
Ayla keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melilit tubuhnya serta rambutnya yang masih basah dan sedang ia keringkan dengan satu handuk kecil.
Ting tong...ting tong
Ayla sontak melihat ke jam di atas nakas yang berada di samping ranjangnya.
Jam 11: 09
Ayla melangkah ke pintu kamar membuka lalu keluar menuju pintu depan apartemennya.
Ckleck...
Ayla membuka sedikit memastikan siapa lalu membuka lebar setelah melihat siapa yang datang dengan dirinya berdiri di belakang pintu. ia menutup pintu kembali dan berbalik.
"ah". kaget ayla saat mendapati deniz yang berdiri di belakangnya dengan menatapnya dari bawah ke atas.
'apa dia pikir aku mau menggodanya? 'Ayla menggeleng lalu melangkah melewati deniz.
"kamu sudah makan? aku mau makan jika kamu mau, aku siapkan". ucap ayla berhenti sejenak berbalik menatap deniz.
"jadi kamu mau menyuruhku untuk menunggumu? aku tidak punya waktu, pakai bajumu dan keluarlah". deniz melangkah ke sofa dengan melewati ayla.
Ayla menatap punggung deniz dengan perasaannya yang geram.
'pria ini benar benar begitu egois'
"jika kamu tidak mau menunggu maka kamu bisa pulang, itu pun jika kamu bisa! aku mau makan karna apa? karna aku lapar". Ayla melenggang masuk ke kamarnya setelah mengatakan hal tersebut.
Karna marah deniz sontak mengikuti ayla ke kamar, membuka pintu dengan marah lalu menutup dengan membanting cukup keras.
Brakhhh...
Ayla yang sudah melihat dari deniz membuka pintu hingga membantingnya sampai ia menyipitkan matanya dengan suara bantingan pintu dan ini pertama kalinya ada manusia yang membanting pintu kamarnya.
"apa kamu sudah kehilangan akal sehatmu dr deniz?! " seru ayla tidak terima pintunya di banting memang kalau rusak pria ini mau bayar?.
Deniz tidak menjawab malah melangkah ke arah ayla yang berdiri dengan tubuhnya masih terlilit handuk cuma handuk kecil yang ia bawa tadi sudah ia lempar asal ke sofa.
"tidak perlu mengganti baju kita lakukan saja karna dengan penampilan mu itu sangat terlihat kalau kamu benar benar seorang jalang yang sedang menantikan pelanggan". seru deniz sembari melangkah mendekati ayla.
Ayla sama sekali tidak mundur ia malah berdiri dengan tenang tanpa ada rasa takut dengan kedua tangannya terlipat di dadanya sedangkan kedua matanya menatap deniz tajam.
'pria ini memang harus di beri pelajaran'
Deniz seperti biasa meraih bahu ayla dengan cepat dan membalikkannya.
Ayla berbalik dengan tenang dengan nafasnya yang tenang namun tidak pada emosinya.
"aku sarankan deniz lepaskan aku sekarang juga". ujar ayla sembari terus mendengar apa yang sedang di lakukan deniz di belakangnya.
Deniz hanya menatap ayla sekilas dari belakang sembari melepaskan tali ikat pinggangnya.
"deniz aku lapar dan aku mau makan". seru ayla semakin dingin namun deniz tidak mendengar dan merasakan aura ayla.
Deniz semakin mencekram kedua pergelangan tangan ayla, yang terletak di atas kepala ayla.
"lakukan dulu tugasmu karna aku tidak punya waktu untuk menunggumu dan jangan berharap itu terjadi". desis deniz tajam.
Ayla memejamkan matanya sebentar sembari menarik nafas lalu...
Dughhhh...
"ughhh...KAU?! ". teriak deniz murka setelah meringis sakit akibat tendangan lutut yang di berikan ayla ke perutnya.
Ayla berdiri dengan tenang dan santai.
__ADS_1
"bukankah sudah ku beri saran tadi? tapi kamu tidak mau mendengar, jadi salahkan dirimu yang harus di beri pelajaran". jawab ayla dingin sembari menatap deniz dengan marah.
Deniz berdiri tegak setelah perutnya membaik dan melangkah mendekati ayla.
"dari jalang menjadi seorang preman? kamu pikir aku tidak bisa mematahkan salah satu tulangmu? beraninya kamu menendang perutku". geram deniz. dia pikir karna dia wanita aku tidak akan berani menyakitinya, lihat saja lebih dari pada pria aku akan menyakitimu.
Ayla mendengus sinis.
"kita lihat saja". ujar ayla menantang dan seketika membuat darah deniz semakin naik.
"salahkan dirimu yang meminta". ucap deniz lalu merentangkan kakinya mau menendang ayla namun dengan cepat ayla bisa menghindar dengan masuk ke bawah kaki deniz lalu ayla menendang deniz balik dari belakang dan tepat di punggung deniz.
Deniz berbalik menatap ayla yang berdiri dengan santainya setelah menendang dirinya.
"ingat ini baik baik wanita? jika aku sampai menemukanmu, aku pastikan akan mengikatmu di atas ranjangmu sendiri setelahnya kamu tahu sendiri! ". ancam deniz di sertai gertakan giginya.
Ayla sedikit tersentak takut dengan ucapan deniz. ia teringak dirinya saat malam pertamanya terjadi dan itu malam...yang sangat sangat menyakitkan bagi tubuhnya dan jiwanya. Karna ayla yang melamun membuat deniz mendapatkan ayla dengan mudah.
Deniz sontak saja mencekram kuat bahu ayla setelah ia dapat dan mencoba membalikkannya namun terhenti karna ayla yang sudah kembali ke kesadarannya.
Ayla mencekram kuat tangan deniz di bahunya lalu memelintirnya hingga membuat dirinya berada di belakang deniz dengan tangan deniz yang sudah ia cekal.
"ah...". jerit ayla saat deniz mencekram kuat tangannya dan menarik kedepan namun dengan cepat dan lihainya, ayla bisa mengelak dari cekalan deniz dengan menendang perut deniz dan ia pun mundur ke belakang dengan nafasnya naik turun. sedangkan handuk ayla masih di posisi sama dan tidak terganggu sama sekali.
Deniz memegang perutnya yang sama sekali tidak sakit sembari menatap ayla tajam.
"entah kenapa ini jadi tantangan you know?! ". deniz tersenyum keji.
"dengan". ayla sudah bernafas seperti semula.
Deniz mendengus sinis lalu tersenyum keji. mata deniz menatap ke handuk ayla lalu ke semua tubuh ayla yang terlihat.
Ayla yang melihat tatapan deniz padanya merasa merinding sendiri.
Deniz tertawa keji.
"jaga, kamu bercanda? aku bahkan sudah memasukimu".
"kamu... ". ayla kehilangan kata kata dan dia hanya bisa mengeram kesal. ughh.
Deniz tertawa keji. "bagaimana jadinya jika tubuhmu telanjang wanita? dan aku tempel di dinding sampai besok".
Mata ayla sontak melebar. 'pria ini mau menyiksanya'
Ayla kembali bersikap tenang.
"baiklah, kita buat kesepakatan! jika kamu menang kamu bebas mau melakukan apapun pada tubuhku termasuk membunuhku sekalipun itu, terserahmu, meski itu tidak mungkin tapi begitulah!...".
Deniz tersentak dan tidak percaya dengan ucapan ayla padanya. 'apa segitu ia membencinya? hingga mau membunuhnya? '.
"tapi jika aku menang! maka terserah aku, jika aku mau ngapain saja pada tubuhmu itu, bagaimana deal...? ". tantang ayla ke deniz yang terlihat murka karna mengingat wanita ini yang akan menyentuh tubuhnya tapi...
Deniz tersenyum keji karna baginya hal itu tidak akan terjadi tapi sebaliknya.
"deal". jawab deniz sembari menatap ayla tajam.
Ayla membetulkan handuknya lebih tepat menguatkan.
"seharusnya kamu bisa mengganti busanamu".
"bisakah?! "
"sayangnya tidak". deniz langsung maju menyerang ayla namun dengan sigap ayla bisa menghindar. fokus deniz adalah ke handuk ayla karna jika ia bisa melepaskan handuk wanita itu maka wanita itu bisa lengah dan ia bisa mengalahkannya.
"sungguh sangat tidak sabar anda untuk melihat tubuhku mr? ". goda ayla di tengah ia menghindari serangan deniz.
__ADS_1
"tutup mulutmu"
Ayla terkekeh keji. dari tadi ayla sama sekali tidak menyerang balik deniz tapi malah asik menghindar sana sini.
Rambutnya yang panjang ikut terbawa saat ia memutar atau pun menunduk dari serangan deniz.
"aku khawatir, kalau akulah yang akan melihat tubuhmu malam ini dr? ".
Deniz maju dan kembali menyerang ayla namun ayla masih saja menerima setiap serangan deniz dengan santai.
"anda pernah dengar kata kata ini dokter? 'ketika sedang mengalahkan lawan maka turunkan dulu emosimu dengan begitu kemenangan ada padamu'". karna perutnya sudah sangat lapar banget. akhirnya ayla memutuskan untuk mengakhiri.
Ayla tersenyum keji lalu ia menunduk memutar bangkit berdiri ketika sampai di belakang deniz dengan gerakan cepatnya ayla sudah berada di belakang deniz dan
Bukhhh...bukhhh...bukhhh...bukh..bukh..
"ughhh.."ringis deniz saat perutnya yang terakhir kena tendangan ayla yang begitu keras.
Awalnya ayla menendang punggung deniz di beberapa bagian hingga deniz terjungkal ke depan lalu dengan cepat ayla memutar ke depan deniz dan menendang perut deniz untuk tendangan yang terakhir.
Ayla mundur beberapa langkah sembari menatap deniz yang menahan sakit dan batuk batuk akibat tendangan di bagian perut yang sedikit keras ia berikan. ayla sengaja menendang perut deniz dan bahkan di titik yang sangat sakit agar deniz berhenti dan ia bisa makan karna ia sudah sangat kelaparan. tapi sakit itu hanya sebentar hanya beberapa menit kedepan.
"bagaimana? masih mau lanjut". ujar ayla yang masih menatap deniz dengan tenang.
Deniz yang bernafas kesakitan tidak menjawab malah diam dan mencoba menarik nafas sebisanya.
"jika setuju pulanglah, aku lapar dan mau makan". ayla melangkah ke walk in closetnya tidak mungkin ia mengganti baju di depan lemarinya yang berada di kamar karna ada deniz.
Deniz yang baru tersadar ternyata kamar ayla sangat luas sontak melihat ke sekelilingnya. mata deniz berhenti tepat di ranjang ayla tadinya seakan ia melihat kamar kecil dengan ranjang kecil.
Deniz melihat ke belakangnya dan ia baru sadar ternyata yang ia lihat tadi bukan ranjang tapi sofa kecil yang berbentuk ranjang.
Ayla keluar setelah mengganti bajunya dengan pakaian biasa karna setelah makan ia harus mandi dulu baru bisa tidur karna aktifitas tadi membuatnya berkeringat lagi.
"kamu masih di sini? aku kira sudah pulang".
ujar ayla acuh sembari melangkah ke pintu kamarnya yang berjarak bermeter meter.
Deniz mengikuti dari belakang bukan karna apa ia akui ia akan kalah dan ia harus memegang kata katanya.
"lakukan apa yang kamu mau pada tubuhku, itu janji tadi".
Ayla sontak menghentikan langkahnya dan berbalik melihat deniz.
"sekarang aku lapar, pulanglah, besok saja". ayla kembali melanjutkan langkahnya menuju dapur.
"aku mau kita selesaikan malam ini juga tidak ada besok besok lagi"
"kamu memaksa banget ya? ya sudah terserah deh, enggak usah janji janji batalkan saja, pulang sana aku lapar". usir ayla setelah menghentikan aktifitasnya yang mau membuka kulkas.
'
__ADS_1