Rahim Pengganti

Rahim Pengganti
Performa nanti malam


__ADS_3

Nayra memasuki kantor polisi bersama dengan Devan, tadi setelah selesai makan siang Devan mengizinkan Nayra untuk menemui Ilyas dan juga Maya dengan syarat dia sendiri yang akan mengantar Nayra.


Dan disinilah mereka sekarang, di ruang kunjungan menunggu Ilyas di bawa keluar untuk menemuinya.


Nayra merasakan tangan kanannya yang digenggam erat oleh Devan, dia menoleh melihat Devan yang terlihat begitu tegang saat menunggu kedatangan Ilyas. Nayra mengelus tangan kiri Devan yang menggenggam erat tangan kanannya dengan tangan kirinya.


Nayra menyunggingkan senyum saat Devan menoleh padanya, "Tidak apa-apa, semua akan baik-baik saja." ucap Nayra pelan.


Dia tahu suaminya itu saat ini sedang tegang untuk menunggu Ilyas. Suaminya saat ini dalam keadaan trauma. Trauma akan kehilangan dirinya untuk kedua kalinya.


Nayra bersandar di pundak Devan sambil mengelus tangan kiri Devan. "Alhamdulillah kemarin kamu tidak sempat kambuh saat aku hilang, sayang." batin Nayra mengingat saat dirinya menghilang karena di culik Ilyas. Dan mendapati Devan dalam keadaan baik-baik saja meski sempat terlihat kuris.


"Permisi, Tuan, Nyonya.!! Waktu anda hanya lima belas menit." kata petugas polisi setelah datang bersama Ilyas.


Nayra segera menegakkan badannya dan tersenyum ramah pada petugas polisi. "Iya, Pak. Terima kasih."


Petugas polisi terlihat duduk di meje kerja dekat pintu sambil memantau mereka. Sedangkan Ilyas duduk di depan mereka dengan tampang biasa saja seperti tidak ada salah sedikitpun.


"Bagaimana kabar Kak Ilyas?" tanya Nayra basa-basi.


Ilyas tersenyum sinis pada Nayra saat mendengar pertanyaan basa-basi keluar dari mulut Nayra. Tidak ditanya pun seharusnya Nayra tahu bagaimana kabarnya saat ini.


Nayra berdehem, dia bingung harus bicara bagaimana lagi. Devan hanya diam saja dan Ilyas terlihat biasa saja dan terkesan cuek.


"Nayra minta maaf, Kak."


"Maaf jika Nayra tidak bisa membalas cinta Kak Ilyas."


"Karena Kak Ilyas sudah Nayra anggap sebagai kakak Nayra sendiri seperti Kak Faiz ataupun Kak Nathan."


"Dan itu sejak dulu sampai sekarang."


"Dan maaf dulu Nayra sempat memberi Kak Ilyas harapan saat Papa meminta Kak Ilyas untuk menikahi ku."


"Tapi jujur, Nayra dulu melakukan itu karena terpaksa dan kak Ilyas tahu sendiri itu." Nayra menatap Ilyas.


"Bukankah Kak Ilyas sendiri yang bilang ke Nayra 'suatu hubungan tidak akan berjalan lancar kalau dilandasi keterpaksaan'."


"Dan Nayra dulu memilih untuk tidak melanjutkan hubungan itu dan kak Ilyas juga menyetujuinya."


"Tapi kenapa Kak Ilyas kemarin melakukan itu pada Nayra dan suami Nayra, Kak?" tanya Nayra.


Ilyas menatap Nayra dan beralih menatap Devan yang juga menatapnya. Ilyas tersenyum sinis melihat Devan yang menatapnya tajam.


"Karena aku gak suka lihat kamu bahagia bersama Devan." Ilyas beralih menatap Nayra, "Karena hanya aku yang pantas untuk membahagiakan kamu."


"Breng sek kamu." Devan berdiri dan menarik kerah baju Ilyas.


"Devan..." pekik Nayra kaget, dia terkejut saat Devan tiba-tiba marah saat mendengar perkataan Ilyas. Wajar saja dia marah saat laki-laki lain dengan beraninya membuatnya cemburu.


"Mohon Tuan untuk tenang dan jangan membuat keributan disini." petugas polisi itu dengan sigap melerai Devan yang bersiap menghajar Ilyas.

__ADS_1


"Waktu kalian kurang dari lima menit. Kalau tidak ada yang ingin disampaikan saya akan membawa tahanan untuk masuk kedalam." kata petugas polisi.


"Bawa saja, kami sudah gak ada urusan lagi sama dia." ucap Devan tegas, menatap Ilyas dengan amarah yang terpendam. Apalagi saat melihat seringaian Ilyas itu, ingin rasanya Devan menghabisi Ilyas saat ini juga.


Petugas polisi itu keluar dan membawa Ilyas kembali ke tahanan.


Nayra membawa Devan untuk duduk. Dia memeluk suaminya itu untuk meredam amarah yang ada di hati Devan.


Devan memejamkan matanya dan berulang kali menarik dan membuang nafas untuk meredam amarahnya.


"Apa masih lama lagi?" tanya Devan


"Aku nggak tahu, mungkin sebentar lagi Kak Maya datang. Tunggu saja." jawab Nayra.


Mereka menunggu Maya untuk dibawa menemui mereka.


"Permisi Tuan, Nyoya!!! waktunya sama, lima belas menit." kata petugas kepolisian mengingatkan Nayra dan Devan untuk berbicara dengan Maya.


Nayra segera berdiri dan memeluk Maya, dia menangis mengingat bagaimana baiknya Maya saat menolongnya waktu itu.


"Terima kasih, kak. Terima kasih." ucap Nayra berulang kali di pelukan Maya.


Maya diam saja, dia menatap Devan yang berdiri dibelakang Nayra. Dimana Devan juga menatapnya.


Devan dapat lihat ada banyak kesedihan dan penyesalan dari sorot mata Maya. Mantan istrinya enam tahun yang lalu. Mantan istri yang menghianatinya.


"Terima kasih,Kak. Kalau bukan karena Kak Maya,aku nggak tahu bagaimana nasib bayiku saat itu." ucap Nayra setelah melepaskan pelukannya. Dia menatap Maya dan perutnya bergantian.


Maya tersenyum kecut menanggapi ucapan Nayra. Dia duduk diikuti Nayra yang duduk di sebelahnya, sedang Devan di hadapan mereka.


"Bukannya sudah ada yang menjamim kebebasan kak Maya?" tanya Nayra


"Orang yang menjaminku juga ada disini."


"Dia ketangkap karena menculik orang."


"Dan aku juga ikut dalam aksi itu."


Nayra menutup mulutnya tak percaya. Orang yang menjamin Maya ketangkap karena menculik orang dan Maya juga terlibat didalamnya. "Jangan bilang kalau Kak Ilyas yang menjamin Kak Maya keluar dari penjara?" tebak Nayra.


Maya mengangguk membenarkan tebakan Nayra, "Memang dia orangnya."


Nayra menggeleng kepala tidak percaya apa yang dia dengar dan ketahuk saat ini. Dia menatap Devan yang terlihat biasa saja.


"Kamu sudah tahu, sayang?" Devan mengangguk pelan.


"Kenapa kamu nggal cerita sama aku?" tanya Nayra yang terlihat kesal pada Devan.


"Aku takut terjadi apa-apa sama kamu dan anak kita." Maya tersenyum sinis mendengar jawaban Devan.


Nayra mendengus kesal mendengar jawaban dari Devan.

__ADS_1


"Aku mau kembali. Terima kasih atas kunjungan kalian." pamit Maya yang sudah berdiri dari duduknya.


"Kenapa buru-buru,Kak" protes Nayra yang memang belum puas bertemu dengan Maya.


Entah Nayra itu terlalu naif atau apa, Maya dulu telah menyakitinya dan tidak menghargainya, tapi kini dia seakan lupa akan itu hanya karena Maya menolongnya saat dia dan bayi di kandungannya dalam keadaan kesakitan.


"Waktunya sudah habis."


Nayra melihat jam di dinding dan benar saja, waktu berkunjungnya telah habis.


"Kak Maya baik-baik saja ya disini?"


"Kalau perlu apa-apa hubungi saja aku." Nayra memberikan kartu namanya.


"Aku juga akan sering berkunjung menemui Kak Maya."


"Nanti akan aku ajak si kembar untuk menemui Kak Maya."


Maya tersenyum terharu melihat Nayra yang begitu peduli padanya, padahal dia dulu begitu kejam pada dirinya.


"Terima kasih ya,Nay. Kamu memang baik dan sangat pantas mendampingi Devan."


"Devan sangat beruntung mendapatkan kamu." ucap Maya dengan tulus.


"Kak Maya juga baik, hanya saja kak Maya salah jalan saja." gurau Nayra membuat mereka tertawa.


Akhirnya Maya kembali di bawa petugas polisi masuk ke tahanan lagi.


"Aku nggak dibawa pergi sama mereka kan." kata Nayra setelah mereka sudah berada di dalam mobil kembali menuju rumah.


Devan mendengus mendengar perkataan istrinya itu. Bisa-bisa istrinya itu berkata seperti itu saat dirinya tadi begitu takut waktu bertemu Ilyas.


"Hehehe...Aku bercanda sayang." Nayra bergelayut manja di lengan suaminya yang sedang mengemudi.


"Jangan marah yahh!!" Nayra mengangkat kepalanya melihay wajah suaminya yang diam saja itu.


"Sayang!!!" Nayra menarik-narik pelan tangan kiri Devan.


"Ra, aku lagi nyetir." kata Devan tegas.


"Maaf." ucap Nayra lirih.


Devan menoleh sebentar melihat Nayra yang terlihat sedih karena dirinya. Diambilnya tangan kanan Nayra dan dikecupnya.


"Aku akan memaafkan mu. Tapi aku lihat dulu performa mu nanti malam."


Nayra menoleh menatap Devan, "Performa???"


"Iya...Performa kamu." Devan mengedipkan sebelah matanya.


Nayra memicingkan matanya menatap aneh pada Devan. Dia berfikir maksud dari perkataan suaminya itu apa. "Performa nanti malam?" gumam Nayra lirih

__ADS_1


"Isshhhh Devan.." Nayra mencubit lengan Devan setelah tahu maksud dari perkataan suaminya itu. Wajahnya memerah karena malu. Bisa-bisanya Devan berpikiran mesum setelah tadi dia ketakutan akan kehilangan dirinya.


"Papa mesum."


__ADS_2