
Dua malam sudah Devan benar-benar tidur di sofa sesuai keinginan kedua anaknya yang telah mengerjain dirinya. Awalnya dia ingin protes kenapa tidak satu malam saja. Tapi si putri bar-bar nya itu selalu saja merengek kalau Devan tidak menuruti keinginan nya untuk tidur di sofa.
"Kenapa Papa tidul disini? Papa malam ini masih tidul di sofa." seru Kiara kala itu.
"Kalau Papa tidak mau tidul di sofa, Kia bakal aduin ke Opa tlus Papa diusil lagi dali sini. Bial Papa gak bisa ketemu sama kita." ancam Kiara.
"Mama...Kia gak mau nanti Paman Nathan membatalkan hadiah jalan jalannya...Huuwaaaaa...." Kiara menangis kencang karena Devan tak kunjung beranjak dari ranjang.
Kenan juga melotot menatap Papanya itu. Tanda dia tidak mengijinkan kalau Devan tidur di ranjang. Papa Devan harus tidur di sofa kembali malam ini sesuai keinginannya.
"Sudahlah sayang..tinggal satu malam pun. Turuti saja keinginan mereka. Mereka kan sudah janji kalau besok Papa Devan boleh tidur lagi sama mereka." ujar Nayra supaya Devan menuruti keinginan anaknya itu. Sebenarnya dia tidak tega melihat Devan yang harus tidur sofa. Tapi bagaimana lagi. Si kembar kalau sudah ada maunya susah sekali dibujuk. Apalagi Kiara, dia pasti akan memberontak, merengek jika keinginannya tidak dituruti.
Dengan berat hati Devan akhirnya kembali tidur di sofa bed yang ada di bawah kaki ranjang tempat tidur Nayra dan si kembar.
"Selamat malam, Papa. Besok Papa boleh tidur lagi disini bareng kita." kata Kenan disetujui Kiara.
Devan tersenyum saja dan berbaring di sofa bed, "Selamat malam juga anak Papa." gumam Devan namun masih di dengar si kembar juga Nayra.
"Papa sudah tidul, Ma." tanya Kiara yang tak melihat pergerakan dari Papa Devan.
Nayra mengangguk ragu, karena dia sendiri belum tahu pasti Devan sudah tidur apa belum. Karena belum ada lima menit Devan berbaring.
"Ayo Ken." ajak Kiara lalu bergeser mendekat pada sofa bed yang ditempati Devan.
Cup..Mereka berdua mencium pipi Devan bergantian. Nayra tersenyum melihatnya. Meski mereka mengerjain Papanya untuk tidur di sofa bed, tapi mereka tetap sayang pada Papanya.
"Sudah, Ma." kata Kiara dan Kenan lantas mereka berdoa dan mencium pipi Nayra bergantian sebelum akhirnya berbaring dan menyelami alam mimpi.
Nayra turun dari ranjang dan duduk di sisa sofa bed yang di tempati Devan. Dia tersenyum sambil mengelus lembut Pipi Devan melukis kedua alis Devan, hidung dan berakhir di bibir Devan yang begitu rapat saat tertidur.
Nayra mendekat untuk menyentuh bibir itu dengan bibirnya. Cup..Nayra akhirnya mencium pipi Devan.
"Selamat malam Devan sayang.." ucap Nayra lirih di dekat telinga Devan.
Cup...Nayra mengecup bibir Devan singkat, namun dia telat. Devan sudah menahan tengkuknya saat dia mau mengangkat kepalanya.
Nayra membelalakkan matanya, dia pikir Devan sudah benar-benar tidur. Ternyata dia salah, Devan hanya pura-pura tidur.
Devan menyesap bibir Nayra yang terbuka karena kaget itu, membuat Nayra memejamkan matanya menikmati cumbuan bibir itu. Tak mensia-siakan kesempatan Devan memasukkan lidahnya dan mengobrak-abrik rongga mulut Nayra dengan lidahnya yang berakhir kedua lidah saling membelit.
Nayra berusaha mengimbangi permainan lidah Devan, justru dia sendiri yang dibuat kewalahan. Dia merutuki kecerobohannya yang dengan beraninya membangunkan macan tidur dan berakhir mendapat serangan ganas dan mematikan.
Terdengar bunyi telephone dari HP Devan yang terus berderinb. Nayra berusah melepaskan tautan bibir mereka namun tidak mudah karena Devan semakin memperdalam ciuman itu.
Nayra memukul dada Devan kencang, dia tidak mau bunyi HP yang berisik itu membangunkan kedua anaknya yang baru saja tertidur.
Devan akhirnya melepaskan ciumannya setelah beberapa kali Nayra memukul dadanya. Dia mengumpat dalam hati untuk orang yang telah mengganggu aktifitasnya itu.
"Siapa?" tanya Devan saat Nayra memberikan HPnya yang sedari tadi terus berdering itu.
"Kak Romi." jawab Nayra.
"Romi sialan.." umpat Devan kesal saat tahu Romi yang mengganggunya.
"Kamu gak tahu ini sudah malam. Mau aku pecat kamu." hardik Devan yang kesal pada si penelepone di seberang sana.
"Jangan lah Bos..Nanti aku gak jadi nikah lagi. Apala..."
"Ada apa ganggu malam-malam begini?" sarkas Devan cepat sebelum Romi menyelesaikan ucapannya.
Romi terdengar berdehem, "Bos..Gimana sih caranya nembak cewek?" pertanyaan Romi membuat Devan semakin kesal bahkan geram akan sikap sepupu yang merangkap jadi asistennya itu.
__ADS_1
"Angkat pistol mu dan arahnya tepat padanya lalu tembak dia." jawab Devan asal lantas mematikan telephone sepihak dengan berbagai umpatan, makian kesal pada Romi.
Dilihatnya Nayra yang sudah berbaring di ranjang dan memejamkan matanya. Devan menghembuskan nafas berat. Kenapa sejak sudah nikah kembali dengan Nayra susah sekali mereka menghabiskan waktu untuk mengenal anatomi tubuh dalam pembelajaran kitab fathul izar, pikir Devan.
"Ada saja gangguannya." umpat Devan kesal.
"Gagal lagi..gagal lagi.." gumam Devan lantas kembali membaringkan tubuhnya di sofa bed untuk segera tidur.
...............
Kini Devan dan keluarga kecilnya beserta Eza dan juga Nathan dan keluarga kecilnya sudah sampai di Sea World Ancol. Tadi sebelum ke Sea World, mereka pergi kebandara Soetta mengantar keberangkatan Papa Rasyid dan Mami Mira menuju Surabaya dan juga Opa Sahid dan Faiz sekeluarga menuju Dubai.
Nathan yang sudah memesan tiket secara online langsung mengantri untuk bisa masuk bersama rombongannya.
"Lamai ya, Ma?" kata Kiara saat melihat begitu banyak orang yang antri membeli tiket ataupun antri masuk.
"Iya sayang..Ini kan weekend, jadi banyak orang yang pergi jalan-jalan." jelas Nayra pada putrinya itu yang terlihat manggut-manggut.
Akhirnya mereka sudah masuk ke dalam Sea Word. Mereka langsung disuguhi berbagai macam jenis biota laut. Mulai dari terumbu karang dan berbagai jenis hewan laut lainnya.
"Akualiumnya gede ya Ken!!" seru Kiara sambil menggandeng Kenan dan Susan. Mereka tampak akrab dan saling berceloteh ria menanyakan ini itu.
"Ikannya gede yaa.."
"Itu ubul-ubul apa cumi-cumi, Ma?"
"Ikannya warna warni yaa.."
"Itu ikan paus apa ikan hiu, Pa?"
"Ada orang di dalam. Mereka sedang apa, Pa?"
"Ken lihat..Ini milip Kia.." tunjuk Susan pada ikan nemo atau biasa disebut ikan badut sambil cekikikan.
Membuat ke empat orang tua muda itu tertawa akan tingkah jail dan lucu anak-anak mereka.
Devan yang sedari tadi menggendong Eza memberikannya pada Nayra dan beralih menggendong Kiara di punggung.
Mereka kembali melewati terowongan akuarium besar itu yang terdapat berbagai jenis ikan yang ada di penjuru laut.
Setelah berjalan beberapa menit mereka sampai di Touch Pool. Kiara minta diturunkan dan bergabung lagi dengan Kenan dan Susan, Eza juga terlihat ingin ikut bersama kakak-kakaknya.
Touch Pool adalah sebuah wahana yang memungkinkan kalian untuk bisa menyentuh biota laut di dalam kolam. Sea World Ancol mempunyai 3 area kolam terbuka yang bisa kalian sentuh.
Untuk area yang pertama adalah kolam yang berisi biota bintang laut yang bisa kalian sentuh maupun kalian angkat tubuhnya.
Pada kolam kedua, kalian bisa menyentuh hewan langka dengan umur yang panjang yakni penyu laut. Di area ini kalian bisa memegang cangkang, tungkai, hingga kepalanya. Namun dengan catatan, kalian harus berhati – hati supaya si penyu tidak terluka maupun stres.
Dan kolam yang ketiga kalian bisa menjumpai satwa buas layaknya ikan hiu serta ikan pari. Namun, disini kalian dapat menyentuhnya sebab ikan hiu maupun ikan parinya masih berukuran kecil atau muda.
Kiara, Kenan ,Susan dan Eza di dampingi Nathan dan Lidya bersama Miss Kimy dan Suster Eka pengasuh Susan yang sengaja mereka bawa untuk membantu mereka mengawasi anak-anak.
Devan dan Nayra terlihat duduk disalah satu kursi yang memang disediakan di sana. Mereka mengamati anak-anak dari jarak yang sedikit jauh.
"Lidya sempurna banget. Beruntung sekali Kak Nathan mendapatkan istri yang sholeha seperti itu." ucap Nayra lirih mengagumi sosok Lidya, istri Nathan.
Devan hanya diam saja dan mengalihkan pandangannya ke arah Lidya yang dimaksud Nayra dan kembali memandang anak-anaknya yang terlihat begitu senang bisa menyentuh ikan secara langsung.
"Dia itu sudah cantik, baik, lemah lembut sikap dan tutur katanya. Tidak banyak tingkah dan begitu taat dan patuh pada suaminya. Mendidik Susan dengan baik bahkan mengajarkan anak perempuan nya untuk menutup aurat sedari kecil. " Nayra masih terdengar mendiskripsikan sosok Lidya.
"Dari yang dulu aku kenal sampai sekarang, dia selalu memakai pakaian tertutup yang kini semakin syar'i." sambung Nayra.
__ADS_1
"Dev.." panggil Nayra lirih setelah terjadi keheningan beberapa menit. Nayra menatap suaminya dari samping membuat Devan juga menatapnya.
"Maaf aku belum bisa menutup aurat ku. Aku ingin, tapi belum siap." ujar Nayra yang merasa belum sempurna sebagai wanita. Meski dia sudah menikah dan mempunyai anak, menurutnya belum sempurna jika seorang wanita belum bisa menutup auratnya dengan benar.
Devan tersenyum mendengar itu. Dia tahu Nayra belum siap dan dia tak ingin memaksanya. Di lingkarkan tangannya untuk memeluk bahu Nayra.
"Memangnya aku pernah memaksa kamu untuk menutup aurat?" tanya Devan dan di jawab gelengan kepala oleh Nayra.
"Kamu tahu...Hukum menutup aurat bagi wanita muslimah itu wajib. Perintah ini harus dilaksanakan oleh setiap Muslim dan Muslimah. Sebagaimana Allah SWT menegaskannya dalam Surat Al-A’raf ayat 26 yang artinya,
"Hai anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutup auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. Dan pakaian taqwa itulah yang paling baik. Yang demikian itu adalah sebagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah, mudah-mudahan mereka selalu ingat.”
Dan juga di Surat Al-Ahzab ayat 59 yang artinya,
“Wahai Nabi! Katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak wanitamu, dan istri-istri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulur jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.”
Dan yang sering disebut untuk menegaskan kewajiban wanita muslimah untuk menutup aurat ada di dalam Surat An-Nur ayat 31,
Dan katakanlah kepada para perempuan yang beriman, agar mereka menjaga pandangannya, dan memelihara ***********, dan janganlah menampakkan perhiasannya (auratnya), kecuali yang (biasa) terlihat. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya (auratnya), kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putra-putra mereka, atau putra-putra suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara perempuan mereka, atau para perempuan (sesama Islam) mereka, atau hamba sahaya yang mereka miliki, atau para pelayan laki-laki (tua) yang tidak mempunyai keinginan (terhadap perempuan) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat perempuan. Dan janganlah mereka menghentakkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertobatlah kamu semua kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman, agar kamu beruntung."
Nayra dibuat kagum dengan sisi lain suaminya ini. Dia baru tahu jika Devan memahami isi dalam mushaf Al-Qur'an. Dia benar-benar beruntung memiliki suami seperti Devan. Seperti ustadz, pikirnya.
"Dan untuk wanita yang sayang sama Ayahnya, Saudara laki-lakinya, suaminya dan anak laki-lakinya dia akan menutup auratnya, karena aurat wanita yang terbuka itu akan membawa sengsara bagi Ayah, saudara laki-laki, suaminya dan anak laki-lakinya di neraka nantinya."
"Jika kamu memang belum siap, aku tidak memaksa. Tapi kamu bisa memulai untuk tidak memakai pakaian yang terlalu terbuka dan terlalu pas di badan seperti ini." Devan menarik pelan celana yang dipakai Nayra dengan gemas.
Nayra bukannya protes, dia justru senyum-senyum gak jelas dengan masih setia menatap Devan.
"Kamu kenapa?" tanya Devan yang melihat Nayra senyum-senyum sendiri.
Masih dengan senyum gak jelasnya, Nayra hanya menggelengkan kepala.
"Suami ku, Ustadz ku.." celetuk Nayra yang masih mesam-mesem gak jelas membuat Devan menautkan alisnya, bingung.
"Macam judul Novel sama judul film saja." sahut Devan asal.
Nayra justru tertawa mendengar sahutan yang di berikan Devan. Iya juga ya, pikirnya.
"Kamu kok pinter banget sih sayang..Aku kagum dech sama kamu." kata Nayra dengan manja bergelayut di lengannya.
"Akukan memang pintar, Ra..Baru tahu ya..Kemana aja kamu?" seloroh Devan begitu saja.
Auchhhh
Teriak Devan saat Nayra mencubit perut Devan pelan karena gemas.
"Sakit, sayang." keluh Devan sambil mengusap bekas cubitan di perutnya.
"Aku dulu belajar di pesantren selama enam tahun. Dari masuk SMP sampai Lulus SMA. Jadi sedikit paham akan ilmu agama." ujar Devan yang tahu maksud dari perkataan Nayra tadi.
Nayra menatap tak percaya jika suaminya ini anak pesantren. Kemana aja dia sampai tidak tahu. Kenapa tidak ada yang memberi tahu dia, pikirnya.
"Makanya kamu dulu menikahi aku secara siri untuk bisa berhubungan dengan ku waktu itu?" kata Nayra hati-hati supaya tak membuat Devan mengingat masa kelam itu.
"Iya.." jawabnya singkat.
Nayra memeluk Devan, "Maaf aku gak bermaksud mengingatkan masa lalu kita." ucap Nayra lirih takut kalau Devan kambuh lagi, padahal baru beberapa hari yang lalu dia sembuh.
"Gak apa sayang..Sekarang kan ada kamu di sisiku. Jadi aku gak akan kambuh lagi." kata Devan membalas pelukan Nayra.
Kiara berlari ke arah dimana Mama sama Papanya duduk.
__ADS_1
"Mama sini, ayo Kia tunjukan ikan yang lucu." Kiara menarik tangan Nayra supaya berdiri dan ditunjukkan ikan yang katanya lucu itu.
Devan akhirnya ikut berdiri dan menyusul Istri dan anaknya yang sudah berjalan duluan.