
"apa...ini...?". di sertai langkah kaki ayla yang berhenti. matanya lurus melihat ke depan tanpa mengerjap dan pegangan tangan keduanya terlepas.
Deniz tersenyum melihat wanita yang sangat sangat dia cintai tersebut terbengong. deniz kembali meraih tangan ayla untuk ia genggam, menyentak ayla hingga menabrak dada bidangnya.
Deniz meletakkan kedua tangannya di pinggang ayla melihat menatap ayla dengan intens.
"bukankah aku sudah menjawab tadi...?". itu adalah ucapan pertama deniz setelah diam beberapa saat menatap menikmati wajah istrinya dan tidak lupa senyum tipis di wajah tampannya. senyum menyiratkan akan sesuatu. kemenangan. karna apa? karna...
Deniz berhasil membuat jantung ayla tak karuan di dalam sana.
Ayla menelan ludahnya gugup.
'dengan pria ini, benar benar tidak baik untuk jantungnya! aku bukan lagi mencintainya tapi...setiap hari atau setiap saat...aku selalu berhasil di buat jatuh cinta padanya ughhh...ini tidak adil, lihat saja...dia...baik baik saja...dengan senyumnya yang menyebalkan+menjengkelkan'. ayla membatin. ucapan deniz hanya terdengar samar samar di telinganya sebelum ia berdehem memulihkan ekpresinya yang sedang di mabuk cinta.
Ayla mencoba mendorong tubuh deniz untuk menjauh dari dirinya terutama ada beberapa pasang mata yang sedang melihat ke arah mereka.
Namun percuma karna deniz tidak berniat mau melepaskan ayla.
Terpaksa ayla mengalah mendongak menatap deniz.
"ya aku masih ingat! tapi...harus menggunakan itu?! ". tanya ayla tanpa mengalihkan matanya menatap wajah tampan suaminya di tambah dengan manik matanya yang sangat indah dan unik baginya. ia berharap...anaknya harus mirip deniz dan manik mata deniz harus turun ke anak anaknya tapi lain dari deniz. deniz mau anak mereka semua mirip denganku baik laki maupun perempuan dan juga harus mewarisi manik mataku dengan alasan satu...pria ini...mau aku terus menatapnya, mengaguminya, mencintanya dengan gila tanpa membagi pada anak mereka jika anak mereka memiliki kemiripan dengannya. kecemburuan yang diluar akan sehat. aku akan menggeleng dan menghela nafas frustrasi jika mengingat hal tersebut. pembicaraan yang tidak mau sama sekali pria ini bahas. jawabannya hanya akan ada satu kalimat. 'baik cowok atau cewek, semua harus harus mirip denganmu beyza? '. dia gila.
Tadi malam sebenarnya kami habis bertengkar hanya karna masalah tersebut.
Flash back...
Jam 22:12 waktu new berlin-jerman.
Mendengar ucapan deniz yang baginya tidak masuk akal sama sekali. ayla bangkit berdiri mengejar langkah deniz yang sudah marah marah tidak jelas dan dia mau masuk kamar mandi, mau membersihkan tubuhnya setelah tadi habis beraktifitas panas.
"lalu...bagaimana jika nanti lahir dan anakku mirip denganmu, apa kamu berencana tidak akan mau menerimanya?! ". suara ayla yang berteriak marah sekaligus geram dengan deniz.
Deniz menghentikan langkahnya. berbalik menatap ayla dengan mimik wajahnya yang dingin sama sekali tidak bersahabat. jarak keduanya hanya sekitar 2 meter.
Deniz menyungging senyum keji namun jahil. ia melangkah menghampiri ayla dengan langkah pelan namun pasti pada targetnya.
"sayang...? sepertinya kamu harus memperbaiki ucapanmu barusan! anakku...?".
Ayla perlahan memundurkan langkahnya sembari menatap deniz dengan ngeri. langkahnya berhenti karna ranjang di belakangnya menghalanginya, sungguh sangat menghalanginya. mau naik ke ranjang melarikan diri? itu tidak mungkin. mau kesamping, deniz sudah lebih dulu mencekal pergerakannya. menolak deniz? apa itu mungkin. kemarahan pria? jangan pernah memancingnya.
So...tadi dia berucap tanpa berpikir dan kata kata anakku adalah kata kata yang sangat sensitif bagi pria ini.
__ADS_1
Ayla menelan ludah, menyamping wajahnya karna tidak mau menatap wajah deniz yang sekarang berjarak hanya beberapa jengkal.
Deniz menaikkan sudut bibirnya membentuk senyum keji. mengangkat tangan meraih dagu ayla untuk menatap wajahnya lebih lebih menatap ke dalam manik matanya lalu deniz akan mengunci manik mata ayla dengan tatapannya yang tajam, yang sama sekali tidak bisa di tolak ayla serta sontak membuat tubuh ayla menurut ke deniz.
"sayang...? kita membuatnya sama sama, masih ingat hm...?". deniz berbicara tepat di hadapan bibir ayla, yang baginya sangat sangat memabukkan.
Baru beberapa menit yang lalu mereka baru menyelesaikan aktifitas panas dan sekarang? ia mau lagi.
Deniz mengumpat dalam hati.
Ayla lagi lagi menalan ludah sembari mengedip ngedipkan kedua kelopak matanya. nafasnya benar benar naik turun dan degupan jantungnya benar benar tidak stabil di dalam sana.
"aku rasa tubuhmu tidak lelah lagi sayang...? untuk ronde selanjutnya, bagaimana menurutmu...?". denis berucap di telinga ayla, yang sontak membuat tubuh ayla merinding.
Ayla memejamkan matanya. kedua tangannya menolak dada bidang deniz yang tanpa sehelai benangpun karna sekarang deniz hanya menggunakan handuk yang terlilit di pinggangnya.
Sebenarnya mereka sudah mandi tadi namun begitu keluar dari kamar mandi dengan handuk yang terlilit di pinggangnya deniz. dia melihatku di depan kaca yang sedang merapikan rambut dan berencana mau bobok manis setelah melayani suaminya namun deniz yang tidak bisa menahan nafsunya terlebih melihat aku yang menggunakan lingerie seksi berwarna biru yang panjang sebatas paha kembali memancing nafsu pria ini dan di sinilah ia sekarang...dengan pria yang terlilit handuk di depannya.
"aku salah! maaf...aku terlalu geram dan marah padamu tadi...lagian...itu salahmu".
Deniz menaikkan satu alisnya. jawaban yang sama sekali tidak mau ia dengar.
Ayla berekspresi biasa tanpa terkejut karna sudah hal biasa deniz lakukan padanya. ia menarik nafas sebelum berbicara.
"baiklah! dia anakmu...akan selalu menjadi anakmu dan selamanya...anakku denganmu,anak kita...cup! ". ayla membalas kecupan deniz.
"sudah?!". tanya ayla menatap wajah deniz.
Deniz tersenyum keji kemenangan.ia kembali mengecup bibir ayla namun tidak sekali tapi beberapa kali hingga ayla merasa geli dan ia pun terkekeh.
"lebih dari cukup dan sangat menenangkan". ucap deniz sembari memeluk tubuh ayla dan meletakkan dagunya di pundak ayla.
Ayla membalas pelukan deniz.
"lalu bagaimana...".
"mau mirip siapapun dia tetap anakku denganmu beyza? namun aku akan mati dalam kecemburuan aku rasa jika nanti anak kita mirip denganku! satu saja membuatku tidak bisa memikirkan bagaimana masa depan ku bagaimana jika semua? oh beyza...aku benar benar bisa mati karna kecemburuan".
Ayla terkekeh mendengar ucapan deniz.
__ADS_1
"jangan mengatawaiku sayang?... arghhhh....aku cemburu pada anakku sendiri, yang bahkan belum lahir ughhh...". deniz semakin mengeratkan pelukannya.
"percayalah cintaku tidak akan terbagi". yakin ayla ke deniz.
"kamu mengatakan kalimat yang sama sekali tidak mungkin beyza? jangan menenangkanku sekarang, meski kamu tidak bilang itu tapi aku tahu kebenarannya sayang...? cintamu tentu akan terbagi untuk anak kita, perhatianmu...ah semuanya pokoknya". deniz berucap frustrasi.
"deniz? kamu salah, sangat salah! bukan cinta yang terbagi tapi waktu...jika cinta... aku yakin semakin hari semakin aku mencintaimu dan jatuh cinta padamu sama seperti kamu juga dan begitu anak kita lahir? maka cintaku akan semakin bertambah padamu...ehmmm....sulit untuk di ungkapkan dengan kata kata tapi...yakinlah...bertambah banyak anak, bertambah cintaku padamu namun? jika waktu? itu baru iya, jika sekarang waktuku semua untukmu tapi nanti? kamu harus berbagi dengan anak anakmu! semakin banyak anak, maka semakin berkurang waktumu! cinta? itu akan terus ada untukmu". ayla merenggangkan pelukan mereka dan menatap wajah deniz.
"apa mungkin kamu tidak mau berbagi waktu dengan anakmu? ".
Deniz sontak menggeleng. Ayla tersenyum lalu mengecup bibir deniz singkat.
"apa tidak mau punya anak banyak? ".
Deniz sebentar membulatkan matanya sebelum wajahnya memerah malu lalu dengan cepat memeluk ayla. ia tersenyum di pundak ayla. senyum kebahagian.
"tentu saja mau, itu enak.. arghhh...". jerit deniz saat ayla memelintir perut deniz.
Ayla geram namun deniz terkekeh.
Deniz menggaruk kepalanya yang sama sekali tidak gatal.
"tapi tetap saja beyza...? aku mau anak kita semua mirip denganmu".
Ayla menaikkan satu alisnya.
"alasannya lagi? jangan bilang...".
Deniz memilih melihat ke arah lain dari pada menatap wajah ayla yang sekarang sedang kesal padanya.
"aku takut kamu akan jatuh cinta pada anak kita dan cintamu pada ku akan berkurang lalu kamu melupakanku dan semua...di ambil oleh anak kita, perhatian mu, kasih sayangmu, waktumu...semuanya".
Dan seperti ia bilang. ia hanya bisa menatap deniz dengan rasa tidak percaya, menggeleng kepala tidak habis pikir dan menghela nafas.
Benar benar tidak masuk akal.
Flashback off...
Apa ada yang suaminya begini? cemburu kelewatan. aku penasaran dengan suami para wanita di luar sana. apa sama seperti pria ini? dan jika iya? oh aku tidak ada solusi. aku sendiri benar benar frustasi. ughhh...ingin sekali ku hajar.
__ADS_1