
"Hari ini benarkan gak ada agenda rapat, Lin?" tanya Devan saat Linda, sekertaris nya menyerahkan beberapa berkas yang harus Devan review ulang sebelum akhirnya di setujuinya
"Gak ada, Bos. Cuma kerjaan saja yang sedikit banyak dari biasanya." jelas Linda dengan hormat.
"Panggil Romi keruangan saya, nanti kamu kesini lagi." perintah Devan tanpa melihat lawan bicaranya, dia masih sibuk dengan berkas dan kadang melihat layar komputernya.
"Tidak perlu,aku sudah disini." kata Romi yang entah kapan masuk ke ruangan kerja Devan.
Devan mengalihkan pandangan ke Romi sejak kemudian kembali pada kegiatannya semula.
"Bagus, kalian cepat bantu aku. Biar kita gak lembur." perintah Devan pada asisten dan sekertaris nya itu.
Tanpa banyak tanya lagi mereka membantu pekerjaaan Bosnya dan terlihat duduk di meja rapat kecil yang ada di ruangan Devan. Devan sendiri duduk di meja kerjanya.
Devan ingin kerjaan hari ini harus selesai sebelum jam lima sore. Karena dia tidak ingin lembur. Dia sudah membuat permintaan pada istrinya tadi. Jadi dia tidak mau mensia-siakan kesempatan ini. Apalagi istrinya tadi juga mengiyakan.
Flashback On
Tadi setelah melihat-lihat rumah sampai jam sebelas siang, Devan meminta Romi kembali ke kantor terlebih dahulu menggunakan taksi.
Devan berencana menjemput si kembar dan makan siang di luar bersama si kembar juga istrinya.
"Kita makan di mol ya, Pah. Yang dekat alea belmain." Kiara mencoba memberi penawaran pada Papanya yang mengajak makan siang di luar.
"Iya, Pa. Kenan juga mau makan di mall. Habis itu kita bermain. Iya gak, Ki." Kiara menganggukkan kepala mengiyakan perkataan saudara kembarnya itu.
"Memang kalian nggak capek?" tanya Nayra menghadap ke belakang untuk melihat si kembar.
"Nggak, Mama." jawab si kembar kompak.
"Tapi nanti mainnya jangan lama-lama ya..Papa harus kembali ke kantor." sambung Devan.
"Siap,Papa." si kembar kompak mengangkat tangannya memberi hormat ke Devan. Devan yang melihat si kembar dari kaca spion hanya tersenyum tipis melihat kelakuan anaknya.
Mereka kini sudah ada di mall disalah satu food court yang di dekat area bermain. Setelah makan tadi Kenan dan Kiara langsung berlari menuju area bermain di temani Miss Kimy. Mereka di beri waktu 30 menit sama Devan untuk bermain.
Nayra dan Devan sendiri masih duduk di food court untuk sekedar berbincang ringan sambil menunggu si kembar bermain.
"Sayang..nanti biarkan anak-anak tidur sendiri yaaa.." Devan memperlihatkan tampang memelas pada istrinya itu.
"Kenapa memangnya?" tanya Nayra yang belum membaca gelagat suaminya.
"Kamu gak kasihan apa sama aku." Nayra menautkan alisnya, dia tidak paham dengan yang Devan katakan.
"Kita setelah menikah kembali belum mempelajari kembali kitab fathul izar, sayang." Devan memelas dan hampir merengek seperti bayi.
"Tapi anak-anak gak mau tidur pisah sama kita." ujar Nayra yang sudah beberapa kali membujuk si kembar untuk tidur sendiri namun tidak mau, begitupun Devan juga sudah membujuk tetap saja di tolak si kembar. Alasannya karena lama tidak tidur bersama Papa.
Devan terlihat berfikir, memang si kembar susah di bujuk untuk tidur di kamar sendiri. Dia menyeringai saat menemukan ide untuk mempelajari kitab fathul izar dengan Nayra.
"Sayang..bagaimana nanti kalau anak-anak sudah tidur, kita pindah ke kamar sebelah. Kita bermain anatomi di sana." usul Devan dengan tampang mesumnya.
"Nanti kalau mereka bangun bagaimana?" tanya Nayra yang takut si kembar kebangun dan mencari mereka.
"Nanti kita setelah selesai langsung balik lagi ke kamar kita."
"Bagaimana? Mau ya sayang..pleaseeee.."
__ADS_1
Nayra yang tak tega melihat tampang memelas dan memohon Devan akhirnya menyetujui. Dia merasa memang ini tugasnya. Bukannya kemarin dia ingin menjadi pela cur buat suaminya sendiri.
Flashback Off
"Bisa lebih cepat gak sih,Rom.." kata Devan dengan nada tinggi. Perasaan dia tadi keluar kantor jam setengah sembilan malam, dan sekarang sudah hampir jam setengah sepuluh. Kenapa belum sampai juga ke apartemen, padahal jarak tempuh kantor ke apartemen hanya 45 menit. Dan ini sudah hampir sejam namun tak kunjung sampai.
Devan yang rencananya pulang paling lambat setelah maghrib justru tadi sore harus melakukan meeting mendadak karena ada masalah di bagian keuangan. Mengharuskannya mau tak mau lembur sampai malam.
"Sabar napa..Biasanya juga tak buru pulang." sahut Romi cuek, karena biasanya mereka selalu santai kalau pulang malam karena lembur.
"Kamu belum menikah, jadi belum pernah ngerasa bagaimana di tunggu istri saat pulang kerja." cetus Devan kesal karena tak kunjung sampai apartemen
"Dulu aja saat masih sama Maya mau pulang tengah malam pun biasa saja gak ingin buru-buru. Mau macet kek, mau nggak kek, pengennya santai aja. Sekarang bar....." belum juga Romi selesai mencibir Devan sudah dipotongnya sama Devan.
"Diam kau.." bentak Devan kesal mendengar cibiran Romi apalagi membahas yang lalu.
Devan segera berlari setelah mobil sudah terparkir di parkiran apartemen.
"Kenapa sih dengan tu anak? Kaya ABG aja." kata Romi pada dirinya sendiri saat melihat Devan buru-buru turun dari mobil dan berlari menuju lift.
"Jangan-jangan dia sekarang jadi suami takut istri." Romi tertawa dengan pikirannya sendiri.
Devan sudah masuk ke apartemennya dan mendapati seluruh ruangan yang sepi dan sebagian lampu sudah dimatikan. Dia langsung menuju kamar, dan mendapati Nayra sedang menidurkan si kembar dengan menceritakan dongeng.
"Sayang.." Nayra menempelkan jari telunjuknya meminta Devan untuk tidak berisik. Karena Kiara tadi rewel tidak mau tidur karena Papa Devan belum pulang. Akhirnya Nayra membujuknya dengan menceritakan dongeng.
"Mereka baru tidur?" tanya Devan lirih saat sudah berada di dekat Nayra dan diangguki Nayra lalu diciumnya punggung tangan suaminya itu.
Devan mencium kening Nayra dan berlalu ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
"Ra..Sayang ku, Istriku.." Devan memencet pipi dan hidung Nayra supaya bangun. Tadi setelah dia membersihkan diri mendapati Nayra ikut tertidur.
"Ngantuk, ya? Kalau ngantuk gak jadi gak apa." kata Devan dengan senyum meski hatinya menangis karena harus gagal lagi.
"Nggak kok. Tadi nunggu kamu lama banget, ketiduran deh jadinya." ujar Nayra.
"Yakin..???" Devan memastikan lagi, karena dia tidak mau gagal lagi dan lagi.
Nayra mengangguk dengan senyum manisnya dan langsung duduk dipangkuan Devan dengan kaki mengangkang yang langsung di sambut dengan senang hati oleh Devan.
"Kamu sudah gak sabar rupanya." goda Devan dengan menggesekkan hidung mereka membuat Nayra tertawa kecil.
"Karena aku ingin menjadi wanita penggoda untuk suamiku yang tampan ini." Kata Nayra sambil memainkan jarinya di wajah Devan dengan suara dibuat se-sen sual mungkin. Membuat Devan meneguk salivanya kasar.
"Dan aku akan menjadi pela cur buat kamu Devandra Ayasi." sambung Nayra dengan memberi gigitan di leher Devan hingga membuat lelaki itu mengerang tertahan.
"Kau menggoda ku istri nakal.." Devan menciumi wajah Nayra membuat keduanya tertawa lirih.
"Aku akan menghukum mu karena telah berani menggoda suami mu ini." Devan langsung berdiri dan menggendong Nayra seperti koala.
Nayra melingkarkan tangannya di leher Devan dan dia menggoda suaminya itu dengan memberi jilatan, kecupan dan sesapan di leher Devan membuat Devan ingin segera menerkamnya.
Setelah masuk ke kamar si kembar yang ada di samping kamar mereka dan menutup pintu juga menguncinya, Devan langsung membaringkan tubuh Nayra di atad ranjang yang ukurannya lebih kecil dari ranjang di kamar utama. Dan hanya memuat untuk untuk dua sampai tiga orang.
Devan menatap Nayra yang berada di bawah kungkungan nya dengan kabut gairah. Nayra yang di tatap seperti itu justru semakin menggoda Devan dengan membalas tatapan Devan dengan sen sual dan memainkan jari di rahang Devan yang tegas itu lalu turun ke leher, turun lagi ke dada bidang suaminya itu dan semakin turun hingga menyentuh roti sobek di balik kaos ketat yang Devan pakai.
Devan memejamkan matanya saat tangan Nayra semakin berani membuka kaos yang dia pakai dan bermain di dadanya. Dipegangnya tangan Nayra itu, dia sudah tidak tahan lagi.
__ADS_1
"Kau akan tahu akibatnya." Devan langsung mencium bibir Nayra dengan lembut dan melu mat nya pelan.
Nayra yang terbuai dengan ciuman lembut Devan membuatnya membalas ciuman itu. Kedua tangannya mengalungkan di leher Devan dan semakin memperdalam ciuman mereka.
Devan memiringkan kepala untuk memperdalam cumbuan mereka membuat suasana kamar yang berbau bedak anak-anak tiba-tiba terasa panas. Suara lenguhan dan kecupan mendominasi di kamar anak yang ada di salah satu apartemen mewah di ibu kota.
Devan melepaskan cumbuan di bibir Nayra saat wanitanya itu kehabisan pasokan oksigen. Ditatapnya wajah cantik istrinya yang tersipu malu di bawah sinar lampu tidur. "Wajahmu memerah sayang. Sangat cantik." gumam Devan tepat di depan wajah Nayra membuatnya tersipu.
Devan kembali mencium bibir Nayra, namun intensitas cumbuan lebih dalam dan semakin memanas. Devan melesakkan lidahnya kedalam mulut hangat Nayra dan membelitkan lidahnya dengan lidah Nayra.
Devan menyeringai saat suara desahan keluar dari mulut Nayra yang dicumbunya. Dia semakin membelitkan lidahnya dengan lidah Nayra membuat saliva mereka membasahi area mulut dan dagu.
Devan memejamkan matanya erat saat kejantanannya menegang keras karena gesekan kaki Nayra yang tidak mau diam.
"Sayang, aku mau sekarang. Aku sudah tak sanggup lagi." geram Devan dengan suara parau menahan birahi yang semakin memuncak. Nayra dengan wajah sayunya mengangguk membuat suaminya itu kembali mencium bibirnya sekilas.
Devan meminta Nayra duduk dan membantu melepaskan dress piama yang Nayra kenakan. Menyisakan cel-dam berwarna cream yang masih membungkus area vi tal nya. Begitupun Nayra yang membantu Devan melepaskan celana yang Devan kenalan menyisakan box*r hitam. Nayra dapat melihat kejantanan suaminya yang sudah menonjol meronta ingin segera dikeluarkan di balik kain hitam ketat yang dipakai Devan.
Devan yang sudak tak sanggup menahan nafsunya saat melihat tubuh polos istrinya langsung menerjang kembali tubuh Nayra membuat istrinya kembali berbaring.
Nayra mendesah tertahan saat Devan menciumnya lebih dan lebih panas lagi. Diciumnya wajah Nayra berkali-kali lalu turun ke dagu dan kemudian turun ke leher jenjang Nayra. Nayra mendongakkan kepalanya saat Devan mencium, menggigit, menjilat dan menyesap leher mulusnya.
"Devan..Oh.." desah Nayra saat cumbuan Devan berada di sekitar squishy kembarnya. Hasrat Devan semakin meningkat saat Nayra mendesah menyebut namanya. Diremasnya squishy kembar itu dengan teratur dan disesapnya bahkan digigitnya ujung squishy bergantian, membuat Nayra menggelinjang hebat sampai mengangkat tubuhnya. Kedua tangannya langsung mencengkram rambut Devan dan mengacaknya.
Cumbuan Devan semakin turun sampai di perut membuat Nayra mengeluarkan lagi suara merdunya yang membuat Devan menyeringai senang.
Devan mengangkat tubuhnya dan menatap wajah cantik Nayra yang sayu. Devan merangkak keatas tubuh Nayra dan menindih tubuh telanjang istrinya itu dengan tubuh telanjang miliknya. Tatapan penuh hasrat dan gairah tertahan untuk segera menyatu dengan istrinya.
"Aku mulai ke intinya." Nayra memejamkan matanya dan mencengkram punggung Devan saat suaminya kembali mengulum ujung squishy nya dan meremasnya. Kaki Devan menggesek kaki Nayra yang sudah berkeringat membuat kejantanannya semakin meronta ingin segera keluar.
Devan melepas sisa kain yang masih melekat di tubuh bagian bawah Nayra. Gerakannya berhenti saat melihat cal-dam Nayra basah dan ada noda merah. Devan menatap nanar wajah Nayra bergantian dengan miliknya yang sudah berdiri tegak. Devan memakaikan kembali cal-dam Nayra membuat wanita itu kebingungan. Dia sudah tak tahan lagi, lubangnya sudah berkedut dan ingin segera dimasuki. Tapi kenapa Devan menutupnya kembali.
Bukkk
Devan jatuh telentang di samping Nayra dengan mata terpejam menahan hasrat yang sudah sampai diubun-ubun. Nafasnya masih begitu memburu, haruskah dia bermain solo. Oh tidak!!!!!! Kenapa harus sekarang. Kenapa nggak nanti atau besok saja.
"Sayang.." panggil Nayra dengan suara paraunya yang ingin segera dituntaskan hasratnya. Nayra besiap untuk naik ke atas tubuh Devan, dia pikir Devan menginginkannya untuk memandunya. Tapi justru penolakan yang dia dapat dari Devan. Kenapa, pikirnya.
"Pergilah ke kamar mandi." di tatapnya nanar wajah cantik istrinya itu. Nayra mengerutkan dahinya. Kenapa aku yang disuruh kekamar mandi, pikirnya.
Devan menghembuskan nafas berat, "Kamu datang bulan." dengan susah payah akhirnya Devan mengatakannya juga kenapa dia menghentikan permainannya tiba-tiba.
Nayra masih mencerna perkataan Devan namun sedetik kemudian dia langsung bangkit dan lari menuju kamar mandi dengan tubuh telanjang.
"Sialan!!! Kenapa disaat sudah sampai ujung harus gagal lagi." umpat Devan kesal dengan nafas memburu. Berbagai sumpah serapah Devan keluarkan untuk kegagalan yang kesekian kalinya dalam pembelajaran kitab fathul izar.
"Dev..Sayang..!!" Nayra mengeluarkan kepalanya dari pintu kamar mandi.
"Tolong ambilkan p*mbalut sama cal-dam aku, dilaci." Nayra menampilkan tampang memelas menatap Devan yang masih berbaring di ranjang anaknya yang sudah terlihat berantakan.
Devan mengambil nafas panjang dan menghempuskan perlahan. Tanpa bersuara di bangun dan memakai celananya kembali lalu keluar kamar menuju kamarnya.
tok tok tok
Devan mengetuk pintu kamar mandi yang dipakai Nayra. Nayra membukanya sedikit dan mengulurkan tangannya mengambil p*mbalut dan cal-dam beserta piyamanya yang tadi tergeletak dilantai.
"Makasih." ucap Nayra dengan senyumnya yang menurut Devan senyum itu mengejek kejantanannya yang belum kembali tidur.
__ADS_1
Devan diam saja dan berlalu pergi dari kamar anaknya itu. Gak anaknya gak kamarnya sama saja, batinnya kesal.
"Sabun, aku datang!!" geram Devan.