
Tiga hari Devan dan Nayra beserta si kembar menginap di hotel paska menikah ulang. Tiga hari itu mereka habiskan hanya di dalam hotel menikmati quality time bersama keluarga dan menikmati berbagai fasilitas yang di sediakan hotel. Mulai dari kolam renang, waterpark mini, gym area, restoran mewah, bahkan mereka sempat keliling jakarta menggunakan helikopter pribadi milik keluarga Ayasi menikmati pemandangan ibu kota dari ketinggian 5.000 m dari permukaan laut.
"Ken lihat itu..mobil nya sepelti semut" tunjuk Kiara sambil cekikikan melihat pemandangan ibu kota dari udara.
"Lumah Papa kelihatan nggak ya dali sini?"
"Itu kan kantol Papa..Iya kan Pa?"
Kiara terus berceloteh menunjuk ini itu, menanyakan ini itu dan hanya dijawab anggukan saja oleh Devan maupun Nayra.
Berbeda dengan Kenan yang hanya menikmati pemandangan dengan diam dan sesekali menimpali celotehan Kiara yang menurutnya berisik itu.
Kini Nayra dan Devan beserta si kembar dalam perjalanan menuju rumah Nathan. Kemarin Papa Rasyid telephone memberi kabar jika dua hari lagi Opa Sahid dan Faiz sekeluarga akan kembali ke Dubai. Begitu juga Papa Rasyid dan Mami Mira yang akan kembali ke Surabaya.
"Assalamualaikum.." salam Kenan dan Kira dengan berteriak dan berlari masuk ke dalam rumah.
"Walaikumsalam.." balas Mami Mira yang kebetulan ada di ruang tamu.
Kenan dan Kiara mencium punggung tangan Mami Mira bergantian sesuai kebiasaan yang Nayra ajarkan.
"Saat mau pergi atau baru datang dan bertemu dengan orang yang lebih tua dari kita, kita harus menunduk sopan, mencium punggung tangannya. Apalagi sama keluarga sendiri. Dan harus berbicara sopan dan tidak boleh dengan nada tinggi, menyentak ataupun berteriak." kata Nayra saat memberi pelajaran tata cara menghormati orang yang lebih tua pada kedua anaknya.
"Cucu Oma sudah datang..Mana Mama sama Papa?" tanya Mami Mira yang tak melihat Nayra juga Devan.
"Itu.." tunjuk Kiara bertepatan Nayra dan Devan sudah masuk ke dalam rumah.
"Assalamualaikum, Mi.." salam Nayra dan Devan mencium punggung tangan Mami Mira.
"Walaikumsalam... Akhirnya kalian bersama lagi." kata Mami Mira dengan haru.
"Alhamdulillah, Mi. Semua berkat doa restu orang tua." ucap Devan diplomatis, karena tanpa doa dan restu dari orang tua mereka tak akan bisa bersama.
"Oma..Kak Rey mana?" Kenan menanyakan keberadaan Reyhan.
"Kak Rey nya tadi ikut Bibi Lidya menjemput Susan ke sekolah, sayang. Mungkin sebentar lagi pulang." jawab Mami Mira dengan lembut pada cucunya itu.
"Ya udah deh..Ayo nonton TV aja Ki.." ajak Kenan pada Kiara yang dijawab anggukan kepala oleh Kiara.
"Kalian istirahat saja dulu, tadi kamarnya sudah di bersihkan sama Bi Marni. Biar koper kalian di antar sama pelayan disini." kata Mami Mira
"Gak usah, Mi..Biar kami bawa saja sendiri." tolak Nayra halus yang memang tak mau merepotkan pelayan.
"Iya, Mi. Kami masih kuat jika hanya membawa dua koper saja." timpal Devan.
"Baiklah jika itu mau kalian. Istirahatlah dulu."
Nayra dan Devan menaiki anak tangga menuju kamar mereka di lantai dua.
"Sini biar aku saja yang bawa." Devan merebut koper yang dibawa Nayra saat mereka akan menaiki anak tangga.
"Tapi kamu sudah bawa satu yang besar, ini yang kecil biar aku saja yang bawa." Nayra merebut kembali koper berwarna silver berukuran kecil itu.
"Nayra Arasyid." Nayra langsung memberikan koper itu kembali ke Devan saat mendengar Devan memanggil namanya lengkap dengan nada dingin. Itu berarti perintah yang harus dilaksanakan dan dijalankan, tidak boleh ada penolakan.
Devan dan Nayra akhirnya melanjutkan menaiki beberapa anak tangga menuju kamar mereka.
"Hufffff....!!!" terdengar Devan menghembuskan nafas lelah dan berbaring di atas ranjang.
Nayra yang tadinya ingin membereskan isi koper dan memasukkan ke almari mengurungkan niatnya. Dia berjalan mendekat ke ranjang dimana Devan membaringkan tubuhnya.
"Astaqfirullah..." Devan kaget saat ada yang memijat lengannya, padahal dia tadi sudah hampir terlelap.
"Maaf.." sesal Nayra yang melihat Devan kaget akan tindakannya, dia kira Devan hanya memejamkan matanya saja ternyata Devan hampir terlelap, mungkin karena lelah.
"Gak apa." ucap Devan dan bangun dari berbaring nya.
"Ada apa?" tanya Devan yang melihat Nayra masih duduk di tempatnya sambil menunduk dan menautkan jari tangannya.
"Aku tadi mau memijat kamu. Aku lihat kamu terlihat lelah. Jadi aku mencoba memijat lengan kamu supaya berkurang lelahnya." jelas Nayra mengutarakan niatnya untuk mengurangi rasa lelah Devan dengan memberi pijatan lembut di tubuh suaminya itu.
Devan tersenyum mendengar maksud dari niat Nayra. Dia menggeser pantatnya dan mendekat ke Nayra. Di peluknya sang istri dengan erat.
"Kamu tahu..Lelah ku akan hilang jika kamu berada di sisiku dan selalu tersenyum saat bersamaku."
"Karena kamu dan senyummu itu adalah obat lelah ku yang tidak ada duanya."
"Dan saat melihat Ken dan Kia tertawa bahagia dengan tingkah laku mereka itu juga obat lelah ku selain kamu dan senyummu." kata Devan dengan pelan sambil memejamkan matanya bahkan dia bicara dengan senyum di bibirnya membayangkan keluarga kecilnya yang bahagia.
__ADS_1
"Gombal..!!" seru Nayra dengan wajah merona karena malu.
"Kok gombal sih.." protes Devan dan melepas pelukannya menatap Nayra tajam.
"Sejak kapan seorang Devandra Ayasi suka ngegombal seperti itu?" tantang Nayra dengan juga menatap Devan tajam.
"Sejak kamu menjadi milikku." ucap Devan pelan dan menatap intens mata Nayra dan bibir merah cerry itu bergantian.
Nayra berusaha menyembunyikan senyum bahagianya, namun mata yang tak bisa berbohong akan rasa bahagia di hatinya. Bahkan wajahnya kian merona saat Devan menatapnya intens penuh cinta.
"Tau ah.." Nayra bangkit dari duduknya menghindari tatapan Devan.
"Aaghhhh.." teriak Nayra saat Devan menarik tangannya hingga kini dia duduk dipangkuan Devan.
"Dev, lepas!! Aku berat loh." kata Nayra mencoba bangkit dari pangkuan Devan. Namun Devan memeluk pinggangnya erat dan tak membiarkannya beranjak dari pangkuannya.
"Tapi aku gak ngerasain apa-apa tuh. Ringan aja." balas Devan sambil menatap Nayra.
Nayra menundukkan kepalanya tidak mau membalas menatap Devan. Tapi tangan Nayra masih dengan setia nangkring di leher Devan.
Devan memegang dagu Nayra dan mengangkatnya supaya dia bisa memandang wajah cantik jelita nan teduh milik istrinya itu.
"Kenapa itu matanya merem? Mau aku cium." goda Devan saat melihat Nayra memejamkan matanya tidak mau menatap Devan.
Nayra segera membuka matanya sebelum Devan benar-benar menciumnya. Namun yang didapat wajah mereka begitu dekat, Nayra dapat merasakan hembusan nafas hangat di wajahnya.
Devan tersenyum dan menatap Nayra tanpa berkedip. Devan melukis indah wajah Nayra dengan buku jarinya.
"Kamu memang sangat indah, bahkan jauh lebih indah saat melihat wajahmu yang merona malu seperti ini." kata Devan yang masih setia melukis wajah Nayra dengan buku jarinya.
"Jangan pernah memperlihatkan wajah malumu selain untuk aku, suamimu ini." sambung Devan dengan menatap lembut manik mata hazel Nayra.
Nayra hanya mengangguk samar dengan wajah yang kian merona dan senyum malu-malunya.
"Kamu tahu.." Devan menjeda kalimatnya sejenak sambil mengambil salah satu tangan Nayra dan memegangnya dan memberi usapan-usapan lembut di punggung tangan Nayra dan mencium punggung tangan Nayra
"Biarlah berlian dan emas menjadi tidak ada artinya dibandingkan keberadaanmu di hidupku. Hanya ucapan terima kasih yang paling mendalam untukmu, karena sudah menjadi seseorang yang berharga dalam hidupku." mata Nayra berkaca-kaca mendengar kalimat yang keluar dari mulut manis suaminya itu.
"Dan ijinkan aku mulai hari ini pensiun dari merindukanmu. Karena kamu akan selalu ada disampingku terus, Nayra Arasyid." sambung Devan dengan menatap penuh cinta dan mendamba pada Nayra.
Devan mengecup kening Nayra dengan sayang. Dia menatap Nayra dan mengusap lembut pipi Nayra yang dibasahi air mata.
Devan menutup matanya dan mencium bibir Nayra dengan lembut, bahkan sangat lembut dan pelan. Disesapnya, dihisapnya, dirasakannya, dihayatinya dan benar-benar manis bahkan membuatnya candu untuk terus menyentuhnya lebih dalam lagi.
Nayra mengalungkan kembali tangannya pada leher Devan dan memejamkan matanya menikmati sesapan, dan hisapan lembut di kedua belah bibirnya.
Devan benar-benar membuat Nayra seperti wanita yang paling beruntung, disayang bahkan paling dicintai. Dia memperlakukan Nayra dengan lembut hingga Nayra seperti melayang di udara dibuatnya.
Di lepasnya ciuman itu saat dirasa Nayra sudah mulai kekurangan oksigen. Benar-benar ciuman yang panjang yang pernah Nayra rasakan tanpa adanya nafsu bira hi.
Devan mengusap lembut bibir Nayra yang basah dengan ibu jarinya. Dan kembali memberi kecupan singkat di bibir itu. Dan merengkuh Nayra dalam pelukannya.
"Rasanya aku ingin bermanja-manja terus sama kamu." ucap Devan sambil menatap Nayra yang bersandar di dada bidangnya.
Nayra mendongakkan kepalanya menatap Devan balik dengan senyum manisnya. Bahkan belahan itu sedikit terbuka membuat Devan kembali mengecupnya dan memberi sedikit sesapan di belahan itu dan ditariknya pelan hingga membuat Nayra mendesah tertahan.
"Papa sama Mama ngapain.."
"Agghhhh.." teriak Nayra karena jatuh kedorong Devan yang kaget mendengar suara putranya, Kenan yang tiba-tiba masuk kedalam kamar.
"Mama.." teriak Kenan dan Kiara bersamaan dan berlari ke arah Nayra.
"Sayang kamu gak apa?" tanya Devan yang melihat Nayra jatuh karena ulahnya. Dia berjongkok di samping Nayra berniat untuk membantunya berdiri.
"Papa minggil..Papa dah buat Mama jatuh. Papa jahat." Kiara mendorong Devan sekuat tenaga namun tak membuat Devan berpindah tepat.
Kiara dan Kenan membantu Nayra berdiri dan membawa Nayra duduk di tepi ranjang.
Devan hanya diam saja dan berdiri dari posisinya. Dia tak berani mendekat karena kedua anaknya melotot ke arahnya seperti mengajak berperang.
"Gak ada yang sakit kan, Ma?" tanya Kenan yang melihat Mamanya jatuh.
"Gak sayang..Gak ada yang sakit kok." jawab Nayra sambil mengusap lengan Kenan.
"Kalian jangan khawatir ya..Mama baik-baik saja." sambung Nayra menatap Kiara dan Kenan bergantian
Kiara melirik Devan dengan menggembungkan kedua pipinya, mata menyipit, dengan mulut yang mengerucut lucu. Hampir saja Devan tertawa dibuatnya, namun dia tahan sebelum anaknya itu benar-benar mengajaknya perang.
__ADS_1
Kiara berjalan sambil berkacak pinggang ke arah Devan diikuti Kenan dengan berjalan santai namun memancarkan aura dingin.
"Papa jahat..Kenapa Papa dolong-dolong Mama sampai jatuh." sentak Kiara yang marah sama Papanya.
"Mulai hali ini Papa gak boleh dekat-dekat Mama lagi." sambung Kiara yang masih dengan nada tinggi.
"Malam ini Papa tidur di sofa, gak boleh tidur sama Mama sama Kiara juga sama Kenan." kata Kenan dengan nada rendah namun terkesan dingin membuat Devan menelan silivanya kasar.
"Kenapa putra ku ini dinginnya, Masya Allah. Aku saja kalah." batinnya.
Kiara mengangguki perkataan Kenan. Dia juga tidak mau tidur sama Papanya karena telah berbuat jahat pada Mamanya.
Devan melirik Nayra yang terlihat menahan tawanya. Nayra juga menjulurkan lidahnya seakan mengejek Devan. Kasihan dimusuhi anak sendiri. Kira-kira seperti itu yang Devan tangkap dari gerak bibir Nayra.
Devan menghembuskan nafas lelah. Dia berjongkok kembali di hadapan si kembar.
"Sayang..Pap..." belum juga Devan menyelesaikan kalimatnya sudah sarkas Kiara.
"Kia sama Ken gak mau bicara sama Papa." sarkas Kiara sinis dan berbalik mendekati Nayra.
Kenan hanya menatap Papa Devan cuek lantas pergi menuju pintu kamar. Dibukanya pintu.
"Papa silahkan keluar dari kamar." kata Kenan sambil melipat kedua tangannya di dada dengan memandang Papa Devan tajam.
Devan memicingkan matanya tak percaya akan kelakuan putranya itu. Dia melirik Nayra yang hanya mengendihkan bahunya.
"Keluar sendiri apa Ken panggilkan Opa." sambung Kenan yang melihat Papanya itu tidak kunjung beranjak pergi.
Dengan mendengus kesal, Devan akhirnya dengan pasrah keluar dari kamar tanpa ada yang mencegahnya.
Kenan hanya cuek saja saat Devan meliriknya sebelum keluar melewati pintu.
Brakkk
Devan terlonjak kaget saat pintu kamar itu dibanting dengan keras oleh Kenan dari dalam.
"Astaga putraku.." gumam Devan sambil mengelus dadanya.
Di dalam kamar Kiara dan Kenan tertawa cekikikan melihat ekspresi Papa Devan yang pasrah saat keluar dari kamar tadi.
"Kenapa kalian tertawa begitu?" tanya Nayra yang bingung melihat si kembar tertawa sampai cekikikan seperti itu.
"Kita berhasil mengerjain, Papa." jawab Kenan dengan merasa tak bersalah sedikitpun.
"Astaqfirullahalazim..." Nayra menatap kedua anaknya tak percaya.
"Jadi kalian tadi ngerjain Papa kalian?" tanya Nayra memastikan.
"Iya Mama. Kita belhasil mengeljain Papa." jawab Kiara membenarkan.
"Berarti kita nanti dapat hadiah dari Paman Nathan." kata Kenan dan diangguki Kiara.
"Kenapa dapat hadiah dari Paman Nathan?" tanya Nayra yang semakin heran akan sikap si kembar.
"Kalena tadi Paman Nathan meminta kita untuk mengeljain Papa." jawab Kiara dengan tampang polosnya.
"Dan kita berhasil." sambung Kenan dan bertos ria dengan Kiara.
Nayra menggelengkan kepalanya melihat tingkah anaknya itu. Mengerjain Papanya hanya karena iming-iming sebuah hadiah.
Apa jadinya jika Devan tahu kalau dia hanya di peralat anaknya untuk mendapatkan hadiah dari Pamannya.
Anaknya ini benar-benar ajaib. Berani mengerjain ayahnya yang baru mereka temui untuk sebuah hadiah.
"Apa kalian gak kasihan sama Papa?" tanya Nayra yang merasa kasihan akan Devan yang ternyata hanya di kerjain anaknya.
Kiara dan Kenan saling pandang. Mereka kalau ditanya kasihan apa enggak ya pasti kasihan lah. Apalagi mereka baru ketemu Papa Devan belum dua minggu. Tapi ini soal hadiah yang dijanjikan Pamannya lebih menggiurkan menurut mereka.
"Kasihan sih, Ma. Tapi hadiah dali Paman Nathan lebih dali segalanya." jawab Kiara dengan senyum yang mengembang di wajahnya.
"Emang apa hadiah dari Paman Nathan?" Nayra penasaran, hadiah seperti apa yang Nathan janjikan hingga membuat kedua anaknya dengan beraninya mengerjain Papanya sendiri.
"Jalan jalan ke Sea World." seru Kiara dan Kenan bersamaan dengan wajah ceria dan penuh semangat.
Nayra melongo tak percaya akan hadiah yang dijanjikan Nathan pada si kembar. Tapi akhirnya dia tersenyum saat melihat kedua anaknya itu yang antusias menyebutkan apa saja yang dapat mereka lihat nantinya di Sea World sesuai yang dia dengar dari Pamannya, Nathan.
"Semoga kamu gak marah, Dev. Apalagi mendengar alasan anak kamu mengerjain kamu hanya karena hadiah jalan jalan."
__ADS_1