Rahim Pengganti

Rahim Pengganti
Kapan Mama bangun, Papa?


__ADS_3

Devan mengerjap beberapa kali saat merasakan ada yang mengusap punggungnya. Dia membuka matanya setelah kesadarannya kembali. Dia melihat Papa Rasyid yang ternyata membangunkannya.


"Pulanglah dulu. Bersihkan dirimu dan jangan membuat Nayra takut nantinya setelah sadar." kata Papa Rasyid dengan tegas memerintah Devan.


Devan hanya diam saja dan menatap istrinya yang masih memejamkan mata itu. Sudah seminggu ini Nayra tidur dengan lelapnya setelah menjalani operasi caesar untuk mengeluarkan bayi kembar mereka.


Kata Dokter, Nayra tidak mengalami komplikasi apapun paska operasi. Dia hanya mengalami syok dan mengakibatkan dirinya untuk menenangkan diri dengan cara mengistirahatkan tubuhnya dengan tidur panjang. Dan itu akan berlangsung tidak lama, sekitar sebulan paling lama. Tergantung keinginan pasien sendiri untuk sadar dan melihat dunia kembali.


"Jangan salahkan diri kamu. Semua sudah terjadi." kata Papa Rasyid yang mengingat cerita Devan kalau dia menggempur Nayra di saat Nayra sudah mau melahirkan dan mengakibatkan Nayra pingsan.


Ingin rasanya Papa Rasyid memarahi Devan saat tahu kondisi putrinya yang koma. Namun dia urungkan saat Devan mengatakan kalau dia melakukan itu karena Nayra sendiri yang meminta.


Terkadang Papa Rasyid tidak habis pikir dengan anak dan menantunya itu. Bisa-bisanya mereka berbuat seperti itu dalam kondisi yang sudah tidak memungkinkan. Dan kadang tanpa peduli sekitar.


"Kalau Devan tidak menuruti keinginan Nayra, mungkin ceritanya berbeda sekarang."


"Nayra gak akan seperti ini dan mungkin sekarang kita sudah ada dirumah merawat dedek kembar bersama." Kata Devan dengan bahu bergetar, dia menangis, menunduk menggenggam tangan Nayra dan di ciumnya lama.


Papa Rasyid menatap langit-langit saat matanya mulai memanas. Dia juga ingin menangis saat melihat kondisi putrinya, tapi untuk apa? semua sudah terjadi dan kata dokter ini hanya sementara. Semua tergantung dengan keinginan Nayra sendiri yang mau sadar apa tidak untuk melihat dunia kembali bersama anak dan suaminya.


"Kamu pria, seorang suami dan pemimpin di rumah tangga."


"Kamu harus kuat apapun yang terjadi di dalam rumah tanggamu saat ini."


"Pulang lah dan temui anak-anak kamu di rumah sebentar."


"Kia sama Ken selalu menanyakan keadaan Papa dan Mamanya kenapa nggak pulang-pulang."


"Seenggaknya kamu pulang sebentar untuk melepas rindu dengan mereka."


"Tapi Devan nggak mau ninggalin Nayra sendirian di sini, Pa." ujar Devan pelan yang masih menggenggam erat tangan Nayra.


"Pulanglah sebentar.! Siapa tahu nanti setelah kamu pulang dan kembali dengan keadaan bersih Nayra akan sadar." kata Papa Rasyid tegas.


Pasalnya dia melihat Devan yang begitu dekil. Sudah seminggu ini Devan hanya berdiam di ICU menemani Nayra tanpa ganti baju juga mandi. Dia hanya cuci muka sama gosok gigi dan sembahyang pun dia lakukan di samping brankar tempat istrinya berbaring.


Devan juga tidak makan kalau tidak dipaksa Mama Arumi. Bahkan Mama Arumi rela bolak balik dari rumah Devan ke rumah sakit hanya untuk membujuk Devan makan.


"Tapi Devan nggak_"


"Pulang sekarang atau Papa akan memindahkan Nayra dan membuat kamu tidak bisa ketemu Nayra lagi." sergah Papa Rasyid setengah mengancam pada menantunya itu.


Devan memejamkan matanya sejenak sebelum akhirnya dengan berat hati melepaskan genggamannya pada tangan Nyara.


Devan mengusap kening dan pipi Nayra yang semakin tirus. "Sayang,aku pulang dulu ya. Aku mau lihat anak-anak sebentar. Kamu cepat sadar. Aku dan anak-anak butuh kamu." lirih Devan tepat di dekat telinga Nayra. Dia mencium kening Nayra lama sebelum akhirnya beranjak pergi.


"Tolong jaga Nayra untuk Devan, Pa." pinta Devan sebelum pergi.


Papa Rasyid mengangguk. "Hm...pasti."


Papa Rasyid duduk di tempat Devan tadi dan diam memandang putri satu-satunya.


"Hanya kamu bidadari hati Papa satu-satunya. Bangunlah, nak."


"Anak dan suami kamu membutuhkan mu."

__ADS_1


...............


Devan menatap rumahnya yang sudah seminggu ini dia tinggal. Dia berjalan pelan menuju pintu rumah dengan bayangan saat ini dia dan Nayra pulang dengan bayi kembar mereka dan di sambut gembira kedatangan mereka oleh kakak kembar, Kenan dan Kiara.


"Assalamualaikum." ucap Devan pelan saat memasuki pintu rumah.


Kiara berdiri mematung saat melihat Papanya pulang dengan penampilan yang begitu menyeramkan menurutnya. Rambut yang sudah sedikit panjang dan acak-acakan, brewokan juga baju yang terlihat kusut.


"Papa.." ucap lirih Kiara dengan mata berkaca-kaca.


Devan menyunggingkan senyum tipis pada putrinya itu yang sudah seminggu tidak dia lihat. Dia mencoba tersenyum dan baik-baik saja di depan anak-anaknya supaya tidak semakin membuat anak-anaknya khawatir.


Devan mendekati putrinya itu dan dipeluknya dengan erat gadis kecil satu-satunya itu. Dia memejamkan matanya dan mencium rambut kepala Kiara berkali-kali.


"Kenapa kakak menangis?" tanya Devan saat merasakan bahu Kiara yang bergetar dan pundaknya basah.


"Kia kangen Papa sama Mama.Hiks hiks." ucap Kiara dengan tangisnya.


Devan menarik nafas panjang dan dibuangnya perlahan. Dia mengusap punggung dan rambut kepala Kiara dengan pelan.


"Papa juga kangen sama Kia." Devan kembali mencium kepala putrinya itu.


Devan melepas pelukannya pada putrinya yang masih mengalungkan tangannya pada leher Papanya. Devan menghapus air mata yang jatuh di pipi Kiara. Devan tersenyum tipis melihat wajah putrinya.


"Kiara nggak sekolah?" tanya Devan mengingat ini hari rabu dan masih jam sepuluh pagi.


Kiara menggeleng pelan, dia menatap Papanya dengan masih sesenggukan. "Kia gak sekolah, yang sekolah Kenan. Kia mau sekolah tapi Mama sama Papa harus pulang dulu baru Kia mau sekolah lagi." Kiara mengadu dan menangis lagi.


"Kiara kangen Mama. huwaaa." Kiara kembali menangis histeris.


Devan hanya diam saja. Dia sendiri bingung harus bagaimana menjawab pertanyaan putrinya sedangkan dia sendiri juga tidak tahu kapan Nayra sadar.


Devan juga ingin melihat Nayra segera sadar dari tidur panjangnya yang sudah seminggu ini. Dan ini baru seminggu saja putrinya juga dirinya sudah seperti kehilangan separuh nyawa, apalagi sebulan atau mungkin selamanya. Devan tidak bisa membayangkan itu. Dia belum sanggup jika harus kehilangan Nayra untuk sekian kalinya.


Mama Arumi juga Mami Mira yang sedang ada di kamar dedek kembar bergegas keluar saat mendengar jerit tangis histeris Kiara. Pikiran mereka kemana-mana tentang Kiara, tadi Kiara izin mau mengambil susu coklatnya yang di belikan Opanya di kulkas. Namun kini yang mereka dengar justru tangia histeris Kiara.


"Kia-ra..!!" Mama Arumi langsung menurunkan nada bicaranya saat melihat pemandangan di dekat tangga.


Dimana anak dan cucunya sama-sama menangis. Bedanya Devan menangis dalam diam dan Kiara menangis histeris.


Mama Arumi juga Mami Mira menuruni anak tangga perlahan. Mereka dapat merasakan kesedihan antara Papa dan anak itu saat menanti kehadiran Mama di tengah-tengah mereka.


"Kamu pulang, Dev." Devan menoleh menatap Mama Arumi yang mengusap punggungnya pelan.


Devan mengangguk pelan dengan memaksakan senyum yang sangat susah untuk dia lakukan.


"Nenek!!" Kiara berhambur memeluk Neneknya.


"Kapan Mama bangun dan pulang, Nek? hiks hiks hiks"


"Kiara rindu sama Mama. Ingin kumpul bersama Mama lagi."


"Kiara nggak mau punya adik. Adik membuat Mama nggak bangun dari tidurnya. huwaa"


Deg

__ADS_1


Devan mematung ditempat saat mendengar keluhan Kiara. Apa Kiara menyalahkan adiknya? Apa Kiara nantinya akan membenci adiknya kalau sampai terjadi apa-apa sama Mamanya? pikiran Devan bercabang kemana-mana mimikirkan kemungkinan yang akan terjadi nantinya.


"Sayang, cucu Oma yang cantik." Mami Mira mengusap lembut kepala Kiara.


"Ayo ikut Oma!!"


"Kita berdoa sama Allah, meminta Allah untuk memberikan kesehatan pada Mama Nayra supaya cepat sadar dan bangun dari tidurnya."


"Bukankah doa anak yang sholeha didengar sama Allah." kata Mami Mira mencoba membujuk cucunya itu.


Kiara mengangguk dengan sesenggukan di pelukan Neneknya. Dia perlahan menerima uluran tangan Omanya yang mengajaknya berdoa kepada Allah.


Setelah melihat Kiara pergi bersama Mami Mira, Mama Arumi sontak memeluk putranya yang menangis dalam diam itu.


"Nayra baik-baik saja. Dia hanya ingin istirahat sebentar."


"Kamu jangan sedih dan lemah seperti ini."


"Bangkitlah dan beri semangat untuk anak dan istri kamu."


"Mama yakin Nayra sebentar lagi akan siuman."


"Tapi Kiara.."


"Kiara menyalahkan adiknya atas apa yang terjadi dengan Nayra saat ini, Ma."


"Padahal semua itu salah Devan."


Mama Arumi mengusap punggung Devan saat merasakan kalau putranya itu benar-benar menangis atas apa yang tengah menimpa keluarga kecilnya saat ini.


"Soal Kiara nanti bisa dijelasin pelan-pelan."


"Lebih baik kamu bersihkan diri kamu dulu supaya jauh lebih tenang."


"Mama siapkan makan untuk kamu dulu."


Devan mengangguk dan melepaskan pelukan Mamanya. Dia berjalan menuju kamarnya, namun langkahnya berhenti saat mendengar suara tangis bayi di kamar sebelah kamarnya.


Devan mendekat dan melihat di kamar itu ada bayi kembarnya yang lahir seminggu yang lalu. Mereka sudah dibawa pulang tiga hari yang lalu atas permintaan Devan.


"Kakak!!" seru Dahlia juga Diana bersamaan saat melihat Devan berdiri diambang pintu.


"Mereka kenapa?" tanya Devan yang berjalan mendekat ke box bayi dimana ada dua bayi kembar laki-laki yang belum dikasih nama itu.


"Mungkin haus kak,biasanya kan bayi satu dua jam sekali diberi minum." jawab Dahlia yang tengah membuat susu formula untuk dedek kembar.


Devan menatap nanar kedua anaknya yang baru lahir itu. Dimana mereka belum pernah merasakan kehangatan Ibunya juga ASI dari Ibunya langsung.


"Kakak lebih baik mandi dulu deh sebelum ngajak si kecil." cegah Diana saat melihat Devan yang akan menggendong dedek kembar.


"Kasihan Kak, masih rentan dedeknya." sambung Dahlia.


Devan mengangguk paham, dia menatap kedua adiknya bergantian. "Tolong jaga mereka." pinta Devan dengan tulus.


"Iya kak." jawab Dahlia

__ADS_1


"Kakak tenang saja, mereka aman bersama kami." sambung Diana.


__ADS_2