Rahim Pengganti

Rahim Pengganti
Cincin


__ADS_3

Nayra saat ini sudah di pindahkan ke rumah sakit kota. Awalnya dia tidak mau dirawat di rumah sakit. Dia ingin dirawat di rumah saja, karena bisa dirawat langsung oleh anggota keluarga yang lain. Dan tentunya bisa melihat tingkah konyol anak kembar nya, Kenan dan Kiara.


Namun Devan juga Nathan menolak tegas keinginann Nayra. Mereka berdua ingin yang terbaik buat Nayra juga janin di perut Nayra. Karena kalau dirawat di rumah sakit Nayra akan mendapat penanganan langsung oleh dokter tanpa menunggu lama.


Nayra melihat Devan masuk ke kamar rawatnya setelah tadi menemui Dokter Kandungan bersama Faiz.


"Kak Faiz mana, sayang?" tanya Nayra yang melihat Devan datang sendirian tanpa Faiz.


"Dia tadi langsung pulang menyusul Nathan juga Romi. Ada kerjaan katanya." jawab Devan dan duduk di tepi brankar Nayra.


Devan menatap Nayra dalam diam, seperti ada yang dipikirkannya.


"Kamu kenapa?" tanya Nayra saat melihat tatapan Devan yang terlihat kosong."


"Apa terjadi sesuatu sama bayi kita?" tanya Nayra lagi karena tidak mendapat jawaban dari Devan.


Dia khawatir kalau saja selama perjalanan dari klinik ke rumah sakit tadi mengakibatkan sesuatu yang buruk terjadi pada kandungannya. Apalagi saat ini dia mengalami pendarahan / flek.


Dan bayi yang ada di kandungan Nayra ini sangatlah dinantikan sama Devan. Karena Devan ingin menebus semua kesalahannya di masa lalu saat dulu dia tidak memperdulikan Nayra yang sedang hamil.


Devan menggeleng pelan dan menyunggingkan senyum tipis. Diambilnya tangan kanan Nayra dan diusapnya pelan jari manis istrinya itu yang tidak ada cincinnya. Di kecupnya lembut punggung tangan itu sambil menatap Nayra.


"Apa kamu tidak sadar kalau cincin kamu hilang, sayang?" tanya Devan memperlihatkan jari manis Nayra sebelah kanan yang kosong tanpa cincin.


"Kok bisa?" tanya Nayra heran dan kaget. Dia menarik tangannya dari genggaman tangan Devan dan dilihatnya jari manisnya yang sudah kosong tanpa cincin pernikahan yang biasa dia pakai sejak Devan menyematkan di jari manisnya waktu nikah.


"Tapi kemarin masih ada kok, sayang." kata Nayra dengan mata berkaca-kaca menatap Devan.


Nayra ingat betul kalau kemarin sebelum dia keluar dari gudang yang ada dibawah tanah itu dia masih memakai cincin pernikahan.


Devan lebih mendekat lagi pada istrinya dan dipeluknya Nayra dari samping.


"Sudah jangan sedih." Devan mengecup kepala Nayra yang tertutup hijab.


"Aku nggak mau kamu sedih dan nangis seperti ini hanya karena cincin hilang." diusapnya air matanya yang mengalir di pipi istrinya.


"Tapi itu cincin pernikahan kita, Devan." hik..hik..hik..Nayra kembali menangis lebih kencang lagi.


"Sayang, sudah jangan menangis lagi."


"Kasihan nanti dedek bayinya kalau kamu menangis terus." Devan mengelus perut buncit Nayra dengan lembut.


"Soal cincin yang hilang akan aku belikan nanti sekalian dengan toko atau perlu perusahaannya sekalian." ucap Devan dengan sombongnya.


Auwwhhh

__ADS_1


"Sakit sayang!!" keluh Devan saat Nayra mencubit perutnya. Dia melepaskan pelukannya pada Nyara.


"Kamu ini kebiasaan banget sih cubit-cubit perut aku." sungut Devan yang duduk menjauh dari istrinya.


Nayra hanya menatap Devan dalam diamnya. Dia tidak mempedulikan keluhan Devan. Dia masih merasa sedih karena cincin pernikahannya hilang. Dimana hilangnya??


Devan kembali mendekat ke Nayra saat dirasa istrinya itu masih merasa sedih. Devan merogoh saku celananya dan mengambil sesuatu di dalam sana.


"Sini tangan kamu!" Devan meminta tangan kanan Nayra.


"Ayo cepat sayang." geram Devan saat melihat istrinya yang tak kunjung menjulurkan tangannya.


"Mau kamu apakan tangan ku?" tanya Nayra yang ketakutan.


"Nggak akan kamu potong kan?" sambung Nayra.


Devan tertawa terbahak-bahak mendengar pertanyaan yang keluar dari mulut istrinya. Apalagi di tambah ekspresi Nayra yang menunjukkan ketakutan. Istrinya itu memang terlalu polos. Devan dibuat gemas olehnya.


Devan sontak menghentikan tawanya saat mendapat cubitan untuk kedua kalinya di perut dengan pelaku yang sama.


"Hobi banget sih kamu mencubit perut aku, sayang." keluh Devan.


"Aku minta maaf." ucap Devan saat melihat istrinya merajuk karena dirinya.


Diambilnya pelan tangan kanan Nayra. Dan disematkan nya cincin pernikahan yang katanya hilang tadi di jari manis Nayra.


Devan tersenyum melihat keterkejutan Nayra.


"Sayang...Ini..." Nayra yang tak percaya meminta menjelasan pada Devan.


"Cincin kamu tadi yang bawa Aska." ucap Devan.


"Kok sama Kak Faiz?" tanya Nayra penasaran.


"Aska tadi mendapatkannya saat dia membayar administrasi kamu waktu di klinik." jawab Devan.


"Cincin kamu dijadikan jaminan oleh Maya selama kamu di tangani dokter kemarin." sambung Devan menatap lekat Nayra.


"Kak Maya?" tanya Nayra pelan.


Devan mengangguk pelan. "Apa Maya yang membawamu pergi ke Klinik?" tanya Devan.


Nayra mengangguk, "Iya...Kak Maya yang menyelamatkan ku waktu disekap kak Ilyas di gudang bawah tanah." jelas Nayra yang mengingat jelas bagaimana Maya berusaha membuka satu-satu nya pintu keluar yang telah di kunci dari luar oleh Ilyas. Dengan berbagai cara akhirnya pintu itu terbuka meski harus melukai tangan Maya.


"Kak Maya juga yang membawa ku keluar dari villa itu hingga aku tidak ingat lagi karena pingsan." sambung Nayra yang sedih mengingat kejadian kemarin.

__ADS_1


"Kak Maya sekarang dimana, Dev?" tanya Nayra yang khawatir akan keselamatan Maya. Dia takut kalau Maya ketangkap lagi oleh Ilyas atau mungkin ketangkap polisi lagi.


"Aku nggak tahu. Tapi sekarang Aska dan anggota timnya sedang mencari keberadaannya." jawab Devan berusaha menenangkan kekhawatiran istrinya terhadap Maya.


Awalnya Devan tidak percaya saat Faiz memberi tahu kalau Maya lah yang membawa Nayra ke Klinik dan juga yang mengambil cincin Nayra untuk dijadikan jaminan administrasi.


Namun setelah mendengar cerita Nayra dia baru yakin kalau Maya benar menolong istrinya. Dan dia harus berterima kasih untuk itu selepas masalah mereka di masa lalu.


"Aku ingin ketemu Kak Maya dan mengucapkan terima kasih pada nya." ujar Nayra dengan tulus.


"Iya, nanti kalau kamu sudah sembuh dan Maya sudah di temukan, kita temui dia untuk mengucapkan terima kasih karena telah menolong istriku dan juga calon anak ku." timpal Devan dengan serius, dia juga ingin berterima kasih pada Maya yang telah menolong istrinya.


"Terima kasih, Devan sayang." Nayra tersenyum dan memberikan dua finger heart pada suaminya itu.


Devan yang melihat itu hanya tersenyum tipis tanpa menatap istrinya. Jujur saja dia malu kalau Nayra melakukan itu. Seperti anak remaja yang sedang jatuh cinta saja, pikirnya.


Tok..tok..tok...


Devan berjalan mendekati pintu dan dibukanya pintu itu.


"Papa" teriak Kenan juga Kiara bersamaan.


"Assalamualaikum anak Papa." sapa Devan lembut pada kedua anak kembarnya.


"Walaikumsalam Papa." balas keduanya dan langsung menerobos masuk kedalam.


"Mama.." teriak keduanya saat melihat Mama Nayra tiduran di brankar.


Setelah menyalami Mama Arumi dan kedua mertuanya, Devan mempersilahkan mereka masuk.


"Sayang, kalau mau menjenguk Mama nggak boleh berteriak." tegur Devan saat mendengar suara teriakan untuk kedua kalinya dari orang yang sama.


Keduanya mengangguk patuh.


"Bagaimana keadaan kamu, putri Papa?" tanya Papa Rasyid yang duduk ditepi brankar sambil memeluk Nayra dengan hangat.


"Alhamdulillah Nayra baik, Pa." jawab Nayra tanpa meninggalkan senyum.


"Opa.!!!!! Opa minggil deh..Kia mau peluk Mama Kia dulu." usir Kiara pada Papa Rasyid.


"Kalau mau peluk, itu peluk Oma." sambung Kenan menunjuk Mami Mira.


Keduanya naik ke brankar Mama mereka dan memeluk Mama Nayra yang sudah seminggu tidak mereka lihat. Tanpa mempedulikan yanga ada disana termasuk Papanya sendiri tidak dia hiraukan lagi setelah memeluk Mama Nayra.


"Ken kangen sama Mama." ucap Kenan pelan.

__ADS_1


"Kia juga.."sambung Kiara.


"Mama juga kangen sama kalian sayang." Nayra mencium kepala anaknya bergantian. Sudah seminggu dia tidak menemani si kembar belajar dan bermain. Sungguh Nayra merindukan moment itu.


__ADS_2