
Ayla mendesah lelah lalu menatap daddynya.
"kamu tunggu tetap di sini! ". perintah ayla ke deniz lalu ia melangkah mendekati daddynya dengan jarak mereka tadi sekitar 2 meter.
"daddy? daddy tahu deniz di sini hanya sebentar dan dia tidak termasuk dalam pelatihan kalian". ayla berbicara nyaris seperti berbisik dan sesekali dia akan melihat kedua kakaknya.
"kamu juga tahu beyza? kakekmu cepat atau lambat akan kemari dan daddy yakin kakekmu sudah tahu kalau suami kamu di sini, hanya perlu menunggu waktu untuk dia di hajar oleh kakekmu".
Ayla menggerang frustasi dan ia menarik nafas. ia heran, yang salah aku di sini kenapa jadi deniz sih yang jadi sasaran. aku jadi merasa bersalah sama semua keluarga deniz terutama nyonya saudah tapi untuk deniz? oh, dengan senang hati aku bisa menghajarnya sendiri.
Z serta omer memeluk pundak ayla dengan lembut.
"kami hanya sedang melatihnya supaya paling tidak dia tidak akan menginap di rumah sakit beyza! ". ujar omer lalu ia tersenyum.
Ayla menoleh menatap omer yang berdiri di sebelah kanannya lalu ia tersenyum manis dan sedetik kemudian ia mengerutkan wajahnya.
"kamu tentu sangat senang kan? mendapat mainan baru, bagimu".
Omer terkekeh geli sembari menggaruk garuk kepala bagian belakangnya yang sama sekali tidak gatal.
"zaf juga mau ikut tuh". tambah omer dan semakin membuat emosi ayla siap meledak.
"kalian pikir deniz di sini makanan kalian? ada apa dengan kalian? jika kakek it's okay tapi kalian... ". beyza menatap kedua kakaknya dengan tidak mengerti.
Z dan omer saling melihat sebelum mereka mengerjap dan terdiam.
"beyza...seperti yang daddy bilang tadi, deniz perlu di latih dan guru terbaiknya adalah kami".
Ayla lagi lagi mengerang.
"dia tidak perlu apapun, dia di sini hanya sebentar mungkin tidak sampai anak ini lahir dia akan kembali ke negaranya, dia bukan menantu keluarga Gokhan jadi...hentikan semua rencana daddy dan untuk kakek? aku bisa menanganinya sendiri, karna deniz sama sekali tidak salah di sini...?".
"membiarkan mu mengalahkan lebih dari 10 manusia malam itu di saat kamu sedang mengandung anaknya, beyza? bagi kakekmu itu kesalahan yang sangat besar dan bagi daddy, dia pria yang tidak bertanggung jawab dan dia harus merasakan bagaimana sakitnya putri daddy malam itu". Okan berwajah dingin menatap beyza.
Ayla menahan nafasnya mendengar ucapan daddynya dan melihat raut wajah daddynya.
"dan kami tidak bisa memaafkan itu beyza? ini urusan kami para lelaki, aku harap kamu tidak akan bertingkah". sahut Z.
Ayla beralih menatap Z lalu ia melihat ke arah lain. mereka sudah bertekad dan ia tidak bisa meluluhkannya lagi.
"yah, hitung hitung dia bisa berlatih".
Ayla terdiam. ia memikirkan bagaimana nasib deniz di sini. hari ini akan di hajar oleh mereka dan mungkin besok kakeknya dan setelahnya mungkin...reyyan. aku tidak yakin tubuh deniz bisa bertahan dan kenapa juga dia harus kemari coba. tunggu...jika pun deniz tidak kemari dan kakeknya sudah mengetahui kejadian malam itu...maka bukan hanya orang suruhan daddy yang akan menjemput deniz tapi juga...orang suruhan kakeknya.
Ayla menggertakkan giginya. kenapa jadi rumit begini sih.
Ayla berbalik menatap deniz, yang wajahnya hanya santai santai saja. ia menghela nafas.
Ayla melangkah melewati deniz.
"ikut aku". ujar ayla begitu tiba di samping deniz.
Deniz berbalik melihat ayla yang hampir mencapai lift.
"kamu belum mengatakan semuanya padanya...?".
Deniz kembali berbalik melihat daddy ayla, Mr. Okan.
Deniz tersenyum tipis.
"maksud anda bahwa saya pemuda yang bernama selim...?".
__ADS_1
Z serta omar menatap okan dan deniz tidak mengerti.
"jangan berlama lama, kamu menyakiti putriku". ujar okan lagi dengan raut wajahnya yang dingin.
Deniz terdiam.
"aku juga tidak mau tapi aku harap, dia bisa bertahan sebentar lagi, han...".
"deniz? kamu naik atau tidak". teriak ayla dari dalam lift yang mau naik ke lantai kamarnya.
Deniz menoleh melihat ayla lalu berbalik lagi melihat okan.
"sekarang aku yakin kalian paling tahu, siapa yang lebih tersakiti di sini, permisi".
"aku naik, tunggu". deniz sedikit berlari ke sana dan ia bisa melihat wajah ayla yang kesal.
Deniz terkekeh.
"kamu sangat seksi dengan wajah begitu sayang...?". deniz bersandar di dinding lift menatap ayla dengan jahil.
Ayla memutar malas bola matanya.
Deniz memerhatikan lift lalu kembali melihat ayla yang berdiri di depannya.
"kamu pernah baca novel percintaan beyza...?".
Ayla mengedipkan matanya lalu beralih menatap deniz dengan malas.
"ada apa dengan novel percintaan? ". dan dengan bodohnya ia mau meladeni.
"di dalam novel itu ada berbagai masalah percintaan terutama sex". deniz berbicara tenang tanpa terganggu sedikitpun dengan ucapannya sedangkan ayla sontak menarik nafasnya.
"lalu".
"apa yang mau anda katakan dr.? jangan bertele tele? ".
Deniz menarik nafasnya menatap ayla.
"melihat lift aku teringat dengan novel yang aku baca tadi pagi sebelum keluar kamar, di sana di tulis mereka berciuman panas di dalam lift, yang mau aku katakan...bagaimana kalau kita praktekkan itu satu dulu? lain menyusul...".
Ting...
Pintu lift terbuka dan ayla melangkah keluar namun ia berdiri sejenak di ambang pintu.ia berbalik menatap deniz.
"dalam mimpimu". ujar ayla dingin lalu ia melangkah meninggalkan deniz di sana sendiri.
Deniz tersenyum tipis. ia tahu ayla akan menolak, ia tadi hanya ingin membuatnya kesal saja.
"kamu yakin? ayolah, kita sudah dewasa". deniz mengikuti langkah ayla.
Ayla menggeleng malas.
"ayla percayalah, aku akan lebih baik daripada di novel itu, di dalam novel itu tidak semua di perinci aku bahkan bertanya tanya, apa penulisnya sudah pernah berciuman atau hanya melihat orang berciuman saja lalu menuliskan di san...".
"shut up deniz". kesal ayla sambil berbalik menatap deniz.
Deniz menggerucut bibirnya layaknya anak kecil yang di marahi sang ibu.
Keduanya sudah tiba di kamar ayla dan deniz yang di belakang sudah menutup pintu kembali.
Ayla mengernyit menatap deniz. Semua sikap deniz, membuatnya bingung.
__ADS_1
"aku bertanya tanya denganmu deniz?...ada apa denganmu, kenapa kamu begini, apa yang terjadi padamu, kenapa kamu...sangat berubah, kamu...tidak seperti deniz yang aku kenal selama ini kamu...berbeda, sangat berbeda". ayla menatap deniz begitu juga dengan deniz.
"ada apa denganmu...? apa ini semua karna kamu sudah tahu siapa aku...? karna itu sikapmu berubah kepadaku...?".
Deniz memilih diam dan tidak menjawab. ia hanya menatap ayla menunggu ucapan ayla selanjutnya.
"deniz? baik atau buruknya kamu terhadapku itu hanya akan menjadi percuma, kamu tidak perlu berusaha keras untuk meninggalkan kesan baik padaku, kita...hanya terikat kontrak saja, setelahnya kita akan berjalan di jalan masing masing, semua tentang masa lalu...hanya akan menjadi sebuah masa lalu, bersikaplah seperti biasa deniz? jangan membuatku bingung, karna aku...karna aku sudah terlanjur membencimu, semua sikapmu, semua perlakuanmu, aku ingat semua deniz...? dan sulit bagiku untuk melupakannya".
"aku tidak peduli kamu selim atau siapapun itu deniz? aku tidak peduli, yang aku tahu sekarang adalah, kamu suami ceyda dan kamu...mencintai ceyda, itu yang aku tahu jadi deniz? demi mu dan demi cintamu ceyda, besok pergilah dari sini, aku akan menyuruh pak can mengantarmu ke bandara dan untuk daddy serta kakakku katakan saja pada mereka, bahwa kamu tidak ada hak apapun padaku untuk melindungiku malam itu dan katakan saja kalau kamu tidak tahu kalau aku hamil, pulanglah jangan di sini kamu bisa terluka, kamu satu satunya cucu pak khaled dan aku yakin ceyda akan... ".
"kamu tidak bisa berhenti? ". suara deniz yang dingin membuat ucapan ayla terhenti.
"deniz kamu... ".
"aku tanya kamu tidak bisa berhenti? ". ujar deniz lagi bertambah dingin dengan sorot matanya yang tajam menatap ayla.
"deniz...?".
"bukankah tadi kamu bilang kalau kamu lapar? apa tidak jadi lapar? mau membahas ini? dan kamu akan berakhir di atas ranjang".
Kedua bola mata ayla membulat namun sedetik kemudian ia tersenyum sinis.
"itu tidak akan terjadi karna apa? karna kamu jijik denganku dan...di dalam kontrak perjanjian kamu tidak ada hak lagi untuk menyentuhku".
Deniz menyungging senyum samping.
"pertama aku tidak pernah jijik denganmu itu kenyataan dan kedua, aku selim pria yang sangat mencintaimu dan menginginkanmu dan ketiga...tentu saja aku tidak akan melanggar kontrak namun...di sana juga di tulis jika kamu lupa atau tidak membaca, jika jika suatu hari, aku mau mengunjungi anakku maka kamu harus bersedia melakukannya tanpa perlawanan". deniz tersenyum sinis. ia ingat bagian ini kakeknya yang tulis dan ia sangat sangat berterima kasih ke kakeknya.
Kedua bola mata ayla sontak saja membulat, ia dengan cepat memutar kepalanya menatap ke salah satu pintu yang ada di kamarnya tersebut. di mana ia menyimpan surat perjanjian tersebut.
"bagaimana sayang...? apa hal itu bisa tidak mungkin terjadi? dan tenang saja untuk beberapa hari ini aku tidak akan menyentuhmu karna aku akan sangat sibuk, kamu bisa tenang tapi...aku punya satu penawaran denganmu, mau dengar? ".
Ayla menatap deniz malas.
"apa?!".
"mengalahkan ketiga orang itu bukanlah hal yang mudah tapi aku mungkin bisa menang jika mendapat imbalan darimu".
Ayla menyatukan alisnya.
"jangan katakan kamu...".
"kamu berpikir terlalu jauh sayang...? aku hanya mau satu hari kencan denganmu setelah ini, bagaimana...?".
Ayla menatap deniz mematung. kencan?
"deal?! ". ujar deniz lagi.
Ayla mengerjap ngerjap.
"jika kamu masih hidup setelah di hajar mereka". jawab ayla sembari melangkah dari sana.
Deniz tersenyum kemenangan.
"tidak, aku mendapatkanmu maka aku akan menang".
__ADS_1