Rahim Pengganti

Rahim Pengganti
Bab 11


__ADS_3

"2 minggu! "


"pilihan pertama?! "


"dengan syarat! "


Satu alis khaled terangkat naik.


"katakan"


"ceyda tidak akan pernah tahu"


Tawa khaled pecah seketika.


"kakek pikir apa, itu bukan hal yang sulit"


"aku tidak mau ceyda tahu dan dia berpikiran padahal masalah ini hanya sementara"


"nanti akan menjadi anak dia juga deniz? "


Deniz menggelengkan kepalanya karna ia sendiri tidak tahu. baginya kalau di katakan masalah anak maka ia lebih memilih anak bersama ceyda bukan dengan wanita lain, bagaimana ia bisa memiliki anak dengan wanita lain di saat ia tahu orang yang di cintainya juga sakit dalam ke adaan begini meskipun nanti itu akan menjadi anak kita berdua. apakah sama? ia rasa tidak akan sama. karna itu ia lebih memilih untuk tidak memiliki anak dan hidup berdua sampai tua bukankah itu lebih baik namun sekarang, ia harus bertanggung jawab atas perbuatannya dulu karna itulah salah satu alasan kenapa ia mau menuruti semua perintah kakek. Seseorang harus bertanggung jawab. Satu keturunan.


"jika tidak ada lagi, aku pamit". deniz bangkit berdiri namun langkahnya terhenti saat khaled bersuara lagi.


"kamu sudah tahu tempat tinggalnya? "


Deniz menoleh melihat kakeknya.


"kakek bisa kirim alamatnya"


"tidak perlu"khaled mendesah sembari bangkit berdiri.


Deniz mengernyit bingung namun tidak lama karna setelahnya 2 pria bersetelan jas hitam berdiri tepat di hadapan deniz.


Deniz berbalik melihat kakeknya.


"apa maksudnya ini?! "


"apa maksudnya? maksudmu di mulainya kapan? minggu depan...?"


Deniz terdiam. Setelahnya ia berdecak kesal.


'pria tua ini'. denis menggeram dalam hati.


"pergilah, mereka akan mengantarmu sampai tempat dan jangan berpikir kamu bisa keluar dari sana sebelum melakukan tugasmu, ingat satu hal lagi deniz? jangan pernah gunakan obat apapun lagi terkecuali satu hal...". khaled menghentikan ucapannya menatap deniz dan berhenti di bawah perut deniz.


"dia baik baik saja" ujar deniz ketika mengerti maksud kakeknya.


Khaled mendengus sinis.


"jika dia baik baik saja, kenapa kamu meminum obat saat itu? bahkan kakek dengar tidak cukup 1 dosis kamu pakai 3 dosis sekaligus bukankah itu menunjukkan milikmu yang tidak mau bangun?! . Khaled bertanya dengan sengaja atas jawaban yang sudah ia tahu dan tentu saja ia tidak tahu kalau cucunya ini bisa melakukan hal laknat begitu.


"pak Al-khaled yang terhormat, anda tahu sendiri jawabannya". geram deniz marah. tidak mau mempedulikan ocehan yang tidak ada gunanya deniz berbalik mau pergi namun kedua pria bersetelan jas menghalangi deniz.


"itu bukanlah jawaban untuk seorang laki laki deniz? kamu memalu malukan keturunanku saja deniz...? membuat generasi Al-khaled harus menggunakan obat di tambah? kakek mau bertanya padamu sebagai sesama lelaki, apa dengan melihat ayla...kakek yakin kamu juga mengakui dia cantik sangat cantik malah, apalagi tubuhnya, sesama lelaki jujur saja, apa milikmu bangun...?"


"tuan Al-khaled?! ". teriak deniz marah ketika ia sudah berbalik menatap kakeknya.


"ah, mati rasa karna hanya akan bangun pada ceyda saja karna itu kamu memakai obat laknat tersebut?! "


"kakek?!". teriak deniz marah.


"kenapa? tidak terima..? " khaled dengan marah mencekram kerah baju deniz dan menarik kehadapannya.


"karna itu deniz? buat keturunan dari Al-khaled cicitku tanpa kamu menggunakan obat laknat itu jika milikmu baik baik saja dan satu lagi deniz? camkan ini baik baik di otakmu yang bodoh ini...". khaled menunjuk nunjuk kepala deniz.


"jangan pernah menipuku lagi jika sekali lagi kamu berani melakukannya maka tidak ada ampun bagimu dan ceyda, tidak payah bagi kakek membuatmu berpisah darinya sampai ajal menjemputmu, satu lagi! berlaku baiklah dengan ayla karna dia yang akan mengandung cicitku meskipun dia tidak akan jadi istrimu tapi dia tetap ibu dari cicitku".


"hahhhh...". deniz mengambil nafas sepuasnya setelah khaled melepaskannya.


Khaled merapikan baju sweaternya lalu melangkah pergi dari sana tanpa melihat deniz lagi.


"bawa dia pergi dan lakukan tugas kalian"


Flashback...


Tak...


Deniz dengan marah mematikan air shower lalu bernafas naik turun karna menahan marah di dalam dirinya.


Ingatan deniz kembali saat di mana kakeknya membentaknya meski ini bukan yang pertama kali lalu lanjut kakeknya yang mencekram kerah bajunya dan itu pertama kali.


Deniz menarik nafas lalu mendongak ke atas menatap atap kamar mandi sembari mendesah lelah.


Denis memejamkan kedua matanya menarik nafas berharap semua akan cepat berlalu. di saat deniz sedang menikmati pejaman matanya dan menarik turunkan nafasnya pikirannya lari ke saat di mana ia bersama ayla lebih lebih saat ia memasukkan milikmlnya ke milik ayla. sontak saja kedua mata deniz terbuka lebar. Namun pandangan deniz kembali melemah saat dirinya teringat kejadian tadi.


Bagaimana tadi saat ia melesak miliknya ke milik wanita itu yang awalnya membuatnya sakit karna sempit tidak, sangat sempit lalu di mana saat sepenuhnya masuk, seluruh tubuhnya sontak saja bergetar hebat seperti terkena sengatan listrik dan semakin bertambah saat ia mulai bergerak.


Namun untuk menjaga cinta dan dirinya untuk ceyda, ia bertahan keras untuk menahan serangan nikmat yang datang bertubi tubi menghantam tubuhnya untuk tidak berteriak dan mendesah nikmat. tugasnya di sini mengeluarkan bukan untuk menikmati, itulah kata kata yang terus ia ingat saat permainan dengan wanita itu.


Deniz menghela nafas lalu menatap ke bawah.


'kenapa kenapa dan kenapa'. itulah pertanyaan yang muncul di benak deniz.

__ADS_1


💓💓💓


Pagi hari di sebuah gedung perusahaan besar. terlihat beberapa karyawan yang berlalu lalang dengan aktifitas mereka masing masing.


Ayla dengan setelan kerjanya yang berlengan dan berkaki panjang berwarna coklat, rambutnya yang bergelombang terikat kebelakang serta high heels pantofelnya berwarna hitam.


"pagi bu? " sapa salah satu karyawan yang ayla lewati.


"pagi juga". balas ayla ramah sembari melanjutkan langkahnya ke lift dengan beberapa berkas dalam pelukannya.


Ayla melangkah masuk ke lift dengan beberapa karyawan lain di dalam.


"mau ke lantai berapa ayla? ". tanya salah satu pria yang berada di lift tersebut dan karyawan perusahaan ini juga.


"12"jawab ayla singkat.


Pria tadi langsung menekan tombol 12 karna memang dia berdiri di depannya.


Ayla menatap ke depan menunggu lift terbuka.


💓💓💓


"wajahmu sama sekali tidak bersahabat denganmu" suara altan dari meja kerjanya.


"kepalaku sakit". deniz yang dari tadi sudah merebahkan tubuhnya di sandaran sofa dengan kepala mendongak ke atas dan tangan kiri di keningnya.


"kamu seorang dokter dan kamu salah tempat untuk konsul"


"terkadang sembuh bukan dengan obat"


Altan mengedikkan bahunya acuh.


"kamu datang di acara lahiran anak kenan malam besok?! dapat undangankan?! "


Deniz sontak duduk tegap dan menoleh menatap altan.


"anak?.. lagi?! "


"ya, lagi" jawab kenan malas.


"anak yang keberapa ini? "


"waktu kamu datang terakhir kali? "


"3?"


"kamu gila? "


Deniz mengernyit.


"anaknya 3, waktu itu di jerman, istrinya melahirkan di sana di rumah sakit"


"wahhhhh, sahabat yang setia"


"memang berapa anaknya? "


"kamu benaran tidak tahu? "


Deniz menggeleng.


Altan memijat kepalanya.


"kemana aja kamu selama itu? padahal di sini saja, wahhhhhh percintaan dengan istrimu sungguh menggebu ya? "


Deniz mendesah lelah.


"jawab ini saja altan? "


"6, belum lagi yang belum lahir ini"


Deniz mematung.


"maksudmu..? ".


"ya, yang aku dengar anak ini yang mau dirayakan ini sudah lahir sejak 7 bulan yang lalu namun harus di rawat di rumah sakit dan selama itu juga...aku tidak perlu menyambungnya kan? "


Deniz tertawa keras sembari memukul pahanya.


"keras banget dia altan, tidak capek istrinya? "


Altan mengedikkan bahu.


"bahkan dia menjawabku dengan jawaban gilanya ketika aku bertanya begitu"


"apa jawabannya?! "


"dia bilang, '**** dengan wanita hamil itu sangat nikmat, 3 kali lipat nikmatnya jadi kalau bisa aku akan terus membuat istriku hamil'itu katanya"


Kedua mata deniz sontak membulat dan altan dengan acuhnya seperti tidak berkata apapun kembali bekerja.


Di luar ruangan kerja altan. ayla memasuki ruangan sekretaris altan.


"pagi bu neza" sapa ayla begitu membuka pintu ruangan sekretaris altan yang bersebelahan dengan ruangan altan.

__ADS_1


"ayla?... oh, berkas yang di minta pak presdir sudah di bawa semua akan?" tanya neza seorang wanita yang lebih tua dari ayla beberapa tahun.


"sudah bu neza, ini di sini semua" ayla menunjukkan berkas di dadanya"


Neza tersenyum ramah lalu menyuruh ayla masuk ke ruangan presdir mereka pimpinan perusahaan tersebut.


"masuklah ayla pak presdir dari tadi sudah menanyakanmu apa sudah datang? karna pak presdir tadi ada meeting"


Ayla mengangguk mengerti. "baiklah, kalau begitu aku permisi bu neza? " pamit ayla lalu melangkah ke pintu yang berukuran besar di samping meja bu neza.


Tok tok tok tok


"masuk". intruksi altan dari dalam.


Ayla melangkah masuk lalu berbalik untuk kembali menutup pintu.


Kedua pria yang berada di dalam ruangan tersebut sama sama terkejut.


Altan yang terkejut karna dia pikir yang mengetuk pintu sekretarisnya sedangkan deniz terkejut saat menoleh kalau wanita yang memakai setelan kerja tersebut wanita yang sangat ia kenal karna apa? karna sudah 3 malam terakhir ini, ia terus mengunjunginya.lebih tepat memasukinya.


"ternyata kamu ayla? kehadiranmu mengejutkanku ayla? kamu luar biasa" ujar altan yang sudah menghentikan aktifitasnya dan melihat ayla yang melangkah ke meja kerjanya.


"terima kasih untuk pujiannya pak? dan ini berkas yang bapak minta? saya minta maaf karna sedikit lama membereskan" ayla berdiri tepat di hadapan altan bersebarang meja.


Altan meraih berkas yang di sodorkan ayla dan melihatnya satu persatu.


"ya, ini sudah semua! tidak lama bahkan orang lain butuh setengah hari, kamu hanya butuh beberapa menit tadi"


Ayla tidak menjawab tapi hanya membalas dengan senyumnya.


"lalu...kata bu neza, bapak perlu bantuan saya karna bu neza yang harus pergi sebentar lagi lalu...apa yang bisa saya bantu?! "


Altan mendongak melihat ayla karna tadi memeriksa berkas yang di bawa ayla.


"oh...oh ya, ini...". altan meraih berkas di sampingnya dan menyerahkan ke ayla.


"kamu lihat dulu, aku akan periksa ini dan kita bisa kerjakan itu sama sama"


Ayla mengangguk sembari kedua matanya membuka berkas tersebut.


"oh tapi tunggu dulu ayla? aku perlu bantuan yang lain, ini benar benar darurat, kamu mau kan? sebenarnya ini bukan permintaanku tapi...nenekku"


Ayla menutup berkas di tangannya.


"nenek? bagaimana ke adaannya sekarang? kakinya sudah mendingan? " ayla bertanya ramah dan sopan. suaranya yang lembut dan halus mengalun alun indah bagi siapapun yang mendengar namun tidak bagi deniz.


Deniz yang melihat ayla dari masuk dan melangkah ke meja kerja altan sampai ayla berdiri dan berbicara dengan altan membuatnya bosan. Sebenarnya ia tidak tertarik untuk melihat wanita itu apalagi memperhatikannya namun karna wanita itu 3 malam terakhir ini sering ia kunjungi di tambah hingga beberapa hari kedepan mereka akan bersama. ia perlu tahu bagaimana wanita ini jika sedang bekerja. dengan malas mata deniz beralih memerhatikan pakaian yang ayla pakai dari bawah ke atas.


'cara menarik perhatian pria'


Deniz mendesah lelah.


"sudah, dia sudah baikkan dan dia terus menanyakanmu dan juga menitipkan salam rindu katanya"


Ayla tertawa kecil. "aku terima dan tolong di balas ya pak? ". ujar ayla sembari tersenyum lebar.


Altan ikut tersenyum sembari memerhatikan wajah ayla yang baginya tidak akan pernah membuatnya bosan.


"oh ya? tadi nenek minta bantuan apa? "


Ayla sama sekali tidak menyadari keberadaan deniz di belakangnya dan di ruangan tersebut.


"oh ini...ini sedikit gila! aku sendiri berteriak untuk menolak ini tapi yang namanya nenek... maafkan aku"


Tak...


Altan meletakkan benda yang di maksud butuh bantuan ayla ke atas meja.


Mata ayla sontak saja membulat dengan mulutnya yang terbuka.


'ini tidak salah nenek tapi salahnya'.


Awal pertama ia ketemu nenek di supermarket di samping gedung perusahaan ini, nenek yang entah kenapa bisa sendiri ke sana dan tidak tahu jalan pulang lagi yaitu kembali keperusahaan katanya mau lihat cucunya saat itu ia tidak tahu cucu nenek adalah pak presdir pimpinan perusahaan ini dan ia mengantarnya sampai lobi yang kebetulan pak altan dan juga beberapa orangnya sedang mencari nenek. dan pertemuan kedua di rumah sakit saat itu ia juga kerumah sakit karna suatu hal, nenek yang kakinya terluka katanya jatuh dari tangga juga datang kerumah sakit tersebut di hari yang sama dan mereka ketemu ketika kembali pulang di lobi. nenek yang sedang menunggu anaknya entah kemana dan ia yang sedang menunggu di jemput aliye. akhirnya kami saling bertemu dan kami bercerita panjang lebar hingga jatuh ke keinginannya yang sekarang dan nenek mau ia mencoba.


Ayla tersenyum melihat benda tersebut sembari mengangkatnya.


"ayla?...jika kamu keberatan jangan, nanti akan aku katakan pada nenekku... "


"tidak, sama sekali tidak keberatan, akan ku pakai tapi...tidak ada baju khusus ini baju ini aja ya? katakan itu pada nenek nanti, ayla hanya punya baju ini"


Altan tersenyum lalu mengangguk mengerti.


"oh ya? di mana aku bisa memakainya? tidak mungkin di sini kecuali bapak keluar"


"oh...itu..."altan menunjuk ke salah satu pintu yang ada di ruangan tersebut, ruangan yang biasa ia pakai untuk istirahat atau mandi dan berganti pakaian jika jika ia lembur.


"oh, terima kasih, akan aku gunakan dengan baik" ucap ayla lalu berlalu dari sana dan masuk ke dalam ruangan tersebut.


Ckleck...


"oh...oh...oh jantungku hampir copot karna melihatnya begitu dekat di tambah senyum dan tawanya tadi oh...ini gila, jika lama lama terus melihatnya...arghhh...". altan menjambak rambutnya sendiri.


"deniz? kamu lihat dia tadi kan? yang malam itu kita antar? ingatkan? oh...nenek sangat menyukainya"

__ADS_1


Mata deniz terbuka membulat. dia langsung menoleh melihat altan namun pria itu hanya senyum senyum seperti abg yang baru saja jatuh cinta.


Awalnya altan tidak berani menyukai ayla karna takut neneknya tidak akan setuju namun saat tahu neneknya sangat menyukai ayla dan menyurhnya untuk menikahi wanita itu. saat itu ia mulai bersikap agresif dan posesif meski diam diam.


__ADS_2