Rahim Pengganti

Rahim Pengganti
Dikerjai anaknya Devan


__ADS_3

Empat bulan telah berlalu setelah masalah dengan Ilyas dan Maya juga Carol selesai. Ilyas dipindahkan di lapas di mana dia berasal, yaitu Dubai. Begitu juga Carol yang dipindah ke Turki. Berbeda dengan Maya yang tetap di Jakarta.


Nayra juga menepati janjinya untuk mengunjungi Maya bersama si kembar, setelah dapat izin dari Devan dan keluarga yang lainnya tentunya. Maya begitu senang saat bisa melihat si kembar yang dulu sempat tidak dia pedulikan waktu masih di kandungan Nayra.Padahal dia sendiri dulu yang meminta Nayra hamil sebagai rahim penggantinya.


Si kembar bahkan memanggil Maya dengan panggilan Mommy. Panggilan yang dulu diinginkan Maya saat bayi Nayra dan Devan lahir nantinya. Tapi itu tidak terwujud karena kerakusannya akan kekuasaan dan jiwa psikopatnya. Dan kini panggilan itu akhirnya terwujud karena si kembar dan karena Nayra yang baik hati tentunya.


"Aku benar-benar malu sama kamu,Nay. Dulu aku begitu tega sama, memakan makanan yang kamu buat tanpa menyisakan sedikit pun. Padahal waktu itu kamu lagi ngidam."


"Kata siapa Kak Maya tidak menyisakan untuk Nayra?"


"Kak Maya masih menyisakan Nayra kok."


"Walau hanya sedikit." Mereka berdua tertawa.


Sudah hampir seminggu ini Nayra tidak mengunjungi Maya, biasanya dua atau tiga hari sekali dia akan pergi ke lapas untuk mengunjungi Maya.


"Sayang...Perut kamu sudah nggak sakit lagi kan?" tanya Devan yang baru saja keluar dari kamar mandi.


Tadi sekitar menjelang subuh Nayra merasakan perutnya mulas dan terasa sakit. Devan begitu panik saat itu, karena ini pengalaman pertama bagi dirinya mendampingi istrinya yang menjelang lahiran.


Semalam dia menggempur tubuh istrinya berkali-kali hingga menjelang pagi dan itu mungkin yang mengakibatkan Nayra mengalami kontraksi.


Nayra yang duduk di atas ranjang sambil bersandar di kepala ranjang menyunggingkan senyumnya dan menggeleng pelan.


"Sudah tidak,sayang. Mungkin hanya kontraksi palsu saja." jawab Nayra sambil mengelus perutnya yang semakin membesar.


Devan duduk di tepi ranjang samping istrinya. Dia mengusap pelan perut istrinya dan diciumnya di dua tempat.


"Anak-anak Papa jangan bikin Mama kesakitan yah sayang."


"Papa nggak tega melihat Mama kalian yang menahan sakit karena kalian." kata Devan kepada kedua anaknya yang masih ada di perut Nayra.


Nayra kembali hamil anak kembar dan lagi-lagi ketahuannya saat trimester kedua. Dan kali ini dia hamil kembar laki-laki.


"Gak ada yang namanya perempuan yang mau melahirkan tidak sakit sayang."


"Yang ada semua perempuan yang menikah dan hamil akan kesakitan waktu menjelang lahiran." jelas Nayra pada suaminya yang terlihat tersiksa saat melihatnya tadi kesakitan mengalami kontraksi palsu.


"Berbeda dengan perempuan yang hamil diluar nikah, dia tidak akan merasakan sakit saat melahirkan, karena nikmat sakitnya sudah dicabut dan digantikan dengan nikmat ketakutan."


"Ketakutan yang luar biasa akan dosa dan kesalahan yang telah dia perbuat."sambung Nayra.


"Aku tahu itu sayang."


"Aku gak usah kerja saja yah." pinta Devan.


"Katanya tadi ada meeting penting."


"Memang siapa yang akan menggantikan"


"Romi ada di Turki bersama Linda juga."


"Romi sialan!!" umpat Devan.


"Katanya hanya seminggu ini sudah lebih dari dua minggu nggak pulang-pulang." geram Devan pada Romi yang sedang menangani masalah di perusahaan Devan yang ada di Turki.


"Mereka kan kerja sayang, bukan main ataupun jalan-jalan." Nayra membela Romi dan Linda.


"Iya..mereka kerja bikin anak."


"Mereka lagi honeymoon di sana." sungut Devan dengan kesal.


Nayra menghembuskan nafas perlahan melihat suaminya yang kesal.


"Sudah sana cepat ganti baju, kasihan anak-anak menunggu lama nanti." ucap Nayra.


"Tapi aku nggak tega meninggalkan kamu sendirian sayang."

__ADS_1


"Apalagi saat melihat kamu kesakitan." sahut Devan yang terus mengusap perut istrinya itu.


"Kalau kamu tidak tega, nanti setelah anak kita lahir jangan minta anak lagi yah." pinta Nayra.


"Kok gitu!!" protes Devan.


"Katanya tidak tega melihat aku yang kesakitan."


"Ya sudah, ini yang terakhir berarti." kata Nayra


"Tapi aku ingin punya lima anak sayang." tawar Devan.


"Aku ingin baby girl satu lagi untuk menemani Kiara juga Mamanya." sambung Devan.


"Kamu itu ya Dev. Anak belum juga lahir sudah minta anak lagi."


"Emangnya hamil dan melahirkan itu enak apa." sungut Mama Arumi yang mendengar percakapan anak dan menantunya.


"Mama kenapa pagi-pagi sudah ada disini?" tanya Devan yang melihat Mama Arumi yang tiba-tiba datang dan masuk ke kamarnya.


"Kenapa? kamu nggak suka melihat Mama ada disini." sewot Mama Arumi.


"Minggir kamu." Mama Arumi mengusir Devan dari tempat duduknya. Karena Mama Arumi ingin duduk di situ.


Devan mendengus kesal dan pergi ke walk in closet untuk berganti pakaian.


"Mama sama siapa tadi kesini?" tanya Nayra setelah mencium tangan Mama Arumi.


"Sama Papa, ada di bawah ditodong sama si kembar. Minta diantar ke sekolah katanya." jawab Mama Arumi.


"Kata Kimy tadi kamu sudah mulai merasakan kontraksi. Benar, Nay?" tanya Mama Arumi sambil mengelus perut Nayra.


"Iya, Ma. Hanya kontraksi palsu kok."


"Tadi terasa sakit saat menjelang subuh."


"Hanya tadi saja, cuma sebentar."


"Punggungnya terasa pegal nggak?" tanya Mama Arumi yang beralih mengusap punggung Nayra.


Nayra tersenyum malu, "Pegal sejak masuk usia enam bulan, Ma." jawab Nayra dengan malu.


"Mama.." teriak Kiara berlari masuk ke kamar orang tuanya bersama Kenan juga diikuti Papa Damar yang berjalan pelan.


"Kiara sama Kenan berangkat sekolah dulu ya,Ma." pamit Kiara yang sudah tidak cadel lagi.


"Kalian tidak nunggu Papa?" tanya Devan yang baru saja selesai bersiap.


"Tidak. Papa lama."


"Kami diantar Kakek saja." tolak Kenan.


"Kalian tadi sudah makan?" tanya Nayra


"Sudah Ma." jawab Kiara dan Kenan dengan kompak.


Kiara dan Kenan akhirnya pamit berangkat sekolah bersama Kakeknya.


"Sayang..Aku berangkat dulu ya." pamit Devan setelah selesai sarapan bersama Nayra juga Mama Arumi.


"Kalau ada apa-apa cepat telephon aku."


"Apalagi kalau kontraksinya terus menerus." Devan terlihat enggan untuk meninggalkan Nayra sendirian meski sudah ada Mama Arumi yang menemaninya.


"Iya sayang, aku tahu kok."


"Sudah sana berangkat."

__ADS_1


"Nanti telat rapatnya."


"Aku usahakan siang sudah pulang."


Nayra mengangguk dan mencium tangan Devan. Devan sendiri segera masuk mobil setelah mencium kening dan tidak lupa mencium perut Nayra.


"Anak itulah, Masya Allah." Mama Arumi geleng kepala, "Sudah tahu Mamanya yang melahirkannya dengan susah payah ada disini bukannya salim dan pamitan sama Mamanya justru langsung berangkat begitu saja setelah berpamitan pada istrinya." omel Mama Arumi yang melihat keberangkatan Devan tanpa memperdulikannya.


Nayra hanya meringis mendengar omelan Mama mertuanya. Dia memegangi punggung dan juga perutnya yang kembali mengalami kontraksi.


"Agghhhh...Mahh." rintih Nayra yang mulai kesakitan.


"Nayra..kamu kenapa nak?" Mama Arumi kelihatan panik melihat Nayra yang kesakitan.


"Ayo duduk dulu disana." Mama Arumi membawa Nayra duduk di kursi yang ada di teras.


"Kimy..." teriak Mama Arumi memanggil Miss Kimy


"Ma..kelihatannya mau lahir deh."


"Ini sakit banget, Ma tidak seperti tadi." Nayra mengatur nafasnya yang sudah tidak beraturan.


"Ibu kenapa?" pekik Miss Kimy yang baru keluar dari dalam rumah melihat Nayra yang kesakitan juga sudah berkeringat.


"Kimy..kenapa kamu ada dirumah?" tanya Nayra yang menahan sakit.


"Itu Bu, tadi..."


"Kimy sudah cepat telephon Devan, Nayra mau lahiran ini." perintah Mama Arumi.


"Eh....ngga usah, panggil supir saja biar cepat."


Dengan segera Miss Kimy memanggil supir dan juga mengambil tas yang sudah disiapkan Nayra jauh hari.


"Nayra kenapa Ma?" tanya Papa Damar yang baru saja pulang mengantarkan si kembar.


"Nayra mau lahiran Pa."


"Ya sudah ayo cepat ke rumah sakit."


"Tunggu Pah..." Nayra menatap Papa Damar yang siap memapahnya dengan senyum kaku.


"Kenapa Nay?" tanya Papa Damar dengan wajah bingung melihat Nayra yang tersenyum.


"Kontraksinya sudah hilang lagi." ucap Nayra lirih sambil meringis.


"Kita gak usah ke rumah sakit dulu."


"Nanti saja kalau sudah sering dan terjadinya lima menit sekali." pinta Nayra.


"Tapi Nayra..."


"Nggak apa Ma." sergah Nayra cepat.


"Daripada nunggu di rumah sakit dan kelamaan."


"Lebih baik dirumah saja."


"Nayra benar, Ma. Kasihan Nayra nanti disana nunggunya kelamaan." bela Papa Damar.


Akhirnya Mama Arumi menyetujuinya. Nayra masuk ke dalam rumah dibantu Papa Damar, sedangkan Mama Arumi jalan duluan didepan mereka.


"Kok masuk lagi Bu?" tanya Miss Kimy yang baru saja turun membawa dua tas besar dan kecil.


"Nggak jadi."


"Kita dikerjai anaknya Devan." sewot Mama Arumi.

__ADS_1


__ADS_2