
Siang hari di kediaman Devan terasa sepi. Padahal sang tuan rumah, Devan dan juga Nayra berada di dalam rumah. Setelah di telisik lebih dalam lagi ternyata Devan menemani istrinya yang sedang istirahat di dalam kamar.
"Kamu gak mau makan apa gitu sayang? Atau mau beli apa gitu?" tanya Devan sambil tangannya terus mengelus kepala Nayra pelan dan lembut. Sejak pulang dari rumah sakit tadi Nayra hanya minta dielus kepalanya karena tadi sempat pingsan saat menjenguk Doni.
Mereka duduk di sofa dekat jendela kamar yang menyajikan pemandangan taman belakang rumah yang di tanami berbagai jenis bunga dan tanaman hias juga beberapa pohon buah.
Nayra hanya menggelengkan kepalanya dengan posisi bersandar di dada Devan sambil memejamkan kepalanya, kedua tangannya dia lingkarkan di pinggang suaminya.
"Aku ingin seperti ini dulu." gumamnya pelan dan semakin mengeratkan tangannya yang melingkar di pinggang suaminya.
"Baiklah senyaman kamu saja." sahut Devan yang tangannya masih setia mengelus kepala Nayra yang katanya pusing ingin dielus sama Papa Devan.
"Anak-anak kok belum pulang? Biasanya jam berapa mereka pulang?" tanya Devan yang penasaran. Karena biasanya sebelum jam dua belas si kembar sudah pulang, tapi ini sudah jam dua belas lewat kok belum sampai rumah.
"Emang jam berapa sudah?" tanya Nayra balik dengan suara seraknya karena sudah mulai mengantuk.
"Sudah jam dua belas lewat sepuluh menit." jawab Devan mengangkat tangan kirinya melihat jam yang melingkar di pergelangan tangan kirinya.
"Coba telephon Kimy." saran Nayra yang juga merasa khawatir pada si kembar. Gak biasanya mereka pulang lewat jam dua belas.
Devan mengambil HP nya yang dia letakkan di samping dia duduk. Mencari kontak Miss Kimy dan segera menghubungi nomor pengasuh anaknya itu.
Berdering beberapa kali namun tak kunjung diangkat sama Miss Kimy, hingga akhirnya panggilan terputus sendiri. Devan berdecak kesal.
"Gak diangkat ya?" Devan menggeleng dan mencoba menghubungi kembali.
Nayra melepaskan pelukannya di pinggang Devan dan duduk bersandar di sofa merebahkan kepalanya pada sandaran sofa yang masih terasa pusing.
"Dimana kalian? Kenapa belum sampai rumah juga?" sentak Devan setelah Miss Kimy mengangkat telephon dari Devan.
"Mm-maaf Pak Bos. Tadi ban mobilnya bocor dan harus memanggil montir. Tapi sekarang sudah dijalan, sudah hampir dekat rumah." jelas Miss Kimy gugup, dia yakin pasti Pak Bosnya itu marah karena si kembar pulang telat dan tidak ada yang memberitahunya. Miss Kimy sendiri lupa tidak memberi kabar pada Bosnya.
Devan hanya berdehem tanpa mengatakan apapun dan mematikan sambungan telephone sepihak. Bos mah bebas.
"Dimana mereka?" tanya Nayra yang melihat Devan sudah mengakhiri sambungan telephone.
Devan menoleh pada Nayra dan ikut kembali bersandar di sofa dan meraih kepala istrinya itu dibiarkannya bersandar di dadanya dan kembali mengelus kepala istrinya yang sebelumnya di layangkannya kecupan pada pucuk kepala Nayra.
Sambil mengelus kepala Nayra Devan kembali berucap. "Mereka di perjalanan, mungkin sebentar lagi sampai. Tadi ban mobilnya bocor dan Kimy lupa gak memberi tahu kita."
Nayra mengangguk dua kali. Dia mendongak menatap wajah tampan suaminya yang makin hari semakin tampan saja. Kan jadi makin terpesona. Batinnya. "Sayang..!!" panggilnya lirih.
Devan berdehem dan menunduk melihat istrinya yang menatapnya penuh kekaguman. "Kenapa? Aku ganteng ya.." Devan mengangkat sebelah alisnya juga dengan seringainya.
Nayra mencebikkan bibirnya mendengar godaan suaminya itu. Walau dia akui kalau suaminya itu tak hanya tampan, tapi juga ganteng. Dan jangan lupa kalau suaminya itu lulusan pesantren. Jadi pengen di gombalin ala santri deh, pikirnya.
Devan kembali berdehem dan mengangkat kembali sebelah alisnya bertanya ada apa.
"Aku mau mangga muda.." Kata Nayra dengan wajah memelas berharap suaminya itu mau membelikannya atau lebih tepatnya memetiknya sendiri langsung dari pohonnya.
Devan memicingkan matanya. Mangga muda? Memangnya sekarang lagi musimnya buah mangga, batin Devan.
"Sekarang?" tanya Devan dan langsung diangguki dengan antusias sama Nayra. Bahkan wajahnya terlihat berseri seakan buah mangga nya itu sudah berada di dalam genggaman tangannya.
__ADS_1
"Tapi kamu harus makan dulu. Aku gak mau mencarikan mangga muda kalau kamu gak makan terlebih dahulu." ancam Devan pada istrinya, dia takut nanti kalau perut Nayra sakit karena makan mangga muda tanpa di isi makanan yang lain terlebih dahulu.
Nayra mengerucutkan bibirnya hingga maju beberapa centi yang langsung disambut Devan dengan kec*pan di bibir membuat Nayra mendelik tak suka atas tindakan suaminya yang tiba-tiba itu.
"Devan ihhh..." geram Nayra atas tindakan suaminya. Dia mencubit perut sixpack suaminya.
"Aauuwww.....Sakit sayang..." Devan mengusap perutnya yang di cubit istrinya.
"Maaf.." sesal Nayra memegang lengan Devan.
"Petikkan mangga muda ya.." mohon Nayra dengan mengedipkan mata genitnya.
"Kenapa gak beli aja? Kenapa harus petik sendiri?" Devan kaget akan permintaan istrinya yang meminta buah mangga dari hasil petik sendiri.
"Aku maunya di petik langsung dari pohonnya dan dimakan di bawah pohonnya sekalian." jawab Nayra dengan menatap Devan penuh harap, dia berharap dikabulkan permintaannya itu sama suaminya.
Devan mengambil nafas panjang kemudian dihembuskannya kasar. Matanya menelisik halaman belakang yang ada pohon mangga, berharap pohon itu sudah berbuah. Devan memicingkan matanya, beberapa detik kemudian dia mengangkat sebelah sudut bibirnya.
"Kamu makan dulu, baru nanti aku petikkan buat kamu langsung dari pohonnya.!!" perintah Devan pada istrinya.
"Benar?? Kamu gak bohong kan?" tanya Nayra dengan berbinar senang.
Devan berdehem, mengangguk dua kali dan langsung dihadiahi ciuman bertubi-tubi dari Nayra di wajahnya.
"Terima kasih Papa Devan, sayang." Nayra langsung berdiri dan berjalan cepat setengah berlari keluar dari kamar.
"Sayang jalan biasa saja gak usah lari." tegur Devan menyusul Nayra.
"Aku gak mau sampai terjadi sesuatu yang tak di inginkan." kata Devan tegar dan terselip nada kekhawatiran pada istrinya.
"Maaf...Aku lupa." sesal Nayra yang melupakan sesuatu.
"Sudah gak apa. Ayo aku temani makan." Devan menggandeng tangan Nayra dan berjalan menuruni tangga menuju meja makan.
"Assalamualaikum...." teriak Kiara dan Kenan saat memasuki rumah.
Nayra dan Devan menghentikan langkah mereka saat mendengar teriakan kedua anak mereka.
"Walaikumsalam."
Kiara dan Kenan mendekat pada Mama Papanya dan menyalami tangan kedua orang tuanya bergantian.
"Kok Papa ada dilumah?" tanya Kiara yang tak biasanya Papa Devan siang hari ada dirumah, biasanya kan mereka yang datang ke kantor Papa Devan saat pulang sekolah.
"Iya, Papa hari ini gak kerja. Makanya dirumah." Kiara dan Kenan tampak manggut-manggut.
"Kalian ganti baju dulu. Itu sudah ditunggu Miss Kimy." Nayra menunjuk Miss Kimy yang berdiri di dekat tangga.
"Habis itu kita makan bersama." sambungnya pada kedua anaknya itu.
"Oke, Ma." Kiara dan Kenan langsung berlari menuju kamar mereka.
Selesai makan siang Devan dan Nayra beserta si kembar kembali ke kamar untuk sholat dhuhur berjama'ah dan berganti pakaian rumah yang lebih santai. Padahal tadi dia rencananya selesai makan siang akan kembali lagi ke kantor karena ada meeting jam dua. Dan harus dia tunda dulu meeting nya karena sang istri minta di temani dan juga minta di petik akan buah mangga muda dari pohonnya langsung.
__ADS_1
Romi. Dia mendengus kesal karena semua pekerjaan Devan di serahkan semuanya kepadanya. Ya walau untuk mengecek saja dan merevisi beberapa laporan itu membutuhkan waktu yang lama baginya. Karena tak hanya kerjaan Devan saja yang harus dia kerjakan, kerjaan dia sendiri juga banyak. Dia juga gak tahu kenapa Bosnya itu tiba-tiba gak masuk kerja. Padahal tadi ijinnya sampai jam makan siang.
Kembali ke keluarga Devan. Kini semuanya sudah berada di halaman belakang. Miss Kimy, dan Mbak Usi sedang menggelar alas untuk keluarga majikannya menikmati mangga muda. Mbok Min dan Nayra terlihat membuat bumbu untuk rujaknya juga memotong buah pelengkap lainnya.
Kiara yang melihat Papa Devan memanjat pohon mangga, dia begitu girang hingga dia juga ingin ikut memanjat pohon.
"Papa...Kia juga mau ikut." teriak Kiara dari bawah.
"Gak bisa princess, banyak semutnya diatas." kata Devan yang memang sekarang lagi menghindar dari kerumunan semut.
"Kamu gak mau ikut naik, Ken?" tanya Kiara yang melihat Kenan duduk bersila di atas rerumputan sambil memainkan game di HP.
"Males. Masih kenyang" jawabnya asal. Karena memang dia masih kenyang. Jadi dia males mau ngapa-ngapain.
"Apa hubungannya coba." gerutu Kiara dan dia mendekati Miss Kimy memintanya untuk membantunya manjat pohon.
"Aduh, Non. Miss Kimy gak berani. Nanti kalau jatuh gimana." tolak Miss Kimy yang memang takut terjadi apa-apa sama Nona kecilnya ini.
"Kiara...Tangkap buahnya princess.!!!" teriak Devan dari atas pohon pada putrinya.
Kiara yang tadinya ingin sekali memanjat pohon perhatiannya langsung teralihkan oleh teriakan Papa Devan yang memintanya menangkap buah mangga.
"Mana Papa...Mana.." teriaknya dengan antusias. Dia berdiri di bawah pohon dengan menengadahkan kedua tangannya untuk menangkap buah yang di petik Papa Devan.
"Tangkap.." Devan melempar mangga yang dia petik ke arah putrinya.
"Hap..!! Yes..!!" teriak Kenan yang berhasil menangkap buah mangga.
"Ihhhh, Kenan nyebelin. Kenapa ikut-ikutan? Itu main game saja sana." Kiara mendorong bahu Kenan supaya kembali bermain game supaya tak ada yang mengganggunya menangkap mangga yang Papa Devan petik.
"Sudah..sudah..Ini tangkap lagi." lerai Devan dengan kembali melempar mangga.
Devan turun dari pohon mangga setelah berhasil memetik beberapa buah. Dia melepaskan kaosnya untuk mengusir semut yang mengerubutinya walau tak banyak berhasil membuat kulitnya merah-merah.
Nayra mendekati suaminya itu yang masih terlihat mengusir semut di kaos juga badannya. Suaminya ini benar-benar melakukan apa yang diminta olehnya. Bahkan rela memanjat pohon tanpa mempedulikan statusnya sebagai CEO di perusahaan D&A Grup.
"Maaf ya..Kamu harus diserang semut karena menuruti permintaan istrimu ini." Nayra memasang wajah penuh penyesalan atas apa yang dia perintahkan pada Devan.
"Gak apa sayang. Selagi aku bisa, aku akan menuruti semua keinginan kamu. Demi dedek bayi di dalam perut kamu." ujar Devan sambil mengelus perut Nayra yang masih rata itu dan juga menampilkan senyuman biar istrinya itu tidak terlihat sedih.
"Dedek bayi...!!!" seru Kenan saat mendengar Papa Devan menyebut dedek bayi di perut Mama Nayra.
Devan mengangguk dan langsung mendapat teriakan rasa gembira dari Kenan juga Kiara.
"Horeee....Kita akan punya adik.." Kenan dan Kiara langsung meloncat kegirangan dan berputar-putar sesekali mereka berdua berpelukan.
"Kapan Papa menanamnya di pelut Mama? Kok sudah tumbuh adiknya?" tanya Kiara setelah mereka duduk di atas rerumputan yang sudah digelar alas sama Miss Kimy dan Mbak Usi.
"Biji jeruk yang aku dan Kiara tanam kemarin saja belum tumbuh, kok punya Papa di perut Mama cepat sekali tumbuhnya?" timpal Kenan yang juga mengajukan pertanyaan yang sama pada kedua orang tuanya.
Devan dan Nayra saling pandang. Mereka bingung harus jawab gimana pertanyaan yang dilontarkan si kembar. Masa harus jawab ditanam setiap hari, pagi, siang, sore atau malam. Kan nantinya makin banyak lagi yang ditanyakan si kembar.
"Mungkin benih biji dari Papa berkualitas, makanya cepat tumbuh." sambung Kenan yang langsung diangguki Kiara.
__ADS_1