Rahim Pengganti

Rahim Pengganti
Romi dan Linda


__ADS_3

Ting


Pintu lift terbuka dan segera Romi keluar dari dalam lift. Dengan tampang kusutnya dia berjalan menuju meja kerja Linda, sekertaris Devan.


Diambilnya kursi dan ditariknya ke depan meja kerja Linda. Dia duduk dan bertopang dagu diatas meja kerja Linda. Memandang Linda dengan tampang kusutnya.


"Kenapa tu muka? Macam setrikaan kusut saja." cibir Linda melihat Romi yang tidak seperti biasanya.


"Kamu jadi nikah?" bukannya membalas, Romi justru bertanya pada Linda.


"Kalau jadi kenapa memangnya?" tanya balik Linda namun di kembali fokus ke pekerjaannya.


"Aku berharap pengantin prianya kabur." jawab Romi asal


Linda yang kesal akan jawaban yang Romi berikan langsung menarik tangan Romi membuat dagu Romi mendarat sempurna di atas meja.


"Jahat banget sih jadi cewek." gerutu Romi sambil mengusap dagunya yang terasa panas.


"Kamu yang jahat bukan aku." Linda mendelik pada Romi.


"Kalaupun pengantin prianya kabur, kamu yang akan menggantikannya." sambung Linda dengan menatap tajam pada Romi.


"Dengan senang hati." sahut Romi cepat tanpa berpikir terlebih dahulu.


Linda tersenyum sinis, "Dan itu tak akan pernah terjadi." kata Linda pelan dan penuh penekanan di setiap katanya.


"Pergi sana." usir Linda


"Mengganggu pekerjaan saja." gumam Linda melirik Romi yang berdiri dari duduknya.


Linda fokus kembali ke pekerjaannya. Dia ingin segera menyelesaikan laporan yang seharusnya di kerjakan kemarin. Namun karena belum selesai jadi dia kerjakan sekarang sebelum Bosnya datang. Nanti kalau Bosnya sudah datang tinggal dikasih. Dia gak mau kena omel Bosnya itu.


"Aku pastikan aku nantinya yang bersanding di pelaminan bersamamu." bisik Romi tepat di telinga Linda.


Linda yang fokus mengetik laporan langsung terdiam. Kesepuluh jarinya melayang di atas keyboard tanpa bergerak lagi. Dia juga lupa sampai tak bernafas untuk beberapa detik karena kekagetannya itu. Apalagi dia tadi sempat merasakan hembusan nafas hangat yang menerpa bulu halus di pipinya.


"Sadar oe..Gitu aja langsung blushing." sontak Linda langsung menangkupkan kedua tangannya di pipi membuat Romi langsung tertawa terbahak.


"Sial!!!" umpat Linda merasa dikerjain Romi.


Linda berdiri dan mengambil binder dokumen dan memukulnya pada punggung Romi.


"Rasain ini rasain." kesal Linda terus memukul punggung Romi.


"Aduh..Aduh.." keluh Romi yang merasa sakit.


"Sorry bercanda tadi." Romi berusaha menghindar dari serangan fajar yang dilakukan Linda.


"Apa-apaan ini."


Linda langsung menghentikan gerakannya dan segera menyembunyikan binder dokumen di belakang punggungnya saat mendengar suara Bosnya.

__ADS_1


"Kalian berdua keruangan saya sekarang juga." perintah Devan tegas pada dua orang dewasa yang tadi seperti anak-anak tingkahnya.


"Iya Bos." jawab Romi dan Linda.


"Kamu yang mulai." sungut Linda pada Romi


"Kamulah..Kamu duluan yang mukul aku." Romi membela diri karena dia tadi tak merasa mengganggu Linda.


"Apa kalian mau bulan ini tidak dapat gaji dan juga bonus?" ancam Devan saat mendengar mereka masih saja berdebat.


Romi dan Linda langsung diam. Dia segera menyusul masuk ke ruangan Bosnya, Devan.


Devan menatap kedua karyawan setianya itu yang selalu bertingkah seperti Tom and Jerry setiap kali berduaan. Dan dia tahu, Romi lah yang selalu mengganggu Linda.


Romi tak peduli, Linda sudah punya pacar, punya tunangan ataupun punya suami Romi akan tetap selalu mengganggu Linda.


Romi dan Linda berdiri menunduk menatap ujung sepatu mereka masing-masing. Mereka tidak berani menatap Bosnya itu. Karena mereka sadar, ini bukan kali pertamanya mereka disidang karena tingkah mereka.


"Kalian itu cocok banget kalo jadi pasangan suami istri." kata Devan sambil meletakkan tangannya di atas meja dan saling bertautan.


Romi dan Linda saling pandang kemudian mereka saling bergeser agak menjauh karena baru sadar jika jarak berdiri mereka terlalu dekat.


Devan tersenyum tipis melihat tingkah mereka.


"Romi, kamu apakan Linda tadi sampai dia memukul kamu pakai binder dokumen?" tanya Devan pada asistennya


"Aku gak ngapa-ngapain dia, Bos." jawab Romi singkat.


"Emang apa yang kamu tertawa kan Romi?" tanya Devan lagi


"Tidak ada, aku hanya menggodanya saja." jawab Romi tanpa rasa bersalah sedikitpun.


"Benar itu Linda?"


"Romi tadi bilang 'Aku berharap pengantin prianya kabur' begitu, bos." Linda menirukan nada bicara Romi.


"Kenapa, Rom. Apa kamu mau menggantikannya nantinya?" tanya Devan dan menyandarkan punggungnya di kursi sambil di goyangkan.


"Ya..Kalau dia mau." jawab Romi sambil melirik Linda.


"Mana mau aku sama kamu lagi." sungut Linda tak peduli sekarang dia berada di hadapan bosnya.


"Yakin gak mau?" Romi menaikkan sebelah alisnya sambil menatap Linda.


"Yakin seratus persen." jawabnya singkat.


"Permisi Bos. Saya mau melanjutkan pekerjaan saya. Dan saya minta maaf atas kelakuan saya." Linda menunduk hormat pada Devan lantas dia bergegas keluar.


"Masih suka kamu sama dia?" tanya Devan yang melihat Romi sudah mendudukkan pantatnya di sofa.


Romi hanya berdehem dan membaringkan dirinya di sofa. "Aku pinjam sofanya buat tidur." serunya.

__ADS_1


"Kemana kamu pergi semalam?" tanya Devan yang tak melihat Romi keluar dari kamarnya tadi pagi.


"Ke bar..Mencari pelampiasan karena tak sengaja mendengar orang berbuat mesum di ruang kerja." sindir Romi.


"Maksudnya?"


"Kau gak tahu diri banget ya, Dev." Romi langsung bangun dari rebahannya.


"Kamu tahu nggak? Suara kamu sama Nayra semalam mengganggu konsentrasiku buat tidur nyenyak." sentak Romi yang merasa geram akan tingkah sepupu dan iparnya.


Devan tertawa terbahak-bahak mendengar perkataan Romi.


"Jadi semalam kamu pergi ke bar buat cari pelampiasan?" tanya Devan dengan sisa tawanya.


",Ehmmm.."


"Dapat gak semalam?"


"Sialnya justru wajah Linda saat marah yang selalu muncul saat aku mau main." umpat Romi kesal karena tak mendapatkan pelampiasan.


Lagi-lagi Devan tertawa terbahak-bahak dibuatnya. Dia tahu Romi itu sedikit nakal jika sedang stres. Mungkin dia sekarang stres karena tahu Linda akhir bulan ini mau menikah. Dan sayangnya Linda menikah bukan dengan Romi. Tapi dengan pria lain.


Devan beranjak dari kursi kebesarannya dan duduk disamping Romi. Dia menepuk pundak Romi.


"Sabar. Jika memang Linda bukan jodohmu seenggaknya masih ada Linda yang lain diluar sana."


"Kalau perlu, tikung dia disepertiga malam. Dan jangan lagi kamu berbuat seperti semalam."


"Masih ada waktu dua minggu lagi buat kamu bisa mematahkan takdir Tuhan."


"Itupun kalau memang Linda jodohmu."


"Thank's brother." Romi memeluk Devan.


"Ihh lepas. Aku masih normal." seru Devan.


Romi tertawa melihat ekspresi tak suka pada Devan.


"Sudah sana pulang. Temani Mama sama Nayra membeli perlengkapan buat acara ultah si kembar sama acara empat bulanan." kata Devan menyuruh Romi pulang.


"Sama saja kerja." keluh Romi.


"Perginya nanti siang nunggu si kembar pulang sekolah." timpal Devan


"Baiklah kalau gitu. Aku pulang dulu. Mau tidur, ngantuk." Romi segera berdiri dan pergi dari ruangan Devan untuk segera pulang.


Saat melewati meja kerja Linda, Romi berhenti sejenak. Namun tak melirik Linda sedikitpun. Dia kemudian kembali melangkahkan kakinya untuk segera pulang dan tidur.


"Akan ku tikung kamu nanti di sepertiga malam."


"Dua minggu ini harus maksimal."

__ADS_1


__ADS_2