
Kenan dan Kiara turun dari mobil setelah mobil yang mereka tumpangi terparkir sempurna di dekat pintu gerbang sekolah. Nayra pun juga ikut turun untuk mengantar si kembar sampai masuk gerbang.
"Mama nanti jemput kita kan?" tanya Kiara sebelum dia masuk ke sekolah.
"Iya sayang, nanti Mama jemput kalian." jawab Nayra sambil mengusap kepala Kiara dan tersenyum pada kedua anaknya.
"Nanti kalian gak boleh nakal yah. Terutama Kiara gak boleh jahilin temannya." Nayra mengingatkan si kembar untuk tidak berbuat nakal dan jahil.
"Iya, Mama." jawab Kiara malas, "Kiala gak janji" lanjutnya dalam hati. Karena dia kalau tidak berbuat jahil sehari saja di sekolah bukan Kiara namanya.
"Kenan, jaga adik kamu. Karena Miss Kimy hari ini masih tidak bisa menemani kalian karena sakit." kata Nayra pada Kenan.
"Iya, Mah. Nanti kalau Kiara berbuat macam-macam akan Kenan bongkar aibnya." ucap Kenan tenang tak peduli saat ini dia mendapat pelototan tajam dari Kiara yang tak suka akan ucapan Kenan.
Aib. Memang Kenan tahu apa aib Kiara, batin Kiara mencibir Kenan.
"Sudah kalian segera masuk. Nanti Mama jemput lagi." kata Nayra meminta si kembar segera masuk ke sekolah.
"Iya, Mah." Kiara mencium tangan Nayra bergantian dengan Kenan.
Nayra membalasnya dengan mencium kening si kembar bergantian.
"Assalamualaikum."
"Walaikuksalam."
Nayra kembali masuk ke mobil dan melanjutkan perjalanannya menuju ke restoran di daerah Kemang.
...............
Di Perusahaan D&A Grup.
Doni turun dari mobil yang baru saja terparkir di lobby perusahaan dengan tergesa. Dia segera menaiki lift untuk menuju lantai dimana ruangan kerja Devan berada.
"Sial!! Lama banget sih jalannya." umpat Doni yang merasa kalau lift yang dia naiki tak kunjung sampai lantai tujuan.
"Mana nomor mereka tak ada yang bisa dihubungi lagi." keluh Doni saat mencoba nomor Devan maupun nomor Romi yang diluar jangkauan semua.
Ting...
Doni segera keluar dan berlari menuju ruang kerja Devan. Dia tak sabar untuk menceritakan kabar yang baru saja dia dapat.
"Pak Doni mau mencari siapa?" tanya Linda saat melihat Doni ingin membuka pintu ruang kerja Devan.
"Devan sama Romi." jawabnya dan membuka pintu ruang kerja Devan.
"Mereka sedang rapat, Pak." kata Linda membuat Doni mengurungkan niatnya untuk masuk ke dalam ruang kerja Devan.
"Mungkin tiga puluh menit lagi mereka sudah selesai." sambung Linda.
"Baiklah, aku tunggu di dalam." kata Doni segera masuk ke ruangan Devan.
__ADS_1
"Bos, sepertinya Doni sudah disini." kata Romi setelah mengaktifkan handphonenya, terlihat ada puluhan panggilan dari Doni juga beberapa chat masuk dari Doni juga.
"Ehmm..Kita kembali sekarang."
Devan berjalan duluan keluar dari ruang rapat dan segera menuju lift untuk kembali ke ruangannya disusul Romi.
"Apa ada yang serius? Kenapa Doni menelephone berkali-kali." tanya Devan saat mereka ada di dalam lift.
"Mungkin." jawab Romi ambigu, dia sendiri juga tidak tahu kenapa Doni menghubunginya berkali-kali.
Ting
Mereka segera keluar dari dalam lift dan berjalan cepat kembali ke ruangan kerja Devan.
"Bos, Pak Doni menunggu anda didalam." kata Linda saat melihat Devan kembali dari rapat bersama Romi.
Devan hanya berdehem dan masuk ke ruangannya. Berbeda dengan Romi yang mampir dulu ke meja kerja Linda.
"Ini kamu pelajari dan buatkan laporannya." Romi memberikan note hasil rapat kepada Linda.
"Aku masuk ke dalam dulu." cup. Romi mencium pipi Linda sekilas lalu berlari pergi masuk ke ruangan Devan sebelum Linda memarahinya.
"Kebiasaan." gerutu Linda mengusap pipinya yang tadi di cium Romi. Kemudian semburat merah menghiasi pipinya disertai senyuman tertahan mengingat kelakuan Romi tadi.
"Ishhh...Apaan sih kamu,Lin." geram Linda pada diri sendiri mengingat sikapnya yang seperti gadis remaja yang baru jatuh cinta.
"Tau ahh." Linda kembali melanjutkan pekerjaannya.
"Anak buah Ilyas yang mengikuti Maya dan Carol ketangkap. Makanya Aska sekarang menuju kesini bersama anggotanya." jawab Doni
"Maksudnya kenapa bisa ketangkap dodol?" tanya Romi kesal pada Doni.
"Kelihatannya Maya dan Carol tidak kerja sendirian. Mereka ada yang memimpin." Devan memicingkan matanya mendengar jawaban dari Doni.
"Apa itu musuh Aska?" tanya Devan yang entah dari mana bisa kepikiran sampai kesana.
"Aska tidak ada musuh di Indonesia." jawab Romi yakin.
"Apa Ilyas belum selesai juga kerjaan nya di Surabaya?" tanya Devan menatap Doni dan Romi bergantian.
"Belum, dia masih menyelesaikan masalah di Perusahaan Arasyid disana." jawab Doni.
"Kenapa hampir seluruh Perusahaan Arasyid di beberapa negara mengalami masalah di waktu bersamaan?" tanya Romi
"Kecuali kantor pusat di Jakarta juga Dubai yang aman. Lainnya bermasalah." sahut Doni.
"Mungkin mereka mengincar keluarga Arasyid." kata Devan tanpa sadar jika istrinya merupakan salah satu anak dari keluarga Arasyid.
"Nayra!!!" seru mereka bertiga bersamaan.
Devan segera menghubungi Nayra, dimana istrinya sekarang berada.
__ADS_1
"Sial!! kenapa nggak diangkat sih." geram Devan karena panggilannya tak kundung diangkat sama Nayra padahal sambungannya terhubung.
Disisi lain Nayra yang saat ini ada di restorannya sedang mempraktekkan menu baru pada Koki yang bekerja di restorannya.
"Bagaimana? Enak tidak?" tanya Nayra pada beberapa Koki yang sudah merasakan menu barunya.
"Enak, Bu. Tapi kalau manisnya dikurangi dikit mungkin tambah enak." jawab salah satu Koki senior dan diangguki Koki lainnya.
"Ahhh mungkin karena selama hamil ini aku suka makan yang manis." balas Nayra dengan terkekeh pelan.
"Baiklah, kalian lanjutlah bekerja. Untuk menu ini kalian masukkan buat besok saja." kata Nayra dan berlalu kembali ke ruangannya yang jarang dia pakai.
"Sudah hampir jam dua belas. Sebentar lagi anak-anak pulang." gumam Nayra saat masuk ke ruang kerjanya.
Nayra bergesas membereskan barangnya dan segera keluar dari restoran.
"Devan." gumam Nayra saat melihat handphone nya yang terdapat beberapa panggilan tak terjawab dari Devan.
"Kamu kemana saja? Di telphone dari tadi tidak diangkat." tanya Devan setelah Nayra menghubungi kembali nomor Devan.
"Aku kan tadi pagi sudah bilang sama kamu kalau aku di restoran untuk mempraktekkan menu baru pada Koki." jawab Nayra apa adanya.
"Kamu dimana sekarang?"
"Aku dijalan menuju sekolah si kembar. Ada apa?"
"Kamu bersama supir 'kan?"
"Iya, sayang. Ada apa sih?" Nayra terlihat geram sama suaminya itu. Gak biasanya seperti ini, pikirnya.
"Kamu nanti gak usah turun, biar supir kamu saja yang menjemput si kembar." kata Devan
"Kenapa?"
"Turuti saja."
"Sudah dulu sayang, kamu hati-hati." Devan memutuskan sambungan telephone sepihak.
"Apa maksud kamu tadi?" tanya Devan pada Doni yang baru saja menerima telephone juga.
"Mereka menuju sekolah si kembar, kita harus kesana sekarang." kata Doni
Tanpa basa-basi mereka pergi ke sekolah si kembar.
"Apa anggota time Lion sudah menuju lokasi?" tanya Devan yang kini mereka dalam perjalanan ke sekolah si kembar.
"Mereka dalam perjalanan kesana juga. Hanya satu yang stand by di sekolah si kembar dari tadi pagi." jawab Doni.
Devan mengusap wajahnya kasar. Dia begitu mencemaskan Kenan dan Kiara, terutama istrinya yang saat ini juga menuju ke sekolah si kembar. Dan mungkin Nayra sudah sampai disana.
"Semoga mereka baik-baik saja dan Nayra juga sudah membawa si kembar pulang terlebih dahulu sebelum musuh datang."
__ADS_1