Rahim Pengganti

Rahim Pengganti
Bab 22


__ADS_3

Ayla melangkah malas ke apartemennya setelah semalaman ia di rawat di rumah sakit dan kedua temannya itu melarangnya untuk pulang cepat karna butuh rawat. bukan ayla namanya jika tidak keras kepala lagian apanya yang mau di rawat? tubuhnya baik baik saja begitu juga dengan anaknya yang sudah ia lihat dari layar monitor kalau dia sangat kuat. anaknya tahu siapa ibunya dan bagaimana kehidupan ibunya dan untuk ke depan mungkin akan lebih berat meskipun tidak akan mendapat tendangan lagi, mungkin tekanan?.



"oh anakku, kamu harus kuat! jika kamu mau melihat ayahmu yang tampan itu dan bagaimana ibumu ini tergila gila padanya". ayla terkekeh geli begitu selesai mengatakan kalimat itu.



Ting...



Pintu lift terbuka.



Ayla melangkah keluar memutar menuju pintu tempat tinggalnya. langkahnya sontak berhenti saat melihat sepasang manusia yang sangat ia kenali berdiri di depan pintu apartemennya dan yang pria asik mondar mandir.



Ayla kembali melangkah ke sana dengan berbagai pertanyaan di dalam kepalanya.



"ceyda...? deniz..? kalian sedang menungguku...? pagi pagi begini? ada apa? ". ayla berbicara sembari melangkah mendekati ceyda dan deniz.



Deniz dan ceyda sontak saja berbalik saat mendengar suara ayla. wanita yang mereka tunggu hampir satu jam di sana.



Ayla sedikit tersentak saat melihat tatapan mata deniz ke padanya, tajam dan kejam. ia mendesah lelah. 'selalu begitu'. lirih batin ayla.



Ayla melihat ke arah ceyda yang melangkah mendekat ke arahnya.



"oh ayla...? kamu dari mana saja? kami dari tadi menunggumu, kami pikir terjadi sesuatu padamu di dalam sana, kamu baik baik saja kan? bagaimana dengan kandunganmu?! ". tanya ceyda cemas yang sudah berada di samping ayla.



Kedua mata ayla sontak saja melihat ke arah deniz.



"kalian...sudah tahu...?". ayla menatap ceyda.



Ceyda tersenyum bahagia.



"kakek memberitahu kami semalam dan semalam acara jamuan di adakan khusus untukmu ayla? tapi kamu tidak bisa datang kata se...". ceyda menghentikan ucapannya karna mendapatkan tatapan tajam dari deniz.



Ceyda yang mengerti tatapan deniz, hanya menyipitkan bibirnya malas dan kembali menatap ayla.



"deniz bilang kamu kurang sehat tapi sekarang aku sudah tahu kenapa kamu tidak bisa datang semalam, bagaimana? apa bayinya sehat sehat saja ayla? kamu mendapat tendangan". ceyda bersuara cemas dan khawatir.



Ayla tersenyum ramah lalu mengangguk.



"iya, kalian tidak perlu khawatir! dia baik baik saja tidak terjadi masalah apapun". jawab ayla menatap ceyda.



"kamu sudah memeriksanya? ".



Ayla mengangguk meyakinkan ceyda.



Ceyda bernafas lega. "syukurlah"



Awalnya ceyda tidak tahu karna merasa khawatir dengan deniz semalaman itu ceyda tidak tidur dan menunggu deniz pulang hingga lewat tengah malam dan deniz pun kembali.



Deniz yang melihatnya menunggunya pun terkejut lalu mereka memutuskan naik ke kamar dulu baru membahasnya. ia mencoba terus bertanya ke deniz yang enggan untuk bercerita namun lama lama deniz luluh dan menceritakan semuanya bagaimana kejadian dari awal mereka di kejar hingga ayla yang mendapatkan tendangan di perut. jadinya ia memberikan saran untuk pagi pagi datang ke tempat tinggal ayla, yang sudah di ketahui deniz di mana. meski ia sedikit sakit hati karna deniz membohonginya dengan melakukan hubungan diam diam di belakangnya meski itu yang terbaik untuknya karna jika ia tahu. mungkin ia tidak akan bisa tidur selama proses itu berlangsung bahkan ia akan marah ketika melihat deniz tapi sekarang ia senang, semua membuahkan hasil dan sebentar lagi mereka akan mempunyai bayi di tengah tengah mereka. tentu saja kakek dan semuanya tidak tahu karna jika kakek tahu tentu saja deniz akan di hajar habis habisan olehnya.



Deniz semakin menajamkan matanya menatap ayla lalu ia bergerak mendekati ayla.



"ikut kami kamu harus di periksa, aku sama sekali tidak mempercayaimu". deniz sontak saja menarik kasar tangan ayla begitu sampai di samping ayla dan ceyda. deniz sama sekali tidak peduli dengan rintihan sakit ayla.



Ceyda bahkan sampai terperangah dengan sikap deniz yang menurutnya...sangat kejam.



"deniz? apa yang kamu lakukan? kamu membuat ayla kesakitan...?". ujar ceyda setelah mengejar langkah deniz dan menahan tangan deniz agar melepaskan tangan ayla.



Ayla menyentak nyentak tangannya agar di lepaskan deniz namun percuma cekraman deniz sangat kuat.



"kita harus memeriksa bayinya ceyda? dengan begitu aku baru tenang, bisa sajakan? wanita ini membohongi kita". ucap deniz tajam sembari menatap ayla.



Kedua mata ayla sontak saja melebar melihat ke arah deniz sedangkan ceyda memilih melihat ke arah ayla.



'apa benar? '. batin ceyda yang tidak percaya dengan ucapan deniz namun ia tetap memperhatikan wajah ayla mencari kebohongan di sana.



Ayla menarik nafas menenangkan dirinya.



"baiklah, lepaskan tangamu, aku akan ikut kalian". ujar ayla dengan susah payah mengeluarkan suaranya sembari menatap ke tangannya yang di cekram deniz.



'aku tidak tahu deniz? apa setelah ini aku masih bisa memaafkanmu? aku tidak tahu...kebencianmu padaku...sangat berkepanjangan tapi itu baik, lebih baik'. lirih batin ayla sedih.



Ceyda melihat deniz lalu melihat ke tangan deniz. ia mengangkat tangannya melepaskan tangan deniz dari ayla.



"sudahlah, ayla sudah bilang akan ikut tidak perlu di paksa ya? ayo...?". ujar ceyda ke deniz lalu mengajak ayla melangkah setelah ia mengandenga tangan deniz dan membawa ke lift.



Ayla masih berdiri di sana sembari menatap keduanya yang menunggu lift sampai. ia tersenyum miris.



'paling tidak, hatiku bisa tenang...saat meninggalkan anakku kepada kalian, saling mencintai...sungguh kata kata yang sangat indah, semoga...kalian terus bersama'. satu titik air mata jatuh ke pipi ayla dengan cepat ia menghapusnya lalu melangkah mengejar deniz dan ceyda.



Di dalam mobil. deniz yang menyetir dan ceyda duduk di samping deniz sedangkan ayla duduk di kursi belakang sembari menatap keluar jendela.



Siapapun tentu akan merasakan seperti dirinya canggung. namun ia memilih diam dan akan menjawab saat ceyda bertanya tanpa perlu bergabung dalam obrolan mereka. jika seperti ini bukankah ia sudah mirip seperti anak mereka saja.



Ayla menahan tawanya.



Trtrtttt...trtttt..



Ayla mengalihkan matanya ke depan saat suara hp berbunyi dan itu milik ceyda.



'tunggu...handphone...?'. dengan cepat ayla memeriksa hp di dalam kantong celananya yang di bawa aliye sebagai baju gantinya tadi pagi.



Ayla berdecak kesal saat menyadari kalau handphone nya ketinggalan di ruang pemeriksaan reshad. ughh..



"ada apa sayang? ". tanya deniz ke ceyda yang melihat wajah ceyda sedikit cemas.



Mobil deniz sampai di pelataran rumah sakit ia memarkirkan mobilnya dengan rapi lalu kembali menatap ceyda.



"itu sayang...mami...mami memintaku untuk kerumah sekarang, aku sudah bilang tidak bisa tapi memaksa, bagaimana ini...?".



Deniz tersenyum melihat raut wajah ceyda. ia pun mengangkat tangannya mengelus kepala ceyda yang di lapisi hijap.

__ADS_1



"baiklah, aku akan mengantarmu dulu ke sana".



Ceyda membulatkan matanya. 'sudah sampai dan kesana lagi? yang benar saja'.



"tidak tidak sayang? kamu sudah sampai di sini, aku naik taksi saja ya? lebih baik kamu cepat masuk dan lihat bagaimana keadaan bayi kita ya? ". rayu ceyda ke deniz yang menurutnya kelewatan perhatian.



Ayla menatap kedua orang di depannya dengan bodoh dan sesekali ia akan menarik nafas. lagian kemana di bawapun ia ikut aja. tunggu...bukankah lebih baik ia turun? dan menunggu di dalam. ah terserahlah, salah salah pria ini bisa marah lagi.



"tapi sayang...?". deniz kembali menghidupkan mobilnya.



"tidak deniz...? gini saja, kamu suruh pak anton jemput aku di sini bagaimana? ".



Deniz menghentikan gerakannya dan menatap ceyda.



"kamu akan tunggu? "



Ceyda tersenyum.



"tentu saja"



Deniz ikut tersenyum dan kembali memarkirkan mobil.



Ayla bernafas lega. 'entah kenapa tadi ia seperti menonton film laga saja'.



Deniz, ceyda dan ayla yang dari tadi tangannya terus di pegang deniz.



"bisakah kamu melepaskan ini? aku tidak akan kabur". seru ayla jengkel.



Deniz tidak menggubri ucapan ayla ia lebih fokus menatap ke mobil yang sudah sampai menjemput ceyda.



Ceyda berdiri di sisi kanan deniz. ia sama. sekali tidak terganggu dengan cekalan tangan deniz pada ayla karna ia tahu apa alasan deniz meski itu tidak baik namun percuma jika pun ia berkomentar.



"sudah tiba, aku pergi dulu ya? nanti kasih tahu aku bagaimana ke adaan dedek bayinya, okay sayang? ". ujar ceyda sembari menatap deniz.



Deniz tersenyum manis yang semakin membuatnya tambah tampan.



Ceyda meminta tangan deniz untuk ia salam dan deniz pun memberikannya.



Pemandangan yang di lihat ayla tersebut sukses membuat ayla terperangah apalagi posisinya berada di samping deniz bukankah tepat di depan matanya.



Pandangan tersebut sukses membuat ayla terpesona. biasanya...



Kedua mata ayla sontak membulat saat melihat hal selanjutnya yang di lakukan deniz ke ceyda. ayla dengan cepat mengalihkan matanya ke arah lain sembari mengerjap.



'ini pertama kali ia melihat langsung... tidak...'.ingatan ayla kembali ke saat di rumah sakit beberapa bulan yang lalu dimana ia salah masuk kamar dan berakhir melihat pasangan yang sedang berciuman panas. ughhh...



'ini kedua kali'. batin ayla menjerit histeris. meski begini matanya masih suci sekali.



Ayla tersentak kaget saat mengingat sesuatu.




'tunggu...dimana ceyda? '. ayla mencari keberadaan ceyda, yang ternyata sudah naik ke mobil bahkan mobilnya sudah keluar dari rumah sakit.



Ayla kembali menatap deniz dengan gugup karna ketahuan mengintip.



'tunggu mengintip?...salahkan dia yang melakukannya di tempat umum'. ayla menggeram.



"ah...". ringis ayla saat deniz menghentak tangannya dan menarik ke masuk ke dalam rumah sakit.



"deniz, aku bisa jalan sendiri". teriak ayla yang melangkah di belakang deniz.



Deniz terus melangkah hingga sampai ke suatu ruangan dokter kandungan. ia membuka pintunya lebih tepat membating.



Brakhhh...




Kedua manusia di dalam sontak melihat ke arah pintu. dokter di sana dan satu perawat asistennya.



"deniz? apa yang terjadi...?".



"ah...". ringis ayla begitu tangannya di lepas deniz dan di lempar ke arah dokter yang sedang duduk di kursinya sembari menatap ke arah mereka.



Ayla mengusap usap pergelangan tangannya yang memerah akibat perbuatan deniz.



"periksa dia sebentar". ujar deniz tanpa basa basi sembari berkacak pinggang dan menunjuk ayla dengan dagunya.



Dokter tersebut mengalihkan matanya melihat ke arah yang di tunjuk deniz dan seketika matanya membulat.



'ayla? '.



Ia kembali menatap deniz.



"apa maksudnya ini deniz? siapa wanita ini? ". tanya dokter tersebut yang ternyata adalah resyad sepupu jauh ayla.



Ayla sontak saja melihat ke arah resyad saat suara yang sangat ia kenali terdengar di telinganya.



'resyad? '. ayla kembali melihat deniz. 'mereka saling kenal? '.



Deniz menatap resyad dengan malas.



"sudahlah, kamu periksa saja perutnya jangan banyak bertanya dan sejak kapan kamu banyak bicara resyad...?".



Resyad menggeram marah dan ingin maju mau memukuli deniz namun terhenti saat melihat tatapan ayla lalu ayla menggelengkan kepalanya.



Ayla menarik nafas lalu melangkah patuh ke kasur pasien yang ada di ruangan tersebut.



Resyad menggertakkan giginya menatap deniz dengan marah. karna tidak perlu penjelasan apapun dari pria ini. karna ia sudah tahu siapa wanita ini bagi deniz dan bagaimana perlakuan deniz pada ayla dari aliye namun ia tidak tahu kalau pria bajingan itu adalah temannya ini dan wanita yang di ceritakan temannya ini yang mau jadi rahim pengganti adalah aylanya.


__ADS_1


Sekarang ia tahu jawabannya kenapa ayla selalu melarang aliye untuk memeritahu siapa lelaki itu ternyata pria itu adalah orang dimana tempatnya bekerja sekarang dan juga direktur dari rumah sakit ini.



Resyad melangkah di mana ayla yang sudah tidur dan menunggunya untuk memeriksa.



"jadi ini? pria itu...?". tanya resyad di sela sela giginya. ingin sekali ia menonjok dan menghabisi wajah pria di belakangnya.



"sangat mengejutkan kamu juga mengenalinya, teman? ".



Resyad menatap ayla tajam.



"ayla...? ".



Ayla terkekeh geli.



Mereka berbicara pelan sama sekali tidak terdengar oleh deniz atau seorang perawat di sana.



"aku ingin memukulnya". ujar resyad sembari mengambil alat alat untuk memeriksa ayla.



"dan kamu akan menyakiti anakku".



Resyad mendengus.



"itu bisa di atur"



"resyad...?". ayla menggeram marah.



"ayla...".



"bagaimana re? aku sudah bisa lihat...?". suara deniz yang muncul di samping resyad seketika membuat ucapan resyad terhenti.



Resyad tersenyum memaksa.



"tentu saja sudah bisa, lihatlah". resyad memeriksa perut ayla dan memperlihatkan bagaimana ke adaan janin di sana.



Sedangkan mata resyad menatap ayla tajam begitu juga dengan ayla yang menatap resyad memohon agar membiarkan semua seperti biasa.



Resyad mengalihkan pandangannya menatap layar monitor lalu beralih menatap wajah deniz yang tegang dan matanya yang mematung.



Resyad menghela nafas.



"sudah, tidak boleh lama lama, tidak baik untuk janin, kamu sudah lihatkan? bayimu baik baik saja".



Deniz yang tidak terima masih saja melihat ke layar monitor di sampingnya sembari sesekali melihat resyad berharap resyad mau memperlihatkan lagi bayinya karna ia belum puas.



"benar tidak akan baik? "



Resyad menatap deniz dengan dingin.



"kamu seorang dokter jenius deniz...? apa kamu lupa? ".



Deniz terdiam. ia mengerjap dan memilih duduk di kursi yang ada di depan resyad.



"tidak perlu di beri obat". 'karna aku sudah menitipkanya pada aliye'. sambung resyad dalam hati.



"bisakah kita bicara sebentar? berdua? ".



Deniz sontak melihat ke arah ayla. bukankah itu artinya menyuruh ayla keluar?.



Deniz menarik nafas. "tentu saja, lama kita tidak bicara lagian ada beberapa hal yang mau aku tanyakan dan bicarakan".



Resyad memilih diam. ia bahkan tidak peduli dengan tatapan tajam ayla.



Ayla menggeram karna resyad tidak melihatnya. bisa bisa ruangan ini akan jadi arena tinju.



"keluarlah, tunggu aku di luar". ucap deniz dingin ke ayla dan itu semakin membuat darah resyad memanas.



Ayla menarik nafas dan mematuhi ucapan deniz namun dalam perjalanan ke pintu ia terus menatap resyad berharap pria itu melihatnya namun malangnya dia. reyshad tidak melihatnya atau dia sengaja.



Pintu tertutup dan hanya ada mereka berdua di dalam. reshad bangkit berdiri melangkah ke pintu lalu mengguncinya. ia tidak mau ayla masuk di saat ia belum menyelesaikan pembicaraannya.



Deniz hanya melihat itu malas.



"langsung saja, aku mau tanya...". ucapan deniz terhenti oleh suara dingin dan tajam resyad yang berdiri tidak jauh dari pintu.



"lupakan pertanyaanmu dan pembicaraan yang mau kamu bicarakan lebih baik kamu simpan baik baik jawaban untuk setiap pertanyaanku deniz! apa wanita tadi...dia...yang kamu sebut sebagai...rahim pengganti...?". resyad menatap deniz tajam.



Deniz menyatukan alisnya melihat wajah dan nada bicara resyad.



"hei...ada apa denganmu? kamu...".



"jawab saja deniz? iya atau tidak! "



Deniz terdiam dan ia menyadari kalau pria di depannya sedang serius.



"iya, itu dia... ".



Resyad menggepal erat tangannya di sertai gertakkan giginya.













__ADS_1


__ADS_2