
Tak...
Seketika itu juga gerakan tangan deniz terhenti begitu ucapan pengakuan perasaan ayla meluncur manis dari mulut ayla khusus untuk suaminya tersebut.
Ayla menyungging senyum samping, merasa kalau dirinya sudah berhasil meluluhkan amarah deniz padanya.
'lihat? ...dia begitu mencintaiku, hanya tiga kata? tubuhnya langsung beku tapi...kenapa aku masih ragu ya? '.
Tubuh deniz membeku seketika dengan darah di dalam tubuhnya bergejolak mendidih sehingga membuat urat urat di seluruh tubuhnya bergetar hebat ingin segera di puaskan dengan ucapan cinta ayla selanjutnya dan selanjutnya, jantungnya sudah berdegup tidak menentu di dalam sana seperti ingin melompat keluar dan mencari si penyebabnya. rasanya ia mau membalik badan, menyentak ayla segera ke dalam pelukannya, memeluknya erat, seakan tidak ada hari esok lagi. lalu ia akan berkata.
'cintaku melebihi darimu beyza? lebih dari yang kamu bayangkan, LOVE YOU TO...Forever, MY LOVE! '.
Tak... tak... tak...
Wajah deniz yang kembali dingin dan datar setelah tadi melembut dan ingin menerjang ayla ke dalam pelukannya namun ia tepis rasa itu saat teringat ucapan ayla di kamar mandi. ia kembali melanjutkan pekerjaannya merajang sayur di depannya karna ia sedang membuat salad, hal yang sangat di sukai ayla ketika habis menyantap makanannya.
Melihat reaksi deniz yang kembali mengacuhkannya dan tidak peduli dengan kata kata manisnya tadi membuat kedua alis ayla menyatu.
"deniz? kamu serius...?...mau melanjutkan ini? ".
"...". deniz memilih mengaduk masakannya di atas kompor daripada melayani wanita di belakang nya.
'hanya enam kata yang mau aku dengar sekarang beyza? 'aku tidak akan pernah meninggalkanmu...deniz'.
Ayla menggeram jengkel. berkacak pinggang menatap punggung deniz di depannya, yang sepertinya sama sekali tidak berniat mau membalik dan melihatnya.
"okay? baiklah, jika kamu mau melanjut kan ini? maka lanjutkanlah, kemarahanmu itu". ancam ayla membalik badan melangkah ke kamar yang dia keluar tadi.
"aku akan menghubungi can dan pergi dari sini! dan kamu? lanjutkan saja marahmu itu sendiri". tambah ayla lagi sambil melangkah.
Ucapan ayla sontak saja membuat deniz berhenti dengan kedua manikmatanya membulat dan ada rasa takut di sana.
"dia pikir apa aku sangat suka merayu orang marah tidak jelas? bahkan dia tidak mendengar kejelasan ucapanku, asal keluar saja seenak jidatnya, lihat saja aku akan kembali ke negaraku dan tidak akan pernah mau menyusulnya lagi kapanpun itu". umpat ayla kesal di tengah langkahnya ke kamar.
Langkah ayla berhenti saat dia melihat ke sofa di mana handphonenya ada di sana. ia lupa tadi. saat baru sampai di sini ia menyuruh can menyimpan hpnya karna tidak mau menjawab panggilan panggilan yang ia yakin kakeknya serta daddy dan mommynya akan segera menghubunginya begitu mendengar kalau salah satu jet ia pakai tiba tiba.
Melangkah ke sana untuk meraih benda tipis tersebut. ayla di kejutkan dengan kehadiran seseorang di belakang tubuhnya lalu setelahnya....
"kyaaa...deniz...? ah...". jerit ayla terkejut +panik saat deniz tiba tiba ada di belakang tubuh ayla, membaliknya lalu dalam sedetik deniz menggangkat tubuh ayla, menduduki bokong ayla di atas sandaran sofa dengan deniz berdiri memeluk pinggang ayla, sedangkan kedua kaki ayla melingkar indah di tubuh deniz. deniz sedikit mendongak menatap wajah ayla.
__ADS_1
Muka ayla memerah seketika melihat posenya dan deniz. begitu dekat. ia bahkan bisa mendengar suara jantungnya yang berdegup di dalam sana.
"de-de-deniz...?". ujar ayla gugup menatap wajah deniz yang begitu dekat meski tidak sejengkal tapi tetap saja. ini tidak baik untuk jantungnya dan juga, ia pernah membaca novel di mana di sana pemeran utama cowok dan cewek membuat adegan begini dan sekarang? dirinya di sini.
Dengan wajah datar dan dinginnya deniz memerhatikannya wajah ayla. wajah yang akan selalu ia rindukan meski akan selalu ada di sampingnya.
"apa yang kamu mau beyza? ".
Suara pertanyaan deniz yang dingin membuat tubuh ayla sadar dengan apa yang sebenarnya terjadi antara ia dan pria di depannya ini.
Ayla memilih diam sebentar sebelum menjawab sambil memerhatikan wajah deniz yang tampan rupawan. apalagi manik mata pria ini. manik mata ayla jatuh ke dalam manik mata deniz memerhatikannya dengan puas.
Ayla tersenyum tipis lalu mengangkat kedua tangannya menangkup wajah deniz di depannya.
"beyza?... kamu belum menjawabku". tatapan mata deniz masih saja dingin dengan ekpresi wajahnya yang masih datar.
"apa mau ku? ". tanya ayla balik ke deniz.
Deniz tidak menjawab, hanya kedua matanya yang mengedip, yang artinya iya bagi ayla.
"kiss me!".
"beyza?!". panggil deniz memperingatkan karna dia sedang tidak dalam mood bercanda.
"kiss-me! ". ujar ayla lagi dan tidak ada bantahan.
Deniz menatap ayla beberapa detik sebelum dia menarik nafas dan mengalihkan matanya menatap bibir ayla. bibir yang akan selalu menjadi candu untuknya tapi tidak sekarang. bukan waktu yang tepat.
Cup...
Deniz mengecup lama bibir ayla tanpa melumat lalu melepaskannya.
Ayla tersenyum senang dan bahagia layaknya anak kecil yang baru mendapatkan eskrim kesukaan nya.
"sudah?! ". tanya deniz menatap wajah ayla yang bahagia dan ia pun ikut bahagia namun di sini, ia sedang marah.
Ayla tersenyum sumrigah lalu dia merangkul pundak deniz. menurunkan wajahnya mendekat ke wajah deniz dan bibirnya tepat berada di depan bibir deniz.
__ADS_1
Deniz masih berdiri seperti tadi sama sekali tidak merespon dengan gerakan ayla bahkan dia bisa merasakan deru nafas ayla yang begitu dekat.
Cup...
Kecup ayla di bibir deniz sambil memejamkan matanya lalu ayla melumatnya, hanya sebentar sebelum melihat deniz tidak meresponnya.
"tidak membalas deniz? ". ayla berbicara didepan sudut bibir deniz.
"kamu harus menjawabku dulu beyza? ".
"dan ketika itu sudah terjadi, aku yang tidak akan membalasmu lagi".
"dan sekarang aku tidak akan merespon, lakukanlah dan kamu akan melihat".
"kamu serius? ". ayla mengernyit menatap deniz. dan ia kesal.
Deniz menarik nafas sambil menatap ayla. satu tangannya terangkat meraih rambut ayla meletakkan ke belakang telinga ayla.
"aku tidak mau jauh darimu beyza? apalagi kamu meninggalkanku, itu suatu hal yang tidak pernah aku ingini sayang? aku takut beyza?... takut kamu akan meninggalkanku". mata deniz terlihat berkaca kaca, menatap memerhatikan wajah ayla.
Ayla menarik nafas. ia membelai wajah deniz dengan lembut lalu tersenyum manis.
"kamu terkenal dengan sebutan dr. jenius! tapi kenapa kamu bisa bodoh begini ya? ".
Deniz terkekeh.
"jika denganmu maka aku akan selalu bodoh".
Ayla menjepit hidung deniz lalu menggoyang goyangnya sehingga membuat kepala deniz ikut menggeleng. ayla tertawa dengan kerjaannya sendiri.
"bodoh! mana mungkin aku meninggalkanmu hm? jika aku berniat mau meninggalkanmu maka aku tidak akan ke sini dan yang lebih penting? jika aku mau menuruti keinginan kakek tentu saja aku tidak akan bilang padamu apa yang kakek minta padaku! dasar bodoh, itu saja kamu tidak mengerti? ".
Deniz terdiam mematung dengan ucapan ayla. iya juga ya, kenapa ia tidak teringat hal itu?.
"aku ke sini dan mengatakan hal itu padamu, apa kamu berpikir sesuatu deniz? selain aku merindukanmu tentu saja".
Deniz menatap ayla dan sedetik kemudian matanya membulat.
__ADS_1