Rahim Pengganti

Rahim Pengganti
Bab 70


__ADS_3

Di rumah besar Al-khaled. diruang kerjanya yang di domisili warna coklat hitam tersebut dengan cahaya lampu remang lebih ke cahaya matahari yang masuk ke dalamnya dengan tirai yang terbuka. Berdiri membelakangi menghadap jendela kaca besar tinggi menjulang tersebut dengan benda tipis persegi di telinga kirinya.



Mendengar umpatan dan kata kata kasar dari si penelpon di seberang. namun tidak membuat raut wajah khaled memerah marah melainkan dia hanya santai dan bersikap acuh.


"bukankah kamu melampiaskannya ke cucuku kenapa aku tidak bisa melampiaskan ke cucumu X? dan bukankah kamu juga menyuruh cucuku berhenti? karna tidak mungkin untuk mereka bersama lalu...kenapa aku tidak bisa menyuruh cucumu untuk menjauhi cucuku bukankah intinya di sini hanya cucumu saja? dan semua akan baik baik saja, seperti semula". raut wajah khaled terlihat kejam dengan kata katanya yang dingin.



"bajingan brengsek kamu Z? kamu tahu kalau cucuku sedang mengandung keturunanmu dan hal itu tidak baik untuk kandungannya".



"jadi maksud mu kamu membiarkan cucuku bersama cucumu sampai batas waktu tertentu itu? setelahnya mereka akan berpisah? kamu pikir cucuku bisa menerima begitu saja? kamu kira cucuku alat untuk penghibur cucumu". teriak khaled murka di ujung kalimat.



"apa kamu lupa cucuku sedang mengandung keturunan siapa? dan kamu pikir dengan memisahkan cucumu dari cucuku segera itu akan membuat cucumu menerima begitu saja? yang ada kamu akan kehilangan keduanya Z? cucumu dan calon cicitmu, kehadiran cucumu sangat di butuhkan oleh cucuku sekarang dan juga keturunanmu Z, jangan egois".



"jangan egois? kamu tidak tahu apapun X". khaled mendesis geram.



"apa yang tidak aku tahu Z tentangmu..? terkecuali satu hal...kecelekaan itu".



Khaled mendengus keji.



"dengan uangmu yang banyak bukankah itu sangat mudah? "



"iya jika orang tuamu tidak menutupi kasusnya brengsek? ". teriak murka Gokhan di seberang.



Khaled terdiam. sedetik kemudian dia menggeram sambil meraup wajahnya frustasi.



"mari hentikan ini segera X? aku ambil cucuku dan kamu jaga cucumu, beri aku anak itu sesudah lahir kedunia ini, jika ini berjalan semakin lama, kamu tahu sendiri apa yang akan terjadi pada cucuku X". Khaled menurunkan nada suaranya menjadi lemah.



"semua karna masalah itu Z, kemarilah dan selesaikan semua, aku akan memanggil V kemari, selama di rumahku dia tidak akan bisa berbuat apapun".



Khaled menarik nafas sambil kembali mengusap wajahnya kasar.



"aku tidak takut padanya X


? aku bukan pencundang! berapa kali pun aku berpikir dan sekeras apapun aku berusaha meyakinkan dia, kamu jelas tahu, V tidak akan percaya, yang dia mau...aku kehilangan nyawa dari seseorang yang sangat berharga dalam hidupku dan itu cucuku...deniz".



"....". gokhan terdiam. ini sulit, sulit untuk mereka.


__ADS_1


"dan apa kamu pikir, setelah semua seperti semula, semua masalah kita akan selesai begitu saja?".



"aku tahu! paling tidak, bisa memberiku waktu, aku harus ada saksi untuk menjelaskan semua X, aku yakin kamu juga berpikir begitu"



"dan siapa saksimu? jangan bilang...Chiara? "



"saat kejadian itu, aku ada bersamanya! V bisa tidak mempercayai ucapanku tapi...dia tentu akan percaya ucapan Chiara".



"tapi dia tidak mau jadi saksi, dia melarikan diri".



"menurut kalian chiara orang yang seperti itu?, tidak heran kalian tidak mempercayaiku! chiara memang melarikan diri tapi bukan untuk saksi, melainkan melarikan diri dari suaminya yang kejam dan selalu menyiksanya karna itu, saat itu dia enggan untuk pulang takut bertemu suaminya dan kurasa sampai sekarang, aku tidak tahu keberadaan dia di mana".



"apa maksudmu dengan suaminya yang kejam Z? jelaskan semuanya".



Khaled memilih diam. itu sudah berlalu dan juga...dia tidak mau membuka luka lama sahabat sekaligus adik kecil mereka. ya, chiara Satu wanita di antara Tiga pria yaitu Z(Khaled), X(gokhan) dan V( Sean Ferdinand). dari mereka di bangku SHS sampai universitas mereka selalu bersama. hingga di semester semester akhir mereka menjadi musuh karna kehadiran seorang wanita yang membuat persahabatan mereka renggang. wanita yang berasal dari swiss di gilai ke tiga pria ini namun sayangnya, wanita tersebut hanya mencintai satu di antara ke tiganya.



Khaled sontak menggeleng keras ketika sadar dari lamunanya. wajah wanita itu...sampai sekarang tidak pernah terhapus dalam ingatan mereka. terlebih tentang tragedi menyakitkan itu.



"sudahlah, lupakanlah X? sekarang, hanya ini salah satu caranya, memisahkan mereka! dan kamu pikir, jika menantumu tahu siapa dalang di balik kematian bibinya keluarganya sendiri, dia akan menyetujui cucuku untuk putrinya? tidak akan X, aku yakin! ".




"...". khaled diam sambil matanya menatap ke langit biru. dari dulu, ia memilih menutup mulut dari pada bicara karna baginya semua percuma tidak ada yang percaya setelah kamu dituduh membunuh bahkan sebelum kamu membuka mulut untuk membela diri.



"apa yang sebenarnya kamu inginkan X? cucumu dengan cucuku? atau...cucumu...dengan cucu V".



Gokhan diam dan itu membuat keputusan khaled menjadi mantap, untuk kembali membawa deniz pulang.



💓💓💓



Di dalam kamar mandi, mulut ayla sama sekali tidak berhenti mengoceh dari semenjak deniz keluar dari kamar mandi hingga sekarang.



'tidak bisakah pria itu mendengarkannya dulu? tidak bisakah pria itu jangan marah dulu dan asal keluar saja? ini kali pertama aku mandi dengannya dan dia? berani meninggalkan ku sendiri? '. ayla menggeram menggentak kakinya melangkah keluar dari kamar setelah melilit handuk di tubuhnya.



Deniz setelah Tadi keluar dari kamar mandi langsung berlalu ke kamar satu lagi, masuk ke sana dan langsung berarah ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya tuntas karna tadi hanya mandi asal.

__ADS_1



Ayla menutup pintu kamar di belakangnya. kedua alisnya menyatu saat melihat di sofa ruang tamu di penthouse deniz sama sekali tidak ada orang.



Tak...tak..tak...



Ayla menoleh ke samping saat mendengar suara yang berasal dari suatu arah dan tidak menunggu waktu ia pun melangkah ke sana.



Satu alisnya terangkat ke atas dengan apa yang dia lihat di depannya dan asal sumber suara tadi itu adalah dari suami tampannya yang sedang berada di dapur dan sedang memasak, dengan celemek teriakt indah di tubuhnya.



Ayla tersenyum melangkah mendekat ke sana, jarak sekitar 4 meter dia berhenti. dengan menyampingkan tubuhnya bersandar di satu tiang di sana, kedua tangannya terlipat dan kedua manik matanya menatap menikmati pemandangan di depannya.



Deniz terus bergelut dengan bahan bahan masakan yang mau dia masak di depannya tanpa peduli tatapan seseorang di belakangnya. dan seseorang itu, istrinya. lihat saja, ia tidak akan bicara sebelum wanita itu bilang tidak akan pernah meninggalkannya.



Deniz yang bergerak ke sana sini di pantry sesekali dia akan ke lulkas membukanya mengambil sayur hijau lalu mencucinya, memotong nya besar besar. menaruh dalam satu wadah.



Ayla menyungging senyum manis di wajah cantiknya. ia sekarang seperti wanita yang paling bahagia di dunia ini. 'memiliki suami tampan, tubuhnya yang aduhai'. mata ayla turun ke bahu deniz. 'bahunya yang lebar'. mata ayla turun ke punggung deniz. 'badan tegap dan kotak kotak terlihat jelas di bahian depan tubuhnya, yang akan membuat para wanita akan menjerit jerit ketika melihatnya tanpa baju'batin. mata ayla turun ke bawah memandangi kaki deniz. 'di tambah kakinya yang panjang ramping'. 'belum lagi...'. ayla tersenyum geli.



'wajahnya yang rupawan memabukkan'.



Deniz yang merasa sedang sangat tatap. memilih tidak peduli dengan raut wajahnya yang datar dan dingin.



"deniz...?!". panggil ayla menggoda namun deniz sama sekali tidak menggubris. dia tetap setia dengan pekerjaannya mengaduk makanan di atas kompor dengan sensual.



Bukan sensual deniz buat, tapi begitulah pandangan ayla yang tergila gila pada deniz.



Melihat deniz mengacuhkannya, ayla hanya tersenyum jahil.



"I love you!... forever". ucap ayla lagi.







__ADS_1




__ADS_2