Rahim Pengganti

Rahim Pengganti
Bab 36


__ADS_3

Melihat ayla yang duduk di sofa membuat deniz mengerti. ia pun melangkahkan kakinya dan duduk tepat di hadapan ayla, terpisah dengan meja sofa di tengah tengah keduanya.



Keduanya saling menatap hingga beberapa menit sebelum ayla duluan yang memutuskannya dan membuka suara.



Deniz menatap ayla dengan sangat menikmatinya tanpa sedikitpun ia lewatkan setiap gerakan bulu mata ayla yang panjang dan lentik bahkan setiap tarikan nafas ayla deniz menikmatinya.



'dress tidur, rambut tergerai, wajah polos tanpa make up...bersiap siap untuk tidur eh...?'. deniz diam diam menyungging senyum keji.



"jadi...semua...sudah tahu...?". tanya ayla terbata bata.



Deniz mengerjap.



"maksudmu kebohonganmu?! ".



Ayla sontak beralih menatap deniz kembali setelah tadi menunduk.



'ya sih, itu benar tapi'.



"itu...hanya terjadi begitu saja dan...maaf, aku harus merahasiakannya".



Deniz tidak menanggapi. dia hanya diam dan terus menatap beyza karna baginya sekarang itu yang penting.



Mereka kembali diam dengan hanya deniz yang terus menatap ayla dan sangat enggan melihat ke arah lain.



Satu pertanyaannya dari tadi dan dari kemarin kemarin.



'apa beyza tidak mengenali ku? apa aku begitu banyak berubah...? aku rasa tidak, terkecuali satu hal, tambah tampan lalu...jika dia tidak mengenaliku dari pertama dia melihat di rumah sakit lalu beberapa hari kita bersama dan sekarang di sini, hanya satu jawabannya beyza...sudah melupakannya bahkan aku yakin dia tidak ingat lagi'.



Deniz menggertak giginya. ingin sekali ia menghambur kehadapan beyza lalu mengingatkan siapa dirinya ini. ughhhh.



"bisakah aku bertanya satu hal...?". ayla menatap deniz menunggu jawaban deniz.



'dan aku juga menginginkan hal yang sama'. deniz membatin.



"katakan". seru deniz dengan suara dingin.



Ayla tersentak dengan suara deniz.



'apa dia marah denganku..? bukankah seharusnya aku yang marah di sini...?'.



"kenapa kamu menerima undangan Mr. Okan? aku tahu kamu deniz, melihatku bukanlah sesuatu yang membuatmu senang dan aku yakin juga kamu bisa menolak perintah pak khaled jika pak khaled menyuruhmu karna tidak ada dalam kontrak perjanjian, di tambah...di sana tertulis, jika aku hamil maka di saat itu kamu tidak akan berurusan lagi denganku dan kalian hanya akan menunggu sampai anak ini lahir, dan kenapa kamu di sini...?".



Kedua mata deniz membulat mendengar ucapan ayla bukan semua tapi di bagian. saat dia hamil maka...



'memang ada di dalam surat perjanjian begitu...? '. deniz berdecak kesal. sedetik kemudian ia mengumpat dalam hati karna semua yang tertulis di surat perjanjian adalah perbuatannya.



"dr. deniz...?". ayla memanggil deniz saat melihat deniz sibuk dengan dunianya dan tidak menanggapi pertanyaannya.



Deniz kembali menatap ayla.



"undangan dari seorang Mr. Okan, bukankah banyak yang menanti? kenapa aku harus membuangnya...?".



Ayla menaikkan satu alisnya. tentu saja dia akan berkata begitu karna dia tidak tahu bahaya apa yang sedang mengikutinya, seandainya dia tahu aku yakin, di bayar dia tidak akan mau ke sini.



Ayla bangkit berdiri sembari matanya masih menatap deniz.



"baiklah, kamu sudah menerimanya dan nikmatilah waktumu di sini, pelayan di luar akan mengantarmu ke kamarmu sendiri, pergilah". usir ayla ramah karna entah kenapa ia kesal di tambah, ia ngantuk.



Deniz ikut berdiri dan menatap ayla.



"bagaimana ini? Mr. Okan menyuruhku tidur di sini malam ini, di kamar ini katanya...". deniz menghentikan ucapannya lalu melangkah memutari meja dan berdiri tepat di hadapan ayla.


__ADS_1


Deniz menunduk mensejajarkan bibirnya dengan telinga ayla.



"seorang bayi merindukan kehadiran seorang ayah".



Kedua bola mata ayla sontak saja membulat.



'daddynya...sedang mempermainkannya bukan...?'. tunggu...



Ayla tersenyum sinis lalu mendongak menatap wajah deniz yang tepat di hadapannya.



Jika jantung deniz sudah berdegup tidak menentu karna wajah mereka yang begitu dekat namun tidak bagi ayla karna sekarang dia sedang di kuasai rasa kejengkelannya ke daddynya.



"bukankah kamu pernah bilang? kalau kamu tidak akan pernah sudi untuk tidur di kamar yang sama denganku...? dimana kata kata mu itu Dr. deniz...?".



Deniz menyungging senyum keji. lalu dengan cepat ia meraih pinggang ayla dan menyentaknya hingga tidak ada lagi jarak antara keduanya.



Ayla sontak saja menahan dada deniz dengan kedua tangannya dan menjauhkan wajahnya dari deniz namun wajah mereka tetap dekat dengan hanya berjarak beberapa centi.



"kamu pernah dengar kata orang? jika kamu masuk bertamu ke rumah orang maka di saat kamu berada di rumah itu, maka kamu harus mengikuti aturan rumah itu dan aku...mengikuti perkataan daddymu".



Ayla mengerjap. di mananya yang sama?. aturan rumah?. ada apa dengan pria ini.



"terserah kamu, aku enggak mau berdebat lagi capek aku mau tidur, lepaskan aku sekarang". perintah ayla dingin sembari meronta.



Deniz menatap wajah ayla yang sangat dekat dengannya.



"kamu...benaran...tidak mengenaliku...?!".



Pertanyaan deniz sontak membuat rontaan ayla terhenti dan ia beralih menatap wajah deniz, yang sangat dekat dengannya.



Deg...




Sungguh...ini tidak baik untuk jantungku.



"lepaskan aku dulu, baru setelah itu kita bicara lagi".



Deniz mendengar dan segera melepaskan ayla.


"kamu tadi bilang apa? mengenalimu? apa kamu sedang bercanda? atau...salah minum obat? ".



Deniz mengerjap sembari terus menatap wajah ayla.



"selim!...". deniz menghentikan ucapannya melihat reaksi wajah ayla namun ayla hanya bereaksi biasa.



Ayla menaikkan satu alisnya. 'selim..? tunggu...itu...'.



"nama itu...kamu masih mengingatnya? ". deniz menatap wajah ayla lekat lekat.



Ayla menggeleng sembari mendesah lelah.



"itu nama panjangmu, yang benar saja". bagaimana aku bisa lupa. kamu mengucapkannya saat menikahiku.



Deniz melangkah perlahan mendekati beyza yang jarak mereka sekitar 2 meter karna tadi ayla yang memundurkan dirinya tidak mau dekat dengan deniz. bisa bisa jantungnya copot keluar.



"13 tahun yang lalu, 3 hari kencan".



Ayla mengernyit tidak mengerti. '13 tahun yang lalu dan...dan apa? 3 hari kencan? '.



Melihat reaksi beyza membuat deniz mengerti. dia...sudah melupakannya. dari awal ia sudah tahu, kalau hari itu...sama sekali tidak penting untuknya lalu...



Ayla menggeleng lalu mendesah lelah dan berbalik melangkah dari sana.


__ADS_1


"selamat malam deniz". ucap ayla sembari melangkan namun terhenti karna mendengar ucapan deniz selanjutnya dan sukses membuat kedua bola matanya membulat.



"ciuman pertama mu dengan seorang pemuda yang bernama selim di umurmu 17 tahun, aku yakin kamu tidak melupakan itu, beyza... ".



Ayla sontak berbalik menatap deniz dengan kedua matanya yang membulat menatap deniz sedangkan suara degupan jantungnya sudah berirama di dalam sana.



"si-siapa kamu...sebenarnya...?".



Deniz tidak menjawab, dia malah menatap ayla dengan wajahnya yang penuh dengan rasa rindu yang sudah memuncak di dalam di dalam dirinya. satu titik air mata jatuh di pipi deniz. ia...sudah tidak kuat lagi.



Ayla menatap deniz dengan nafasnya yang naik turun. karna ia takut, ia takut kalau pemuda itu adalah pria yang sedang berdiri di depannya dan jika itu benar, bukankah ini seperti sebuah lelucon.



"deniz jawab aku, siapa kamu...dan...dan kenapa kamu tahu...". ayla menghentikan ucapannya karna ia tidak bisa melanjutkannya.


Deniz menguatkan dirinya dan menatap ayla dengan berani.



"karna pemuda itu adalah aku, selim! ".



Ayla menatap deniz dengan matanya yang membulat lalu ia menggeleng.



'selim, deniz selim...selim...'.



"tidak...itu tidak mungkin". katakan ini tidak mungkin, katakan kalau pria ini bukan.



"malam itu adalah malam terakhir perjanjian kencan kita dan malam itu juga selim mengambil ciuman pertama mu, malam itu...pertama kali bagi kita merasakan yang namanya ciuman dan kita...sama sama menikmatinya".



Ayla menggepal kuat tangannya. hanya satu, hanya satu pria yang keras kepala selalu memanggilnya dengan sebutan beyza, padahal


selalu ia larang dan membentaknya. baginya nama beyza tersebut, hanya daddy, mommy dan kedua kakaknya yang boleh memanggilnya dengan nama tersebut dan yang lain tidak akan berani bahkan mereka tidak tahu ia punya nama itu, karna ia sering di panggil queen jika di sekolah dan princess jika di luar dan beyza jika di rumah.



Deniz menunduk lalu mengangkat kedua tangannya melepaskan sesuatu di manik matanya dan seketika kedua matanya beda dengan tadi warna coklat dan sekarang berwarna abu abu. manik mata yang sangat indah dan bisa terhipnotis siapapun yang malihat.



'tunggu, selim...dia...manik mat...'. kedua mata ayla sontak saja membulat saat ia mendongak menatap deniz.



'dia...selim...?'.



Kedua manik mata ayla yang hijau melihat memerhatikan manik mata deniz yang berwarna abu abu.



"bukankah tadi matamu...".



Deniz memperlihatkan lensa mata di telapak tangannya pada ayla.



Ayla tersentak saat mengingat pertama kali ia melihat deniz. di rumah sakit dan mata deniz saat itu warna abu abu, apa karna manik matanya ini ia jatuh hati? padahal selama ini ia tidak pernah suka sama pria manapun termasuk calon suaminya. yang tampannya di gilai banyak wanita tapi tidak dengannya.



"apa perlu kita ulang lagi ciuman itu beyza? aku masih sangat hafal betul gerakannnya". deniz tersenyum keji sedangkan ayla membulatkan matanya.



"dalam mimpimu dan kamu pikir aku percaya, tidak? sama sekali aku tidak percaya karna apa? karna kamu dan dia sungguh jauh berbeda, kamu? pria kejam, dingin, suka marah marah, bajingan dan brengsek sedagkan dia? dia... ".



Ayla mencoba mengingat semua tentang selim.



Deniz menyatukan kedua alisnya menunggu ucapan ayla selanjutnya. karna dari dulu ia selalu bertanya tanya apa kesan beyza padanya.



"dia...pemuda yang sangat lucu, tidak seperti dirimu, kejam! ". ayla berbalik melangkah pergi dari sana meninggalkan sosok deniz yang sedang menahan amarahnya.



'lucu? tidak ada kata lain yang lebih pantas...?'. deniz menggeram.










__ADS_1


__ADS_2