
"Itu dia!!" gumam Romi saat melihat mobil Devan terparkir di tepi jalan sepi.
Dia segera menghentikan laju kendaraannya dan segera keluar untuk mengecek keadaan Devan.
"Kemana dia?" tanya Romi saat tidak melihat adanya sosok Devan di dalam mobil.
"Handphone nya disini. Mana orangnya?" Romi melihat sekeliling namun tak ada orang sama sekali.
"Devan meninggalkan mobil dalam keadaan menyala dan handphone tertinggal." gumam Romi saat melihat situasi di dalam mobil Devan.
"Inikan jam tangannya Devan yang ku pesankan kemarin sepasang dengan punya Nayra juga." kata Romi saat tak sengaja kakinya menginjak sebuah jam tangan mewah.
"Sial!!!" Romi segera menghubungi Faiz saat dia merasa ada yang mengganjal dengan temuannya ini.
"Hallo."
"Devan hilang, aku menemukan mobilnya berhenti di jalan dekat rumahnya dengan kondisi mobil masih menyala mesinnya dan handphone tertinggal juga jam tangannya jatuh saat melawan penculiknya." kata Romi menceritakan praduga sementara akan kronologi yang terjadi pada Devan.
"Yakin kamu kalau Devan juga diculik?" tanya Faiz.
"Yakin. Kalaupun dirampok pasti Devan masih disini dengan keadaan babak belur dan barangnya raip." kata Romi yang begitu yakin kalau Devan benar-benar diculik.
"Apa kira-kira penculiknya sama dengan yang menculik Nayra?" tanya Romi
"Bisa jadi." jawab Faiz.
"Aku akan kesana sekarang untuk melihat situasinya."
"Kenapa bukan Ilyas saja?" tanya Romi
"Ilyas pergi ke Kemang untuk melihat situasi dimana Nayra terakhir dilihat, juga akan ke Menteng untuk menelusuri nomor yang dipakai Maya tadi saat menghubungi Devan."
"Baiklah, aku kirim lokasinya sekarang."
__ADS_1
...............
Maya keluar dari kamarnya dan menemui Carol yang terlihat sedang mengobrol dengan beberapa anak buah bos besar mereka. Maya mengambil duduk di sebelah Carol setelah meminta seseorang untuk berpindah tempat.
"Siapa tadi yang mereka bawa?" tanya Maya dan meneguk whisky yang diambilnya paksa dari tangan Carol.
Carol mendengkus kesal atas kelakuan Maya yang mengambil gelas whisky nya tanpa permisi.
"Aku nggak tahu." jawab Carol jujur, karena dia tadi tidak melihat ada yang dibawa masuk ke rumah bos mereka.
"Memang tadi ada yang kalian bawa lagi kesini?" tanya Carol pada anak buah bos besar mereka
"Iya, dia umpan utama yang diinginkan bos besar." jawab salah satu anak buah yang memiliki badan kurus tinggi.
"Siapa?" tanya Maya yang penasaran siapa orangnya, karena dia tadi samar-samar melihat wajah orang itu mirip seperti orang yang dia kenal. Walau belum pasti, namun dia yakin kalau itu benar orangnya.
"Menantu dari keluarga Arasyid." jawab salah seorang dari anak buah bos besar.
"Siapa?" tanya Carol yang juga ikut penasaran,
"Suaminya wanita yang kita culik kemarin." kata salah seorang dari anak buah bos besar.
"Apa?" teriak Carol yang baru tahu kalau yang di culik anak buahnya bos besar adalah Devan, suami dari Nayra yang berarti temannya, mantan suami Maya.
"Berarti benar, aku tadi gak salah lihat." batin Maya saat mengetahui kalau yang dibawa anak buah bos besar mereka adalah Devan.
"Bukannya masalahnya sama keluarga Arasyid? Kenapa juga harus bawa Devan juga?" tanya Maya dalam hati. Sungguh, Maya ingin tahu siapa bos besar yang telah meminta Carol untuk menjaminnya itu. Sudah hampir dua minggu dia bebas namun dirinya belum tahu siapa orang dibalik kebebasannya itu.
"Carol, aku ingin bicara berdua dengan mu." ajak Maya dan berlalu pergi ke kamarnya. Dia tidak ingin berbicara hal penting di depan anak buah bos besar. Bisa jadi dia kembali di jebloskan ke penjara.
Carol yang memang tak ada kegiatan ataupun pekerjaan mengikuti Maya dari belakang.
"Aku mau tanya sama kamu sekali lagi." Maya menatap tajam Carol yang berbaring di ranjangnya. Kini mereka sudah berada di kamar Maya.
__ADS_1
"Siapa bos besar yang meminta mu untuk menjamin ku supaya bebas?" tanya Maya untuk sekian kalinya selama di bebas dari penjara dua minggu yang lalu.
"Sudah aku bilang berkali-kali kalau aku juga tidak tahu, yang datang menemui ku saat itu si cungkring tadi." jawab Carol yang merasa jengah akan pertanyaan Maya yang itu-itu saja.
"Kenapa?" tanya Carol yang melihat Maya diam saja seperti ada yang dipikirkan.
Maya hanya menggelengkan kepala pelan.
"Kamu kepikiran Devan kenapa dia juga diculik?" tebak Carol.
Maya menghembuskan nafasnya perlahan dan memejamkan matanya.
"Apa bos besar yang dimaksud ini ada hubungannya dengan Devan dan Nayra?" tanya Maya yang berjalan mendekati jendela.
Carol hanya mengendihkan bahunya. Karena dia tidak tahu menahu tentang hubungan Devan dan juga Nayra. Yang dia tahu Devan sudah kembali dengan Nayra setelah Nayra membatalkan pertunangannya dengan Ilyas.
"Apa dulu Nayra atau Devan pernah dekat dengan orang lain atau mungkin punya hubungan spesial begitu?" tanya Maya kembali menatap Carol.
"Gak ada. Cuma Nayra dulu sempat punya tunangan dan akan menikah namun Nayra membatalkannya dan memilih kembali bersama Devan." jawab Carol apa adanya sesuai yang dia tahu.
"Nayra punya tunangan dan sempat akan menikah?" tanya Maya sekali lagi, karena setahu dia selama menjadi madunya, Nayra terlihat diam-diam memendam rasa pada Devan, begitupun Devan juga sebaliknya. Bahkan dia juga sempat mendengar percakapan terakhir Nayra dan Devan di dalam kamar Nayra di paviliun belakang sepulang Devan dari Ankara sebelum mereka akhirnya benar-benar berpisah.
"Iya, tunangannya namanya Ilyas dan dia yang menemani Nayra selama pergi dari kehidupan Devan dan membantu bisnis Nayra sampai sekarang." jawab Carol seperti dia begitu mengenal Nayra.
"Ilyas?? Apa bos besar kita namanya Ilyas?" tanya Maya menduga-duga apa yang ada dipikirannya.
"Gak mungkin lah May. Ilyas itu orangnya Aska, tangan kanannya Aska. Gak mungkin dia yang menjadi dalang penculikan ini." Carol membantah praduga dari Maya.
"Ya siapa tahukan. Aku cuma berpendapat saja." kilah Maya saat Carol membantah praduga nya.
"Kau benar juga. Kalau pun dia orangnya berarti itu benar-benar sadis." kata Carol yang tiba-tiba membenarkan praduga Maya setelah tadi membantahnya terang-terangan.
Maya tersenyum sinis saat mendengar Carol yang membenarkan praduga nya.
__ADS_1
"Musuh dalam selimut."