
Terlihat salah satu restauran mewah yang ada di kota jerman tersebut.
"berhenti menatapku deniz...? tatapanmu sangat menakutkan".
Deniz tersenyum tipis.
"salahkan dirimu yang begitu cantik dan bajumu...memancing sesuatu di dalam diriku".
Ayla mengerang.
"deniz? bukankah sudah ku katakan? jangan membuatku bingung, sikapmu sangat membuatku bingung, kamu tahu...? kamu...benar benar berubah".
"...". deniz memilih diam menatap ayla. mereka sudah menyantap makan malam mereka dan sekarang mereka sedang menunggu pesanan ayla satu lagi, yang katanya mau dia bawa pulang.
"jangan katakan padaku setelah tahu siapa aku maka cintamu ke ceyda hilang begitu saja".
Deniz mengedikkan bahunya acuh.
"itu memang benar". deniz mengangguk menyutujui.
Ayla mengerutkan dahinya.
"apa kamu sebrengsek itu deniz...? hilang begitu saja...?...huhhh". ayla menghela nafas tidak percaya saat melihat anggukan deniz dengan pertanyaannya.
"deniz kau...".
"ini pesanan anda nona? ada yang bisa kami bantu lagi? ". tanya pelayan wanita restauran tersebut setelah meletakkan pesanan ayla dan satu jus buah untuknya.
Ayla mendongak melihat pelayan tersebut.
"tidak , terima kasih".
"baik". pelayan tersebut berlalu dari meja mereka.
Ayla kembali menatap deniz, yang hanya bersikap santai dan duduk dengan santai dengan kedua tangan dia lipat di depan dadanya.
Ayla menggertakkan giginya karna kesal karna apa? karna...
"tidak bisakah kamu berhenti memberiku tatapan mengerikan itu...?". geram ayla kesal.
"kenapa? aku sedang menikmati kecantikan istriku dan mereka yang lain di sini sedang menikmati ketampananku tidak seperti seseorang".
Ayla sontak kepalanya memutar ke samping dan benar saja, semua wanita di sekitar mereka menatap mengagumi deniz.
Ayla menyatukan alisnya dan kembali melihat deniz, lebih tepat memerhatikan pakaian deniz. tadi saat keluar dari rumah ia tidak sempat memerhatikan pakaian deniz, karna pikirannya yang terus mengkhawatirkan pria ini.
Wajahnya sih lumayan tidak lebam, aku rasa dia melindungi dengan baik wajahnya untuk kencan hari ini tapi tubuhnya?.
Flashback...
Tadi pagi...
Ayla mondar mandir di kamarnya dengan bibirnya yang terkatub rapat dan sesekali ia akan menggigitnya dan melihat ke pintu kamarnya. menantikan seseorang yang membuatnya gila hari ini.
Bagaimana pria itu menyetujui untuk di hajar oleh 3 pria Gokhan? itu namanya cari mati dan sekarang sudah 6 jam dari deniz masuk ke dalam ruangan latihan.
"mine? ". ayla terlihat sangat panik, bahkan tubuhnya sudah gemetaran. bagaimana pun pria itu adalah pria yang sangat ia cintai. melihatnya terluka, sama dengan ia sendiri yang terluka bahkan lebih.
"nona". sahut mine setelah tiba di depan ayla.
"tidak ada tanda tanda deniz keluar? ".
__ADS_1
Mine menggeleng.
Ayla berdecak kesal. ia melangkah mau keruang latihan tersebut namun lagi lagi ia berhenti, ia takut ia takut jika melihat hal buruk yang terjadi pada deniz, ia takut anaknya juga yang tidak akan bertahan karna dirinya.
"oh ya allah, aku mohon aku mohon tolong lindungi dia, jangan biarkan terjadi hal buruk padanya, biarkan dia baik baik saja". ayla berjongkok bersimpuh di lantai sembari kedua matanya yang sudah menangis.
Ia sering merasa takut tapi tidak pernah setakut ini. perasaan takut yang tidak bisa ia gambarkan.
"non...".
"keluarlah mine dan coba lihat, apa sudah keluar?...aku sedang tidak baik baik saja jika kamu mengkhawatirkanku". ayla berbicara dengan suara lemas.
"baik nona? ". pamit mine lalu melangkah keluar.
Di depan pintu begitu menutup pintu, mine terperanjat terkejut melihat seorang pria yang sedang di khawatirkan nonanya dengan tubuhnya yang berlumuran darah, meski tidak banyak.
Mine menatap itu dengan ngeri sembari berpindah ke samping supaya deniz bisa masuk ke dalam kamar nonanya.
Di belakang mine menatap deniz lalu beralih melihat ke arah lain. ia berpikir haruskah ia menelpon dokter atau...mereka sendiri yang akan ke rumah sakit?.
Mine menggeleng tidak tahu lalu memilih melangkah pergi dari sana, ia kira bertanya ke nyonya ayse adalah yang terbaik.
Ckleck...
Deniz membuka pintu kamar dan masuk ke dalam, hal pertama yang ia lihat adalah...ayla yang sedang berjongkok dan dia...sedang menangis.
Deniz tersenyum kecil. seorang queen menangis?.
Ayla enggan membuka kedua tangannya yang sedang menutup wajahnya. hatinya bertanya, kenapa mine kembali lagi, apa untuk menyampaikan kalau deniz...sudah di larikan ke rumah sakit.
Ayla menggeleng keras dengan pikirannya tersebut.
"pergilah mine, aku tidak mau dengar apapun, pergilah". ucap ayla di sela tangisnya.
Deniz yang sudah berdiri di belakang ayla melihat menatap ayla di bawahnya yang sekarang sudah duduk di atas permadani bermerek turki. bulu mata deniz yang panjang tidak kalah cantik dengan bulu mata ayla yang panjang dan lentik mengerjap dengan kedua manik matanya yang berwarna abu abu dan tajam menatap ayla dengan perasaan rindu. ia menyungging senyum tipis.
Tubuhnya yang sakit semua tadi akibat pukulan daddy dan kedua kakak ayla, menghilang seketika begitu melihat wanita yang ia cintai ini. banyak sudah, yang ia korbankan untuk meraih wanita ini bahkan ia harus berpura pura bodoh dan di tipu hanya untuk bisa bersamanya, yang lebih parah ia harus bersandiwara selama beberapa tahun untuk bisa mencari dan menemukannya yang hilang. jika tidak...
"aku baik baik saja".
Kedua bola mata ayla membulat mendengar suara deniz. ia sontak berbalik lalu mendongak menatap deniz yang berdiri sedangkan dirinya duduk.
"de...deniz...?". satu air mata ayla jatuh di pipinya. ayla mengerjap lalu mengalihkan matanya menatap tubuh deniz dan seketika itu juga matanya membulat lebar. ia bangkit berdiri dengan cepat melihat memerhatikan tubuh deniz.
'darah...dimana mana darah'.
Ayla membalikkan tubuh deniz seenaknya dengan raut wajahnga yang panik dan deniz nurut aja. so...dia menikmati.
"kamu... ". ucapan ayla terhenti saat melihat sudut bibir deniz yang robek terluka.
"mereka menghajarmu habis habisan kan?...bukankah sudah ku bilang...? kamu tid...".
"bagaimana dengan kencan kita? ".
"ya?! ". tanya ayla terkejut. kencan? itu artinya dia...tunggu, itu tidak penting sekarang.
Deniz tersenyum kemenangan lalu kemudian ia meringis karna sudut bibirnya yang terluka dan sakit.
Ayla ikut meringis.
__ADS_1
"kamu harus kerumah sakit, ayo aku antar". Ayla mau melangkah namun deniz menahan tangan ayla.
"kamu belum menjawabku beyza? bagaimana dengan kencan kita? aku menang dari Mr. Okan dan Z, omer".
"apa itu penting sekarang...? kita kerumah sakit". kesal ayla lalu menarik tangan deniz untuk keluar dari kamar. namun hal yang di lakukan deniz selanjutnya sontak sangat membuat seorang ayla terkejut.
Deniz memutar tangan ayla darinya lalu memeluk ayla dari belakang sedangkan kedua tangannya berada di dada ayla.
Nafas ayla naik turun karna masih shock. ia mengerjap mencerna apa yang barusan terjadi padanya.
"sangat penting, itu sangat penting...beyza! ".
Ayla mengerjap. ia menoleh mendongak menatap deniz karna deniz sedikit lebih tinggi dari dirinya. jarak mereka sangat dekat bahkan kedua bibir mereka hanya berjarak satu jari maka bibir keduanya bisa bersentuhan.
Ayla sama sekali tidak risih dengan kedekatan mereka saat ini. mata ayla menatap ke dalam manik mata deniz yang tajam dan berwarna abu abu tersebut. mata yang ia sukai dari dulu. melihat mata deniz membuat dirinya mengerti akan satu hal.
"ada yang mau kamu katakan? "
"kamu bisa membaca pikiranku? ".
"mata mu mengatakan semuanya".
"hati kita sudah bersahut eh...?".
Ayla tersentak dan ia dengan cepat bisa melepaskan dirinya dari deniz.
"setelah mengobatimu kita akan pergi, ayo kerumah sakit".
"dalam ke adaan begini...?". deniz merentangkan tangannya memperlihatkan kondisinya pada ayla.
Ayla berbalik melihat tubuh deniz.
"alangkah lebih baiknya jika kamu yang obati, ini tidak parah".
"aku tidak mengambil jurusan kesehatan".
"dan kita punya satu di sini".
"dan apa dia sadar kalau dia sendiri yang terluka? bagaimana cara obatinya...?".
"cukup ambilkan kotak obatnya, apa...kalian punya?".
"lebih dari cukup jika mau di sumbangkan ke rumah sakit anda".
"okay baiklah, ambilkan itu kemari dan juga...".
"juga...?".
"tidak akan merepotkanmu kan? untuk ambil air hangat".
"aku bisa suruh bawa sama mine".
"bukan itu tapi...okay jika di bagian depan aku bisa sendiri tapi di punggungku...". deniz menghentikan ucapannya berharap ayla mengerti ucapannya.
Ayla memerhatikan tubuh deniz. pria ini secara tidak langsung menyuruhnya untuk membantunya kan?.
"kamu tunggu di sini! ". ucap ayla lalu melangkah ke pintu kamar.
Deniz tersenyum kemenangan. untuk apa rumah sakit? jika obat di rumah lebih efektif.
__ADS_1