Rahim Pengganti

Rahim Pengganti
Aku ingin mendengar


__ADS_3

Dua hari sudah Nayra berbenah menata ulang di rumah baru yang akan keluarga kecilnya tempati. Dibantu dengan Linda, sekertaris suaminya atau kadang Romi kalau tidak banyak kerjaan juga datang untuk membantunya.


Rencananya Nayra dan Devan weekend nanti akan pindahan dan menempati rumah baru. Namun semua gagal tak sesuai rencana. Karena Devan ada perjalanan bisnis yang tidak bisa digantikan oleh siapapun. Dia kemarin berangkat ke Singapura bersama seorang staff sekretariatnya dan tiga orang suveryior juga seorang arsitek beserta tiga orang desainer interior. Kemungkinan Devan akan di sana selama dua sampai tiga hari dalam rangka menindak lanjuti tempat pembangunan apartemen di salah satu kawasan di Singapura.


Huufttttt


Nayra menghembuskan nafas lelah setelah menjatuhkan tubuhnya di sofa. Hari ini finishing dalam menata ulang rumah barunya. Seharusnya besok mereka sudah bisa pindah, tapi harus menunggu Devan pulang dari Singapura baru bisa pindah.


Terdengar nada dering dari HP Nayra. Dia menoleh kesamping di mana dia meletakkan HP nya dan mengintip siapa yang meneleponnya. Devan, batinnya.


Diambilnya segera dia menggeser tombol hijau dan terlihatlah wajah Devan yang memakai kemeja hitam juga jas hitam tanpa dasi di kerah kemejanya. Mau melayat, pikir Nayra karena melihat Devan yang memakai pakaian serba hitam.


"Assalamualaikum." sapa Nayra dengan suara lelahnya dan sedikit ngantuk karena habis menguap sambil menutup mulutnya. Maklum sudah siang dan belum diisi makan juga dicampur lelah.


"Walaikumsalam." balas Devan dengan mengerutkan keningnya menatap wajah Nayra yang terlihat begitu lelah itu.


"Kenapa menelepone?" tanya Nayra dan menegakkan tubuhnya meski masing bersandar di bahu sofa.


Pertanyaan macam apa itu, pikir Devan. Suaminya menelepone ya jelas merindukannya lah. Kenapa juga harus ditanya kenapa.


"Kamu masih dirumah baru?" tanya Devan tanpa membalas pertanyaan Nayra.


Nayra terlihat menggerakkan kepalanya naik turun dua kali dengan muka cemberut.


"Kenapa? Kamu marah karena aku kemarin pergi mendadak.?" Nayra mengangkat kedua alisnya dengan wajah yang di tekuk dan juga terlihat mengendihkan bahunya.


"Kemarin sebenarnya aku mau ngajak kamu. Tapi kasihan sama si kembar karena belum ada pemberitahuan sebelumnya kalau ditinggal." terang Devan.


Aku bukan marah Devan, suamiku. Aku cuma lelah saja. Kenapa juga harus marah karena ditinggal pergi karena kerjaan. Ada-ada saja. batin Nayra.


"Lagian juga kamu gak bisa dipakai kalau ikut kesini." sambung Devan yang terlihat geram mengingat yang kemarin gagal lagi.


Nayra menyerit dengan mata menyipit kemudian dia justru tertawa saat mengingat kemarin Devan menghentikan permainannya tiba-tiba. Dia teringat kejadian setelahnya.


Flashback On


Nayra kembali ke kamar bertepatan Devan juga baru saja keluar dari kamar mandi. Sepertinya habis mandi lagi, batin Nayra. Melihat Devan yang hanya memakai handuk sebatas pinggang sambil tangan kanannya mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil.

__ADS_1


Nayra berjalan mendekat kearah Devan yang berada di walk in closet dengan gugup. Dia merasa bersalah. Dia yang menggoda Devan duluan membuat suaminya itu melayang, tapi dia juga yang menjatuhkan Devan saat sudah berada dipuncak.


"Ss-sayang.." Nayra gugup, menunduk sampai dia menggigit bibir bawahnya saat memanggil suaminya.


Devan yang baru saja selesai memakai baju tidurnya menoleh ke samping kemudian dia mendesah lelah saat melihat tampang istrinya itu yang menunduk merasa bersalah itu.


Devan menutup pintu almari dan berjalan mendekat ke istrinya. Diraihnya dagu wanitanya itu dan diangkatnya supaya dia bisa menatap wajah istrinya yang tertekuk karena merasa bersalah dicampur takut.


Nayra menutup matanya tak berani menatap Devan. Dia yakin pasti Devan saat ini marah padanya. Atau mungkin dia ingin menyumpahinya karena merasa digantung.


Devan meniup mata Nayra membuat mata yang tertutup itu mengerjap beberapa kali. Devan menarik salah satu sudut bibirnya.


Akkhhh


Teriak Nayra refleks dia mengalungkan tangannya pada leher Devan saat suaminya itu mengangkat tubuhnya ala bridal style. Dia menatap Devan yang tersenyum tipis sangat tipis malah.


Devan membawanya keluar kamar dan menuju balkon. Dia mendudukkan pantatnya di nodic single sofa. Dan Nayra duduk dipangkuan nya.


"Mau kemana?" Devan menahan pinggang Nayra saat mau turun dari pangkuan Devan.


"Mau duduk di situ." tunjuk Nayra sofa di sebelah nya yang dipisahkan oleh meja bundar kecil.


"Kenapa?" tanya Devan saat melihat Nayra seperti ada yang ingin di katakan.


"Maaf." ucapnya lirih


"Buat?" Devan mengangkat sebelah alisnya


"Yang tadi..." Nayra menunduk malu untuk mengatakannya.


Devan merengkuh tubuh Nayra erat. Dia mengambil nafas panjang dan membuangnya perlahan. Sebenarnya dia masih kesal karena hasratnya tak tersalurkan. Tapi saat melihat wajah istrinya yang tertekuk karena merasa bersalah dan terlihat gugup saat menatapnya. Mau tak mau Devan akhirnya menyerah juga. Dia tak ingin melihat istrinya bersedih dan merasa bersalah hanya karena hal seperti itu. Yaaaa!! Meski dirinya yang akhirnya bermain dengan sabun.


"Gak apa, sayang. Itu bukan salah kamu. Dan kamu jangan merasa bersalah hanya karena kamu sedang haid kamu tidak bisa memuaskan suami kamu." Devan mencoba menjelaskan ke Nayra supaya tidak merasa bersalah.


"Tapi kita bisa melakukannya meski aku haid. Kita bisa melakukan oral **** atau anal *"** sejenis foreplay. Aku bisa membantumu seperti kemarin." Devan menggelengkan kepala mendengar penuturan istrinya itu.


"Dalam ajaran agama Islam pun telah dilarang apabila ingin melakukan hubungan **** ketika istri sedang haid itu dilarang. Penjelasan ada di satu ayat, yakni QS. al-Baqarah: 222. 

__ADS_1


“Mereka bertanya kepadamu tentang haid. Katakanlah: “Haid itu adalah suatu kotoran”. Oleh sebab itu hendaklah kamu menjauhkan diri dari perempuan di waktu haid; dan janganlah kamu mendekati mereka, sebelum mereka suci. Apabila mereka telah suci, maka campuri lah mereka itu di tempat yang diperintahkan Allah kepadamu.” jelas Devan.


"Gak boleh mencampuri kan maksudnya...itu gak boleh masuk sini." Nayra menunjuk bawah perut Devan kemudian menunjuk ke bawah perutnya sendiri dengan menunduk malu. Bahkan wajahnya memerah.


Devan tertawa kecil mendengar kepolosan istrinya itu.


"Dan kamu tahu!!?? Jika **** oral membawa dampak bahaya bagi kita." Nayra mengangguk.


"Dari buku yang pernah aku pinjam dari Salma menjelaskan jika oral **** bisa menyebabkan penyakit menular seperti virus HPV, Herpes, Hepatitis A, Hepatitis B, dan masih banyak lagi." balas Nayra.


"Karena sudah tahu, maka sudah sepantasnya dijauhi karena mengingat sabda Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam,


“Tidak boleh memulai memberi dampak buruk (mudhorot) pada orang lain, begitu pula membalasnya.” (HR. Ibnu Majah no. 2340, Ad Daruquthni 3: 77, Al Baihaqi 6: 69, Al Hakim 2: 66. Kata Syaikh Al Albani hadits ini shahih**). sambung Devan yang masih mengingat pelajaran tentang kitab fathul izar waktu di pesantren dulu.


"Tapi kalau pakai tangan seperti kemarin waktu aku membantunya keluar gak apa kan?" tanya Nayra dengan semangat dan jangan lupa senyum manis dan mata genitnya.


Devan memicingkan matanya melihat Nayra yang begitu semangat ingin memuaskannya. Apa dia gak salah lihat, pikir Devan. "Kamu benar-benar menginginkannya sayang?" tanya Devan ragu, karena jika iya, dia akan kembali menerjang Nayra lagi meski tak bisa memasuki lubang kenikmatan milik istrinya.


Nayra justru melebarkan senyumnya dan mengangguk semangat. Kapan lagi bisa membuat suaminya itu mengerang kenikmatan karena ulahnya yang liar, pikir Nayra.


Devan menyeringai, segera dia membungkam mulut wanitanya itu dan dibawanya kembali ke kamar, lebih tepatnya ruang kerjanya.


Flashback Off


"Rara...Sayang...Hai...Sayang..Mama twins..." entah panggilan ke berapa yang Devan lontarkan namun tak membuat Nayra tersadar dari lamunannya.


"Nayra Arasyid.." teriak Devan dan mampu membalikkan kesadaran istrinya itu.


"Ehh..." Nayra menatap layar HP nya menatap Devan bingung, kenapa Devan harus teriak-teriak coba.


"Kenapa kamu senyum-senyum sendiri?" tanya Devan yang penasaran apa yang membuat istri cantiknya itu senyum-senyum gak jelas sambil melamun. Entah apa yang dia bayangkan. Awas aja kalau membayangkan yang tidak-tidak, geram Devan dalam hati.


Nayra tersenyum kembali, dia melirik sekitar memastikan tidak ada orang di dekatnya.


"Kenapa kamu celingukan seperti itu? Bukannya menjawab apa yang suaminya tanyakan." gerutu Devan kesal.


Nayra menatap layar HP nya kembali yang ada gambar Devan di sana. Dia mendekat ke layar HP nya.

__ADS_1


"Aku ingin mendengar era-ngan nikmat yang keluar dari mulut manis mu, sayang."


"Damn it!!!" umpat Devan kesal, baru saja mendengar suara seksi istrinya sudah sesak saja itu yang ada di bawah perut antara paha Devan.


__ADS_2