Rahim Pengganti

Rahim Pengganti
Bajunya murah, diskon lagi


__ADS_3

Hari yang dinanti si kembar dalam beberapa hari terakhir ini akhirnya tiba juga. Besok adalah hari ulang tahun mereka yang ke 5th. Rencananya besok akan digelar pesta perayaan ulang tahun si kembar bertemakan party garden. Gak banyak yang diundang. Hanya keluarga dan sahabat saja, juga teman sekelasnya si kembar.


Dan untuk malam harinya digelar pengajian empat bulanan untuk adik si kembar yang masih berada di dalam perut Mama Nayra.


"Kok bajunya pakai baju plinces Ma."


"Kiala kan pengennya pakai baju yang bisa kembalan sama Kenan." protes Kiara saat Nayra baru saja menerima pesanan gaun untuk dipakai Kiara di pesta ulang tahun besok.


"Bukannya Kia kemarin minta dibuatkan baju princess?" karena Nayra ingat waktu dia ke butik langganan Mama Arumi bersama Kiara, putrinya itu merengek minta dibuatkan baju princess Jasmin untuk ulang tahun. Pikir Nayra bajunya itu akan dia pakai saat acara ulang tahun nanti.


"Kiala memang minta dibuatkan baju plinces, Mama."


"Tapi gak dipakai buat besok, Mama."


"Kiala gak mau." Wajah Kiara berubah cemberut. Dia duduk di sofa dengan kaki bersila dan kedua tangan dilipat di depan dada. Melirik tajam pada gaun yang ada di atas meja juga Mama Nayra yang masih berdiri di dekat meja.


Nayra menggeleng kepala melihat putrinya yang sudah merajuk. Dia akhirnya pergi sambil membawa gaun tadi menuju kamarnya juga sekalian mencari Kenan.


Dilihatnya Kenan sama Devan sedang bermain PS di lantai dua. Nayra berjalan mendekat ke mereka dan duduk di sebelah Kenan.


"Seru banget mainnya."


"Sampai Mama duduk disini dari tadi dicuekin terus." Nayra pura-pura merajuk pada dua lelaki berbeda generasi yang sedari tadi asyik main PS.


"Mama kan belum ada semenit duduk disitu." kata Kenan cuek dan masih asik bermain dengan Papa Devan.


Devan hanya menahan tawanya saat mendengar perkataan Kenan. Dia melirik Nayra yang mukanya berubah masam itu.


"Kamu kenapa sayang?" tanya Devan yang kembali fokus dengan PS nya.


"Kiara gak mau pakai gaun princess nya. Dia maunya kembaran sama Kenan."


"Dia dibawah merajuk." jawab Nayra dengan tak semangat.


"Kita memang sudah janjian, Ma." sahut Kenan di sontak berdiri saat posisi pemainnya dalam bahaya.


"Papa gimana sih... Kalah kan jadinya.." seru Kenan yang tak terima kalah dalam main PS.


"Ya mana Papa tahu."


"Papa kan cuma nyerang lawan." kata Devan merasa tak bersalah sedikit pun.


"Papa gak asyik."

__ADS_1


"Papa gak mau ngalah sama anaknya sendiri." Kenan langsung beranjak pergi dengan menghentakkan kakinya dan sesekali melirik Papa Devan tajam dengan muka cemberut.


"Dua-duanya merajuk." gumam Nayra menatap kepergian putranya.


"Sudah biarkan saja. Nanti juga ceria kembali." hibur Devan pada istrinya dan dibawanya kedalam rengkuhannya.


Dan benar saja, belum juga lima belas menit Kenan dan Kiara berjalan kearah Mama, Papanya yang sedang duduk berduaan di sofa.


"Mama."


"Papa."


Panggil Kiara dan Kenan bersamaan.


"Kami minta maaf." Kenan dan Kiara berdiri menunduk sambil menautkan kedua tangan mereka.


"Sini!! Duduk dekat Papa sama Mama." Devan menepuk tempat di sebelahnya yang masih kosong.


Kenan duduk di sebelah Papa Devan dan Kiara duduk dipangkuan Papa Devan menghadap ke Mama Nayra. Sedangkan Mama Nayra bersandar di bahu Papa Devan.


"Kenapa kalian minta maaf?" tanya Devan pada kedua anaknya.


"Kenan tadi marah karena kalah main sama Papa." jawab Kenan menunduk.


Nayra mengangkat sebelah tangannya untuk mengelus kepala putrinya itu.


"Gak apa sayang. Mama sudah memaafkan anak Mama yang cantik ini."


"Papa juga gak marah." timpal Devan


"Tapi Kenan, dalam bermain ataupun kompetisi juga dalam hidup itu menang kalah hal yang wajar."


"Jadi jangan langsung marah kalau kita kalah."


"Jadikan kekalahan kita sebagai pembelajaran untuk kedepannya supaya kita bisa jauh lebih baik lagi dan menang." Devan memberi nasehat pada Kenan yang seperti di mengerti sama putranya itu.


"Jadi seperti saat kita belajar naik sepeda sampai akhirnya kita benar-benar bisa naik sepeda. Begitu kan maksudnya, Pa?" Devan dan Nayra tersenyum bangga pada putra nya itu. Dia begitu mudah mengerti jika dikasih nasehat.


"Iya sayang. Kamu benar."


"Papa bangga sama kamu." Devan mengusap pelan kepala Kenan.


"Mama." Nayra menatap Kiara yang tengah memanggilnya.

__ADS_1


"Kenapa sayang?" Nayra memegang tangan Kiara dan digenggamnya.


"Kiala sama Kenan mau pakai baju walna putih saja buat besok." kata Kiara


"Iya, Ma. Yang kemarin beli di sea world itu loh, Mah."


"Kan belum pernah dipakai." Kenan menyahuti perkataan Kiara.


"Yakin kalian mau pakai baju itu?" tanya Devan tak yakin. Karena menurutnya harganya terlalu murah. Apalagi kemarin Nayra belinya pas ada diskon.


"Kenapa?" tanya Nayra dan si kembar yang heran dengan reaksi yang diberikan oleh Papa devan.


"Itu bajunya murah. Diskon lagi."


"Apa kalian nyaman nanti kalau pakai baju itu?" tanya Devan yang meragukan akan kwalitas dan kenyamanan baju yang dijual murah dan diskon itu.


"Sayang..Apa kamu gak sadar kaos yang kamu pakai itu kemarin juga belinya disana. Dan kemarin waktu aku bayar ternyata diskonnya 50%."


"Nyaman nggak dipakai." Nayra geram akan sikap suaminya itu. Memangnya kenapa kalau murah? Memangnya harga murah tidak bisa memberikan kenyamanan apa? Nayra sendiri juga sering beli dengan harga murah meski uang yang di kasih Papa Rasyid ataupun Opa Sahid melebihi apa yang dimintanya.


Devan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal sambil cengengesan gak jelas. Dia lupa kalau dia sendiri juga kemarin beli baju di sea world dengan harga murah. Dan menurutnya nyaman saja dipakai saat udara panas.


"Kenapa?" Nayra mengangkat sebelah alisnya saat melihat suaminya itu cengengesan gak jelas. Sumpah seperti orang bo doh dan bisa-bisanya Nayra jatuh cinta sama orang seperti itu.


"Nyamankan Pa kaosnya?" tanya Kenan sambil menarik-narik kaos yang dipakai Devan.


"Iya sayang, nyaman." jawab Devan apa adanya. Karena dia sendiri juga merasa nyaman pakai kaos yang harganya murah itu.


"Belalti kita bolehkan Pah pakai baju itu?" tanya Kiara menatap Papa Devan penuh harap. Dia berharap Papa Devan mengiyakannya.


"Iya. Kiara sama Kenan boleh pakai baju itu." Devan akhirnya membiarkan Kenan dan Kiara memakainya. Yang penting anak senang dan nyaman dia juga akan aman. Aman dari amukan istri maksudnya.


"Makasih Papa." Kenan dan Kiara memeluk Papa Devan.


"Kasihan banget Mama sama dedek bayinya gak ada yang meluk."


"Gak ada yang sayang sama kita ya dek." Nayra pura-pura bersedih membuat Kiara dan Kenan langsung beralih mendekat ke Mama Nayra dan memeluk Mamanya dan memberikan ciuman di kedua pipi Mama Nayra.


"Kami sayang Mama juga dedek bayi."


"Papa boleh kan ikut?"


"Nggak boleh."

__ADS_1


__ADS_2