
Setelah dua hari Nayra sadar dari komanya, dia sudah ingin pulang untuk melihat bayi kembarnya yang baru saja lahir ke dunia. Nayra juga selama dua hari ini belajar giat untuk mandiri, bisa bangun sendiri juga berjalan sendiri meski harus berpegangan.
Devan selalu setia mendampingi Nayra di sisinya. Sampai dia harus meninggalkan pekerjaannya dan dia limpahkan pada Romi. Dia ingin selalu berada di sisi Nayra untuk menyemangati istrinya supaya bisa melakukan apa-apa sendiri meski sebenarnya dibenaknya masih mengkhawatirkan kondisi Nayra yang paska sadar dari komanya. Sebenarnya Devan tidak tega melihat Nayra yang menahan sakit saat belajar bangun dan duduk serta berjalan.
Tapi saat melihat tekat dan semangat Nayra yang ingin segera pulang dan bertemu anak-anak membuat Devan mau tidak mau akhirnya menyemangati istrinya. Mendukung semua keinginan Nayra selagi itu baik untuk Nayra dan dirinya juga yang lainnya.
"Sayang!!! Dokternya mana sih? Lama banget nggak muncul kesini?" tanya Nayra yang menunggu dokter kandungan untuk memeriksanya sebelum pulang. Padahal dia sudah ingin melihat bayinya yang baru beberapa hari yang lalu dia lahir kan. Dia belum melihat bayinya secara langsung, hanya lewat vidio call saja dan beberapa foto yang dikirim Mama Arumi.
"Sabar sayang. Kan tadi susternya bilang kalau Dokternya masih ada pasien yang harus di operasi." ujar Devan yang sibuk membereskan barang-barang nya juga barang Nayra karena Mama Arumi tak kunjung datang. Padahal tadi pagi Mama Arumi bilang akan datang untuk membantu Devan berberes. Dan ini sudah siang namun Mama Arumi tak kunjung datang juga.
Nayra menghembuskan nafas kasar dan turun perlahan dari ranjang karena merasa bosan.
"Mau kemana kamu, Ra?" tanya Devan yang langsung siaga berdiri di dekat Nayra dan meninggalkan pekerjaannya.
"Nggak kemana-mana. Cuma ingin membantu kamu saja karena bosan hanya duduk saja." jawab Nayra menatap Devan dengan menyunggingkan senyum.
"Sudah..kamu duduk saja. Biar aku yang mengerjakan."
"Tinggal sedikit lagi, tidak banyak." kata Devan menolak Nayra membantunya.
Devan ingin Nayra istirahat dulu sebelum nanti akhirnya kalau sudah di rumah Devan yakin kalau Nayra nantinya tidak memiliki waktu yang cukup untuk istirahat. Mengingat anak kembarnya yang baru lahir membutuhkan perhatian penuh. Ditambah Kenan dan Kiara yang pastinya juga akan ikut bermanja-manja dengan Mama mereka.
"Tapi aku bosan, Dev." rengek Nayra seperti anak kecil yang minta di bolehkan main oleh Papanya.
"Kamu ini ya!!" Devan yang gemas dengan Nayra lantas menjembel pipi Nayra dengan pelan.
"Nggak takut apa jahitannya berdarah lagi seperti kemarin?" tanya Devan mengingat kemarin waktu Nayra dengan semangat belajar berjalan membuat jahitannya mengeluarkan darah dan untungnya tidak sampai terbuka.
Devan begitu panik saat itu, pasalnya dia takut terjadi apa-apa dengan Nayra. Dia masih ada sedikit trauma kalau Nayra harus pergi lagi dari hidupnya.
Nayra cemberut, dan memalingkan wajahnya ke arah lain yang penting tidak menatap Devan. Dia kesal sama Devan yang melarangnya untuk ini dan itu. Dia tahu maksud Devan itu sebenarnya baik untuk dirinya. Namun Nayra juga ingin beraktivitas juga supaya cepat sembuhnya. Kalau diam saja menurutnya justru akan membuatnya tidak kunjung sembuh dan justru semakin memperparah keadaan. Yang terpenting harus menjaga diri dengan baik dimana pun tempatnya berada. Bukankah seperti itu??!!!
"Jangan marah dong, sayang." Devan memeluk Nayra dengan sayang.
"Aku ingin kamu istirahat dulu sebelum nantinya pulang ke rumah."
"Aku yakin nanti kalau kamu sudah berada di rumah kamu akan susah untuk istirahat." ujar Devan dengan lembut mengingatkan Nayra untuk istirahat terlebih dahulu sebelum pulang.
Nayra menoleh dan menatap Devan yang masih memeluknya itu. Dia tersenyum senang Devan begitu perhatian pada dirinya. Dia tahu Devan masih khawatir dengan keadaannya saat ini. Tapi kalau dia menurut sama Devan, berarti dia nantinya hanya akan berbaring saja di tempat tidur tidak melakukan aktivitas apapun.
"Terima kasih sudah mengingatkan aku, suamiku." ucap Nayra yang mengalungkan kedua tangannya di leher Devan sambil menyunggingkan senyum, menatap Devan dengan mata berpendar.
__ADS_1
Devan membalas senyuman Nayra saat istrinya itu tersenyum. Dia kira tadi Nayra akan marah saat dia berusaha mengingatkan Nayra untuk istirahat dulu sebelum pulang. Ternyata dia justru berterima kasih pada dirinya.
"Sama-sama istriku." balas Devan yang gemas dengan Nayra dan mengecup hidung Nayra sambil digigitnya kecil.
"Ishhh!!!! Kok digigit sih." keluh Nayra dengan wajah cemberut dan memukul pundak Devan pelan.
Devan terkekeh pelan dan mengecup kembali hidung Nayra tanpa menggigitnya kembali.
"Sudah sembuhkan?" tanya Devan dengan menyeringai dan menaikkan sebelah alisnya.
Nayta mencebikkan bibirnya menahan untuk tidak tersenyum tapi pipinya sudah bersemu merah duluan.
Cup.
Devan mengecup sebentar bibir Nayra.
"Kok cuma sebentar." protes Nayra saat Devan hanya mengecup bibirnya saja.
"Tidak terasa apa-apa." goda Nayra dengan mendongak menatap lekat mata Devan dengan bibir sedikit terbuka.
"Kamu mau yang lebih?" tanya Devan erangannya. Dia juga menatap lekat wajah Nayra,namun tatapan itu tertuju pada bibir merah cherry milik Nayra yang sudah menjadi candunya. Istrinya ini selalu saja merayu dan menggodanya di manapun tanpa mengenal tempat.
"Hm.." Nayra hanya berdehem dan semakin mendekatkan wajahnya pada Devan dengan senyum menggoda.
"Kalian berdua ini memang nggak tahu tempat, ya!!" seru Papa Rasyid yang terlihat geram. Beliau baru saja datang bersama Mami Mira dan melihat pemandangan yang begitu panas antara Devan dan Nayra.
Devan dan Nayra segera melepas tautan bibir mereka. Nayra yang malu hanya mampu bersembunyi di dada bidang Devan, sedangkan Devan bersikap seolah barusan tidak terjadi apa-apa. Devan menyalami tangan kedua mertuanya bergantian.
"Salim dulu sama Papa sama Mami dulu sayang." kata Devan pada istrinya yang masih menyembunyikan wajahnya di dada miliknya.
Dengan malu-malu, Nayra akhirnya menyalami tangan Papa dan juga Maminya dengan menyunggingkan senyum tipis.
"Sudah lebih baik sayang?" tanya Mami Mira sambil mengelus lengan Nayra.
"Alhamdulillah sudah, Mi." jawab Nayra yang sudah tidak malu lagi.
"Mama mana? katanya tadi mau kesini juga." tanya Nayra yang tidak melihat kedatangan Mama Arumi.
"Arumi tidak jadi kesini. Anak-anak kamu tadi tidak ada yang mau di tinggal neneknya."
"Apalagi si kecil diam kalau di gendong sama mertua kamu."
__ADS_1
"Sama Mami nangis terus."
"Apalagi kalau mendengar suara Papa kamu. Langsung nangis mereka tidak mau diam." Mami Mira bercerita sambil tertawa membuat Nayra ikut tertawa juga. Dia tidak tahu soal itu karena Mama Arumi kalau telephon tidak pernah membahas itu.
Papa Rasyid mendengkus kesal karena istri dan anaknya justru menertawakan dirinya. Gak si kembar Kenan dan Kiara juga si kembar yang baru lahir semuanya tidak ada yang suka sama Papa Rasyid. Tapi anehnya kalau Papa Rasyid mengeluarkan uang atau membelikan hadiah pasti si kembar langsung mendekat pada Papa Rasyid.
"Permisi!!!" Dokter datang bersama dua suster.
"Bagaimana Ibu Nayra?"
"Apa sudah bisa lari?" canda Dokter Isna, Dokter Obgyn yang menangani Nayra.
"Alhamdulillah sudah, Dok."
"Sudah bisa ikut lomba lari maraton." balas Nayra yang menanggapi candaan Dokter Isna.
Dokter Isna dan yang lainnya tertawa mendengar tanggapan Nayra.
"Baiklah kalau begitu, saya periksa dulu apa benar sudah kuat apa belum buat lari." kata Dokter Isna dan memulai memeriksa kondisi Nayra.
Dokter Isna tersenyum pada Nayra setelah selasai memeriksa kondisi Nayra.
"Sudah boleh pulang kan, Dok?" tanya Nayra yang sudah tidak sabaran untuk segera pulang dan ketemu anak-anaknya.
"Pak Devan!! Tolong jaga istrinya nanti kalau sudah pulang jangan boleh berlari dulu." kata Dokter Isna pada Devan dan tidak menanggapai pertanyaan yang keluar dari mulut Nayra.
Nayra mencibir Dokter Isna dalam hati. Dia menatap sinis pada Devan yang menanggapi perkataan Dokter Isna.
Kedua suster itu membantu Nayra untuk melepas infus yang masih tertancap di punggung tangannya. Dan itu artinya Nayra sudah boleh pulang.
"Kalau begitu kami permisi dulu."
"Dan diingat ya Ibu Nayra untuk kontrol seminggu sekali." kata Dokter Isna sebelum pergi meninggalkan ruang rawat Nayra.
"Sudah...Senang sekarang?" tanya Devan yang melihat istrinya itu senyum-senyum sendiri dengan mata berpendar memancarkan kilau bintang.
"Aku sudah tidak sabar bertemu anak-anak dan memberi nama buat dedek bayi nya." ujar Nayra yang tidak melepas senyumnya itu.
"Siapa kira-kira namanya, Ra?" tanya Papa Rasyid yang penasaran karena setiap kali bertanya pada Devan maupun Nayra pasti tidak diberitahu. Rahasia katanya.
Baik Nayra maupun Devan hanya senyum saja tidak menjawab pertanyaan yang keluar dari mulut Papa Rasyid. Mereka masih merahasiakan siapa nama bayi kembar adik dari Kenan dan Kiara. Mereka akan mengumumkan nanti kalau Nayra sudah ada dirumah.
__ADS_1
Big hug