbakar api cemburu.
Nayra cuma diam saja tak merespon perkataan si kembar. Berbeda dengan Devan yang sudah menatap tajam pada Istrinya itu yang diam saja.
"Kamu masih suka sama Ilyas, Ra?" tanya Devan langsung tanpa basa basi dan terdengar serius.
"Kalau iya kenapa?" Nayra justru balik tanya ke Devan dan membalas tatapan suaminya itu.
__ADS_1
"Kamu berani memisahkan anak-anak dengan orang tuanya?" Nayra menatap si kembar yang justru malah lari ke kamar mereka.
"Kenapa memangnya?" tantang Nayra mengangkat dagunya lebih tinggi.
"Kau akan tahu akibatnya."
Akkhhhh...
Teriak Nayra saat Devan tiba-tiba menggendongnya dan membawanya masuk kamar.
"Aku akan menghukum mu."
"Devan....??!!!!!! Kamu harus puasa dulu....!!!!!!!"
Flashback Off
Devan tersenyum mengingat semalam. Dia sekarang merasa begitu posesif pada Nayra. Jauh lebih posesif meski tak begitu dia tunjukkan.
Apalagi sekarang Nayra hamil. Devan bertekad akan melakukan apapun buat Nayra juga calon anaknya yang masih di perut Nayra dan juga si kembar yang sudah mulai besar.
Devan merasa bersalah dulu waktu Nayra hamil si kembar. Dia dulu begitu cuek bahkan tak peduli untuk memperhatikan setiap perkembangan yang Nayra rasakan saat hamil.
Dia hanya memantaunya lewat Romi juga Bibi Ais. Itupun gak semua informasi dia dapatkan. Dia hanya tahu garis besarnya saja.
Sekarang dia bertekad untuk selalu ada di samping Nayra selama istri cantiknya itu hamil. Dia tak ingin melewatkan perkembangan janin di dalam perut istrinya.
"Sayang bangun.." Devan menciumi punggung Nayra supaya segera bangun.
"Mama sama Papa ada di bawah. Mereka mau mengantar kamu periksa kandungan hari ini." Devan kembali menciumi punggung Nayra dengan gemas karena tak kunjung bangun juga.
"Iya.." tapi Nayra tetap saja memejamkan matanya meski kadang dia tersenyum karena merasa geli.
"Ayuk bangun, sayang ku. Rara Arasyid." Devan masih menciumi punggung Nayra dengan sedikit menggodanya dan memberi tanda merah di punggung istrinya.
"Ihhh.." Nayra merasa risih dan berbalik menghadap Devan dan menatap suaminya yang sudah terlihat segar dan tampan itu. Bajunya juga sudah rapi. Sepertinya sudah mandi, karena dia bisa mencium aroma parfum yang biasa suaminya itu pakai dan Nayra suka wangi itu.
"Pelukk..." ucapnya manja minta dipeluk Devan.
Tanpa banyak kata Devan langsung memeluk istrinya itu dengan sayang.
"Sekarang jam berapa?" Nayra masih memejamkan matanya sambil menghirup aroma pafrum suaminya.
"Hampir jam delapan."
"Ayo bangun, terus mandi habis itu makan."
__ADS_1
"Kita kemarin sudah janjian sama dokternya jam sembilan loh, sayang." Devan mengingatkan Nayra untuk segera bangun.
Nayra menghembuskan nafas pelan. Dia melepas pelukannya pada Devan.
"Si kembar sudah bangun?" Devan mengangguk.
"Mereka sudah main sama Kakek Neneknya." jawab Devan.
"Baiklah aku mandi dulu."
"Aku tunggu di bawah."
...............
Kini mereka semua sudah sampai di Rumah Sakit untuk memeriksakan kembali kebenaran kehamilan Nayra. Ya walau harus telah hampir setengah jam karena sang Ibu Bos tadi susah untuk dibangunkan.
Nayra merasa sangat malu, bagaimana tidak. Dia diantar suaminya, Devan, Kiara dan Kenan juga mertuanya, Mama Arumi dan Papa Damar tak lupa Romi juga ikut.
"Kita gak lagi sedang melabrak orang kan, sayang?" bisik Nayra pada Devan.
Devan menyerit tak paham, dia kemudian melirik ke belakang kemudian tersenyum tipis.
"Anggap saja kita mau demo." jawab Devan dengan kekehan kecil dan dihadiahi cubitan sama Nayra.
"Maaf dok. Kami telat, tak sesuai janji yang telah kami buat." sesal Devan pada dokter Lira, dokter kandungan yang di rekomendasikan oleh Mario.
"Tidak apa-apa Pak Devan. Kebetulan saya juga senggang jadwalnya." balas dokter Lira
"Bagamana Ibu Nayra? Ada keluhan." tanya Dokter Lira pada Nayra.
"Cuma pusing aja sih dok, sama badan terasa lemas."
"Gak ada mual atau muntah?"
"Sejauh ini sih gak ada, cuma suami saya yang merasakan mual dan muntah."
"Baiklah..Mari saya cek kandungan Ibu."
Nayra berbaring dan dokter Lira memulai pengecekan USG.
"Adiknya mana, Pa?" tanya Kiara yang berada di gendongan Papa Devan memperhatikan layar monitor tapi gak menampakkan gambar apa-apa.
"Tunggu dulu penjelasan dari dokternya." Devan sendiri juga tidak tahu. Karena ini baru kedua kalinya mengantarkan Nayra periksa kandungan. Pertama waktu masih di Turki beberapa tahun silam dan Kedua yang sekarang ini.
Ya Allah, Devan. Begitu kejamnya dikau yang dulu. Seharusnya Nayra itu membencimu bukan malah mencintaimu. Dulu dia hamil tak kau perhatikan justru kau sakiti. Sekarang kau harus mengganti waktumu untuk selalu berada disisi Nayra saat dia hamil.
Aduh...Cinta itu memang unik. Gak bisa dijelaskan sama kata-kata dan tak ada alasannya. Nyaman bukan berarti cinta. Dan cinta juga bukan berarti nyaman.
__ADS_1
Tapi kalau kita rela berkorban dan berjuang demi dia yang kita sayang. Itu yang namanya cinta.
Seperti cintanya Ali yang rela menggantikan posisinya Rasulullah SAW. Padahal dia tahu kalau dia nantinya bakal terbunuh.