Rahim Pengganti

Rahim Pengganti
Hanya takdir Allah


__ADS_3

Sudah dua hari Nayra pulang dari rumah sakit setelah dia berdrest di sana selama lima hari. Dan setelah lima hari alhamdulillah pendarahan/flek sudah tidak ada lagi dan juga janin di dalam kandungannya sehat, tidak kekurangan apapun.


Dia saat ini di rumah ditemani Mama Arumi juga Mami Mira. Kedua Nenek itu tidak bisa jauh dari Nayra paska Nayra diculik. Sejak masih di rumah sakit pun kedua Nenek itu tidak mau pulang, bahkan mereka rela tidur di rumah sakit hanya untuk menemani anak dan menantunya. Walau sudah ada Devan, kedua Nenek itu tidak percaya dengan suami Nayra yang menjaga Nayra dengan baik. Menurut mereka Devan itu bisanya hanya membuat Nayra kesakitan daripada menjaga Nayra.


Bagaimana tidak percaya, Mama Arumi sempat memergoki Devan dan Nayra yang sedang melakukan hal yang tidak senonoh di rumah sakit, padahal kondisi Nayra saat itu tidak boleh melakukan olahraga fisik.


"Astagfirullahalazim Devan!!! Apa yang kamu lakukan?" pekik Mama Arumi yang refleks menutup mata kedua cucunya yang memang ikut ke rumah sakit.


Devan yang asik menyesap salah satu squishy Nayra dan tangan satunya bermain dengan squishy Nayra yang lain sontak menghentikan aktifitasnya. Dia segera bangun dan membantu Nayra untuk mengancingkan bajunya dan menarik selimut untuk menutupi sebagian tubuh Nayra.


"Mama sudah dari tadi?" tanya Devan yang cengar-cengir sendiri karena malu aksinya dilihat Mamanya sendiri, bahkan kedua anak kembarnya juga.


Mama Arumi mendengkus kesal, "Kamu itu ya..Sudah tahu istrinya tidak boleh dipakai tetap saja maksa. Bagaimana kalau terjadi apa-apa sama menantu dan cucu Mama." sungut Mama Arumi memarahi Devan.


"Kancing itu kemeja kamu." sambung Mama Arumi yang melihat kancing kemeja Devan terbuka semua bahkan ada tanda merah didadanya. Gak anak gak menantu sama saja. Ganas dan liar.


"Kan cuma yang atas saja Ma, nggak sampai bawah." kilah Devan sambil mengancingkan kemejanya.


"Itu Devan lakukan karena Nayra sendiri yang minta."


"Kangen katanya."


"Ya sudah, mumpung ada kesempatan mana mungkin Devan menolaknya." ucap Devan tanpa beban juga tanpa merasa malu sedikitpun.


Nayra yang mendengar ucapan suaminya langsung menarik selimut untuk menutupi wajahnya. Bisa-bisanya suaminya itu bilang kalau dia yang meminta. Tadi kan dia cuma bilang kalau dedek bayi kangen sama Papanya. Dan Devan sendiri yang berinisiatif melakukan itu di rumah sakit berhubung Mama tidak ada katanya.


Mama Arumi menggelengkan kepalanya mendengar ucapan anaknya. Sejak kapan anaknya ini berubah menjadi mesum seperti itu. Dulu saat sama Maya, Mama Arumi tidak pernah melihat Devan semesum itu jika di luar. Tapi sekarang, dimanapun ada kesempatan Devan langsung saja menyosor Nayra. Dan ini bukan untuk pertama kali Mama Arumi melihat kelakuan Devan dan Nayra. Sudah berkali-kali dan Mama Arumi masih mendiamkannya karena masih di batas wajar. Kalau yang ini dia tidak bisa tinggal diam, karena sekarang kondisi menantunya sedang tidak mungkin untuk bisa dipakai.


"Memang Papa sama Mama tadi ngapain sih Nek?" tanya Kiara yang sudah ingin bertanya dari tadi tapi dia tahan karena melihat Neneknya yang sepertinya begitu marah sama Papa Devan.


"Bukannya Papa sama Mama tadi hanya berpelukan saja Nek. Kenapa harus dimarahi." sambung Kenan menatap Neneknya.


Mama Arumi mengambil nafas dalam mendengar pertanyaan keluar dari mulut kedua cucu kembarnya. Gak mungkin kan dia harus bilang kalau Papa mereka lagi ne nen sama Mama. Bisa-bisa rusak nanti otak cucu kembarnya.


"Mama...Mami tadi kemana?" tanya Nayra yang tidak melihat Mami Mira.


"Ngapain kamu kesini, sayang." seru Mama Arumi yang melihat Nayra mendatanginya ke daput.


"Sudah sana kamu tunggu sambil nonton drama china kesukaan kamu." usir Mama Arumi pada menantunya. Dia tahu Nayra hanya alasan saja mencari Maminya hanya untuk bisa ke dapur dan membantu memasak untuk makan siang.


"Tapi, Ma...."


"Tadi kamu mencari Mami kamu kan?"


"Mami kamu ada di depan menemui Faiz."

__ADS_1


"Sudah sana susul mereka." Mama Arumi mendorong pelan Nayra untuk keluar dari dapur.


Nayra mendengkus kesal, mertuanya itu over protektif nya melebihi suaminya, Devan dan juga kedua anak kembarnya.


"Kamu mau kemana,Ra?" tanya Faiz yang melihat Nayra ada di pintu depan rumah.


"Mau ketemui Kak Faiz." jawab Nayra menatap Faiz dan Mami Mira bergantian.


"Sudah ayo masuk. Kakak juga mau masuk." Faiz menggandeng tangan Nayra untuk masuk ke dalam rumah.


"Ngapain kamu gandeng-gandeng tangan istri aku." sentak Devan saat melihat Faiz menggandeng tangan Nayra. Memang mu nyeberang apa, batin Devan. Dia segera melepaskan genggaman tangan Faiz pada istrinya.


Faiz sama Mami Mira geleng kepala melihat sikap posesif Devan pada Nayra. Berbeda dengan Nayra yang diam saja, karena sudah paham akan sikap suaminya.


"Kamu pulang sendiri?" tanya Nayra yang baru sadar kalau Devan pulang sendirian.


"Anak-anak mana?" sambung Nayra yang tidak melihat si kembar.


"Mereka ikut Romi sama Linda ke mall." jawab Devan.


"Apa kamu mau ketemu Ilyas, Ra?" tanya Faiz setelah mereka duduk di ruang keluarga, sedangkan Mami Mira kembali ke dapur.


Devan sontak menatap Nayra dengan tatapan setajam elang. Awas saja kalau istrinya ini sampai mau ketemu sama Ilyas. Akan dia habisi Ilyas saat ini juga.


Nayra yang di tanya seperti itu terlihat bingung, apalagi tatapan suaminya itu sangatlah menakutkan. Dia tahu kalau Devan masih kesal dan marah sama Ilyas juga Devan masih cemburu kalau berkaitan dengan Ilyas. Tapi saat ini sebenarnya Nayra ingin bertemu Ilyas hanya untuk memberinya pengertian kalau mereka tidak bisa bersama dan juga dia dari dulu tidak pernah menganggap Ilyas lebih dari sekedar kakak saja, tidak ada perasaan lebih.


"Dia besok akan di pindahkan ke Dubai sesuai permintaannya." sambung Faiz yang tak kunjung mendapat jawaban dari Nayra. Dia tahu kalau Nayra pasti takut sama Devan kalau ingin ketemu Ilyas.


"Apa gak ada yang ingin kamu sampaikan kepada dia?" tanya Faiz lagi menatap Nayra yang terlihat bingung itu.


"Nayra tidak akan pergi kemana-mana." kata Devan tegas menatap tajam Faiz.


Faiz tersenyum sinis mendengar perkataan Devan. Masih saja cemburu, batin Faiz.


"Maya juga ada di sana. Bukannya kamu ingin menemui Maya?" tanya Faiz kembali tanpa mempedulikan Devan yang menatap tajam dirinya.


Karena selama hampir seminggu dia mencari Maya akhirnya ketemu juga saat dia datang untuk menjenguk Ilyas.


Nayra memegang tangan Devan dengan lembut, "Dev..." panggilnya lirih.


"Boleh yaa?" pinta Nayra menatap Devan penuh harap.


Devan hanya melirik Nayra saja tanpa mengucapkan apapun.


"Biarkan Nayra menemui Ilyas juga Maya."

__ADS_1


"Papa tidak ingin kedepannya hal seperti kemarin terulang kembali." kata Papa Arsyid yang baru saja datang Papa Damar yang tidak sengaja mendengar pembicaraan anak dan menantunya.


Devan hanya diam saja saat mendengar perkataan Papa mertuanya itu. Sebenarnya dia membenarkan apa yang Papa mertuanya itu katakan, tapi rasa marah dan cemburunya yang dia miliki mengalahkan segalanya.


"Kalau Devan tidak mengizinkanmu pergi untuk menemui mereka,-" Papa Damar menatap Devan yang terlihat acuh tak peduli itu, "-berarti Devan juga harus siap pergi dari rumah ini tanpa membawa anak dan istrinya serta semua hartanya."


Devan sontak saja menatap tajam pada Papanya, "Apa maksud Papa?" sentak Devan yang terlihat marah itu.


"Aku gak akan pergi dari rumah ini dan meninggalkan Nayra juga anak-anak ku."


"Kalau Papa mau harta Devan, ambil saja."


"Devan tidak peduli." Devan lantas pergi menuju ruang kerjanya.


"Anak kamu kalau sudah cemburu sama marah tidak peduli sama sekitar, termasuk sama perasaan istrinya yang hamil." celetuk Papa Rasyid.


"Iya..sama seperti Papa mertuanya." timpal Papa Damar.


Mereka berdua terkekeh sendiri.


"Nayra permisi dulu." pamit Nayra pada kedua Papanya dan juga Faiz untuk menyusul Devan.


"Dev,..boleh aku masuk!" pinta Nayra dari balik pintu.


Devan hanya menatap pintu yang sedari tadi di ketuk sama Nayra.


"Sayang.."


Devan memejamkan matanya sebelum akhirnya membiarkan Nayra masuk ke ruang kerjanya.


"Kalau kamu kesini untuk meminta izin bertemu mereka, aku izinkan." kata Devan sebelum Nayra mengatakan sesuatu.


"Aku inginnya kesana sama kamu, kalau kamu memang benar mengizinkan aku untuk menemui mereka." ucap Nayra.


"Kalau tidak, berarti kamu tidak memberiku izin." sambung Nayra yang berdiri di samping meja kerja suaminya.


Devan menatap Nayra yang terlihat sedih itu.


"Sini.!!"


Nayra menyambut tangan Devan dan melangkah mendekati Devan. Dia duduk dipangkuan Devan sesuai keinginan suaminya.


"Aku hanya tidak mau kehilangan kamu untuk kedua kalinya." ucap Devan pelan sambil memeluk istrinya erat, dia takut kalau pertemuan Nayra dengan Maya ataupun Ilyas akan membawa mereka ke perpisahan seperti sebelumnya.


"Tidak akan, kita akan selalu bersama. Hanya takdir Allah yang akan memisahkan kita, yaitu kematian."

__ADS_1


__ADS_2