
Minggu pagi di keluarga Damar Ayasi terlihat begitu ramai. Apalagi semalam anak Papa Damar dan Mama Arumi yang nomor dua, adik perempuan Devan baru pulang dari tugas organisasi kemanusiaan di Ukraina selama hampir enam tahun lamanya dan tidak pernah pulang.
Semua kumpul di teras belakang dekat kolam renang. Semua terlihat duduk lesehan di atas karpet yang terlihat sederhana namun di impor langsung dari Turki. Mereka duduk mengitari makanan yang disajikan untuk sarapan pagi.
Si kembar, Kenan dan Kiara justru asik berenang padahal jam masih menunjukkan pukul delapan pagi. Eza si kecil yang tak mau kalah ikut bermain air dipinggir kolam didampingi pengasuhnya sambil disuapi makan paginya sama Mommy nya.
"Sayang..sudah dulu yuk berenangnya. Kita sarapan dulu. Biar gak masuk angin nanti." bujuk Nayra supaya si kembar menyudahi aksi renangnya.
"Gak mau Mama.." tolak Kiara yang justru berenang ke tengah mendekati Kenan.
"Ayo balapan lagi.." ajak Kenan saat melihat Kiara mendekat ke arahnya.
"Sayang..." panggil Nayra pada si kembar yang justru asik balapan renang.
"Sudah biarin saja. Nanti kalau sudah bosen juga udahan." sahut Devan pada istrinya dan mengajak Nayra untuk segera duduk.
"Tapi mereka belum makan tadi..?! Mereka cuma baru minum susu saja." tolak Nayra yang masih ingin membujuk si kembar.
"Sarapan dulu baru bujuk mereka nanti." kata Devan tegas pada Nayra.
"Tapi.." Nayra tak melanjutkan ucapannya karena Devan menatapnya tajam.
Nayra menghembuskan nafas pelan dan mengikuti Devan duduk bersama yang lain. Meski kepala Nayra sesekali menoleh ke belakang melihat si kembar yang justru semakin asik itu.
"Ambilin.." Devan mencolek lengan Nayra dan memberikan piringnya ke Nayra yang masih terlihat mengarahkan pandangannya ke kolam renang.
Nayra menatap Devan dan beralih menatap piring yang disodorkannya untuknya. Diambilnya piring itu.
"Mau lauk apa?" tanya Nayra setelah mengambil secentong nasi.
"Soto...Jangan yang ayam, tapi daging." jawab Devan sambil membaca beberapa e-mail yang masuk ke HPnya.
"Kalau mau soto kenapa yang di sodorkan piring bukan mangkuk." gerutu Nayra kesal pada suaminya itu.
Yang lain tertawa kecil melihat tingkah sepasang suami istri muda itu.
"Kak Devan manja ya sekarang. Perasaan dulu gak kaya gitu deh." celetuk Diana adik Devan yang baru saja pulang dari Ukraina.
"Sekarang mah manja nya ngalahin kedua anaknya." timpal Dahlia yang baru selesai menyuapi Eza.
Dan diangguki Mama Arumi juga Papa Damar yang membenarkan ucapan Dahlia.
__ADS_1
"Dia manja tapi dia akan seperti anak kucing kalau istrinya ngambek." bisik Mama Arumi pada Diana namun masih bisa di dengar Dahlia yang memang duduk di dekat Diana.
"Iya itu benar.." Dahlia tertawa terbahak-bahak di ikuti Diana membenarkan ucapan Mama Arumi yang mengatakan kalau Devan seperti anak kucing saat Nayra ngambek.
"Kalian kalau sudah ketemu bikin berisik saja. Waktunya makan diam." sentak Devan pada kedua adiknya yang menurutnya berisik itu.
"Lihat itu Papa. Dari tadi diam menikmati masakan menantunya." sambung Devan yang melihat Papa Damar sedari tadi tak bergeming dan asyik menikmati masakan Nayra yang sudah lama tidak dia rasakannya.
Semua menatap Papa Damar yang tak terganggu sama sekali justru asyik makan.
"Mama handuknya mana?" teriak Kiara yang terlihat sudah berdiri di pinggir kolam bersama Kenan.
Nayra segera berdiri dan mengambil handuk yang tadi dia letakkan di kursi dan mendekati kedua anaknya itu.
Dibalutkannya handuk itu pada badan Kenan dan Kiara.
"Kalian mandi dulu ya..Habis itu makan." perintah Nayra pada si kembar.
Keduanya kompak menggelengkan kepala mereka.
"Makan dulu balu mandi." kata Kiara dan diangguki Kenan, mereka sudah merasa lapar makanya menyudahi berenangnya.
"Ya sudah, kalian duduk disini dulu." Nayra membawa si kembar duduk di kursi kayu yang ada di pinggir kolam renang.
"Nasi goreng." seru Kiara dan Kenan bersamaan.
"Tunggu disini, yaa."
"Sama telul mata sapi, Mama." ujar Kiara sebelum Mamanya pergi mengambilkan mereka makan.
"Oke.." Nayra mengerlingkan matanya pada Kiara.
"Mereka gak mandi dulu,Nay?" tanya Mama Arumi.
"Nggak Ma. Katanya sudah lapar." jawab Nayra yang terlihat mengambil nasi goreng dan dua telur mata sapi di dua piring.
"Kimy.." panggil Nayra yang melihat Miss Kimy mau menghampiri si kembar.
"Tolong ambilkan abon milik Kiara. Ada di dapur. Makasih." perintah Nayra pada pengasuh si kembar.
Miss Kimy mengangguk dan kembali lagi masuk ke dalam rumah mengambil abon yang dimaksud majikannya itu.
__ADS_1
"Kak Nayra sopan banget ya sama pengasuh si kembar." bisik Diana pada Dahlia mengomentari sikap ramah Nayra pada karyawannya.
"Emang seperti itu sih yang aku lihat." balas Dahlia lirih.
"Cocok sama Kak Devan, Gak seperti Maya." sambung Diana dan diangguki Dahlia.
"Ini sayang.." Nayra menaruh piring yang berisikan nasi goreng di antara kedua anaknya itu duduk.
"Abonnya mana,Ma.?" tanya Kiara yang tak melihat adanya abon di nasi gorengnya. Karena Kiara tiap makan nasi goreng harus ada abonnya, seperti dirinya.
"Masih diambil sama Miss Kimy. Yang sabar yaa." jawab Nayra lembut supaya putrinya itu tak merajuk.
"Ini abonnya nona kecil." Miss Kimy langsung memberikan sesendok abon di piring Kiara sesaat setelah dia menghampiri si kembar.
"Aku minta Miss." Kenan menyodorkan piringnya ke depan Miss Kimy.
"Habiskan ya makannya. Mama mau melanjutkan makan dulu." kata Nayra yang cuma diangguki keduanya.
Nayra duduk kembali disamping Devan dan melanjutkan makannya.
"Kami nanti langsung pulang, Ma, Pa." kata Devan setelah nelihat semuanya sudah selesai makan.
Mama Arumi mengerutkan dahinya. Pulang? Pulang kemana, pikirnya.
"Pulang kemana memangnya?" tanya Mama Arumi penasaran. Bukannya rumahnya Devan yang dulu ditempatinya bersama Maya sudah dijual, pikirnya.
"Ke apartemen. Kita mau tinggal disana terlebih dahulu sebelum Devan menemukan rumah yang cocok untuk kami tempati." jawab Devan.
"Kenapa gak tinggal disini saja? Apartemen terlalu sesak buat anak-anak. Mereka gak bisa bebas bermain." Kini Papa Damar juga ikut menimbruk pembicaraan. Dia tidak mau pisah dengan cucu kembarnya.
Mama Arumi terlihat membenarkan perkataan suaminya itu.
"Kita mau mandiri, Pa, Ma. Kita juga gak akan lama tinggal di apartemen. Romi juga sudah memberikan beberapa reverensi rumah yang Devan inginkan. Tinggal di lihat cocok apa nggak nya." jelas Devan
"Sebelum dapat rumahnya tinggal di sini dulu kenapa sih." Mama Arumi terlihat merajuk.
"Keputusan Devan sudah bulat, Ma. Kami ingin mandiri." Devan tetap kekeh dengan pendiriannya yang ingin tinggal di apartemen.
"Kita nanti kalau weekend akan nginap disini, Ma. Jadi Mama sama Papa masih bisa kok bermain dengan si kembar. Mama Papa juga bisa mengunjungi kami nantinya." Nayra mencoba memberi pengertian pada mertuanya itu. Nayra tahu, pasti Mama Arumi sama Papa Damar gak mau pisah sama si kembar. Apalagi mereka belum lama ketemunya.
"Iya..Tiap weekend nanti kita kesini." sambung Devan, "Kalau gak sibuk." lanjutnya dalam hati.
__ADS_1
"Tapi kalian harus janji sama Mama kalau tiap weekend akan kesini." kata Mama Arumi dengan menatap tajam Devan, karena dia tahu anaknya ini mau hari libur pun tetap saja sibuk dengan pekerjaannya.
"Iya, Ma. Iya.." seru Devan yang tahu arti dari tatapan itu.