
Ting...
Suara notifikasi pesan membuat langkah deniz terhenti saat ia mau masuk ke dalam kamarnya dengan ceyda. malam ini ia pulang lebih awal tidak seperti malam pada biasanya ia akan pulang jam 10 atau 11 malam. karna setelah kejadian kemarin ia tidak pulang kerumah, bahkan ia tidak ke rumah sakit dan malam ini ia baru pulang itu pun berniat mau meminta maaf ke ceyda karna sikapnya waktu itu yang sudah sangat keterlaluan, tidak seharusnya ia begitu, mengkhianati cinta ceyda padanya.
Deniz meraih hp yang ia taruh di kantong jas dokternya lalu membuka sandi hpnya. terlihat sebuah pesan dan itu...dari istrinya. ceyda...
Ceyda
sayang, malam ini aku tidak pulang kerumah ya? karna aku berencana nginap di rumah mami, tidak apa kan?.
Deniz mengetik balas untuk pesan ceyda dalam arti ia mengizinkan. meski ia bertanya tanya, apa karna kejadian kemarin?. namun tubuhnya dan pikirannya yang lelah membuatnya memilih untuk tidak peduli dulu.
Deniz menghela nafas lalu menjatuhkan tubuhnya ke ranjang dan berbaring di sana sembari matanya menatap ke atap dengan tangan kanannya berada di pelipisnya.
Deniz memejamkan mata berharap semua yang ada di dalam pikirannya hilang namun yang muncul kebalikan daripadanya. wajah marah ayla, wajah kesal ayla dan wajah ketika ayla tersenyum dan tertawa dengan altan. sontak saja bayangan itu membuat deniz terbangun dan langsung terduduk di atas ranjang sembari menggeram ke altan temannya.
Deniz berdecak kesal ke altan lalu bangkit berdiri. seandainya pria itu ada di hadapannya sekarang, sungguh ia akan benar benar mengerjainya sampai kekesalannya ini hilang.
Deniz melangkah masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.
Ceyda memarkirkan mobilnya yang berwarna merah lalu melangkah masuk ke dalam rumah mewah dengan langkahnya yang lesu di sertai lelah, lelah tubuhnya lelah pikirannya. ia bahkan tidak mendengar sapaan girang dari seorang pria di belakangnya dan sepertinya tukang kebun di rumah tersebut terlihat dengan gunting di tangannya.
"ada apa denganmu? jangan bilang deniz tidak pulang lagi malam ini". ujar mami ceyda yang sedang melangkah turun dari tangga dan sudah berada di anak tangga ketiga dari bawah.
Ceyda menatap mami nya malas lalu ia beralih duduk di sofa bawah tangga sebelum menjawab.
"jika itu iya, maka akan lebih baik".
Feride menyatukan dua alisnya menatap ceyda. ia tidak mengerti dengan maksud ucapan putrinya. tunggu...
"apa deniz sudah terbang ke jerman...? menyusul gadis itu...? tanpa sepengetahuanmu...?". feride berdiri tepat di depan ceyda dengan berkacak pinggang. ia menatap putrinya dengan raut wajah marah.
Ceyda melihat maminya dengan lelah. ia mau, sedikit saja, maminya mengerti dirinya.
"dan deniz tidak akan mungkin melakukan itu! ". jawab ceyda tanpa melihat maminya. ia kecewa, sangat kecewa. ia ke sini berharap maminya bisa menenangkannya namun yang ada malah membuatnya tambah lelah.
Feride mendengus sinis.
"kamu lupa? waktu itu deniz tidak memberitahumu kalau dia menyentuh gadis itu bahkan hampir 2 minggu mereka selalu melakukannya dan juga...deniz sendiri yang datang ke tempat wanita itu, bukankah sudah ku bilang? jangan biarkan wanita itu mengambil alih hidup deniz dan jika itu terjadi kamu siap siap saja menghilang dari sana, kamu terlalu percaya dengan seorang pria".
Ceyda menatap maminya lalu menghela nafas lelah.
"itu terjadi karna kakek terus memaksa deniz dan deniz terpaksa melakukannya lalu kenapa deniz tidak bilang padanya? itu karna dia tidak mau membuatnya menangis dengan terus berpikiran dan tidur".
Feride tersenyum mendengus.
"terkadang aku berpikir dia pintar, ternyata dia bodoh ya? saat itu aku berpikir kita tidak akan berhasil, namun siapa sangka semua sangat mudah, bahkan dia...langsung tergila gila padamu, lagian jika kamu tidak hadir di hidupnya tidak mungkin juga mereka berdua menikah, deniz bukanlah apa apanya di bandingkan dengan pengusaha kaya dan tampan itu".
__ADS_1
Ceyda menaikkan pandangannya menatap maminya yang berdiri di hadapannya.
"saat itu aku tidak habis pikir sama mami! masak menyuruhku untuk dekatin pria itu, model papan atas saja dia tidak melihat apalagi dirinya...?".
Feride mengerjap lalu ia tersenyum keji.
"apa salahnya jika di coba, lagian perjodohan mereka mami dengar bukan karna saling mencintai tapi karna untuk menyatukan kekuasaan mereka, kamu lihatkan? banyak sekali wanita di sekelilingnya, bahkan berganti ganti setiap saat".
Ceyda mencoba berpikir lalu ia mengangguk gangguk membenarkan.
"masak sih, dia tidak suka sama queen? ". ceyda bertanya penasaran.
Feride mengedikkan bahunya acuh.
"siapa yang tahu di kalangan itu? jangankan kita, presdir khaled saja tidak bisa masuk ke dalam sana, mana kita tahu".
Ceyda mengingat kembali bagaimana penampilan queen yang sebenarnya. cantik, sangat cantik. bahkan bisa membuat sebagian wanita sangat mengaguminya dan sebagian lagi membencinya. lalu ingatan ceyda beralih ke sosok tunangan queen. tampan dan berwajah dingin, namun dingin wajahnya membuat semakin banyak wanita menggilainya, jika bisa di bandingkan deniz dan pria itu...maka lebih tampan pria itu, di tambah dengan kekuasaannya di negara eropa tersebut. pria itu tidak akan bisa terkena rayuan oleh wanita manapun di dunia ini lalu wanita yang bisa memanjakan tubuhnya adalah wanita yang di pilih olehnya tersebut. tidak ada wanita yang tidak mau jatuh ke dalam pelukannya namun wanita wanita yang dipilihnya selalu berada dari kalangan atas, seperti artis terkenal di berbagai belahan dunia, para model papan atas begitu juga atau anak anak pengusaha yang tergila gila padanya. rakyat biasa? jangan bermimpi.
💓💓💓
"terima kasih mine..?". ucap ayla ke asisten pribadinya yang baru saja meletakkan satu baskom kecil segala jenis buah yang sudah di rajang kecil kecil.
"ini sudah tugasku nona? tidak perlu berterima kasih, nona mau aku temenin? ".
Ayla tersenyum lalu menggeleng.
Mine menunduk.
"nyonya besar bilang...".
"aku tahu mine? tidak boleh lama lama, cukup 2 jam paling lama! ". ayla menyambung ucapan mine.
Mine tersenyum geli.
"kalau begitu saya permisi nona dan selamat menikmati waktu nona".
"hm, kamu juga selamat tidur! selamat malam mine".
Mine tersenyum.
"sama sama nona". jawab mine lalu ia berbalik melangkah pergi dari sana.
Ayla mengalihkan matanya menatap ke langit malam yang di hiasi banyak bintang setelah kepergian mine.
Ayla duduk di balkon kamarnya dengan dua kursi yang ada di sana dan satu lagi di sisi kanannya kosong. ia menarik nafas memejamkan matanya, menahan suatu rasa di dalam dirinya yaitu rindu. rindu...yang tidak akan pernah terobati lagi.
Jika di sini ayla sedang menatap langit dan duduk di balkon kamar, maka deniz yang berada di tempat lain juga sama. duduk di balkon kamar bahkan di dinding pembatas balkon dengan secangkir kopi berada di depannya di bawah kakinya.
__ADS_1
Tadi setelah selesai mandi dan sudah memakai baju tidurnya, ia berniat mau langsung tidur tanpa mau makan malam dulu namun di saat deniz mau naik ke ranjang, kain jendelanya terangkat terbawa angin, al hasil deniz turun dari ranjang dan melangkah ke jendela karna ternyata jendela balkon kamarnya tidak tertutup. setelah menutup jendela tersebut sudut mata deniz menatap ke langit malam yang di hiasi banyak bintang tanpa terasa langkahnya membawanya ke balkon kamar lalu ia berdiri di sana sembari kepalanya mendongak ke atas dan kedua manik matanya memerhatikan semua bintang yang menghiasi langit di atasnya.
Deniz tersentak terkejut saat suara pintu di ketok dan itu adalah bibi pembantunya yang ia surun buat kopi tadi sebelum masuk kamar dan ia sudah lupa.
Deniz berbalik dan ia baru sadar sejak kapan ia berdiri di sini.
'perasaan tadi menutup jendela dan...ah'.
Karna merasa tidak mau meninggalkan tempat itu, entah kenapa batinnya malam ini memintanya untuk duduk di sana. ia pun mengambil kopi dari tangan bibi lalu membawa ke balkon dan menikatinya di sana dengan menyesap sedikit demi sedikit.
Jika di sini deniz sedang menyesap kopi maka di sana ayla sedang menikmati buah yang di potong kecil kecil, keduanya saling menatap ke langit dan sesekali mereka akan tersenyum.
Ayla bangkit dan melangkah ke di dinding pembatas balkon lalu berdiri di sana, menatap ke sekitar perkarangan rumahnya yang banyak terlihat gelap dari pada terang. ia beralih melihat ke langit malam lagi yang baginya sama sekali tidak membuatnya bosan.
Ayla terbayang wajah deniz lalu ia pun tersenyum. ia mengalihkan matanya menatap ke cincin yang berada di jari manisnya. cincin pernikahan nya dengan deniz, meski deniz tidak memakainya tapi untuk sekarang, ia memerlukan ini karna hanya ini yang ia punya mengenai deniz. anaknya merindukan deniz, begitupun dengannya meski ia tidak pantas tapi itulah kenyataan. ia sadar, deniz bukanlah suaminya yang sebenarnya. pernikahan mereka hanya sebentar saja, sampai...ayla mengelus perutnya. sampai...anak ini lahir.
Ayla menjatuhkan satu tetes air matanya. saat mengingat bahwa ia tidak akan bertemu dengan deniz lagi. kekasih hatinya meski sebentar lagi...harus ia lupakan dan lepaskan. ia akan berada di sini di rumah orang tuanya sampai anaknya lahir dan kembali menjalani kehidupannya seperti dulu sebagai...seorang princess di keluarga EMRE.
Ayla kembali menatap ke bintang bintang di langit lalu ia tersenyum namun bukan senyum bahagia melainkan senyum kepedihan.
"selamat tinggal...kekasih...hatiku...dirimu...akan selalu...menjadi kenanganku...hiks...hiks...hiks...". ayla memejamkan matanya di sertai air matanya yang jatuh.
Ayla terus menangis sembari mencekram kuat dinding balkon lalu beralih memegang dadanya yang sakit dan juga sesak.
Deniz yang lagi menatap ke langit malam yang di hiasi banyak bintang dan sesekali ia akan mengerjap. tanpa ia sadari satu tetes air matanya jatuh. ia mengangkat tangannya dan meraih tetesan air di pipi kirinya dan menatapnya.
Sedetik kemudian, deniz merasakan sakit di dadanya dan sontak saja ia mencekram kuat dadanya.
"sakit...". keluh deniz di sertai keringat yang keluar dari dahinya.
Deniz bernafas naik turun saat merasakan perasaan di dalam dirinya, perasaan yang tiba tiba muncul padahal dari tadi ia menahannya dengan sekuatnya.
"Arghhh... ". jerit deniz menahannya sampai ia jatuh terduduk ke lantai sedangkan tangannya masih memegang dadanya.
"beyza...kau kah ini...? kamu sedang merindukanku hm...? ...". deniz sudah menjatuhkan air matanya.
"kalian...sedang merindukanku...? ". deniz sudah menangis terisak.
"rasa rindu ku...".
"melebihi dari mu beyza...?".
"sudah tidak tertahankan lagi beyza...hiks...apa yang harus aku lakukan beyza? katakan padaku...hiks...apa yang harus aku lakukan...". deniz membenamkan wajahnya ke sela sela pahanya. sembari terus menangis dengan sesegukan.
Jika di katakan ia cengeng sebagai seorang pria, maka ia sudah menjadi cengeng sejak 9 tahun yang lalu. karna di saat itu, ia menangis dan terus menangis karna hanya itu yang bisa ia lakukan saat itu namun sekarang...
"hentikan, hentikan, aku mohon hentikan, hentikan...". deniz semakin mencekram kuat dadanya karna bukan mereda tapi semakin sakit. phak...
Deniz jatuh tergeletak di lantai balkon kamarnya dan tidak sadarkan diri.
__ADS_1
'tubuhnya...tidak kuat lagi'.