
Pagi ini di kediaman Papa Damar dan Mama Arumi begitu ramai dengan suara anak kecil. Biasanya cuma ada Eza kini bertambah dua, Kenan dan Kiara. Kiara yang memiliki sifat centil namun sedikit bar-bar, atau lebih tepatnya sangat bar-bar menambah suasana pagi hari yang cerah semakin meriah dengan suaranya sedikit cempreng dan melengking tinggi hingga begitu memekik telinga saat mendengarnya berteriak.
"Kiara...Sudah mainnya, ayo mandi!!" entah sudah ke berapa kalinya Nayra meminta sang putri untuk menyudahi bermainnya.
Tadi Kiara bangun subuh langsung mengganggu Eza supaya ikut bangun juga untuk diajaknya bermain. Dan entah kenapa Eza yang biasanya kalau diganggu tidurnya akan merengek menangis namun ini tidak. Dengan semangatnya dia langsung bangun dan main bersama Kakak cantiknya, Kiara.
Kenan, jangan ditanya. Setelah bangun subuh tadi dia langsung duduk di depan Papa Devan untuk belajar surat-surat pendek dan menghafalnya. Papa Devan juga memberikan pemahaman akan makna dari surat yang di baca maupun di hafal Kenan.
Nayra bangga dengan putranya, Kenan. Berbeda dengan Kiara kalau di minta untuk belajar dan menghafal surat-surat pendek selalu saja ada alasannya.
Kiala kan sudah hafal Al-Fatihah sama tiga sulat Qul hu, Ma. Kiala juga sudah paham maknanya.
Nanti aja Ma kalau Kiala belumul lima tahun, Kiala janji akan belajal dan menghafal sulat lainnya.
Kiala kan lagi gak suci sepelti Mama, jadi Kiala gak pellu sholat sama baca sulat-sulat pendek.
Ya seperti itulah Kiara tiap kali diminta belajar mengaji. Namun anehnya dia bisa dengan mudah menghafal surat pendek dalam sekali baca.
Sebenarnya Kenan pun sama, cuma Papa Devan mengajarinya bagaimana cara membaca yang benar dengan menggunakan tajwid dan makhraj yang jelas dan benar.
"Kiara... Mama hitung sampai tiga, kalau gak cepat mandi Mama marah sama Kiara." ancam Nayra setelah melihat Kiara yang tak merespon perintahnya.
"Lima.." Kiara mengangkat sepuluh jarinya. "Ehh..Salah, Ma. Sepuluh menit lagi balu mandi." ralat Kiara cepat namun tak di pedulikan Mama Nayra.
"Satu...."
"Lima menit, Ma."
"Dua..."
"Ichhh, Mama gak ayik. Belaninya ngancam telus sama Kia." sungut Kiara kesal sama Mama Nayra yang selalu mengancam marah kalau dia tidak segera melaksanakan perintah Mama Nayra.
"Sa...."
"Iya iya ini Kiala juga mau mandi." sela Kiara dengan wajah cemberut, Kiara berjalan menuju kamar mandi.
"Miss Kimy....Mandiin Kiala cepat..." teriaknya dari dalam kamar mandi.
Nayra menggeleng kepala melihat tingkah putrinya. Dia berjalan mendekat ke kamar mandi. "Kia mandi sendiri ya. Miss Kimy kan gak ikut kesini."
Kiara mendengus kesal mendengar perkataan Mama Nayra. Diakan paling malas kalau mandi sendiri. Dia juga lupa kalau Miss Kimy gak ikut ke rumah Kakek Neneknya.
"Kiala mau nya di mandiin bukan mandi sendili." tolak Kiara dengan wajah cemberut dan kedua tangan di lipatnya didepan dada.
"Kia sudah besar, sudah sekolah juga. Ayo mandi sendiri." kata Nayra tegas membuat Kiara mau tak mau akhirnya mandi sendiri.
Semuanya kini sudah kumpul di meja makan. Si kecil Eza tak mau jauh dari Nayra, apalagi dia tadi mendengar kalau dia akan di ajak menemui Daddy nya bersama Mama Nayra juga Papa Devan. Dengan segera dia mengikuti kemanapun Mama Nayra gerak.
"Eza..Makan sama mbak nya yaa. Kasihan Mama Nayra juga mau makan." bujuk Mama Arumi pada Eza yang duduk di pangkuan Nayra.
__ADS_1
Eza menolaknya dengan gelengan kepala dan meminta Mama Nayra menyuapinya. Dia berfikir kalau nanti makan sama mbak pengasuhnya dia akan ditinggal sama Mama Nayra.
"Nggak apa, Ma. Nayra bisa kok makan sambil nyuapi Eza." ujar Nayra yang memang merasa tak keberatan maupun kesulitan jika harus makan sambil menyuapi Eza. Dia juga sudah terbiasa seperti itu dulu kalau Kiara maupun Kenan lagi merajuk dan kambuh manjanya.
Mama Arumi pun akhirnya membiarkan Nayra menyuapi Eza. Beliau duduk kembali ke tempat duduknya untuk melanjutkan sarapan paginya.
"Dev..Kamu gak salah pagi-pagi makan bubur ayam? Gak mual perut kamu?" tanya Mama Arumi yang baru sadar kalau Devan sarapan bubur ayam, pasalnya beliau ingat betul kalau anaknya itu paling gak bisa sarapan pakai bubur ayam. Perutnya pasti mual dan berakhir muntah dilanjut harus bolak balik ke kamar mandi karena diare.
Nayra langsung mengarahkan pandangannya ke Mama Arumi bergantian ke Devan. Tadi setelah selesai sholat subuh Devan ingin dibuatkan sarapan bubur ayam. Ya akhirnya Nayra buatkan. Dia gak tahu kalau ternyata suaminya itu gak bisa sarapan pakai bubur ayam. Tapi itu tadi yang minta Devan sendiri.
"Sayang gak usah dimakan. Nanti perut kamu sakit." cegah Nayra yang melihat Devan akan memasukkan suapan bubur ayam di sendoknya.
"Gak apa. Aku ingin sarapan bubur ayam. Kalaupun sakit kan ada kamu nanti yang akan merawat suamimu yang tampan ini." di tengah kekhawatiran Nayra terhadap dirinya, masih sempatnya Devan menggoda istrinya itu.
Nayra mendengus kesal mendengar godaan Devan yang menurutnya receh plus garing. "Males banget." gerutunya.
Kini si kembar sudah sampai sekolah. Mereka turun diikuti Nayra juga Devan yang menggendong Eza.
"Dek Eza gak mau ikut Kak Kia sekolah?" Kiara masih saja membujuk Eza supaya ikut ke sekolah atau lebih tepatnya menggoda Eza supaya nangis nantinya saat ditinggal Kenan dan Kiara masuk kelas.
Namun sayangnya, Eza lebih memilih ikut Mama Nayra. Gak mau ikut Kak Kia ataupun Kak Ken ke sekolah. Cukup mengantar saja.
"Disana banyak mainannya Dek Eza." Eza menggelengkan kepalanya menolak bujukan Kakak Kiara. Hari ini dia ingin ikut Mama Nayra juga Papa Devan yang akan menjenguk Daddy nya.
Kiara mendengus kesal karena tak berhasil membujuk Eza. Menyebalkan, geramnya kesal.
"Sudah, ayo cepat salim dulu. Itu gurunya sudah nunggu di depan gerbang." Nayra jongkok mensejajarkan tingginya dengan tinggi si kembar.
"Biar ilmunya berkah." Sela si kembar cepat sebelum Mama Nayra melanjutkan pesannya.
Kebiasaan, batin Nayra.
"Anak Mama yang soleh dan soleha. Anak pintar, anak baik." Nayra mencium kening Kiara dan Kenan bergantian dan tak lupa mengusap kepala mereka pelan.
Kiara dan Kenan mencium punggung tangan kanan Mama Nayra dan Papa Devan bergantian.
"Assalamualaikum Mama, Papa, Dek Eza. Dadah..." pamit Kiara dan Kenan berjalan menuju gerbang sekolah.
"Walaikumsalam"
...............
Devan dan Nayra sudah sampai di rumah sakit tempat perawatan Doni. Dan ternyata Doni sudah dipindah tempat yang sebelumnya di ICU kini di ruang perawatan biasa namun di kelas VIP.
"Dah bangun bro? Kirain mau lanjut tidur terus." cibir Devan sesaat setelah masuk ruang perawatan Doni.
"Sialan." umpat Doni kesal mendengar cibiran Devan.
Doni melihat seorang wanita yang menggendong anak kecil sedang berbincang dengan Dahlia di belakang Devan.
__ADS_1
"Siapa tuh..?" tunjuk Doni dengan dagunya mengarah pada belakang Devan.
Devan menolehkan kepala ke belakang dan kembali menghadap Devan. "Pawang." ucapnya singkat.
Doni mengerutkan dahinya. Pawang apa maksudnya? dia masih belum paham. Atau mungkin karena efek tidur yang lumayan panjang. Dua setengah tahun lebih.
"Sini Kak. Aku kenalin sama Daddy nya Eza." Dahlia menarik tangan Nayra yang Eza kini sudah beralih di gendongan sang Mommy.
"Kenalin sayang. Ini Kakak ipar aku. Pawangnya Kak Devan. Kak Nayra." Nayra menjulurkan tangannya di depan Doni.
Doni menatap Nayra tak berkedip. Dia tak tahu aja kalau yang sudah men-taken Nayra menatapnya tajam siap menerkamnya hidup-hidup.
Doni membalas uluran tangan Nayra dan menjabatnya tanpa mengalihkan pandangannya pada Nayra yang hanya menunduk itu.
Dengan menyeringai jahat Doni melirik Devan yang sudah siap untuk menerkam dan menghabisinya. "Pantas saja Devan seperti orang gila. Yang pergi aja cantiknya seperti ini, bening dan....."
"Lepaskan tangan kotormu itu dari istriku." Devan menarik paksa tangan Nayra yang berjabat tangan dengan Doni.
Doni tertawa sinis. "Bukan seperti Devan yang ku kenal. Benar-benar berubah."
Dahlia mengangguk membenarkan ucapan suaminya. "Kak Devan sudah bucin abis tu sama Kak Nayra."
"Kata Kak Romi, Kak Devan sudah tak begitu memaksakan diri dalam pekerjaan. Sekarang sering berada dirumah katanya." sambung Dahlia yang mendengar cerita dari Romi.
"Ya kalau gak seperti itu Devan akan di gantung sama si Aska." timpal Doni membuat Devan langsung melayangkan pukulan pelan di lengan sahabatnya itu.
"Dev.." Nayra menggelengkan kepala meminta Devan bersikap sopan.
Devan mendengus kesal pada Doni dan disambut tawa oleh sepasang suami istri tak ada akhlak itu. Doni dan Dahlia.
"Kenalin. Aku Doni. Suami Dahlia. Sahabat Devan. Adik ipar dari Devan." Doni memperkenalkan diri setelah suasana cukup mencair dan bersahabat.
"Dia Nayra, Istri sah dan istri satu-satunya Devandra Ayasi." sahut Devan cepat sebelum Nayra memperkenalkan diri.
Doni tertawa melihat tingkah aneh sahabatnya itu.
Eza juga sudah duduk di pangkuan Doni. Dia terlihat senang saat mendapati Daddy nya sudah bisa bangun dan diajaknya bercerita.
"Terima kasih ya kak, kemarin sudah mengingatkan Lia untuk bisa menerima keadaan juga menerima kehadiran Eza." ujar Dahlia tiba-tiba. Karena tanpa adanya nasihat yang Devan berikan kepadanya waktu itu mungkin Doni, suaminya belum sadar sampai sekarang.
Devan merangkul adiknya itu dan mengusap lengan Dahlia pelan. "Itulah gunanya saudara. Saling mengingatkan jika ada saudara yang lain berbuat salah atau di luar batas."
Dahlia mengangguk dua kali. Dia memeluk kakaknya itu dengan erat. "Kak Devan memang the best, tak ada duanya." kata Dahlia dengan tawa kecilnya.
Devan menyentil kening Dahlia pelan. Dia gemas di bilang tak ada duanya. Devan kan memang satu gak ada duanya.
"Kau ini.! ! Memang aku ini ada berapa kalau tak ada duanya?" tanya Devan gemas pada Dahlia.
"Mmmmm...." Dahlia berpura-pura sedang berfikir sebelum menjawab pertanyaan Devan.
__ADS_1
Brukkk
Semua orang menoleh pada sumber suara, melihat siapa yang jatuh.