Rahim Pengganti

Rahim Pengganti
Agen rahasia cilik


__ADS_3

Sebuah mobil berhenti di sebuah rumah, lebih tepatnya di sebuah villa yang berada di ujung jalan.


"Selamat pagi bos." sapa para pengawal yang memakai pakaian serba hitam.


Tanpa menjawab, pria dewasa yang masih terlihat muda itu masuk ke dalam villa di ikuti para pengawalnya.


"Kiara, ayo turun. Kita sudah aman." kata Kenan setelah mengintip sudah tidak ada orang lagi di sekitar mobil.


Mereka berdua keluar dari mobil dengan pelan supaya tidak menimbulkan suara.


"Ini lumah siapa Ken?" tanya Kiara yang merasa asing dengan tempat yang dia datangi.


"Aku nggak tahu." jawab Kenan menatap sekeliling tempat yang memang terasa asing bagi mereka.


"Sini cepat!" Kenan menarik Kiara sembunyi di balik pohon saat melihat ada seseorang yang keluar dari dalam rumah.


"Pulang yuk Ken!! Aku takut." rengek Kiara pada kembarannya itu. Awalnya di tidak mau ikut misi ini tapi akhirnya dia ikut juga karena mengingat Papa dan Mamanya juga adik yang masih di perut Mama Nayra.


Flashback On


Kenan yang kehausan dan tidak mendapati air minum di kamarnya bergegas keluar menuju dapur. Dia melangkah perlahan karena penerangan di dalam rumah tidak begitu jelas, hanya lampu di luar rumah yang menyala dan didalam rumah hanya lampu hias yang remang.


Setelah mengambil minum dan meminumnya Kenan kembali lagi ke kamar, namun langkahnya berhenti saat mendengar seseorang yang berbicara. Kenan melambatkan langkahnya sambil mencuri dengar orang yang berbicara itu.


"Tetap awasi meraka."


"Jangan biarkan Devan kabur apalagi sampai ketemu Nayra yang satu lokasi sama dia."


"Hmm...besok aku akan kesana."


"Aku akan memulainya setelah seminggu ini kita hanya diam saja."


"Aku sudah tidak sabar melihat kehancuran keluarga Arasyid juga Devan yang bo doh itu."


"Kenapa Paman menyebutkan Mama sama Papa?"


"Dan kenapa tidak boleh membiarkan Papa kabur?"


"Apa jangan-jangan...?" batin Kenan ketakutan kalau memang apa yang dipikirkan saat ini memang benar adanya.


"Kenapa Paman Ilyas jahat banget sama Mama juga Papa." ucap Kenan setelah melihat Ilyas pergi menuju ruang kerja Faiz.


Kenan langsung bergegas menuju kamar Kiara. Dia ingin memberikan informasi ini kepada saudara kembarnya biar Kiara cepat sembuh dan mau makan lagi biar sehat dan semangat tentunya untuk menjemput Mama dan Papa mereka.


"Kiara...Bangun Kiara.." Kenan menggoyang-goyangkan lengan Kiara kencang supaya saudara kembarnya itu cepat bangun dari tidurnya.


"Hmmppp" Kaira hanya menggeliat.


Kenan mendengkus kesal melihat Kiara yang memang susah sekali dibangunkan.


"Bangun Kiara...Mama sama Papa sudah ketemu." ujar Kenan dengan kesal mencubit lengan Kiara.


"Auchhhh!!!" jerit Kiara yang kaget.


"Sakit Kenan!!" keluh Kiara sambil mengusap lengannya.


"Mama sama Papa susah ketemu. Kita besok kesana untuk menjemput mereka." kata Kenan dengan semangat.

__ADS_1


"Mama Papa sudah ketemu!!! jadi kita besok kita pulang." seru Kiara heboh.


"Diam!!" geram Kenan yang melihat saudara kembarnya ini yang begitu heboh.


"Mama sama Papa belum ketemu, tapi mereka disembunyikan sama Paman Ilyas."


"Kok bisa?" tanya Kiara


"Aku gak tahu, kelihatannya Paman tidak menyukai Papa dan kita besok kesana mengikuti Paman Ilyas."


"Gak mau." tolak Kiara tegas.


"Kenapa gak minta tolong saja sama Paman Faiz apa yang lainnya? Kenapa harus kita?" tanya Kiara yang enggan mengikuti keinginan Kenan.


"Gak bisa, Ki."


"Paman Ilyas nanti bakal curiga kalau paman Faiz atau yang lainnya mengikuti mereka."


" Lebih baik kita saja, dia nanti tidak bakal melihat kita yang masih kecil ini."


"Tapi aku takut ken!!"


"Ada aku tenang saja."


"Ini makan dulu," Kenan memberikan Kiara makanan yang memang ada di dekat ranjang tempat tidur Kiara, "Kamu harus makan biar nanti Mama sama Papa tidak sedih melihat keadaanmu yang mengerikan seperti ini." ujar Kenan memandang Kiara dari ujung rambut sampai ujing kaki yang begitu kucel.


Kiara hanya mendengkus kesal mendengar apa yang keluar dari mulut Kenan. Dia melanjutkan makannya, karena dia juga lapar.


"Kamu disini saja, aku akan siapkan bekal buat kita makan besok selama mengikuti Paman Ilyas."


Kenan masuk ke kamar Kiara membawa beberapa bekal makanan dan minuman yang dia taruh didalam tas ransel.


"Lebih baik kita tidur dulu sebelum menjalankan misi penyelamatan Mama sama Papa." Kenan naik ke ranjang Kiara untuk tidur bersama kembarannya.


"Besok kita pagi-pagi sekali bangun dan bersiap untuk mengikuti mobil Paman Ilyas."


"Kita sembunyi di dalam mobil Paman Ilyas."


Kaira mengangguk dan kemudian mereka tidur untuk mempersiapkan energi buat besok pagi.


Flashback Off


"Kita sudah sampai disini Kiara." geram Kenan pada kembarannya yang manja ini.


"Sudah, ayo kita masuk kedalam." ajak Kenan.


Kenan berjalan duluan sambil melihat sekeliling diikuti Kiara yang memegang tas punggung Kenan. Dengan mengendap-ngendap mereka berhasil masuk ke dalam villa tersebut.


"Kok sepi ya Ken? Kemana mereka?" tanya Kiara yang tak melihat seorang pun di dalam villa.


"Ayo masuk lebih dalam lagi."


"Siapa tahu mereka disana."


Dan benar saja, Kenan mendengar suara orang berbicara.


"Banyak banget orangnya Ken." Kiara mengintip lewat balik kursi sofa.

__ADS_1


"Ayo kita naik keatas! Siapa tahu Mama sama Papa ada diatas."


Kiara mengikuti Kenan sambil melirik orang yang berbicara di sana, entah apa yang mereka bicarakan Kiara tidak paham.


"Kenapa berhenti?" geram Kiara saat Kenan tiba-tiba menghentikan langkahnya dan membuatnya harus mencium tas punggung Kenan yang bergambar BoBoiBoy.


"Sshhttt!!!" Kenan meminta Kiara untuk tidak berisik.Dia melihat Paman Ilyas dan beberapa orang juga sepasang pria dan wanita yang berpakaian tidak seperti pengawal.


"Kita sembunyi di balik sofa itu." bisik Kenan dan berjalan jongkok menuju sofa yang telah ditunjuknya sebagai tempat persembunyiannya. Kiara melakukan hal yang sama seperti Kenan.


Maya melihat kebelakang saat merasa ada yang lewat. Dia memicingkan matanya menatap sekeliling.


"Ada apa?" bisik Carol.


Maya menggelengkan kepala. Dia lebih baik diam daripada melawan bos besar mereka yang ternyata orang yang melumpuhkannya sebelum ditangkap polisi.


"Jadi dia benar-benar musuh didalam selimut." batin Maya.


"Ken..Kita seperti agen rahasia saja ya." hihihi..Kata Kiara dengan cengengesan.


"Agen rahasia cilik." sahut Kenan.


"Kamu tadi sudah kasih tahu paman Faiz dan yang lainnya?" tanya Kiara.


"Tenang saja. Aku sudah share lock ke mereka semua." jawab Kenan dengan tenang.


"Kau memang hebat Ken." Kiara mengacungkan dua jempolnya pada Kenan.


"Wah...wah...wah... Lihat siapa pagi-pagi yang sudah berduaan disini." ujar Ilyas setelah membuka kamar yang Nayra tempati dan mendapati Nayra sedang bersama Devan.


Nayra dan Devan sontak berdiri dari duduknya.


"Jadi dia maksud kamu Nayra?" tanya Devan menatap tajam pada Ilyas. Nayra mengangguk, dia ketakutan.


"Kenapa?" Ilyas berjalan mendekati Nayra juga Devan.


"Kamu gak percaya kalau aku pelakunya?" tanya Ilyas yang sudah berdiri tepat di depan Devan.


"Kenapa kamu melakukan ini pada saya juga Nayra?" tanya Devan balik dengan kesal. Karena dia tahu kalau Ilyas masih menyukai Nayra.


"Kamu mau tahu?" Ilyas menyeringai menatap Nayra.


Devan yang tahu akan tatapan Ilyas langsung menarik Nayra kebelakang tubuhnya.


"Kenapa? Kamu takut Nayra akan aku rampas darimu?" Ilyas mengelilingi Devan dan Nayra membuat Devan ikut berputar waspada kalau-kalau Ilyas akan menarik Nayra.


"Devan!!" pekik Nayra saat ditarik dari belakang oleh Carol.


"Nayra." Devan melihat istrinya yang sudah dalam tikaman Carol.


"Kamu mau istri dan calon anakmu ini selamat?" tanya Carol yang berdiri di samping Devan.


"Lepaskan dia." ucap Devan tegas menatap tajam pada Carol. Dia tidak percaya kalau Carol juga ikut dalam penculikan ini. Karena setahu dia Carol tidak pernah berbuat seperti ini apapun keadaannya.


"Kamu mau istrimu ini selamat?" tanya Ilyas berjalan mendekati Nayra yang terlihat sudah bercucuran air mata itu.


"Kalau iya...Lakukan sesuatu untukku."

__ADS_1


__ADS_2