Rahim Pengganti

Rahim Pengganti
Bab 50


__ADS_3

23:06 malam.



Sebuah mobil yang bermerek Aston Martin DB 11, melaju cepat membelah jalanan new berlin tersebut.



Wajah deniz yang tampan dengan manik matanya berwarna abu abu, hidungnya yang mancung, bibir tipis yang seksi, rahang yang tegas serta memiliki jambang tipis di wajahnya, tidak henti hentinya menyungging senyum dengan kedua manik matanya menatap ke depan dan sesekali dia akan menoleh ke samping melihat ayla yang terlelap. deniz pun tidak bisa menyembunyikan raut wajah bahagianya. bahagia? ia benar benar bahagia, perasaan bahagia yang tidak akan bisa ia gambarkan atau ia ungkapkan lewat kata kata.



"terima kasih sayang? karna hadir dalam hidupku". deniz semakin mengencangkan genggaman tangannya pada ayla karna sebenarnya adalah deniz hanya menyetir mobil dengan satu tangan sebelah kiri, sedangkan yang kanan ia pergunakan untuk mengenggam tangan ayla dan ini suatu kenikmatan kebahagian yang luar biasa. hingga membuatnya tidak bisa berkata kata.



Deniz kembali menoleh melihat ayla saat menangkap gerakan ayla dari sudut matanya. ternyata ayla hanya melenguh lalu kembali tidur.



Deniz terkekeh geli. ia mau mengacak acak rambut ayla gemas namun genggaman tangan mereka membuat deniz menahan dirinya.



'ini lebih penting'. batin deniz lalu ia tersenyum geli.



Beberapa lama kemudian mobil mereka memasuki perkarangan rumah Mr. Okan setelah petugas rumah tersebut membuka pintu gerbang untuk mereka.



Mobil mereka berhenti tepat di depan teras rumah besar dan mewah tersebut.



Deniz yang pertama keluar. dia memutari mobil melangkah ke pintu satu lagi sebelah kanan lalu membukanya.



Deniz menurunkan sedikit tubuhnya, memindahkan kain selimut yang menutupi tubuh ayla, melepaskan sabuk pengaman lalu mengangkat ayla dengan hati hati keluar dari mobil tersebut.



"uh...". ayla terjaga dan langsung di kejutkan dengan wajah deniz yang sangat dekat dengan dirinya. ayla tidak perlu memikirkan apa yang sedang terjadi padanya karna jelas dia tahu, deniz mengangkatnya.



"syutttt...tidurlah, aku akan membawamu ke dalam". ujar deniz sembari melangkah dan tanpa menutup pintu mobil.



Seorang petugas rumah hadir di belakang mereka, masuk ke dalam mobil menutup pintu lalu membawa mobil ke dalam garasi rumah yang berada di bawah tanah.



"turunkan aku, aku bisa jalan sendiri". suara ayla yang serak akibat bangun tidur.



"dan suami mu tidak membiarkan itu". sahut deniz lalu ia menatap ayla dan tersenyum tampan, yang seketika membuat jantung ayla tidak dalam ke adaan baik baik saja.



"kamu gila". ayla membenamkan wajahnya ke dada deniz, ia bisa merasakan pipinya yang panas.



Deniz terkekeh.



"mencintaimu, kamu harus bertanggung jawab sayang? "



"seumur hidup? ". tanya ayla yang wajahnya masih dia benamkan di sana.



"tidak! sampai mati, sampai ke negeri akhirat nanti".



Ayla diam diam tersenyum di dada deniz. bagaimana ia bisa membenci pria ini bahkan tanpa deniz ceritakan semua, dengan kehadirannya saja di sini sudah membuatnya bahagia setengah mati, apalagi dengan melihat senyumannya maka semua perlakuan kasarnya hilang seketika.

__ADS_1



'aku benar benar...'.



"beyza...?!".



"hm? ".



"kamu percaya kalau aku bilang, aku sangat mencintaimu....sangat sangat sangat!".



Ayla tersenyum.



"deniz?! "



"hm? ". gumam deniz sambil terus melanjutkan langkahnya menuju ke pintu rumah dan tanpa melihat ayla.



"kamu percaya? kalau aku bilang...cintaku-tergila gila-padamu?!".



Deniz menyunggingkan senyum penuh percaya diri. ia melihat ayla sebentar yang berada di dadanya sebelum kembali melihat ke depan.



"untuk dr. deniz atau selim? ".



Ayla mengedipkan kedua matanya mendengar pertanyaan deniz dan sedetik setelahnya ia tersenyum.




Deniz tertawa kecil.



"kasian sekali selim, dia harus patah hati untuk kedua kali". deniz kembali tertawa.



Ayla ikut tersenyum sembari mengeratkan pegangannya pada leher deniz.



Mereka sampai di pintu utama, deniz melangkah masuk setelah di bukakan pintu oleh pelayan dan beberapa langkah keduanya di sambut oleh mommy dan daddy ayla.



Deniz berhenti melihat ke dua manusia didepannya.



"dia tertidur? ".



Deniz melirik ke ayla yang sepertinya sengaja pura pura tidur. ia pun tersenyum ke arah Mrs. Okan.



"iya, saya akan membawanya ke kamar". ujar deniz tanpa menggerakkan langkahnya karna menunggu izin dari kedua orang yang sangat penting bagi ayla.



Ayse mendekat lalu mengelus lembut kepala ayla putri satu satunya.



"benarkah? padahal dia belum minum susu dan...". ayse menghentikan ucapannya mendongak menatap ke jam yang ada di ruangan tersebut.

__ADS_1



"jam segini biasanya dia akan lapar dan makan, ya sudah! sana bawa dia ke kamar, dia kecapean banget kayaknya!...oh ya? sebenarnya kalian kemana hari ini dan...baru pulang".



Deniz mengerjap lalu melihat ke Mr. Okan sebentar sebelum menjawab karna melihat Mr. Okan yang bagi deniz sama sekali tidak mau membantunya bicara. padahal dia...butuh dirinya di sini terutama tubuhnya. ugh...



'aku tidak bisa bayangkan bagaimana tubuhku akan di hajar oleh Mr. Gokhan, melihat bagaimana anaknya sendiri ketakutan begitu'.



"beberapa tempat di siang hari lalu ke tempat, favorit kami, saya permisi". pamit deniz lalu berbalik dan berlalu dari sana.



Mereka masuk ke dalam lift.



Sampai di kamar. deniz membaringkan ayla ke ranjang lalu duduk di samping ayla di sisi ranjang karna melihat ayla yang tidak tidur lagi.



"tidak jadi lapar? ". deniz menatap ayla.



Ayla bangkit duduk lalu menyandarkan punggungnya ke belakang. tangan ayla terjulur meraih satu benda yang mirip seperti telpon.



"hm..mine? bawa susu dan aku lapar, seperti biasa ya? ". pesan ayla lalu menutup pembicaraannya. menatap deniz.



"tidak mandi? ".



"setelah kamu makan"



"aku bukan anak kecil yang harus di jaga".



"bukan menjaga, hanya saja...tidak mau melewatkan kesempatan apapun denganmu dan...". deniz menatap ke perut ayla.



"calon anak kita". sambung deniz setelah kembali menatap ayla.



Ayla mengedip ngedipkan matanya beberapa kali lalu memilih melihat ke arah lain.



'tidak adil, kenapa aku terus yang berdebar debar begini? sedangkan dia...baik baik saja'.












__ADS_1


__ADS_2