Rahim Pengganti

Rahim Pengganti
Semoga ini cukup


__ADS_3

Romi mengendarai mobilnya dengan kecepatan penuh menuju titik lokasi yang baru saja dikirim oleh anggota tim yang mengikuti Ilyas.


Doni tadi sudah Romi minta untuk pulang duluan membawa Kenan juga Kiara yang awalnya kekeh ingin menunggu Mama sama Papanya keluar. Dengan segala bujuk rayu dari Romi juga Doni akhirnya si kembar sepasang itu mau pulang juga.


Dengan tidak sabar Devan segera turun dari mobil setelah mereka sampai di titik lokasi dan ternyata juga sudah ada polisi di sana. Devan ingin menghabisi Ilyas sampai mati karena dengan beraninya membawa Nayra pergi dari dirinya.


"Breng sek!!"


Bughh


Devan menendang perut Ilyas yang sudah di bekukan terlebih dahulu oleh polisi. Tadi anggota tim nya Faiz sudah menghubungi polisi terlebih dahulu saat mereka mengikuti Ilyas. Dan dengan mudahnya Ilyas dapat di bekukan karena sudah dikepung dari segala penjuru arah oleh kepolisian juga anggota tim nya Faiz. Meski Ilyas tadi sempat memberikan perlawanan dan masih bisa kabur, namun dengan cepat dapat ditakhlukkan lagi oleh anggota timnya Faiz yang dibantu anggota kepolisian.


"Dimana kau sembunyikan Nayra?" Teriak Devan karena tidak melihat sosok istrinya di sana.


"Dev, sabar." Romi memegangi Devan yang ingin meninju Ilyas. Apalagi Ilyas sekarang sudah dalam genggaman dua orang polisi. Kalau saja Devan berbuat nekat, bisa jadi Devan ikut digiring polisi.


"Dimana Nayra, hah." bentak Devan karena melihat Ilyas yang hanya tersenyum sini padanya.


Ingin rasanya Devan membunuh Ilyas saat ini juga walau nantinya dia sendiri yang akan terbunuh. Karena kalau dibandingkan dengan Ilyas,Devan tidak ada apa-apanya.


"Bukannya Nayra istrimu? kenapa harus tanya sama mantan tunangannya.?" tanya Ilyas dengan seringaian jahatnya.


"Aku yakin mereka yang ada di sini belum mengecek semua lokasi di villa."


"Untung aku segera menyembunyikan Nayra dan kabur duluan sebelum mereka menyadari."


"Semoga wanita itu bisa menjaga Nayra dan kalau bisa meleyapkan Nayra sekalian biar siapapun tidak bisa memiliki Nayra termasuk Devan." batin Ilyas yang senang karena mereka tidak menemukan Nayra di villa itu.


"Karena kamu yang terakhir sama dia."


"Cepat katakan dimana Nayra." teriak Devan yang tangannya kembali memukul rahang Ilyas dengan keras.


Devan mengibaskan tangan karena merasakan sakit di tangannya. Tapi sakit yang dirasakan ditangannya tidak sesakit saat tahu istrinya tidak disampingnya saat ini.


"Maaf Tuan Devan. Jika anda terus seperti ini, maka kami sangat terpaksa membawa anda juga ke kantor polisi." ucap Kapolda dengan tegas pada Devan.


"Sudah Dev tenang saja. Semua biar polisi yang mengurusnya." kata Faiz menenangkan Devan yang masih menatap Ilyas dengan penuh amarah.


"Kami akan membawa saudara Ilyas ke kantor polisi untuk dimintai keterangan." kata Kapolda

__ADS_1


"Dan saya minta salah satu diantara kalian ikut kami ke kantor polisi untuk memberi keterangan juga." sambung Kapolda menatap Devan, Romi, Faiz, dan Nathan bergantian.


"Nat..kamu saja yang ikut ke kantor polisi untuk memberikan keterangan." kata Faiz pada adiknya.


"Biar kami yang meneruskan mencari Nayra." sambung Faiz menepuk pundak Nathan pelan.


"Baik, Kak." jawab Nathan tegas.


"Kalau begitu kami permisi dulu." pamit Kapolda dan diikuti anggota kepolisian yang lain termasuk yang memegangi Ilyas.


"Aku sudah ganteng belum kak?" tanya Nathan di kondisi yang tidak memungkinkan.


"Kau ini!!!" geram Faiz pada saudara angkatnya ini.


"Sudah sana ikuti mobil kepolisian, nanti Kakak jemput." Faiz dengan kesal mendorong Nathan yang tiba-tiba bertingkah kekanakan.


Bugh


Agghhhh


Teriak Romi saat mendapat tinjuan tiba-tiba di perutnya dari Devan dan membuatnya jatuh tersungkur.


"Kamu apa-apain sih Dev." sentak Romi yang tidak tahu apa-apa namun dapat tinjuan mentah dari Devan.


"Siapa tahu nanti di sana kita mendapatkan petunjuk." Faiz memberi kode pada Romi untuk segera bangun dari jatuh tersungkurnya.


Mereka akhirnya kembali lagi ke villa dimana Ilyas menyekap Devan dan Nayra tadi.


"Bagaimana?" tanya Faiz pada salah seorang anggota timnya yang memang tadi mengikuti polisi untuk mengecek villa.


"Belum ketemu Tuan. Kami masih mencarinya."


Faiz mengangguk mengerti, tadi dia juga diberi tahu kalau Ilyas hanya sendirian di dalam mobil. Jadi kemungkinan besar Nayra masih berada di sekitar villa. Tapi dimana?


"Tuan, tadi yang dibawa oleh polisi tidak ada wanitanya."


"Bisa jadi wanita itu kabur sebelum polisi datang." lapornya pada Faiz.


Faiz mengusap wajahnya kasar. Dia mengambil nafas dalam dan menghembuskannya kasar. Dia melihat Devan yang sudah masuk kedalam villa diikuti Romi. Dia tahu Devan pasti mencari Nayra di dalam sana.

__ADS_1


"Kamu sudah mencari di sekeliling villa?" tanya Faiz.


"Sudah Tuan. Dan sebagaian dari mereka juga masih menelusuri lebih jauh lagi ke daerah pemukiman."


Faiz mengangguk, "lakukan tugas kalian dengan benar."


Faiz segera masuk ke dalam villa dan mencari jejak Nayra di dalam sana.


"Sial!!!" umpat Devan kesal.


Bugh


Devan meninju dinding dengan kencang hingga membuat punggung tangannya berdarah. Dia begitu kesal dan marah pada dirinya sendiri karena tidak bisa menjaga Nayra dan anak yang masih di dalam kandungan Nayra dengan baik.


Ditambah dia masih marah sama Ilyas yang ada dibalik pencilikan ini.


"Dia kira dia saja yang merasakan kesedihan karena kehilangan Nayra." gerutu Romi yang melihat Devan terlalu berlebihan karena tak kunjung menemukan Nayra.


Faiz yang mendengar gerutuan Romi merasa geram hingga membuatnya langsung menonyor kepala Romi.


"Nanti kalau istrimu pergi baru tahu rasa kamu." geram Faiz pada Romi.


"Doanya jelek bener sih." sungut Romi yang tak dihiraukan Faiz. Dia mendekati Devan untuk menenangkan lelaki melankolis itu.


...............


"Bagaimana keadaan adik saya Dokter?" tanya nya saat melihat Dokter keluar dari IGD.


"Adik anda dehidrasi dan sepertinya ketakutan berlebihan. Dan itu tidak baik karena dia saat ini sedang hamil."


"Apalagi dia tadi mengalami kram dan juga pendarahan."


"Pendarahan Dok?" tanya nya dengan rasa tak percaya hingga membuatnya menutup mulutnya dengan kedua tangannya.


Dokter mengangguk, "Iya..Dan sebaiknya dilakukan pengecekan USG dengan dokter kandungan segera."


"Lakukan apapun yang seharusnya dilakukan Dok."


"Baiklah, tolong segera urus administrasinya."

__ADS_1


Dia mengangguk dan berjalan menuju pendaftaran administrasi. Dia mengambil sesuatu dari kantong celananya. Dilihatnya perhiasaan yang diambilnya tadi dari tubuh adiknya sebelum melakukan pemeriksaan.


"Semoga ini cukup untuk membayarnya."


__ADS_2