
Sore hari di halaman samping rumah Devan terlihat begitu ramai. Banyak pernak pernik cantik yang menghiasi halaman rumah yang disulap menjadi tempat pesta ulang tahun si kembar. Dari banyaknya hiasan yang ada, cuma balon yang tidak terlihat ada di sana. Alasannya apa lagi kalau bukan karena sang Nyonya rumah memiliki trauma akan balon.
Kenan dan Kiara juga sudah siap dengan kaos santainya. Alasannya biar bisa bergerak bebas dan bisa bermain dengan temannya. Kalau pakai gaun Kiara gak bisa bermain kejar-kejaran sama teman-temannya. Begitulah alasan si kembar kenapa mereka memilih pakai kaos santai saja. Apalagi nanti diadakan beberapa lomba yang memang khusus diadakan untuk memeriahkan acara ulang tahun si kembar.
Devan awalnya tidak menyetujui kalau diadakan perlombaan, tapi karena takut sang istri merajuk akhirnya dia mengiyakan saja keinginan anak-anaknya. Yang terpenting anak istrinya senang, Devan pun ikut senang.
Semua sudah berdatangan, bahkan Papa Rasyid dan Mami Mira juga datang khusus untuk menghadiri ulang tahun cucu mereka. Mereka juga membawakan hadiah yang sudah mereka janjikan untuk cucu kembar mereka.
Sepasang kuda Nama quarter diambil dari 'quarter mile', karena kuda ini spesialis dalam jarak seperempat mil (400 m) alias jarak pendek. Kecepatan lari kuda ini dapat mencapai 88 km per jam. Yang membuat kuda ini begitu hebat karena bentuk tubuhnya yang kompak dan berotot. Sehingga ia tidak hanya cepat, namun juga ahli bermanuver.
Acara berlangsung meriah karena adanya perlombaan. Apalagi para Papa Muda juga ikut bergabung dengan anak-anak mereka. Romi yang belum memiliki pasangan dan seorang anak akhirnya berpasangan dengan Kiara karena Kenan memilih bersama Papa Devan.
"Ayo Paman..Jangan kalah sama Papa." teriak Kiara menyemangati Romi yang sedang berusaha melawan Papa Devan beradu panco.
"Aishh..Aku yakin Papa akan kalah sama Paman Romi." Keluh Kenan saat melihat Paman Romi yang terlihat biasa saja berbeda dengan Papa Devan seperti mengeluarkan seluruh tenaganya untuk menumbangkan Romi.
"Paman Lomi sayangnya Kiala..Semangat.." teriak Kiara.
"Berisik!!" sungut Kenan pada Kiara yang terus berteriak.
Kiara menjulurkan lidahnya meledek Kenan. Karena sedari tadi dia kalah terus sama Kenan. Hampir semua permainan Kenan dan Papa Devan yang memenangkannya. Dan sekarang giliran Kiara dan Romi yang harus menang.
"Holleeeee..." teriak Kiara saat melihat Romi berhasil mengalahkan Papa Devan.
"Wlekkk.....Kenan kalah, Akhilnya Kenan kalah."
"Hole Kiala menang.." Kiara loncat-loncat kegirangan karena berhasil menang juga setelah menerima kekalahan berkali-kali.
"Paman..." Kiara berlari ke arah Romi dan meloncat.
Hap...Dengan sigap Romi memegangi Kiara dan diangkatnya di bahunya.
"Balu juga menang sekali sudah teliak-teliak." cibir Susan anaknya Natha.
"Bialin..Dalipada kamu belum menang." Wlekkk..ledek Kiara.
"Aman endong.." Eza mendekat ke Romi minta digendong juga.
"Sini sama Papa saja." Devan langsung mengangkat Eza dan diletakkan di belakang kepalanya.
"Ole Eja inggi.."
"Lebih tinggi Kakak."
Semua tertawa melihat tingkah Eza juga Kiara. Setelah semua dikasih hadiah sama yang punya acara akhirnya mereka berpamitan pulang.
"Kenan..Ayuk kita cali dimana Opa menaluh kudanya." ajak Kiara pada Kenan.
"Ayuk.."
__ADS_1
Mereka berdua mengelilingi halaman rumah dari belakang, samping samping hingga belakang namun mereka tak menemukan seorang kuda sama sekali.
"Apa Opa bohong sama kita?" tanya Kiara.
Kenan hanya mengendihkan bahunya. "Ayuk kembali saja." ajak Kenan.
"Kalian tadi dari mana?"
"Dicari Mama tadi." tanya Romi yang melihat keponakannya itu muncul dari halaman belakang.
"Cali kuda." jawab Kiara singkat dan berlalu begitu saja. Begitupun Kenan.
"Tadi Paman Paman Paman. Sekarang cueknya kambuh lagi." gerutu Romi yang merasa dicueki si kembar.
"Opa..Kemalin katanya membelikan Kia sama Ken kuda."
"Kudanya mana Opa?" tanya Kiara menghampiri Opa Rasyid yang sedang duduk bersama Kakek Damar. Karena Kiara tak melihat kuda yang dijanjikan oleh Opanya itu. Tadi dia sempat berkeliling untuk mencari dimana Opa Rasyid meletakkan kudanya.
"Kudanya ada dikandang kuda sayang. Ada di tempat pacuan kuda nya milik Paman Nathan."
"Kalau Kiara pengen lihat ada disana."
"Gak mungkin Opa bawa sini." jawab Opa Rasyid pada cucu perempuannya itu.
"Kenapa ditaruh disana Opa?"
"Kenapa gak ditaruh disini saja?" tanya Kenan pada Opa Rasyid.
"Kalau ditaruh disini belum ada kandangnya. Dan juga belum ada yang ngerawat juga melatihnya."
Kiara dan Kenan tampak manggut-manggut.
"Belinya dua kan Opa?"
"Untuk aku sama Kenan." tanya Kiara memastikan karena dia nanti tidak mau berbagi sama Kenan kalau memang beli kudanya cuma satu.
"Iya, Opa belikan dua untuk Kiara dan Kenan. Masing-masing satu."
"Makasih Opa.." Kiara dan Kenan lantas mencium tangan Opa Rasyid dan Kakek Damar bergantian lalu pergi bergabung dengan teman-temannya.
"Papa jadi membelikan si kembar kuda?" tanya Nayra yang tak sengaja mendengar perbincangan Papa Rasyid dengan Kiara.
"Jadi. Kenapa memangnya?" tanya Papa Rasyid.
"Papa terlalu memanjakan mereka. Rara gak suka." Nayra memang tidak suka jika ada yang memanjakan si kembar. Nanti mereka akan kebiasaan meminta. Apalagi kalau langsung dituruti.
"Rara tidak ingin si kembar kelak menjadi tempramen, kurang memiliki daya saing, kurang berempati bahkan bisa terkena tantrum."
"Rara tidak ingin si kembar seperti itu."
"Berhubung mereka masih kecil. Jadi Rara mohon sama Papa untuk tidak memberikan apapun yang mereka inginkan."
"Belikan jika memang itu perlu dan bermanfaat buat si kembar." Nayra memohon pada Papa Rasyid untuk menyudahi aksinya yang suka membelikan apapun ataupun menjanjikan apapun pada si kembar.
__ADS_1
"Biarkan mereka belajar untuk memilah dan memilih sendiri apa yang memang mereka perlukan saat ini dan bermanfaat untuk kedepannya." sambung Nayra.
"Iya maaf. Papa gak akan mengulanginya lagi." Kata Papa Rasyid.
"Jangan iya-iya aja, Pa. Papa dulu juga berjanji untuk tidak mengulanginya lagi tapi apa?"
"Papa tetap saja memanjakan mereka dengan uang." Nayra terlihat marah pada Papa Rasyid.
Devan segera mendekat dan menenangkan Nayra yang terlihat marah juga emosi. Bisa gawat jika nanti emosi Nayra semakin menjadi. Dia nantinya yang akan kena amarah Nayra ujung-ujungnya. Apalagi sekarang emosi Nayra sedang tidak stabil karena hormon kehamilan.
"Sudah sayang, kontrol emosinya."
"Aku gak mau terjadi apa-apa sama kamu dan bayinya." ujar Devan dengan lembut. Dia nggak mau Nayra sampai emosi dan mengakibat istrinya stres.
"Bawa ke kamar saja, Nak." usul Mama Arumi yang tidak tega melihat menantunya itu. Apalagi kalau hamil itu bawaannya sensitif.
"Kenapa?" tanya Devan yang melihat Nayra justru memeluknya erat setelah mereka baru saja sampai di kamar.
Karena tak ada jawaban dari Nayra, Devan mengangkat tubuh Nayra dan di rebahkan nya di ranjang.
"Apa aku tadi salah berbicara seperti itu sama Papa?" tanya Nayra dengan mata berkaca-kaca.
"Nggak sayang. Kamu nggak salah."
"Cuma cara penyampaiannya saja yang salah."
"Kamu tadi sedikit emosi dan marah sama Papa."
"Seharusnya tadi kamu bisa dengan pelan bicaranya." jawab Devan dengan lembut dan pelan supaya istrinya itu tidak kembali emosi. Entahlah, sejak hamil emosi Nayra naik turun gak jelas. Jadi Devan harus ekstra hati-hati jika mau bicara sama Nayra.
"Itu sama saja aku salah." sewot Nayra. Ya kan, emosi lagi.
"Kamu gak salah sayang."
"Kalaupun kamu salah biasanya juga minta maaf duluan." kata Devan mencoba untuk bersabar menghadapi istrinya yang sedang hamil itu.
"Kenapa aku harus minta maaf."
"Aku nggak ada salah juga." sungut Nayra kesal pada suaminya.
Devan mengusap wajahnya kasar menghadapi Nayra yang sedang hamil. Padahal kemarin waktu awal kehamilan nggak seperti ini. Biasa saja seperti orang normal. Tapi kenapa sekarang sungguh luar biasa ajaib. Emosinya sungguh membuat siapa saja yang berhadapan dengannya harus bersabar. Ekstra sabar. Ditambah sekarang suka merajuk gak jelas karena hal sepele.
Sabar, sabar, sabar, itu yang selalu Devan ucapkan saat menghadapi tingkah Nayra yang sungguh luar biasa itu.
Sungguh, bukan seperti Nayra.
🍁🍁🍁
Simak yuk kisahnya Maura : Tragedi Tahun Baru
di karya Novel Author yang lain.
__ADS_1
HAVE A NICE DAY