Rahim Pengganti

Rahim Pengganti
Kamu datang


__ADS_3

Nayra baru tersadar setelah malam tiba, dia merasakan perutnya yang masih sedikit kram tidak seperti sebelumnya. Dia menatap sekeliling yang begitu familiar.


"Kenapa aku ada disini?" tanya Nayra saat sadar dirinya ada di sebuah klinik.


"Bukannya tadi aku masih di villa itu sama Kak Maya"


"Kak Maya mana?" Nayra melihat sekeliling yang tidak menemukan keberadaan Maya.


"Eghh.." rintih Nayra saat merasakan kram kembali saat dia ingin bangun dari rebahan nya.


"Nona mau kemana?" tanya Suster yang muncul dari tirai sebelah saat mendengar suara rintihan Nayra.


"Aku kenapa ada disini Sus?" tanya Nayra saat melihat Suster wanita itu mendekat.


"Anda tadi mengalami dehidrasi juga pendarahan Nona." jelas Suster sopan.


"Pendarahan Sus?" Nayra reflek mengusap perutnya yang sedari tadi terasa sakit karena kram.


"Iya Nona, alhamdulillah nya janinnya masih aman saja. Dan Dokter meminta anda untuk bedrest sementara waktu sekitar paling cepat seminggu." jelas Suster


Nayra menatap nanar perutnya yang membuncit itu. "Maafkan Mama sayang tidak bisa menjaga kamu dengan baik dan membuat mu kesakitan." sesal Nayra dalam hatinya yang tidak bisa menjaga janinnya.


"Yang ngantar saya kemana Sus?" tanya Nayra


"Dia tadi tidak kembali lagi setelah membayar administrasi untuk anda, Nona." jawab Suster tersebut.


"Pergi kemana kak Maya?" batin Nayra bertanya-tanya.


"Sus, boleh pinjam handphone nya? Saya ingin menghubungi suami saya." pinta Nayra pada Suster yang menemaninya itu.


"Boleh Nona." Suster itu mengambil handphone nya dan memberikan ke Nayra.


Nayra memasukkan nomor Devan dan segera menghubungi nomor suaminya itu.


"Kok gak diangkat sih." keluh Nayra saat panggilan telephon tak kunjung diangkat sama Devan.


Nayra terus mencoba sampai panggilan ke enam baru diangkat.


"Hallo!!!"


"Dev.." panggil Nayra lirih saat akhirnya bisa mendengar suara suaminya lagi. Dia merasa sedih bercampur bahagia. Sedih karena melukai janinnya dan bahagia bisa mendengar suara orang sangat dirindukannya saat ini.


"Dev..Jemput aku.." Ucap Nayra saat Devan hanya diam saja di seberang sana.


"Kamu dimana sekarang?" Nayra tersenyum saat mendengar ada nada khawatir di pertanyaan yang Devan berikan.


"Aku di..."


tut..tut...tut....


"Dev..hallo...sayang..Devan.." Nayra memanggil Devan berkali-kali namun tak juga disahuti sama suaminya itu.


"Kok mati sendiri sih."


"Aishh...kehabisan baterai." keluh Nayra saat sadar kalau handphone nya mati.


"Ini sus, maaf handphone nya mati. Mungkin kehabisan baterai. Terima kasih ya sus." dengan menyunggingkan senyum Nayra mengembalikan handphone suster tersebut.


"Iya Nona, maaf gak tahu kalau baterai handphone nya mau habis." sesal suster.


Nayra mengangguk dan kembali istirahat karena hari sudah mulai malam. Kalaupun dia pulang, dia tidak tahu jalan. Dia belum mengenal kota tempat tinggal suaminya ini. Walau dia dulu sering ke Jakarta tapi hanya di rumah yang Nathan tempati saja, tidak kemana-mana.


"Nona, kalau perlu apa-apa saya ada di sebelah." kata Suster menunjuk tirai dimana dia keluar tadi.


"Iya Sus."


Nayra menghembuskan nafas perlahan. Dia memejamkan matanya dengan kedua tangan yang mengusap pelan perut buncit nya.


"Semoga Papa segera menemukan kita dan menjemput kita untuk dibawa pulang ya, sayang." gumam Nayra lirih.


"Kamu harus kuat sampai tiba waktunya nanti."


...............


"Papa!" teriak Kenan juga Kiara saat melihat Papanya lari keluar kamar setelah menerima telephone. Mereka berdua berlari juga mengejar Papa Devan.


"Aska!!!" teriak Di Devan setelah sampai di lantai satu.


"Aska mana?" tanya Devan pada seluruh anggota keluarga yang masih mendengar cerita Romi juga Nathan di ruang keluarga karena tidak menemukan batang hidung Faiz.

__ADS_1


"Mandi." jawab Nathan.


"Ini.." Devan memberikan handphone nya pada Nathan.


"Tolong lacak nomor itu cepat." perintah Devan tegas.


"Cepat Nathan!!!" sentak Devan saat melihat Nathan yang bengong menatap handphone milik Devan di tangannya.


"Nomor siapa ini?" tanya Nathan yang mengenali nomor itu dari daerah mana.


"Nggak tahu, yang pasti Nayra tadi telephon pakai nomor itu." jawab Devan kesal karena Nathan tak kunjung melacak nomor itu.


"Nayra telephon!!!!!" seru semua orang yang ada di ruang keluarga.


"Iya...Makanya cepat lacak nomor itu Nathan." bentak Devan yang sudah tidak bisa menahan kekesalannya.


"Cepat sebelum Nayra hilang lagi." ucap Papa Rasyid tegas.


Nathan segera berdiri dan berjalan cepat menuju ruang kerja diikuti Devan sama Romi.


"Kak ayo sini." Nathan menarik tangan Faiz yang baru saja keluar dari kamarnya yang ada di lantai satu.


Faiz diam saja mengikuti Nathan juga Devan dan Romi yang terlihat tegang itu.


Nathan memposisikan Faiz duduk di kursi meja kerjanya, "lancak nomor ini. Nayra tadi telephon pakai nomor ini." kata Nathan menyodorkan handphone Devan.


Tanpa banyak tanya Faiz lamgsung mengaktifkan laptop dan melacak nomor tak dikenal itu.


"Nayra masih dipuncak kan?" tanya Nathan memastikan kalau tebakannya benar. Karena nomor yang dipakai Nayra tadi berasal dari daerah puncak, Bogor.


"Iya..Nomor ini ada di titik lokasi klinik dekat villa." jawab Faiz setelah menemukan titik koordinat nomor handphone tersebut.


"Kita kesana sekarang." perintah Devan dan diangguki mereka semua.


"Papa mau kemana?" tanya Kiara saat melihat Devan pergi lagi bersama para Pamannya.


Devan mendekat ke putrinya itu yang berdiri bersama Kenan. Dia berjongkok sambil mengelus pelan kepala Kenan dan Kiara bergantian.


"Papa mau menjemput Mama sama Dedek bayi." ucap Devan dengan lembut menatap kedua anaknya bergantian.


"Kenan mau ikut?"


"Kalian dirumah saja yah."


"Papa janji kali ini Papa akan bawa pulang Mama sama Dedek bayinya."


"Janji Pah!!" seru si kembar bersamaan.


"Iya, Papa janji."


"Kalian dirumah saja yah."


"Gak boleh menyusahkan orang lain."


Kiara dan Kenan dengan kompak mengangguk. Devan tersenyum melihat itu. Diciumnya kening kedua anaknya bergantian.


"Papa pergi dulu. Assalamualaikum."


"Walaikumsalam."


"Dev.." Devan menghentikan langkahnya saat mendengar suara Mama Arumi memanggilnya.


"Bawa menantu Mama pulang dalam keadaan selamat dan sehat." Devan mengangguk mendengar permintaan Mamanya.


"Insha Allah,Ma."


"Devan berangkat dulu."


Devan menyusul para paman si kembar yang sudah menunggunya di mobil.


Romi langsung tancap gas setelah Devan masuk ke mobil. Butuh waktu kurang dari dua jam mobil yang Romi kendarai sudah sampai di depan klinik dimana Nayra berada.


"Selamat malam Tuan." sapa salah anggota tim Faiz yang ditugaskan untuk mengecek keberadaan Nayra di klinik tersebut terlebih dahulu sebelum mereka datang.


"Bagaimana?" tanya Faiz.


"Benar Tuan, Nona Muda ada disini. Dia sedang istirahat sekarang." jawabnya sopan


Devan segera masuk ke dalam saat dipastikan kalau Nayra benar ada disana.

__ADS_1


"Lewat sini Tuan." Devan diarahkan dengan anggota yang lain.


Devan membuka tirai berwarna hijau itu dan dilihatnya istrinya yang terlihat menyedihkan dibandingkan tadi pagi saat dia ketemu.


Devan berjalan mendekat ke brankar Nayra yang kecil dengan selimut tipis menutup tubuh bagian bawahnya dan selang infus di tangan kanan.


"Sayang.." lirih Devan memanggil istrinya. Diusapnya pipi Nayra dengan lembut, Devan tidak berani membuat Nayra terbangun dari tidurnya mengingat ini sudah tengah malam.


Devan mencium kening Nayra lama sambil memejamkan matanya.


"Kamu baik-baik saja kan?" gumam Devan menatap wajah istrinya yang terlihat lelah dan sepertinya menahan sakit. Terlihat kerutan di keningnya dan juga bola matanya yang terus bergerak meski dalam mata terpejam.


"Permisi Tuan." Dokter yang menangani Nayra datang setelah diberitahu kalau pasien hamil yang ditanganinya adalah adik dari Nathan Arasyid. Dia segera menemui keluarga pasien untuk memberi penjelasan lebih detailnya sebelum klinik ini nantinya dihancurkan oleh Arasyid Grup


"Saya Dokter yang menangani pasien atas nama Nona Nayra Arasyid." Dokter itu memperkenalkan diri.


"Bagaimana kondisi istri saya?" tanya Devan menatap Dokter tersebut.


"Alhamdulillah kondisinya sudah membaik. Pasien tadi mengalami dehidrasi juga ketakutan yang sangat berat dan mengakibatkan pendarahan." jelas Dokter apa adanya.


"Pendarahan Dok?" tanya Faiz, Nathan juga Romi bersamaan.


Sedangkan Devan terlihat begitu syok. Dia menatap Nayra dan perut istrinya bergantian. Devan mengelus perut istrinya dengan pelan. "Kamu baik-baik saja kan sayang di dalam?"


"Tuan nggak perlu khawatir, semua sudah di cek dan Alhamdulillah janinnya baik-baik saja."


"Pasien hanya mengalami ketakutan yang mengakibatkan dia stres dan akhirnya pendarahan."


"Jadi saya minta jangan buat pasien terlalu stres juga melakukan pekerjaan fisik yang berat." jelas Dokter saat melihat Devan yang terlihat sedih saat tahu kondisi istrinya yang sempat pendarahan.


"Dan pasien juga harus melakukan bedrest kurang lebih satu minggu sampai pendarahannya menghilang." sambung Dokter tersebut.


Faiz yang memang paham soal itu karena istrinya seorang dokter kandungan mengangguk paham.


"Baik, dok. Terima kasih atas penjelasannya." kata Faiz.


"Sama-sama." dokter itu undur diri setelah berpamitan.


Faiz menepuk pelan pundak Devan membuat Devan menoleh menatapnya.


"Besok pagi kita pindahkan Nayra ke rumah sakit kota." Devan mengangguk.


"Kita akan tidur di luar. Kamu disini temani Nayra." Devan lagi-lagi mengangguk.


Faiz dan yang lainnya pergi menyisakan Devan sendirian yang menjaga Nayra.


"Maafkan aku sayang." Devan mencium tangan kanan Nayra yang terpasang infus.


"Aku tidak bisa menjaga kamu dengan baik." Devan menangis dalam diam.


"Dev.." suara lirih Nayra terdengar di telinga Devan.


Devan mengangkat kepalanya menatap wajah Nayra, dia tersenyum melihat istrinya yang terbangun dari tidurnya.


"Kamu datang." air mata Nayra jatuh tiba-tiba saat bisa melihat wajah suaminya kembali.


Devan berdiri dan setengah membungkuk, mendekatkan wajahnya pada wajah Nayra.


"Iya sayang, aku disini." Devan mengusap air mata Nayra yang jatuh di pelipis Nayra.


"Aku ingin tidur dipeluk kamu." Devan terkekeh mendengar permintaan istrinya itu.


"Tempatnya nggak muat sayang." Nayra melihat memang tempat tidur klinik ini terlalu kecil dan hanya muat untuk satu pasien.


Nayra melihat ada sofa single di pojokan dekat jendela.


"Dedeknya mau tidur dipangkuan Papanya di situ." Nayra menunjuk sofa yang ada.


Devan tersenyum melihat sifat manja Nayra yang kembali on. Dia tahu, Nayra pasti mengalihkan rasa sedihnya dengan bermanja-manja dengan dirinya.


Tanpa banyak bicara lagi Devan menggeser tiang infus supaya lebih mudah untuk mengangkat Nayra.


Devan berjalan ke sofa itu sambil menggendong Nayra, sedangkan Nayra sendiri menarik tiang infusnya.


"Sudah nyaman?" tanya Devan setelah duduk memangku Nayta. Dia menatap Nayra yang melingkarkan tangannya dilehernya sedangkan kepalanya dia sandarkan di dada suaminya.


Nayra mengangguk sambil memejamkan matanya.


"Tidurlah." Devan mencium kening Nayra dan memeluk erat istrinya yang tidur di pangkuannya.

__ADS_1


Devan tidak peduli kakinya nantinya bakalan mati rasa karena kesemutan. Yang dia inginkan hanya kenyamanan istrinya juga kebahagiaan istrinya juga keluarga kecilnya.


__ADS_2