Rahim Pengganti

Rahim Pengganti
Bab 60


__ADS_3

Pukul 12:09



Terlihat kamar ayla dengan cahaya remang lampu tidur. beralih ke ranjang terlihat satu pasang pasangan yang saling berpelukan erat atau si pria yang sangat mengeratkan pelukannya. seakan akan baginya tidak akan ada hari besok lagi. ketakutan, kesedihan, kemarahan dan kekesalan semua bertujuan hanya untuk satu dia akan sangat merindukan wanita yang di dalam pelukannya sekarang. terkadang ketika kita berencana namun ada kala rencana itu akan melenceng dari apa yang kita rencanakan seperti itu pula yang terjadi pada pria yang terbaring menyamping di ranjang dengan matanya yang masih terbuka lebar, tidak berniat sedikitpun untuk menutupi matanya. deniz.



"huhhhhh...". deniz menghela nafas entah yang keberapa kalinya namun itu terjadi sejak dia melihat wanita yang di cintai dalam pelukannya terlelap masuk ke dalam dunia mimpinya.



Semakin menarik tubuh ayla mendekat padanya dan menghirup lapar puncak kepala ayla meski tidak akan pernah membuatnya kenyang dan puas.



"aku akan sangat merindukanmu sayang...?". rintih deniz tanpa menangis namun tidak dengan hatinya. hatinya sama sekali tidak mau berpisah lagi dengan kekasih hatinya beyza, tapi...ini harus terjadi. semua...demi masa depannya juga dengan beyza dan anak anak mereka. sakit sekarang bukanlah apa apa daripada sakit menangis darah kemudian namun ia tidak bisa menggapainya lagi.



"maaf sayang? aku membohongimu tapi percayalah, ini untuk kebaikanmu dan anak kita jadi pegang janjimu ya? ". deniz sedikit menjauhkan tubuhnya menatap wajah ayla yang terlelap.



Deniz pun tidak bisa menyembunyikan raut wajah bahagianya. ia di luar akan memperjuangkan cinta mereka untuk bisa bersama selamanya dan...beyza akan mempertahankan anak mereka di sini. mereka punya tugas masing masing.



Tok..tok..



Deniz membalik melihat kebelakangnya tanpa membuat ayla terjaga sedikitpun.



Deniz menidurkan tubuh ayla dengan hati hati karna tadi ayla tidur di lengannya dan dalam dekapannya. entah kenapa malam ini ayla sangat manja dan berani meminta sendiri untul di peluk. apa batinnya menyadari kalau mereka akan berpisah malam ini? meski sementara tapi ia pun tidak tahu. kapan semua ini akan selesai dan apa ia aka baik baik saja atau sebaliknya.



Deniz turun dari ranjang dengan hati hati setelah menyelimuti tubuh ayla dan memastikan kalau ayla tertidur pulas.



Clekck...



Deniz membuka pintu sedikit dan berdiri di sana. melihat 2 pria di depannya. omer dan Zaki.



"mereka sudah tiba? ". deniz bertanya langsung tanpa basa basi karna ia sudah tahu apa tujuan kedua abang ayla kemari.



Omer dan zaki mengangguk.



"tadinya mereka memaksa untuk kemari,menculikmu. takut kamu akan kabur tapi kami sudah bilang memastikan kalau kamu tidak akan melakukan itu". Zaki menyahut kesal.



"kerja bagus Z? dan terimakasih! aku akan segera turun, setelah berkemas".



Omer dan zaki mengangguk menyetujui.



"kami akan tunggu di bawah".



"ya". jawab deniz nyaris seperti bergumam. ia berbalik mau masuk ke dalam kamar lagi sebelum suara omer menghentikannya.



"kamu yakin tidak sedang ketakutan? ".



Deniz membalik menatap omer.



"aku bersemangat, lebih cepat lebih baik". setelah menjawab itu deniz segara menutup pintu. ia tidak mau waktunya yang hanya seujung kuku habis begitu saja. melihat dan menikmati wajah istrinya, akan lebih berguna untuknya. untuk beberapa waktu yang ia tidak tahu kapan bisa bertemu dengan istrinya lagi. entah kenapa firasatnya sangat tidak baik. seperti mereka akan berpisah untuk waktu yang sangat lama. biasa ia tidak pernah seperti ini dan tidak pernah merasa ketakutan seperti ini.



Omer dan zaki saling melihat sebelum mereka mengedikkan bahu dan berbalik dari sana.



"jika di pikir pikir kasian juga dia, harus berjuang dengan sangat keras, bahkan membohongi dan menipu dirinya sendiri jika itu aku,... ".

__ADS_1



"apa itu jika itu kamu? ". tanya Zaki ke omer sembari menuruni tangga. padahal ada lift tapi mereka memilih turun tangga.



"jika itu aku...aku rasa aku akan melakukan hal yang sama juga".



"maksudmu menikah dengan wanita yang tidak kamu cintai dan hidup bertahan di sana bertahun tahun".



"itu lebih aman daripada menipu diri sendiri dengan meniduri banyak wanita, satu bukankah aman? jauh dari penyakit, meski terdengar seperti bajingan tapi dalam kasus deniz, mereka saling memanfaatkan dan mendapat satu keuntungan sama sama nikmat". ha ha ha omer tertawa lebar setelah mengatakan itu.



"kamu benar benar bejat". umpat zaki lalu memilih melangkah ke dapur.



Di dalam kamar ayla. deniz menaruh baju terakhirnya yang berada di walk in closet milik ayla, yang sudah di atur ayla di dalam sana. ia berbalik melihat satu lagi baju yang masih tergantung dan tidak berniat mau membawanya. baju rajut berwarna coklat berlengan panjang, baju yang pernah ia pakai saat bersama ayla.



"aku rasa baju ini akan membantumu beyza? saat kamu dan anak kita merindukanku". deniz beralik menarik kopernya ke luar dari walk in closet tersebut, sampai di kamar ayla deniz menyeret kopernya ke dekat pintu lalu kembali melangkah ke ranjang. berhenti sebentar di meja di mana ada laci kecil lalu membukanya. malam itu saat pertama kali ke sini ia pernah melihat lihat seisi kamar ayla hingga membuka laci tersebut dan ternyata isinya sangat berguna untuknya sekarang.



Aku rasa gadis ini pernah, tidak. sering melarikan diri atau keluar tanpa berpamit jadi selalu akan membutuhkan kertas kecil ini dan pena di dekat ranjangnya untuk menulis kata kata pamit di sana.



Deniz terkekeh ketika mengingat hal tersebut. sering kabur, apa anak kita juga akan mengikuti jejakmu beyza? dan jika iya, aku tidak sabar lagi untuk melihat wajahmu yang kesal dan marah itu.



Deniz mengambil satu kertas kecil di sana merobeknya setelah menulis beberapa kata. dia memutari ranjang meletakkan kertas tersebut di meja nakas sebelah kiri ranjang.



Kepala deniz memutar melihat ayla yang terlelap. merapatkan dirinya ke sana menduduki bokongnya di tepi ranjang menatap dan membelai wajah ayla sembari wajahnya yang tersenyum tipis.



"aku pergi...dan aku akan kembali, kesini kerumahku...yaitu kamu, beyza". deniz mengecup kening ayla sangat lama menghirupnya sambil memejamkan matanya hingga tidak terasa satu butir air matanya menetes. ia pun terkekeh.



"lihat beyza? efekmu sangat luar biasa, aku bisa jadi pria cengeng denganmu dan aku akan selalu menangis ketika merindukanmu, love you beyzaku...selalu!". ucap deniz setelah meraih air matanya dan menatap ayla lalu ia mengecup kening ayla untuk terakhir kali lalu bangkit dari ranjang berbalik melangkah keluar dari kamar ayla. dan deniz berdiri sebentar melihat ayla di ranjang lalu menutup pintu. berat? sangat berat. hingga ia tidak bisa mengungkapkan dengan kata kata.




Menarik nafas panjang. deniz kembali melangkah dan tepat berada di anak tangga terakhir beberapa pria bersetelan jas hitam mendekat ke arahnya begitu juga dengan omer dan zaki.



"beyza terbangun? ".



Deniz mengalihkan matanya melihat omer. ia menggeleng lalu kembali beralih melihat pria bersetelan hitam di sampingnya.



"berangkat sekarang? ". tanya deniz ke pria. di depannya. pria tersebut menganggukan kepalanya ke anak buahnya yang segera mendekat ke arah deniz dengan membawa satu kain hitam.



Deniz, zaki dan omer menyatukan alisnya melihat benda tersebut.



"itu untuk...HEI". teriak zaki murka diikuti omer.


"ugh...". deniz mencoba melepaskan kain hitam yang menutupi kepalanya hingga ia tidak bisa melihat apapun.



"apa yang kalian lakukan? dia tamu kami,lepaskan dia". marah zaki sembari meraih kain yang menutupi kepala deniz namun di halangi oleh satu pria dan zaki serta omer sangat mengenali siapa pria itu. kaki tangan kakeknya.



Mereka menelan ludahnya takut takut serta gugup. berurusan dengannya namanya mau masuk rumah sakit besok.



"ini perintah pak presdir dan beliau harap tidak ada yang menganggu ". ujarnya dingin dengan wajah datar.



"tapi tidak perlu dengan menutupi kepala juga, dia terlihat seperti kriminal"


__ADS_1


"maaf". ujarnya menunduk sedikit namun tidak berniat mau melepaskan deniz.



"arghhh..."rintih deniz saat tangannya di pelintir kebelakang dan di ikat.



"sial, aku tidak akan kabur brengsek! lepaskan tanganku". ronta deniz namun sipelaku sama sekali tidak peduli malah berwajah dingin dan datar sedangkan zaki dan omer meringis melihat hal tersebut.



Pria tersebut menyuruh anak buahnya membawa deniz keluar dari rumah tersebut dan dengan sigap mereka melakukannya, menyeret deniz seperti seorang tahanan keluar rumah.



Dari pada membuang tenaga deniz memilih ikut dengan patuh tanpa tahu di mana jalan dan kemana akan di bawanya.



Zaki dan omer mengikuti di di belakang deniz namun ucapan si kulit hitam kaki tangan kakeknya membuat langkah keduanya terhenti dengan kedua mata mereka membulat.



"tuan bilang, lebih baik untuk tidak ke sana karna percuma! permisi". ucapnya lalu melangkah keluar.



"apa maksudnya...? ". Zaki bertanya takut takut meski ia sudah tahu apa maksud pria itu. ia menoleh melihat omer.



Omer mematung dengan pikirannya yang sudah menjelajah.



"maksudnya bukankah sudah jelas? prediksi daddy salah dan deniz...dalam bahaya! ". ujar omer dengan waja datar.



"apa perlu kita bangunkan beyza? hanya beyza yang bisa menghentikan pria tua itu".



Omer menoleh menatap zaki.



"untuk apa mereka datang di jam beyza sudah terlelap? bahkan suara bom jatuh gadis itu tidak akan terbangun".



"untuk membuat beyza tidak tahu"



"lalu?! "



Zaki melihat ke arah lain.



"aku tahu! ah...kita harus menghubungi daddy"



"aku yakin daddy sudah tahu, kita ke sana dulu dan lihat bagaimana". ujar omer lalu melangkah sembari menyeret koper deniz bersamanya.















__ADS_1



__ADS_2