
Deniz masuk ke dalam kamarnya dengan wajah dingin dan datar. Ia bahkan tidak merasakan kehadiran ceyda, istrinya di belakangnya, yang sedang menatap punggungnya dengan segala pertanyaan di kepalanya.
Deniz yang merasa bersalah ke mamanya. Ucapannya tadi terus tergiang di kepalanya. Ini pertama kalinya ia menyakiti mamanya bahkan membuat mamanya menangis. Padahal selama ini. Mama lah yang selalu membelanya dan mendukungnya dalam hal apapun.
Hati dan dadanya juga ikut sesak melihat mamanya menangis. Teror perjodohan. Inilah penyebab nya. hamil itu. Membuatnya lupa diri dan menyakiti hati mamanya.
"hahhh..". Deniz mendesah setelah beberapa lama diam asik dalam lamunannya.
Bagaimana ia bisa ia mengucapkan kata kata itu? Yang berarti mengulangi kejadian tragis waktu itu dan setelah bertahun tahun berlalu.
Deniz berjalan masuk ke dalam kamar mandi. Menyegarkan tubuhnya. Ia butuh ini untuk sekarang.
'sampai kapan? Sampai kapan ia akan terus bertahan? '. Deniz memejamkan matanya. Merasakan air yang jatuh mengalir di wajahnya dari shower di atas kepalanya.
Hatinya sakit bahkan lebih sakit dari maminya. Ia besok akan ke tempat maminya. Meminta maaf dan akan bercerita semuanya ke maminya. Ia yakin mami akan membantunya dan juga merahasiakan ini. Dari dulu. Hanya mami yang bisa ia percaya tapi... Apa sekarang bisa? Setelah apa yang terjadi padanya dulu.
Deniz mengusap kasar wajahnya Frustasi. Diam diam ia mengumpat dalam hati.
'baru kali ini kakek begitu padanya'. Batin deniz mengeluh sedih.
Khaled adalah sosok yang sangat dekat denganku setelah mama. Dari kecil kemana mana aku hanya akan mau dengan kakek bahkan saat sekolah pertama kali. Aku hanya mau dengan kakek dan di antar kakek. Kakek begitu menyayangiku hingga apapun yang aku minta selalu di kasih. Termasuk salah satunya menikah dengan ceyda. Padahal nenek dan papanya sangat menentang keras karna tidak menyukai mama dan papa ceyda.
"kakek sudah mengambil keputusan. Apa yang akan kamu lakukan?! ".
Pertanyaan yang datang dari belakangnya. menyentak lamunan deniz. Membuat nya membuka mata. Sekilas terlihat tajam sebelum Deniz menyungging senyum tipis di bibirnya dan menoleh melihat ke ceyda.
"sayang?... Kapan kamu masuk? Ah...Kamu sudah mandi? Jika iya maka keluarlah. Nanti kamu basah dan bisa masuk angin". Ujar deniz lembut.
Deniz tetap berdiri di bawah shower sementara tubuhnya ia biarkan basah dan di lihati ceyda istrinya. Deniz tidak telanjang. Melainkan memakai celana pendek, yang ia khususkan untuk mandi.
"jangan mengalihkan pembicaraan lagi selim? kita harus bicarakan ini. Sekarang...".Tekan ceyda di ujung kalimat.
Deniz tersenyum lembut. Sangat lembut malah bahkan sangking lembutnya tidak ada yang tahu apa yang dia pikirkan dan dia rencanakan.
Deniz sontak saja mengecup bibir istrinya setelah mendekat. Tidak peduli ceyda basah karnanya.
"selim...?". Ceyda menolak tubuh Deniz.
"kamu tahu? Kamu sekarang seperti masuk ke dalam kandang singa yang sedang kelaparan....". Deniz berbicara di telinga ceyda. Setelah menyentak tubuh ceyda menepis semua jarak.
"lalu...Apa yang akan terjadi selanjutnya?. Sambungnya lagi.
"hentikan selim? Kamu selalu begini...Berlarut larut, di saat begini apa kamu yakin bisa melakukannya? Jika aku, maka tidak! jadi selim...argh...". Ceyda memekik kaget saat deniz menggendongnya dan meletakkan tubuhnya di wastafel kamar mandi.
__ADS_1
"selim kamu...?!".
"kamu sedang menantangku sayang...? Tidak bisa? Ayo kita lihat bagaimana kamu tidak bisa! Karna yang aku tahu. Istriku selalu suka sentuhanku".
Ceyda menepis tangan deniz, yang menulusuri wajahnya dan menatap deniz tajam. Ia benar benar marah namun pria ini...
"selim hentikan ini dulu. Kita harus bicarakan ini dulu...ehm". Ucapan ceyda terhenti karna deniz meletakkan satu jarinya di bibir ceyda dan menyuruh ceyda diam.
"diantara kita tidak ada yang lain ceyda. Kita akan selalu menjadi kita. Jangan tergoyah dengan perkataan mereka semua. Kita hadapi saja seperti biasa dan semua akan berlalu".
"tapi selim?..".
"bagaimana ini...? Aku menginginkannya sekarang. Apa boleh di tunda dulu pembicaraannya...? Olah raga lebih baik". Potong deniz dengan sengaja karna ia tidak mau mendengar masalah apapun itu. Apalagi jika menyangkut menikah lagi.
'menikahi ceyda saja terpaksa kenapa ia harus memaksa dirinya lagi? Tidak akan, itu tidak akan pernah terjadi'.
"selim kamu". Ceyda memukul bahu deniz dengan geram.
Deniz terkekeh geli.
"bukankah sudah pernah ku bilang? Jangan pernah masuk ke dalam kamar mandi di saat aku ada di dalamnya. Maka selanjutnya aku tidak akan mandi sendiri lagi".
Ceyda melotot lebar. 'ia lupa itu karna tadi melihat wajah suaminya yang datar dan banyak pikiran'.
Seperti biasa di rumah mewah milik deniz. Deniz yang sedang mandi dan ceyda yang sedang menyiapkan sarapan untuk suaminya.
Trak...
Deniz meletakkan tas kerjanya di meja makan di samping sarapan paginya.
"kamu sudah selesai? Cepat sekali? Kamu yakin benaran sudah mandi?". Tanya ceyda begitu melihat deniz yang sudah duduk di kursinya untuk menyantap sarapan.
Deniz tersenyum sebelum meraih pinggang istrinya dan membawa duduk di pangkuannya lalu mengecup bibirnya lagi dan lagi.
"selim?! ". Ronta ceyda.
"kamu mau tahu jawabanku sayang? Kenapa sangat cepat aku selesai mandi? ". Deniz mendongak menatap istrinya.
Melihat wajah deniz yang tersenyum keji membuat ceyda tahu apa jawabannya.
"melihat wajahmu aku sudah tahu, lebih baik kamu cepat sarapan dan segeralah berangkat, pasienmu menunggumu". jawab ceyda kesal.
Deniz terkekeh geli.
__ADS_1
"euhm...Sepertinya enak sayang, terima kasih ya? Aku akan menikmatinya". Deniz mencemot roti yang sudah di isi selai kacang oleh ceyda lalu menyesap kopi buatan istrinya.
'sungguh sangat nikmat, kebahagian ini'. batin deniz.
Setelah selesai sarapan deniz bersiap berangkat dengan tas kerjanya di bawa oleh ceyda sampai ke pintu keluar.
"kamu yakin tidak mau aku siapkan bekal siang? ".
cup...
Deniz mencium kening istrinya. "bukan tidak mau sayang? aku mau kamu yang antar ke rumah sakit ya? malas makan di luar, bawa ya cintaku". rayu deniz ke istrinya lalu mengedipkan satu matanya.
Ceyda mendengus lelah. "tanpa kamu rayu aku tentu saja mauuuu". ceyda mencubit hidung deniz yang sangat mancung tersebut membuat deniz terkekeh geli.
"ya sudah ayo sana". usir ceyda ke deniz supaya cepat cepat memasuki mobil. jika tidak pria ini akan terus berlama lama.
"kamu usir aku sayang?! ". ujar deniz bercanda.
"ya! aku usir kamu, sana hussss". jawab ceyda mantap.
Deniz lagi lagi tertawa.
"baiklah, aku pergi dulu ya? ". ucap deniz lagi lalu mencium kening istrinya.
"euhmm". balas ceyda dengan gumaman.
Di rumah sakit.
Seperti biasa. sambutan para perawat dan pasien terhadap deniz. di tengah jalan deniz bertemu dengan dr. arin. dr, yang mengajukan dirinya pada kakek untuk meminjamkan rahimnya karna dia butuh uang untuk pengobatan ayahnya di rumah sakit tersebut namun aku sudah dan mengajukan diri untuk membayar semua biaya rumah sakit ayahnya asal mundur dari rencana kakeknya namun kakeknya menolak uang pembayaran dari ku karna wanita itu sudah mengambil uang muka dan kakek tidak menerima uang pembayaran dari ku. ugh...benar benar sudah di rencanakan.
"pagi dok? ". sapa dr. arin ramah.
"pagi juga, bagaimana pasienmu hari ini?! " deniz membuang rasa marahnya karna di sini adalah tempat kerjanya.
"insya allah sudah lebih baik".
"oh alhamdulillah, kalau begitu aku keruanganku dulu, selamat bekerja dr. arin". deniz berlalu tanpa mendengar jawaban arin.
"begitu juga anda dok". balas arin sembari menatap punggung deniz yang berlalu.
Deniz tidak tahu dan semua tidak tahu termasuk pak khaled dan mama deniz nyonya selma, kalau kenyataannya dia sangat menyukai deniz bahkan dengan gila dan tawaran untuk meminjamkan rahim adalah salah satu caranya untuk mendapatkan dr. deniz.
Arin tersenyum keji. 'sebentar lagi...kamu akan menjadi milikku deniz? bukan untuk istrimu yang mandul itu'.
__ADS_1