Rahim Pengganti

Rahim Pengganti
Riasan tebal


__ADS_3

"Kamu belum siap sayang?" tanya Devan yang baru saja masuk kamar dan mendapati istrinya belum ganti baju dan masih terlihat sibuk mencari baju.


"Sebentar. Masih cari yang pas dan enak dipakai." jawab Nayra yang mengeluar masukkan bajunya untuk mencari yang pas.


Devan mendekat dan membantu istrinya mencari baju yang pas untuk istrinya.


"Ini.." Devan memberikan Dress dengan lengan panjang bemotif bunga.


"Ini kekecilan dan yang dilemari ini kecil semua. Sudah gak ada yang muat." kata Nayra dengan wajah cemberut. Dia kesal karena sejak tadi mencari baju yang pas dipakai namun tak ada yang muat.


"Perasaan kamu gak tambah gendut deh, sayang." Nayra melototkan matanya saat Devan mengatainya gendut.


"Kamu ngatain istri kamu gendut, gitu maksud kamu." kata Nayra pelan namun penuh penekanan di setiap katanya.


Devan menelan salivanya susah payah. Dia baru saja membangunkan singa betina yang sudah beberapa hari ini jinak karena salah dalam memakai kosa kata.


"Bu-bukan begitu sayang." bantah Devan gugup. "Aduh!!! Kenapa pakai gugup segala sih." batin Devan, dia menggaruk pelipisnya yang tidak gatal.


"Terus apa maksudnya?" tanya Nayra dengan menyilangkan kedua tangan di dada.


"Maksudnya...Maksudnya bajunya sudah jelek tidak ada yang cocok buat kamu pakai." kilah Devan mencari alasan.


"Dan yang kamu pegang itu belum pernah aku pakai."


"Juga yang di lemari yang kamu buka tadi semua itu baju baru yang kamu belikan waktu ulang tahun si kembar kemarin."


"Berarti itu semua jelek?" tanya Nayra langsung diangguki Devan cepat.


"Ya sudah kalau jelek, disumbangi aja." ucap Nayra dengan tampang polosnya.


"Kemana perginya wajah garang tadi." pikir Devan.


"Perempuan hamil itu memang ajaib." batin Devan


"Sayang..Terus aku pakai baju yang mana?" tanya Nayra dengan manjanya memeluk Devan.


Devan menghela nafas pelan menghadapi suasana hati Nayra yang suka berubah-rubah.


"Pakai yang sekiranya pas untuk bertamu dan sopan." jawab Devan lembut biar tidak kembali merubah suasana hati istrinya.


"Baiklah kamu keluar dulu..!!" Nayra mengusir Devan dari walk in closet.

__ADS_1


"Aku sudah tahu harus pakai yang mana." sambungnya sambil menutup pintu.


"Gak mau di bantu sayang." teriak Devan dari dalam kamar.


"Makin lama nanti kalau kamu bantu." sahut Nayra dengan teriakan juga.


Devan tersenyum mendengar sahutan istrinya.


"Papa." Kiara masuk kamar Papa nya yang tidak tertutup.


"Mama belum siap, Pah?" tanya Kiara yang berdiri didepan Papa Devan yang duduk di tepi ranjang.


"Belum. Mungkin sebentar lagi." jawab Papa Devan.


Kiara ber'O' ria. "Paman Lomi sudah nunggu dibawah." kata Kiara memberi tahu Papa nya.


"Iya cantik. Ayo kita kebawah." hap. Devan menggendong putrinya itu dipunggung.


"Sa_...." perkataan Devan menggantung saat melihat pintu walk in closet terbuka.


"Mama cantik banget!!" seru Kiara saat melihat Mama Nayra yang baru saja keluar dari walk in closet.


"Yang benar sayang?" tanya Nayra karena merasa malam ini dia terlihat biasa saja tak ada yang istimewa.


Bukannya menjawab, Devan justru menurunkan Kiara di atas ranjang dan dia sendiri berjalan mendekati Nayra. Dia berputar mengelilingi Nayra melihat penampilan sang istri dari bawah ke atas yang jauh terlihat lebih cantik dan indah. Begitu sejuk dipandang.


"Kenapa? Jelek yah." tanya Nayra dengan wajah sedihnya, dia sepertinya kecewa karena tak bisa tampil cantik malam ini.


Devan tersenyum dan mengambil tangan kanan istrinya lantas diciumnya punggung tangan itu.


"Bidadari ku semakin cantik saat berbalut hijab seperti ini." puji Devan sambil memegang kepala Nayra yang saat ini sudah terbalut hijab.


Nayra yang tadinya sedih tiba-tiba pipinya bersemu merah saat Devan memujinya. Dia bahkan sampai menahan untuk tidak tersenyum atas pujian yang Devan berikan karena malu.


"Aku semakin terjerat akan cintamu saat penampilanmu seperti ini, humaira ku." kata Devan menatap mata Nayra yang teduh itu membuat pipi Nayra semakin memerah.


Nayra tersenyum malu membuat Devan ikut tersenyum bahkan kini jempol tangannya sudah mengusap bibir tipis Nayra yang tersenyum itu.


"Apa kamu mau menggoda Romi dengan memakai riasan yang begitu tebal?" tanya Devan menatap bibir istrinya itu. Dua belahan kenyal yang selalu membuatnya candu selain squishy kembar dan sarang bagi ular pitonnya.


"Apa terlalu tebal riasanku?" tanya Nayra menangkup kedua pipinya.

__ADS_1


"Sangat. Apa lagi bagian ini." jawab Devan lirih sambil mengusap bibir Nayra dan mendekatkan wajahnya. Keduanya seakan melupakan sosok anak perempuan yang masih dibawah umur jika harus melihat keuwuan mereka.


Kiara meletakkan kedua tangannya dipinggang dengan mata melotot, dan bibir mengerucut lucu. Dia menatap tak suka pada kedua orang tuanya itu. Terutama Papa Devan yang menggoda Mama Nayra dengan rayuan gombalnya.


"Kiala bukan patung disini Papa!!!" teriak Kiara saat bibir Devan hampir menempel sempurna di dua belahan kenyal milik Nayra.


Devan memejamkan matanya tanpa berubah posisi. Dia menahan nafas sejenak dan dihembuskannya kasar. Dia lupa kalau Kiara masih ada di kamar. Pikir dia tadi putrinya itu sudah keluar duluan.


Nayra yang malu karena dilihat putrinya langsung berjalan ke arah meja rias untuk menghapus lipstik yang katanya terlalu tebal itu.


Nayra mengerut bingung. Dimana tebalnya, pikir Nayra. Karena dia merasa bibirnya masih pucat atau lebih tepat dia belum memakai lipstik.


Nayra melirik tajam pada Devan yang masih diam ditempat tadi. Bisa-bisa dia dibodohi Devan dan hampir saja dia tertipu. Untung ada Kiara, batin Nayra.


"Kiara!!!!! Kamu manggil Papa apa tidur." terdengar suara teriakan Kenan.


"Aku jadi patung disini." teriak Kiara sambil menatap Papa Devan kesal.


"Siapa yang jadi patung?" tanya Kenan setelah masuk ke kamar Mama Papanya.


"Ayo kelual!! Dali pada jadi patung disini." bukannya menjawab pertanyaan Kenan, Kiara justru menariknya keluar.


"Ehh...Papa cepat ditunggu Paman Romi." teriak Kenan saat sudah sampai diambang pintu.


"Mengganggu suasana saja." Devan mendengus kesal. Dia berjalan mendekati Nayra.


"Sudah siap sayang?" tanya Devan pada istrinya


"Ehmm..Udah tipis apa makin tebal?" tanya Nayra balik dengan mengerucutkan bibirnya.


Tanpa menjawab Devan langsung menarik Nayra ke dekapannya dan diciumnya belahan kenyal itu dengan memberinya lu matan di kedua belahan.


"Sekarang sudah terlihat lebih tipis." ucap Devan setelah melu mat habis bibir Nayra hingga sedikit bengkak.


Diambilnya tisu di atas meja rias yang ada di belakang Nayra dan diusapnya bekas ciuman disekitar bibir yang basah.


"Ini sih bukannya tipis Devan. Tapi makin bengkak." sungut Nayra kesal dengan wajah cemberut.


"Nggak apa. Nanti malam dilanjut yang lebih panas lagi biar makin bengkak." timpal Devan tanpa rasa bersalah sedikitpun.


"Apa kamu gak ingin melihat suamimu ini mengerang kenikmatan karena ulahmu?" goda Devan dengan senyum mesumnya.

__ADS_1


"Tau ahhh..." Nayra segera keluar dari dalam kamar dengan perasaan malu karena Devan berhasil menggodanya.


Devan menggeleng sekali sambil tersenyum puas. Dia paling suka membuat istrinya itu malu karena dia goda.


__ADS_2