
Tiga hari setelah Devan pulang dari perjalanan bisnisnya dari Singapura. Hari ini, Devan memboyong istri dan kedua anak kembarnya serta pengasuh si kembar ke rumah baru.
Devan juga sudah mempekerjakan 2 satpam yang dia ambil langsung dari anak buahnya Faiz, tukang kebun, sopir, dan dua orang pembantu atau asisten rumah tangga. Itupun dia harus berdebat dulu sama istrinya.
"Kenapa harus banyak-banyak sih, Dev. Masing-masing satu aja cukup gak usah banyak-banyak. Kecuali satpam harus dua, karena mereka berjaga 24 jam jadi mereka harus over shift." ujar Nayra saat Devan memberitahunya total pekerja yang ada di rumah barunya nanti. Di tidak setuju jika harus memakai banyak asisten rumah tangga. Karena dia sendiri yang ingin melayani suaminya sendiri beserta anak-anaknya.
"Kalau untuk tukang kebun atau supir masing-masing satu, aku tak masalah sayang. Tapi kalau pembantu cuma satu saja aku gak mau." tolak Devan tegas.
"Siapa nanti yang masak, yang beres-beres rumah, yang nyuci baju, yang nyeterika baju, yang belanja. Kalau kamu mau ngambil satu pembantu. Emang kamu gak kasihan sama dia." Sambung Devan.
"Tapi ya gak usah banyak-banyak sampai empat pembantu di tambah Kimy sudah lima." debat Nayra
"Kimy tugasnya untuk mengurus si kembar, bukan ngurus yang lain." sahut Devan cepat.
"Dua atau gak sama sekali. Atau biar aku saja sendiri yang ngurus semua pekerjaan rumah." ancam Nayra dan berlalu meninggalkan Devan di ruang keluarga sendirian.
Dan akhirnya Devan menyetujui saran istrinya itu daripada istrinya marah dan capek nanti kalau harus mengurus semua pekerjaan rumah. Seenggaknya dibantu dua orang dan juga Kimy sudah memperingan pekerjaan istrinya, Nayra.
Kenan dan Kiara langsung menuju taman belakang sesaat setelah sampai rumah baru mereka. Mereka sudah berlarian di taman belakang dan bermain di sana.
"Ken...ayo kita pindah main di sana aja." Kiara menunjuk gazebo yang berada tepat di pinggir kolam renang.
Tanpa menjawab ajakan Kiara, Kenan langsung berlari mengambil HP dan duluan menuju gazebo itu.
"Kenan tungguin...?!!" teriak Kiara kesal dan mengejar Kenan yang sudah sampai duluan, padahal dia tadi yang ngajak. Kenapa malah ditinggal.
Mereka bermain di sana, lebih tepatnya main game dari HP. Mereka kadang terlihat serius, tertawa dan teriak karena menang dan kadang marah karena kalah.
"Sayang...Rara..." teriak Devan dari lantai dua memanggil istrinya.
"Itu kenapa sih pakai teriak-teriak segala. Macam dihutan saja." gerutu Nayra pada suaminya yang sekarang hobinya berteriak memanggil dirinya.
Nayra memberikan jus yang dia buat tadi untuk si kembar pada Miss Kimy. "Ini berikan si kembar. Awasi mereka jangan lama-lama main HP nya. Cukup satu jam saja gak lebih." kata Nayra untuk memperingati si kembar lewat Miss Kimy.
"Baik, Bu!!" Miss Kimy mengambil dua gelas jus yang diberikan majikannya itu untuk di berikan ke si kembar, Kenan dan Kiara.
Nayra sendiri menuangkan sisa jus ke dalam dua gelas.
"Sayangku...Istriku...Come here..." Nayra menghembuskan nafas kasar saat mendengar Devan kembali meneriakinya.
"Iya sayang....Aku datang..." balas Nayra dengan teriakan juga.
"Tadi minta dibuatkan jus, baru juga selesai sudah teriak-teriak. Gak sabaran banget. Seperti bukan Devan yang ku kenal." Nayra ngedumel sendiri sambil membawa dua gelas jus apel menapaki satu persatu anak tangga.
"Sayang lihat ini...!!!" seru Devan heboh saat melihat Nayra yang baru saja sampai di depan pintu kamar utama yang terbuka.
Mata Nayra membola sempurna dengan mulut menganga seperkian detik kemudian dia kantupkan lagi supaya tidak ada lalat yang masuk.
"It-tuhh....!!!" Nayra tak mampu melanjutkan ucapannya dia terlihat pucat dan tangannya bergetar, bahkan gelas yang dia pegang terlihat isinya bergoyang dan tumpah walau sedikit.
"Sayang, kamu kenapa?" Devan yang khawatir melihat Nayra langsung mendekat ke arah istrinya.
__ADS_1
"Stop!!!" teriak Nayra dengan nafas memburu. Keringat sudah bercucuran di kening dan pelipisnya.
"Sayang.." panggil Devan pelan.
"Berhenti aku bilang." teriak Nayra. Dadanya naik turun. nafasnya semakin memburu.
Prang
Gelas yang dipegang Nayra akhirnya jatuh juga.
"Mama.." Kenan mendekat ke arah Nayra saat melihat Mamanya berdiri di depan pintu menjatuhkan gelas yang berisi jus apel.
Kenan melihat ke dalam kamar dan juga Papanya yang ada di dalam kamar. Dia langsung memberi tatapan tajam ke Papanya itu.
"Kenapa Ken?" tanya Kiara yang baru saja sampai ke lantai atas dan mendekat ke arah Mama dan saudara kembarnya itu.
"Papa jahat..." teriak Kiara tiba-tiba saat melihat keadaan kamar.
"Kenapa sih girl? Papa jahat kenapa?" tanya Devan dan meju selangkah untuk lebih mendekat.
"Stop!!!" teriak Kenan dan Kiara bersamaan.
"Jangan dekati Mama." sambung Kenan diangguki Kiara.
Devan menyerit heran, gak istrinya, gak kedua anaknya meminta dia untuk berhenti bahkan sekarang si kembar meminta dia untuk tidak mendekati Mama mereka. Ada apa, pikirnya.
Miss Kimy yang baru saja sampai ke lantai dua mendekati Nayra dan juga si kembar. Dia penasaran kenapa Ibu dan anak itu tidak masuk kamar, justru berdiri di depan pintu. Apa yang terjadi, pikirnya. Apalagi melihat ibu bosnya yang tegang dan memucat sedangkan dua bos kecilnya seperti ingin marah.
"Gawat..." pekik Miss Kimy membuat Devan semakin bertambah heran. Kenapa sih mereka semua, batinnya.
"Ayo bu..Kita pergi dari sini.." Miss Kimy memapah Nayra yang badannya gemetar ketakutan. Keringat di kening dan pelipisnya semakin banyak, bahkan tubuhnya kini terasa keringat dingin. Dengan perlahan Nayra akhirnya di bawa Miss Kimy ke kamar si kembar.
"Sayang kenapa sih?" Devan mendekati si kembar yang masih terlihat marah padanya itu.
"Papa jahat tahu ndak!!" sentak Kiara dengan nada tinggi.
"Mama itu takut balon, Papa." sambung Kiara yang terlihat marah itu.
"Apa Papa gak tahu kalau Mama takut sama balon?" tanya Kenan menatap Papa Devan tajam dan terkesan dingin.
Tanpa membalas apa yang ditanyakan Kenan, Devan melepas balon yang tadi dia pegang dan berlari menuju kamar si kembar. Niat hati ingin memberi kejutan buat Nayra malah dia sendiri yang terkejut melihat kondisi istrinya.
Devan melihat Nayra yang memeluk Miss Kimy begitu erat. Istrinya itu benar-benar ketakutan. Dan semua itu karena ulah yang dia buat. Kemana aja dia sampai tidak tahu kalau istrinya itu mengidap Globo phobia atau fobia balon.
Miss Kimy yang melihat Devan mendekat mencoba mengurai pelukan Nayra. Namun yang dia dapat justru Ibu bosnya itu semakin mengeratkan pelukannya.
Devan mendekat dan duduk di samping Nayra. "Sayang!!" panggilnya dengan nada rendah dan lembut sambil mengusap kepala istrinya pelan.
"Kimy mau menemani si kembar main. Sini sama aku saja." Devan berusaha membujuk Nayra supaya melepaskan Miss Kimy.
Nayra yang masih gemetar itu menggelengkan kepalanya dalam pelukan Miss Kimy.
__ADS_1
"Berapa lama dia akan seperti ini?" tanya Devan yang menatap lekat istrinya itu. Ada kecemasan dan kekhawatiran yang dia rasakan saat menatap tubuh ringkih istrinya. Bahkan dia jauh merasa bersalah karena membuat Istrinya sakit.
"Biasanya semalam Ibu akan seperti ini. Tapi kadang juga sampai memanggil dokter." jawab Miss Kimy yang pernah mendapati Ibu Bosnya mengalami kepanikan dan ketakutan saat acara sekolah si kembar.
Devan mengangguk sekali. Padahal nanti sore mereka akan ada acara di rumah. Mereka mengundang keluarga dan sahabat juga teman dan seorang ustadz untuk berdoa bersama dalam rangka menempati rumah baru.
"Ibu sudah tidur, Pak." suara Miss Kimy membuyarkan lamunan Devan.
Di ambilnya tubuh sang istri yang terkulai lemas itu. Dan dia baringkan di ranjang.
"Tolong kamu buang semua balon yang ada dikamar saya. Kalau sudah segera lapor." titah Devan segera di laksanakan oleh Miss Kimy.
Devan ikut berbaring di samping istrinya. Di tatapnya wajah istrinya itu yang sudah terlelap tapi masih ada sisa ketakutan di sana. "Maafkan aku, sayang." Devan menyingkirkan surai rambut Nayra yang jatuh menutupi sebagian wajahnya yang pucat itu.
"Maaf, aku gak tahu kalau kamu memiliki Globo phobia." sesal Devan telah membuat istrinya itu ketakutan sampai gemetar dan keringat dingin.
Kiara sama Kenan masuk ke kamarnya dan mendekati ranjang yang dipakai tidur Mama mereka.
"Mama sudah tenang, Pa?" tanya Kenan yang sudah berdiri disampingnya.
Devan menoleh memaksa tersenyum di depan si kembar dan mengangguk. Dia lantas duduk dan membiarkan kedua anaknya itu ikut naik ke atas ranjang yang sama meski sempit.
"Maafkan Papa ya telah membuat Mama kalian ketakutan." Devan mengusap kepala anaknya bergantian.
"Memang Papa gak tahu kalau Mama takut sama balon?" tanya Kiara menengadahkan kepala melihat sang Papa.
Devan menggeleng, "Papa gak tahu. Mama gak pernah cerita sama Papa." jawab Devan yang kembali menatap istrinya yang terlelap.
"Permisi, Pak. Kamar sudah siap. Dan juga di depan ada tamu. Katanya sahabat Pak Devan." lapor Miss Kimy pada Devan.
"Siapa?" tanya Devan yang masih setia menatap istrinya itu.
"Maaf, Kimy lupa gak tanya namanya." sesal Miss Kimy. Dia menunduk takut kalau Pak bosnya marah.
Dengan malas Devan akhirnya turun dari ranjang. "Temani Mama ya Boy, Girl." Kiara dan Kenan mengangguk.
"Siap Pah.." ucap Kiara
"Tolong kamu jaga mereka." perintahnya pada Miss Kimy sebelum keluar dari kamar. Miss Kimy mengangguk mengiyakan.
"Kalian sudah datang?" tanya Devan saat melihat sepasang suami istri yang berprofesi sebagai dokter menunggunya di ruang tamu.
"Iya..Kami duluan kesini." jawab Mario sambil mencomot hidangan yang tadi sudah disiapkan mbok Min.
"Karena kami sama-sama masuk malam, jadi kami kesini duluan." sambung Mario yang masih mengunyah makanan.
Devan mengangguk paham.
"Nayra mana, Dev?" tanya Risa yang tak melihat Nayra ikut menemui mereka.
"Kebetulan kamu disini. Tolong periksa Nayra."
__ADS_1
Risa mengerutkan keningnya. Nayra kenapa? Kenapa harus aku yang periksa, bukan Mario. Aku kan psikiater, batin Risa saat Devan menatapnya dan memintanya memeriksa Nayra.