Rahim Pengganti

Rahim Pengganti
Bab 8


__ADS_3

"dan kamu menerimanya?! " itu adalah suara aliye dari arah ruang tamu di apartemenku.



Aku mengangguk lesu. 'aku sendiri bahkan tidak sadar apa yang sudah aku lakukan'



Huh...



Aku mendesah lelah sembari merebahkan tubuhku ke sofa.



'uang? aku tidak yakin membutuhkan itu, dengan gajiku kerja, insya allah lebih untuk hidupku sendiri bahkan aku bisa membeli barang barang branded' huh...



Lagi lagi aku mendesah lelah...



"aku yakin lagi lagi kamu mengambil tindakan tanpa berpikir"



Aku menoleh melihat aliye dengan sikapku yang masih tenang. padahal hatiku sudah kaca balau.



"sudahlah, jangan memarahi aku lagi, semua sudah terjadi juga? "



Aku mendengar aliye mendesah lelah.



"ini belum terlambat ayla, ayo bangun kita temui istrinya dan batalkan semuanya ayo?! " ajak aliye sembari menarik tanganku supaya bangkit.



Aku bangun dari rebahanku namun tidak menuruti kemauan aliye. so...ini kemauanku.



"tidak aliye? ini bukan soal terlambat atau aku tidak berpikir, tapi aku harus...melakukan ini! aku sudah memutuskan, lagian...".



"diamlah ayla? cintamu benar benar sudah gila, kamu merusak masa depanmu sendiri? sekarang kamu bilang baik baik saja, lalu bagaimana nanti, aku sudah bilang tadi bukan? aku tidak mau melihatmu hancur ayla? anak itu urusan mereka, kamu tidak perlu ikut campur, mereka bisa menemukan wanita lain tapi tidak kamu, ayo?! " ajak aliye lagi.



Aku menarik nafas. "maaf aliye? aku tidak bisa, maaf".



Aliye mengeram marah. "bagaimana ini terjadi padamu? "



"aku yang putuskan"



"ayla? " pinta aliye memohon.



"percayalah, aku akan baik baik saja" aku menggenggam tangan aliye memberikannya ketenangan.



Aliye hanya bisa mendesah. "dasar"cibirnya.



Ayla terpaksa tertawa.



Setelah kejadian aku mendengarkan semuanya di atap rumah sakit. besoknya ceyda mengajak ketemuan hanya dia seorang diri tanpa kehadiran suaminya dr. deniz.



Aku menandatangani kontrak gila tersebut dengan uang yang sudah di sepakati juga. Ceyda bilang malam ini dia akan ajak aku untuk bertemu keluarga besarnya. tentu saja aku harus setuju.



Mengingat pertemuan keluarga entah kenapa membuat jantungku berdegup terus dan sepertinya aku akan gugup.



'haruskah aku bersikap seperti wanita jalang? '



Ayla menoleh melihat jam dinding di ruangan tersebut.



"kenapa? sudah mau pergi? "



Aku beralih melihat aliye. anak ini benar benar.



Aku bangkit duduk dari rebahanku. "aku shalat dulu setelah itu aku pergi, kamu kunci pintunya ya? "aku melangkah malas ke kamarku.



"mau aku temenin? " tawar aliye lembut.



Aku berhenti dan berbalik melihatnya. "takutnya kamu bisa memecahkan beberapa piring di sana". jawabku lalu segera masuk ke kamar tanpa mendengar ocehan aliye.



Aku tertawa dalam hati.



Pukul 8:00



Aku keluar dari kamar dengan busana ku yang lengkap dan juga riasan. Sekali lagi aku melihat diriku di cermin yang ada di ruang tamu.



"tidak perlu memastikan, kamu sudah cantik dari lahir! yang jadi pertanyaanku, kenapa kamu memakai pakaian begitu? seingatku, temanku ini tidak suka baju yang begitu"



Aku pura pura bingung melihat diriku. "entah? apa supaya membuat mereka suka padaku? dan nanti tidak di suruh cerai? ". ujarku bercanda.



"ayla? aku sedang tidak dalam mood bercanda".



"aku juga, pergi dulu ya"



"hati hati dan jaga dirimu baik baik terutama hatimu"



"aku baik baik saja". yakinku ke aliye.



Aliye mengangguk angguk mengerti. "iya, kamu selalu baik baik saja".



Setelah beberapa menit dalam perjalanan akhirnya aku sampai ke salah satu restoran elit yang berada di negeri tersebut dan aku dengar dari aliye restoran ini adalah milik dari kakak laki lakinya ceyda. iya sih, mereka keluarga terpandang di sini.



Aku memasuki pintu restoran dan menuju ke lantai 3, di mana keluarga besar ceyda dan deniz di sana.



Aku tidak di lantai 3 namun kehadiran ku di cegat dulu oleh pengawal yang menjaga di depan pintu ruangan VVIP tersebut.



"maaf nona? anda siapa? ". tanya 2 pengawal di sana.



"aku tamu ibu Ceyda, ayla". ujarku santai.



Salah satu dari 2 pengawal tersebut seperti sedang bicara dengan seseorang dam semenit setelahnya, mereka mengizikan ku masuk.



'aku rasa pertemuan ini sangat sangat di jaga, iya sih, jika orang luar tahu maka akan jadi berita utama besok pagi'


__ADS_1


kleck...



Pintu terbuka.



Aku menarik nafasku sebelum melangkah masuk.



"silakan nona dan maaf untuk tidak kenyamanan anda tadi".



Aku tersenyum. "it's okay, kalian menjalankan perintah". ujar ayla ramah di sertai senyumnya.


kleck...



Pintu di tutup.



Nafasku langsung berhenti saat melihat beberapa orang di sana. dan yang paling menarik perhatianku adalah seseorang di sana yang duduk dengan santai sembari kedua tangannya sedang mengotak atik hp. semakin membuatku terpesona karna baju dan celana yang dia pakai malam ini. baju kaos putih di padu jeans hitam, semakin membuatnya tambah cantik.



"kamu yang bernama ayla? ".



Suara dari banyak orang yang duduk di sana membuat ayla tersentak kaget.



'mereka tidak akan curiga bukan?'



"ayla...?"



"ya? " sahutku cepat saat ceyda memanggilku.


"sini..duduklah, kita makan malam dulu! kamu tentu belum makan bukan? ayo duduk" ceyda menguruhku duduk di kosong yang berada di sana tepatnya berada di depan seorang nenek nenek. aku rasa itu neneknya.



Aku mengangguk meng iyakan lalu melangkahkan kakiku ke sana.



'aku sudah mengambil keputusan dan aku tidak bisa mundur lagi, tidak, aku memang tidak mau mundur, ini kesempatanku untuk bisa bersamanya meski hanya sebentar atau...hanya beberapa sehari saja...aku tidak akan pernah menyesal, mengingat kalau aku akan hamil anaknya lalu melahirkan anaknya sungguh sudah membuatku senang dan bahagia, aku yakin...mereka akan menjaga anakku dengan sangat baik'



Diam diam ayla tersenyum dalam hati. membuang kesakitan hatinya saat melihat betapa mesra ceyda dan deniz yang duduk berdekatan.



Aku menarik nafasku membuang rasa sesak yang ada di dalam benakku.



"kita makan dulu, setelahnya kita baru bicarakan apa yang perlu".



Suara seorang pria paruh baya yang aku tidak tahu siapa beliau membuat acara makan malam di mulai.



'aku belum makan namun aku tidak berani makan lebih tepat aku grogi sendiri dengan dr. deniz, yang padahal dr. deniz tidak peduli bahkan tidak melihat aku'



Suara sendok yang beradu dengan piring memenuhi ruangan tersebut.



Aku yang tidak mau makan hanya mengambil teh dan sedikit buah buahan yang ada di sana.



"kamu tidak makan nak? ".



Aku melihat ke sumber suara yang ia tahu sedang bertanya padannya.



"aku sudah makan sebelum ke sini jadi cukup dengan ini, ibu silahkan lanjutkan, jangan pedulikan aku". jawab ayla di sertai senyum tipisnya.




Aku mengalihkan mataku melihat ke depan ke seorang wanita paruh baya yang berbicara denganku.



"terima kasih...". aku menggantung karna tidak tahu harus panggil apa.



"panggil saja nenek".



Aku tersentak dengan jawabannya. 'nenek?' aku tersenyum dalam hati. saat aku mengingat nenekku yang sudah tidak ada lagi.



"terima kasih nenek, silahkan lanjutkan, aku cukup dengan ini dan...aku tidak biasa makan di jam segini takut gemuk". jawabku berbohong nyatanya? bahkan sampai jam 10 malam aku masih tetap makan apapun itu.



Semua yang ada di sana serentak melihat ke arahku terkecuali satu orang dr. deniz. 'apa aku salah bicara? '



Semenit kemudian mereka kembali melanjutkan makan malamnya.



"mulai sekarang kamu tidak bisa lagi begitu, kesehatan mu sangat penting untuk pertumbuhan seorang bayi, terutama asupan".



Mataku sontak melebar dengan perkataan sang nenek sedangkan jantungku kembali berdegup di tambah tubuhku yang gugup.



'oh ayla? ini kemauanmu sendiri'. batinku berteriak.



Setelah acara makan malam selesai. Semua kami pindah duduk di sofa yang ada di ruangan tersebut.



"jadi nak ayla...".



"nenek bisa panggil ayla saja" ayla memotong lembut lalu ia tersenyum tipis.



"ayla? "



"ya! " sahut ayla cepat. sontak saja membuat nenek tersebut tertawa.



"kamu ternyata lucu juga ya ayla? " ujar nenek setelah berhenti tertawa.



Aku hanya menyungging senyum tipis sesekali aku melirik ke arah dr. deniz yang sepertinya sama sekali tidak tertarik untuk hadir di pertemuan ini. lihat saja raut wajahnya datar, dingin dan...dia kesal bercampur marah. mungkin ke sini dia di paksa.



Hatiku lagi lagi tersenyum. Aku baru kenal dia tapi aku sudah bisa menebak semua bahasa tubuhnya.



"kamu tahukan? sekali kamu melangkah kamu tidak bisa mundur lagi dan kamu juga tahu konsekuensinya" ujar khaled membuka suara dan langsung pada intinya.



Aku mengangguk. "ya aku tahu"



"semua sudah selesai, termasuk kamu sudah menandatangani kontraknya dan kami juga setuju dengan syaratmu" ujar khaled lagi.



Aku lagi lagi mengangguk. "terima kasih".



"dan...maaf jika membuatmu tersinggung tapi kami harus melakukan pemeriksaan kesehatan padamu dulu sebelum semua proses di mulai"

__ADS_1



Ayla mengerjap. 'ah...mereka pikir dirinya benar benar wanita jalang'



"tidak masalah, itu hak anda! anda tahu yang terbaik untuk keturunan anda". jawabku sopan sembari melihat pria paruh baya tersebut. tapi ngomong ngomong mereka tidak memperkenalkan dirinya dulu satu persatu padaku. apa tidak penting.



"baiklah, aku rasa hanya ini saja dan tidak ada yang lain, tanggal dan waktunya kami akan kabarkan lagi nanti dan untuk pemeriksaan bisakah di lakukan besok? "



Ayla terlihat berpikir sebentar sebelum menjawab. "jika siang siang insya allah bisa tapi jika pagi...maaf! saya tidak bisa"



Khaled menarik nafas dan terlihat berpikir sebentar.



"baiklah, siang siang kamu kerumah sakit xx akan ada seseorang di sana yang akan menuntunmu"



Aku mengangguk mengerti.



"dan untuk satu minggu ke depan, aku rasa ceyda sudah bilang, kamu harus ambil cuti dari pekerjaanmu"



Aku mengangguk lagi. karna itu juga seminggu ini aku terus lembur.



"dan ini hanya kamu saja yang tahu, kamu mengerti maksudku bukan? "



Aku lagi lagi mengangguk. "saya mengerti, bapak tenang saja".



Khaled mengangguk anggukan kepalanya.



Saudah yang dari tadi terus melihat ayla dan kagum dengan kecantikan ayla bahkan tubuhnya...sangat seksi. ia yakin banyak lelaki menyukainya namun ia sedikit sayang saat ingat yang di beritahu deniz dan cucu menantunya kalau wanita ini sepertinya wanita simpanan.



"maaf nak ayla? bolehkah nenek bertanya sesuatu?".



Ayla mengalihkan matanya melihat saudah.



"silahkan nenek bertanya semau nenek" jawab ayla di sertai senyumnya.



"di mana kamu kerja? ".



Ayla mengerjap. 'bisakah aku memberitahu mereka? bukankah cepat atau lambat mereka juga akan tahu? '.



"jika kamu keberatan menjawabnya tidak perlu menjawab, nenek bertanya, karna syarat yang ayla ajukan adalah ayla tetap di izinkan kerja meski sudah menikah dan hamil tidak ada larangan, karna itu nenek bertanya! nenek minta maaf jika membuatmu kesusahan"



Ayla sontak mengangkat kepalanya melihat sang nenek.



"sama sekali tidak kesusahan nenek? ayla bekerja di perusahaan xx".



Jawabanku sontak membuat mereka semua terkejut termasuk dr. deniz. iya sih, perusahaan xx adalah salah satu perusahaan besar yang ada di negeri ini, yang bisa masuk ke sana saja harus lulusan terbaik dan untuk masuk saja sulit.



"di perusahaan xx?". nenek meyakinkan pendengarannya kalau ia tidak salah dengar.



"iya"jawab ayla di sertai senyum tipisnya.



"kamu bekerja di bagian apa, maksud nenek posisi ayla di sana"



"euhmm...itu..."bukankah alangkah lebih baik untuk tidak mengenal lebih dalam? hubungan ini hanya sebentar.



"untuk itu saya minta maaf tidak bisa menjawab, dan...". aku menghentikan ucapanku lalu bangkit berdiri.



"jika tidak ada yang perlu di bicarakan lagi, bisakah aku pamit duluan? "



Semua mata di sana melihat ke arahku namun aku tidak peduli. mungkin bagi mereka aku tidak sopan. lagian aku yakin mereka akan mencari tahu tentangku, apalagi direktur perusahaan tersebut adalah...teman dari dr. deniz. sangat mudah bagi mereka.



"ya silahkan, terima kasih untuk waktunya" salah satu pria di sana yang sedikit berumur menjawab.



Aku tersenyum lalu pamit pergi ke semua di sana termasuk ceyda.



Setelah kepergian ayla semua yang ada diruangan tadi berbincang bincang membicarakan ayla.



"deniz? coba kamu hubungi altan dan tanya ke dia apa ada karyawan perusahaannya yang bernama ayla? ayla apa namanya?! ". tanya saudah ke ceyda.



"ayla beyza" jawab ceyda lembut.



"ayla beyza?....nama yang cantik...secantik orangnya tapi...mama seperti pernah dengar nama tersebut, tapi di mana ya? "ujar selma lalu menoleh menatap suaminya yang sontak mengedikkan bahunya.



"ayla beyza...". saudah nenek deniz langsung teringat saat melihat wajah cantik ayla, senyumnya, bulu matanya yang lentik di tambah indahnya manik matanya yang berwarna biru laut.



Saudah tersenyum bahagia saat teringat cicitnya yang akan lahir dari rahim wanita secantik itu. ia berharap warna manik mata cicitnya akan menurun dari ibunya. Perpaduan antara ayla dan deniz...



Saudah sentak melihat cucunya deniz lalu ia menyunggingkan senyum tipis.



'cantik dan tampan! bukankah perpaduan yang sangat sempurna? '. batin saudah yang sudah tidak sabaran lagi untuk menimbang cicit.



















__ADS_1



__ADS_2