
Di salah satu gedung pencakar langit yang ada di pusat kota, tepat di gedung perusahaan D&A Grup. Terdengar suara orang yang sedang muntah berkali-kali di toilet yang ada di ruangan CEO D&A Grup.
Romi segera membantu Bosnya yang baru saja keluar dari toilet dan memapahnya duduk di sofa. Bertepatan Linda masuk membawakan segelas jahe hangat untuk meredakan gejolak pada perut Bosnya.
"Ini, Bos. Minum dulu!" Linda memberikan gelas yang berisikan jahe hangat pada Bosnya.
Devan berdehem, belum juga dia meminum jahe itu dia kembali berlari ke toilet dan muntah lagi. Romi dan Linda saling pandang kemudian keduanya saling mengendihkan bahu.
"Apa dulu waktu Ibu Bos hamil si kembar, Pak Bos juga seperti itu?" Bisik Linda pada Romi.
Romi terlihat mencoba mengingat kejadian beberapa tahun yang lalu. Kemudian dia menggeleng kepala sebagai jawabannya.
"Bos mah dulu gak seperti itu. Biasa aja." jawab Romi setelah mengingat kejadian yang lalu.
"Mungkin sekarang dia sudah bucin abis sama Nayra makanya seperti ini sekarang. Nayra yang hamil, Bos yang mengalami morning sickness." sambungnya setengah mengejek Bosnya sendiri.
Linda tertawa lirih mendengar ejekan dari Romi untuk Bosnya, dia juga membenarkan kalau Bosnya itu sekarang bucin abis sama Ibu Bos.
Karena Linda pernah mendapati Bosnya yang berubah seperti anak kucing saat istrinya marah ataupun merajuk. Bosnya itu akan melakukan apapun untuk istrinya. Dan yang membuat Linda tercengang adalah ketika mendapati Bosnya itu membuatkan coklat hangat untuk istrinya di pantry kantor tanpa meminta bantuan padanya ataupun OG.
"Kalian ngapain berdiri disitu? Devan mana?" Linda dan Romi menoleh dan mendapati Papa Damar sudah berdiri di belakang meraka. Dengan segera mereka berbalik menghadap sang pemilik perusahaan.
"Sore Pak Damar." Romi dan Linda menundukkan kepalanya memberi hormat dan hanya deheman yang mereka dengar.
"Bos Devan ada di toilet. Dia..." belum juga Romi menyelesaikan perkataannya terdengar suara orang muntah di kamar mandi.
"Itu Devan?" Papa Damar menatap Romi dan Linda bergantian. Dengan ragu Romi dan Linda menganggukkan kepala sekali.
Papa Damar mendekat ke toilet dan mendapati putranya sedang berjalan keluar dalam keadaan lemas.
"Kamu kenapa? Kamu sakit?" tanya Papa Damar setelah Devan merebahkan dirinya disofa.
Devan hanya berdehem. Dia memejamkan matanya dengan satu tangan diletakkannya di atas kepala untuk menutupi matanya.
"Romi, hubungi Mario cepat?" perintah Papa Damar pada Romi namun tak di segerakan oleh Romi.
"Kenapa diam saja? Cepat hubungi Mario." sentak Papa Damar pada Romi yang tak kunjung menjalankan perintahnya.
"Maaf Paman. Kak Devan tidak sakit, dia hanya mengalami morning sickness yang biasa terjadi pada ibu hamil. Kak Devan mengalami kehamilan simpatik." jelas Romi yang memang beberapa hari yang lalu Mario sudah memeriksa Devan dan menerangkan jika Devan kena sindrom couvade atau kehamilan simpatik saat Devan bilang kemungkinan Nayra hamil.
__ADS_1
Papa Damar terlihat sedang mencerna apa yang Romi barusan jelaskan padanya. Morning sickness, ibu hamil, kehamilan simpatik.
"Apa Nayra hamil?" Papa Damar menatap Romi dan Linda bergantian. Dan mendapat anggukan dari Romi dan juga Linda.
Papa Damar tersenyum lebar, dia terlihat bahagia akan mendapatkan cucu lagi. Namun senyum itu tiba-tiba lenyap saat melihat Devan yang justru tidur itu atau mungkin hanya rebahan saja.
"Hai anak kurang ajar!! Bangun kamu!!" Papa Damar memukul paha Devan supaya bangun dari rebahannya. Beliau kesal pada putranya itu. Kenapa berita bahagia seperti ini tidak segera diberitahukan padanya.
"Sakit, Pa." keluh Devan yang langsung terbangun duduk sambil mengelus pahanya sebelah kiri yang tadi dipukul Papa Damar terasa panas.
"Kenapa kamu gak segera kasih kabar kalau Nayra hamil lagi?" geram Papa Damar pada putranya itu.
"Bukannya gak kasih kabar, Pa."
"Aku sama Nayra cuma menunggu waktunya saja untuk kasih kabar."
"Kami masih memastikan benar apa ndaknya kehamilan Nayra."
"Karena dua minggu yang lalu waktu di USG belum kelihatan tapi hasil tes darahnya positif."
"Dan besok itu jadwal pemeriksaannya." jelas Devan panjang kali lebar mengenai kabar kehamilan Nayra.
"Semoga saja benar, Allah kembali menitipkan zuriyatnya dirahim Nayra." harap Devan dalam doanya.
"Baiklah..Kalau gak ada kerjaan pulanglah dulu." Papa Damar menepuk pundak Devan pelan. "Papa pergi dulu." Devan mengangguk dua kali.
"Jaga Nayra juga calon cucu Papa. Pastikan mereka selalu sehat dan baik." pesan Papa Damar sebelum menghilang dari balik pintu.
"Gak Papa kasih tahu pun juga akan Devan jaga Nayra dan calon anak kami." gerutu Devan merasa kalau Papa Damar belum begitu mempercayai dirinya. Dia akui dia dulu begitu bo doh dalam urusan cinta. Tapi sekarang dia sudah paham dan mengerti kalau cinta itu perjuangan bersama bukan perjuangan satu pihak.
"Apa ada pekerjaan lagi yang harus diselesaikan sekarang juga, Lin?" tanya Devan setelah menghabiskan segelas jahe hangat yang mungkin sudah tidak hangat lagi.
"Sudah tidak ada, Bos. Semua laporan sudah Bos periksa." jawab Linda sopan.
Dilihatnya jam yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. Menunjukkan pukul empat kurang sepuluh menit. Devan berdiri dan berjalan menuju meja kerjanya.
"Kita pulang, Rom." kata Devan sambil memakai jasnya kembali.
"Kalau pekerjaanmu sudah selesai kamu juga sudah boleh pulang." sambungnya pada Linda yang masih berada disana.
__ADS_1
"Baik Bos. Terima kasih.!!" Linda menundukkan kepala sopan.
Devan keluar ruangan di ikuti Romi dan Linda yang kembali ke meja kerjanya.
"Mampir dulu ke rumah makan padang." perintah Devan pada Romi yang kini sudah berada di perjalanan menuju rumah.
Romi mengerutkan keningnya. Rumah makan padang? Bos kan gak suka masakan padang. batin Romi.
"Kamu dengar gak sih, Rom." gertak Devan yang tak mendapat sahutan dari Romi.
"I-iya Kak, dengar." Romi merasa kesal, karena gak langsung dijawab gitu aja langsung di gertak. Dasar sensian. geram Romi.
"Turun dan belikan sepuluh bungkus." titah Devan yang langsung di segerakan oleh Romi. Karena Romi tak ingin mendapat gertakan atau omelan dari Devan. Dia seger turun dan memesan sepuluh bungkus nasi padang berbagai jenis lauk.
Semenjak mengetahui kalau Nayra hamil, Devan dengan seenak jidatnya memerintahkan Romi untuk hal-hal yang aneh dan bahkan begitu sepele.
"Rom, tolong ambilkan bolpoint. Jatuh tadi."
"Tolong pegangi HP ku. Aku mau VC sama istriku."
"Aku mau kopi buatan kamu, Rom. Jangan Linda terus."
"Rom, tolong pijat kepalaku. Pusing rasanya."
Ingin sekali Romi menjitak kepala atasannya itu. Kalau tak mengingat Devan itu kakak sepupunya sudah dia smackdown sejak dulu. Apalagi waktu Devan meminta Romi untuk memijat kepalanya. Romi rasanya ingin sekali memukul kepala itu biar tambah pusing, kalau perlu sampai pingsan.
"Hai nasi padang. Nanti setelah kamu dimakan sama orang yang bernama Devandra Ayasi kamu harus memberikan jalan yang padang seperti nama mu."
"Biar dia tak seenaknya sendiri memerintahkan Romi Bratama, pria paling tampan dan paling keren sedunia ini."
Bonus Visual Romi Bratama
*****@*****
Promo Novel Karya baru dari Author
MAURA : tragedi tahun baru
__ADS_1