Rahim Pengganti

Rahim Pengganti
Kadonya didalam perut Mama


__ADS_3

Hari terus berlalu, minggu berganti bulan dan bulan terlah berganti bulan lagi. Kehamilan Nayra kini memasuki usia 4 bulan, berarti Nayra sudah melewati trimester pertama dan kini menginjak trimester kedua.


Dan selama trimester pertama Nayra benar-benar tidak merasa mual ataupun muntah sama sekali. Devan mengalami kehamilan simpatik, sehingga dia yang merasakan mual dan muntah menggantikan Nayra selama 3 bulan terakhir ini.


Nayra sebenarnya kasihan pada suaminya itu. Tapi mau bagaimana lagi. Itu memang sudah bawaan dari oroknya seperti itu. Meminta Papa Devan untuk menggantikan Mama Nayra yang mengalami mual dan muntah. Belum lahir saja anaknya sudah membuat Papa Devan kerepotan.


Setiap jam tiga sore Devan sudah berada di rumah selama 3 bulan awal kehamilan Nayra. Karena dia tidak sanggup menyelesaikan pekerjaannya bila harus menahan mual dan muntah. Jadinya setiap malam Devan harus lembur menyelesaikan pekerjaan kantor dirumah dan mengharuskan Romi juga ikut tinggal di rumah Devan pada akhirnya.


"Paman Lomi.." panggil Kiara yang masuk ke ruang kerja Papa Devan untuk menemui Paman yang sok ganteng itu, padahal memang ganteng.


"Iya cantik." sahut Romi saat Kiara memanggilnya dan berjalan menuju kearahnya.


"Temani Kia main yuk Paman." ajak Kiara yang kini sudah meraih salah satu tangan Romi untuk ditariknya.


"Kiara..Jangan ganggu Paman Romi, dia masih sibuk. Masih banyak kerjaan." Devan mencoba mengingatkan putrinya untuk tidak mengganggu Romi.


"Cuma sebental Papa."


"Gak lama kok."


"Sampai Kiala tidul aja nanti mainnya."


"Boleh ya Pa." kata Kiara dengan polosnya dengan tampang memelas menggerakkan kepalanya ke kiri dan ke kanan, juga menangkup kan kedua tangannya di depan dada.


Sampai Kiara tidur? Dan ini masih jam tujuh kurang. Kalau menunggu Kiara tidur bisa sampai dua jam. Sama saja bohong, pikir Devan.


"Gak boleh. Kiara main main sendiri sama Kenan juga Miss Kimy. Atau sama Mama." saran Devan pada putrinya.


"Kenan gak mau main sama Kiala, Papa."


"Miss Kimy juga lagi mijitin kaki Mama."


"Jadi boleh ya kalau Kiala main sama Paman Lomi." pinta Kiara dengan puppy eyes dan wajah yang begitu menggemaskan.


Devan menghembuskan nafas lelah melihat permohonan putrinya itu.


"Sudah Rom, sana temenin Kiara." usir Devan segera daripada nanti pekerjaannya tidak beres juga.


"Telima kasih, Papa."


"Ayo Paman." dengan semangat Kiara menarik Paman Romi nya keluar dari ruang kerja Papa Devan.


"Sejak kapan itu anak dekat dengan Romi? Perasaan dulu aja cuek banget sama Romi. Mana ngatain Romi, Paman jelek lagi." Devan tertawa sendiri mengingat dulu waktu Romi dikatain Kiara Paman Jelek.


"Kiara, sayang. Kenapa Paman Romi kamu ajak kesini?" tanya Nayra yang melihat putrinya itu menarik tangan Romi dan diajaknya duduk di karpet berbulu untuk bermain.


"Paman Lomi mau menemani Kia main, Mama sayang." jawab Kiara tanpa menatap Mama Nayra. Dia sibuk mengarahkan Paman Romi nya untuk membuat rumah-rumahan dari mainan lego.


"Kamu sudah ijin ke Papa kamu?


"Sudah."


"Bukan sepelti itu Paman. Sepelti ini loh." Kiara menunjukkan cara merakit dan menyusun lego yang benar. Padahal Romi jauh paham akan itu. Tapi dia iya iya saja daripada Kiara nangis dan membuat seisi rumah pecah karena suara tanginya.


Nayra menggelengkan kepalanya melihat tingkah Kiara. Kenapa begitu berbanding terbalik dengan tingkah Kenan yang diam dan fokus ke satu maianan. Tapi kalau jiwa kekanakannya kembali, Kenan akan mengganggu Kiara yang sedang bermain sampai Kiara menangis.


"Permisi Bu. Makan malamnya sudah siap." lapor Mbak Uci pada Nayra.


"Oh iya, makasih ya Mbak Uci." balas Nayra dengan senyumnya.

__ADS_1


"Sudah, Kim. Kamu istirahat makan dulu sama yang lain." Nayra menarik kakinya dari tangan Miss Kimy.


"Makasih ya Kim."


"Iya Bu. Saya permisi dulu."


Nayra berdiri dan pergi ke ruang kerja suaminya.


"Sayang.." Nayra masuk dan melihat suaminya masih sibuk di depan laptopnya.


"Belum selesaikah kerjaannya?" tanya Nayra yang mendekat ke arah Devan.


"Sebentar lagi. Sini sayang." Devan menjulurkan tangannya dan segera disambut oleh Nayra. Ditariknya pelan tangan istrinya itu dan dia dudukkan dipangkuannya.


"Gak keberatan memangnya?" tanya Nayra yang melihat Devan kembali mengerjakan pekerjaannya dengan masih memangku Nayra.


"Nggak, kok. Masih terasa sama." jawab Devan yang fokus dengan laptopnya.


"Sayang itu salah." Nayra menunjuk kurva presentasi laba maksimum.


"Yang Mana?" tanya Devan bingung. Perasaan sudah benar dia mengerjakannya.


"Itu ATCnya, biaya total rata-rata. Kamu salah memasuki rumusnya." tunjuk Nayra pada


"Oh iya..Makasih ya sudah mengingatkan." cup. Devan mencium pipi Nayra dan kembali memperbaiki rumus yang tadi dia salah masukkan.


"Sudah ayo makan dulu. Aku laper." ajak Nayra dengan tingkah manjanya



"Ya sudah, ayo." Devan langsung berdiri sambil menggendong Nayra ala bridal style.


"Gak apa. Kalau kamu gerak terus yang ada kita nanti jatuh dan akan membahayakan dedek bayinya." seru Devan membuat Nayra langsung diam dan mengerucutkan bibirnya.


Cup


Nayra mendelik saat Devan tiba-tiba mencium atau lebih tepatnya mengecup bibir Nayra.


Devan hanya tersenyum melihat ekspresi istrinya itu.


"Kamu makin gemes tahu, kalau hamil kaya gini."


"Rasanya ingin gigit kamu terus bawaannya." goda Devan dengan memajukan wajahnya untuk mencium Nayra.


"Stop!" Nayra menutup mulut Devan segera sebelum bibir itu kembali mendarat di bibirnya.


"Itu lihat, nanti dilihat anak-anak." Nayra menunjuk si kembar yang bermain dengan Romi.


"Mama kenapa, Pa? Kok digendong?" tanya Kenan yang melihat Mama Nayra berada di gendongan Papa Devan.


"Mama katanya capek kalau jalan. Makanya Papa gendong." jawab Devan dan terus menuju meja makan.


"Ayo Kiara, Paman Romi kita makan." ajak Nayra


Kiara mendongakkan kepalanya. Dia langsung menyipitkan matanya saat melihat Mama Nayra di gendong Papa Devan. "Apa Mama sakit?" gumam Kiara yang di dengar Romi.


Romi melihat arah pandang Kiara. Dia geleng kepala saat tau kenapa Kiara mengira kalau Mama Nayra sakit. "Seperti gak ada tempat untuk bermesraan saja." geram Romi kesal tiap kali melihat Devan dan Nayra bermesraan. Pasalnya dia sampai saat ini masih jomblo. Mau mendekati Linda susahnya minta ampun.


"Ayo sini Paman gendong biar seperti Mama kamu." Romi langsung mengangkat Kiara ke dalam gendongannya ala bridal style menuju meja makan.

__ADS_1


Kiara tertawa berada di gendongan Paman Romi. "Mama...Mama... Lihat Kia?" teriak Kiara padahal jaraknya sudah dekat.


"Manja..Gitu aja di gendong. Lempar aja sekalian ke kolam sana Paman." sewot Kenan yang melihat tingkat kembarannya seperti tidak pernah di gendong.


"Ihhh.. Kenan ngeselin. Ngomong aja kalau ingin digendong juga. Wekkk." Kiara menjulurkan lidahnya pada mengejek Kenan. Puas akhirnya Bisa membalas Kenan.


"Sudah ayo makan. Nanti kalau berantem terus gak jadi acara ulang tahunnya digelar." ancam Nayra pada si kembar.


"Iya Ma.."


Mereka akhirnya makan bersama dalam diam dan hanya suara dentingan sendok yang terdengar.


"Papa...Nanti kalau Kiala ulang tahun dihiasi walna pink ya Pa?" pinta Kiara pada Papa Devan yang kini sudah berkumpul di ruang keluarga.


"Gak. Harus warna biru." sahut Kenan gak terima kalau harus memakai warna pink, seperti anak cewek saja, pikirnya.


"Walna Pink." sungut Kiara


"Biru."


"Pink Kenan."


"Biru. B-I-R-U. BIRU."


"Warna hitam saja." timpal Devan yang merasa pusing mendengar perdebatan si kembar.


"Putih." sahut Nayra, Kenan dan Kiara bersamaan.


"Deal warna putih?" tanya Devan pada Nayra juga si kembar.


"Deal." jawab mereka serentak.


"Kiala gak minta kado Pa." kata Kiara sambil memainkan boneka barbie nya.


"Kenan juga nggak mau." timpal Kenan.


"Kenapa?" tanya Devan dan Nayra penasaran. Biasanya kalau ulang tahun itu pasti minta kado. Kok ini gak mau kado, pikir mereka.


"Karena kadonya sudah ada didalam perut Mama." jawab Kiara dan Kenan bersamaan.


Nayra menatap haru kedua anaknya itu.


"Sini sayang.." Kenan dan Kiara langsung memeluk Mama Nayra saat melihat Mama Nayra merentangkan tangannya.


"Mama sayang banget sama kalian." Nayra mencium pucuk kepala Kenan dan Kiara bergantian. Dia menangis harus.


"Kami juga sayang sama, Mama."


"Papa juga sayang sama Mama dan kedua jagoan Papa." Devan ikut memeluk mereka.


"Kami juga Papa."


"Terima kasih sayang." Devan mencium bibir Nayra sekilas dan sedikit memberi luma tan di kedua belah benda kenyal itu.


"Nasib...Nasib...Gak sadar apa kalau ada yang masih jomblo disini??!!!!!"


🍁🍁🍁🍁🍁


__ADS_1


Masih dengan tema anak kecil lagi nih...Yuk tengok cerita di Karya Novel Author yang lain.


__ADS_2