Rahim Pengganti

Rahim Pengganti
Belum Puas


__ADS_3

Sejak Nayra bangun dan sadar dari rasa takutnya akan adanya balon, dia begitu tak menghiraukan Devan. Setiap Devan mendekat Nayra beranjak pergi menjauh dan tiap kali Devan bertanya Nayra hanya menjawab seperlunya saja.


Iya


Tidak


Makasih


Hemm


Bahkan cuma mengangguk ataupun menggeleng.


Devan merasa kalau istrinya itu benar-benar marah sama dia. Nayra menjaga jarak darinya. Ini semua gara-gara balon sialan, batin Devan geram.


Bahkan saat semua keluarga sudah datang dan acara tausiyah dari ustadz pun Nayra juga tidak mau dekat-dekat dengan Devan. Nayra memilih bersama Mama Arumi. Karena Nayra yakin Devan tidak berani mendekat ke Mama Arumi, apalagi sekarang posisinya Devan sedang berbuat salah pada Nayra.


Tapi mereka berdua tidak sadar jika Mama Arumi memperhatikan gerak-gerik anak dan menantunya itu. Mama Arumi meyakini kalau Devan, anaknya telah berbuat salah pada Nayra. Terbukti dari sikap Devan yang terus mencuri pandang dengan Nayra tapi dengan sorot mata penyesalan.


Berbeda dengan Nayra yang terlihat cuek saja seperti tidak ada masalah sama sekali. Dia terlihat biasa saja seperti biasanya. Bedanya cuma saat mata Nayra bertemu pandang dengan mata Devan. Nayra akan memandangnya sinis tanpa ada raut wajah bahagia sama sekali.


Mama Arumi menemani cucu-cucunya bermain. Tiba-tiba Kiara mendekat dan minta duduk dipangkuan Neneknya.


"Kenapa cucu Nenek yang cantik ini?" Mama Arumi menciumi pipi Kiara gemas.


"Geli, Nenek." teriak Kiara tertahan sambil tertawa karena ulah Neneknya itu. Dia menggelengkan kepalanyanya untuk menghindari ciuman dari sang Nenek.


"Nenek.." Kiara menatap Neneknya sedikit mendongak.


"Kenapa sayang?" tanya Mama Arumi dengan senyum.


"Papa tadi nakutin Mama sama balon, Nek." kata Kiara, dia mulai bercerita tentang keadaan Mamanya.


"Mama kan takut sama balon. Telus Papa tadi bawa balon banyak sekali di kamal." Kiara menggerakkan tangannya saat mengekspresikan betapa banyaknya balon yang ada di kamar orang tuanya.


"Mama tadi sampai gemetelan, telus kelingatnya kelual semua, Nek."


"Telus Mama dibawa Miss Kimy masuk ke kamal aku. Mama tidul di sana."


"Mama tadi juga dipeliksa sama Bu doktel." Kiara terus bercerita tentang kejadian tadi sebelum semuanya kumpul.


Mama Arumi diam saja mendengar cerita dari cucunya itu. Kenapa Nayra takut sama balon? Apa dia punya phobia sama balon?, batin Mama Arumi bertanya-tanya.


"Kia..tadi katanya mau ambil boneka. Ayo..!!" Kiara akhirnya turun dari pangkuan Neneknya dan menarik tangan Susan berlalu begitu saja dari sang Nenek.


Mama Arumi mendekati Devan dan memintanya bicara berdua.


"Ada apa, Ma? Kenapa bawa Devan kesini?" Devan penasaran kenapa Mama Arumi membawanya ke lantai dua menjauh dari keramaian di bawah.


"Kamu apakan menantu Mama."Mama Arumi menatap anaknya tajam.


Devan diam saja. Dia sendiri bingung harus cerita darimana. Kalau cerita pun pasti nantinya Mama Arumi juga bakal marah ke dia.


"Apa kamu gak tahu kalau istri kamu itu takut sama balon?" Devan menggeleng lemah menjawab pertanyaan Mama Arumi.


Mama Arumi mendesah lelah. "Kata Kiara kamar kamu, kamu hiasi balon semua. Seperti anak kecil saja." omel Mama Arumi.


"Devan hanya ingin merayakan anniversary pernikahan kita saja, Ma." jelas Devan yang memang tadi tujuannya ingin memberi kejutan buat Nayra untuk merayakan anniversary pernikahan mereka.


"Terus sekarang Nayra marah sama kamu?" Devan mengangguk mengiyakan.


"Kasihan banget kamu. Nikmatilah!!" ejek Mama Arumi pada anaknya lantas berlalu begitu saja.


Devan memicingkan matanya mendengar ejekan Mamanya. Dia memiringkan kepala melihat kepergian Mamanya yang dia kira akan memberinya nasehat dan membantunya supaya Nayra memaafkannya justru dia mendapat ejekan dari Mamanya sendiri.

__ADS_1


"Sebenarnya yang anaknya itu aku apa Nayra sih." gumam Devan kesal. Karena setiap kali berkaitan dengan Nayra, Mama Arumi selalu membantu wanita itu.


Dilantai satu Mama Arumi mencari keberadaan Nayra. Beliau melangkah menuju halaman belakang, dan ternyata Nayra ada di sana menemani anak-anak bermain.


"Nay.." panggil Mama Arumi


Nayra tersenyum, "Iya, Ma." Nayra berdiri dan berjalan mendekat ke Mama Arumi saat Mama Arumi memintanya mendekat.


"Duduk sini." Mama Arumi meminta Nayra duduk di sebelahnya.


"Kamu gak apa kan?" ada nada kekhawatiran di dalam pertanyaan yang Mama Arumi lontarkan.


"Nayra gak apa kok, Ma." jawabnya dengan senyumnya


"Emang Nayra kenapa?" tanyanya balik, karena dia tidak tahu kalau Mama Arumi sudah mengetahui kejadian tadi siang.


"Kata Kiara kamu tadi ketakutan saat masuk kamar waktu Devan memanggilmu. Apa itu benar?" tanya Mama Arumi menatap menantunya itu cemas. Beliau takut kalau menantunya akan mengingat itu dan justru membuat Nayra semakin ketakutan.


Nayra tertawa kecil. "Mama sudah tahu?" Mama Arumi mengangguk.


"Nayra punya phobia balon, Ma. Dari kecil Nayra takut sama Balon. Nayra dulu juga pernah di bawa Mama ke psikiater, karena dulu masih remaja Nayra sering menolak kalau diajak ke psikiater. Jadi ya sampai saat ini masih merasa takut kalau melihat balon." terang Nayra dengan senyumnya supaya Mama Arumi tidak begitu khawatir dan mencemaskan nya.


"Tapi benar kamu saat ini sudah gak apa, sayang?" Mama Arumi memastikan, dia takut saja kalau ternyata Nayra berbohong akan kondisinya.


"Nayra sudah baik-baik saja, Ma. Mama gak perlu khawatir lagi." Nayra memegang tangan Mama Arumi meyakinkan mertuanya akan kondisinya yang baik.


"Kamu kelihatannya marah sama Devan?" Nayra tertawa mendengar pertanyaan itu namun segera dia hentikan tawanya, gak sopan.


"Kenapa tertawa?" Mama Arumi heran melihat menantunya yang ditanya bukannya menjawab malah tertawa.


Nayra menengok ke dalam memastikan Devan di sana gak di sekitar dia. Nayra lebih mendekat ke Mama Arumi.


"Nayra sudah nggak marah kok, Ma. Nayra hanya mengerjain Papa Twins saja. Sebagai pembalasan." bisik Nayra pada Mama Arumi.


Mama Arumi bernafas lega. Dia kira Nayra benar marah sama Devan karena membuat dia ketakutan akan balon. Ternyata cuma membalas perbuatan Devan saja.


Malam semakin larut, setelah makan malam Nathan dan keluarganya langsung pulang setelah berbincang sebentar. Begitupun Dahlia dan Diana beserta Eza juga langsung pulang, padahal Nayra melarang karena Eza sudah tidur.


"Kita gak mau ganggu kalian. Jadi kita pulang saja. Kapan-kapan kita akan tidur disini." kata Dahlia saat Nayra mencegahnya untuk pulang.


"Iya, Kak. Kita kapan-kapan akan tidur disini kok. Tenang saja." Timpal Diana.


Akhirnya mereka pulang juga disusul Romi dan Linda. Mama Arumi juga Papa Damar memang ingin tidur di rumah barunya Nayra dan Devan. Jadi sepasang paruh baya ini tidak ikut pulang. Katanya mereka ingin menghabiskan malamnya dengan cucu kembar mereka. Dan tumben-tumbennya si kembar mau tidur bersama Kakek dan Neneknya. Dan itu jarang terjadi.


"Sayang.." panggil Devan saat melihat Nayra yang baru saja keluar dari kamar mandi selesai berganti piyama tidurnya.


Nayra cuek saja dan duduk di depan meja rias dan memakai skin care nya.


"Kamu masih marah sama aku gara-gara tadi siang, Ra?" Devan terlihat memelas berdiri di samping meja rias menatap istrinya.


Kalau dia marah terus kapan aku bisa buka puasa. Padahal hari ini dia sudah bisa dipakai lagi. Aduh!!! Haruskah berpuasa lagi ini. Sabar Devan..Bujuk dulu istrimu supaya bisa memaafkan kesalahanmu. batin Devan berbicara.


"Sayang..Maafin aku yaa.." Devan segera memegang tangan Nayra saat Nayra beranjak berdiri.


Nayra menatap Devan sekilas dengan wajah datar dan melepas tangannya yang di pegang Devan. Dia berjalan menuju ranjang.


Grep


Devan memeluk Nayra dari belakang. Dia mencium harum wangi rambut Nayra. "Maafkan aku." ucapnya lirih.


"Aku benar-benar gak tahu kalau kamu punya phobia."


"Maafkan aku, sayang." Devan semakin erat memeluk istrinya. Dia benar-benar menyesal telah membuat istrinya panik ketakutan karena ulahnya.

__ADS_1


Nayra memejamkan matanya menghirup wangi maskulin milik Devan dan memegang tangan suaminya yang melingkar di perutnya.


Nayra bergerak dan berbalik menatap Devan. Dia kaget, ternyata suaminya itu menangis meski tak mengeluarkan suara. Tapi air mata itu keluar membasahi wajah tampan suaminya. Tangan Nayra bergerak untuk menghapus air mata di pipi suaminya.


"Aku minta maaf." ucap Devan lirih menatap manik hazel istrinya.


Nayra tersenyum. Cup. Nayra mengecup singkat bibir suaminya. "Aku sudah memaafkanmu." kata Nayra dengan manjanya sudah bergelayut di leher suaminya.


"Benar kamu sudah memaafkanku karena kejadian tadi?" tanya Devan memastikan.


Nayra yang masih tersenyum itu menganggukkan kepalanya. Dia berjinjit dan mendekatkan bibirnya di telinga Devan.


"Happy anniversary 6th pernikahan, suamiku sayang." ucap Nayra lirih.


Devan langsung merengkuh tubuh ramping istrinya itu. "Happy anniversary juga Rara, istriku sayang." Devan menciumi rambut Nayra, kening dan juga pipi istrinya itu.


Direnggangkan pelukan itu dan ditatapnya manik mata hazel milik istrinya dengan perasaan bahagia. "Kamu ingat juga?" Nayra mengangguk dan tersenyum.


"Tunggu sebentar, aku ada hadiah untuk kamu." Devan melepas pelukannya dan berjalan menuju nakas mengambil sebuah kotak bludru berwarna navy.


Devan kembali berdiri di hadapan Nayra. Diambilnya tangan Nayra sebelah kiri. "Aku lepas ya?" tanya Devan saat memegang jari manis istrinya yang terdapat cincin nikah mereka beberapa minggu yang lalu yang dibelikan Nathan.


"Kenapa dilepas?" tanya balik Nayra.


"Karena aku ingin kamu memakai ini." Devan membuka kota bludru itu.


Nayra menutup mulutnya dengan tangan kanan yang masih bebas. "Kamu masih menyimpannya?" Nayra tak percaya jika Devan masih menyimpan cincin itu.


"Iya..aku masih menyimpan semua kenangan tentang kita. Termasuk ini." jelas Devan


"Kamu mau kan memakai ini lagi?" sambung Devan menunjuk cincin yang ada di dalam kotak bludru.


Nayra mengangguk beberapa kali. Dia mau memakai cincin pernikahannya dulu yang sempat dia kembalikan ke Devan. Bukan kembalikan lebih tepatnya dia tinggal.


Devan melepas cincin di jari manis Nayra dan memasangkan kembali cincin pernikahannya yang dulu ke jari manis milik istrinya. Dan diciumnya tangan istrinya itu.


Nayra menatap haru apa yang dilakukan suaminya. Meski sederhana tapi menurutnya itu romantis.


"Makasih." Cup. Nayra mengecup bibir Devan dan segera ditahan tengkuknya oleh Devan sebelum Nayra melepaskan kecupan itu. Dihisapnya bibir manis istrinya itu dengan lembut dan pelan penuh dengan kehangatan.


"Apa kita sudah bisa mempelajari kitab fathul izar lagi tanpa ada gangguan?" tanya Devan lirih tepat didepan wajah Nayra.


"Aku ingin berbuka puasa." sambungnya menatap Nayra intens.


Nayra mengangguk malu. Wajahnya sudah merah merona.


Devan kembali mencium bibir Nayra sekilas dan mengangkat tubuh istrinya dan dibaringkannya di ranjang. Ditariknya selimut untuk menutupi tubuh mereka.


"Kamu sudah siap?"


"hemm.."


Devan mencium bibir Nayra lembut tanpa paksaan. Dia langsung melepas kain yang melekat di tubuh istrinya juga di tubuhnya sendiri.


"Malam ini aku tak akan membuat mu tidur. Aku akan membuatmu melayang merasakan betapa nikmatnya surga dunia."


"Aku juga akan membuatmu mengerang nikmat akan servis yang aku berikan kepadamu, sayang."


Suasana kamar yang tadinya dingin terasa semakin panas, terbukti dua insan yang lagi memadu kasih sudah mengeluarkan peluh keringat karena terjadinya pergulatan panas di atas ranjang dengan beradunya sahutan erangan dan lenguhan yang mereka ciptakan.


Ahhh..


Akhirnya mereka selesai juga saat jam menunjukkan pukul dua dini hari.

__ADS_1


"Rasanya belum puas buka puasanya. Tapi kasihan kamu sayang. Maaf yaaa...Nanti kita lanjut lagi. Kamu istirahatlah."


__ADS_2