
"ayla tunggu...". seorang pria berlari mengejar ayla yang terus melangkah tanpa berniat mau berhenti.
"ayla? ". pria tersebut menahan tangan ayla agar berhenti.
Ayla dengan malas berbalik melihat pria di depannya setelah menyentak tangannya hingga lepas.
"apalagi murat? aku sudah bilang aku tidak bisa". ayla berusaha bersikap tenang padahal ia sudah kesal dari tadi.
"setiap hari kalau aku yang ajak, kamu selalu bilang tidak bisa ayla? lalu kapan kamu bisa? ". murat sedikit menaikkan nada suaranya.
"nada bicaramu seperti aku pacarmu saja murat? dan asal kamu tahu, bukan hanya kamu saja! sudah aku tidak mau berdebat denganmu, waktuku yang singkat termakan olehmu". ayla kembali melangkah, namun lagi lagi murat menahan tangannya.
Ayla segera menepis. "murat kamu jangan kurang ajar, di tambah! berhenti meletakkan bunga atau apapun itu di meja kerja ku". geram ayla menahan marahnya.
"berapa kali aku bilang ayla? kalau aku menyukaimu? sangat mencintaimu".
Ayla berhenti melangkah dan berbalik lagi dengan malas.
"dan mereka juga". balas ayla dingin sembari menatap murat. mereka para pria yang selalu mengejarnya namun tidak seperti pria ini yang sangat gigih.
"aku pernah bilangkan ayla? kalau aku tidak akan pernah menyerah".
"itu hakmu murat dan untuk sekarang aku minta padamu jangan ganggu aku, aku tidak punya waktu". ayla berbalik.
"kerumah sakit lagi?! ".
Langkah ayla lagi lagi berhenti. ia sama sekali tidak takut kalau murat tahu perasaannya kalau ia mencintai pria yang sudah beristri.
"iya, mau gimana lagi? ini hobi ku, sudah ya? ". ucap ayla lalu melangkah pergi dari sana dengan wajahnya yang girang karna ia akan bisa melihat kekasih hatinya he he he.
Aku hanya punya waktu 2 jam hari ini di jam istirahat makan siang perusahaan setelahnya aku harus masuk kerja lagi dan lembur sampai tengah malam dan juga sebelumnya akan ada meeting penting dengan klien yang datang dari ingris, untuk membahas beberapa hal penting karna itu nanti malam aku tidak bisa ke rumah sakit dan waktunya sangat singkat hari ini, di tambah murat mengambilnya sedikit ugh...
trett...
Aku meraih hp di dalam kantong celanaku lalu menatap layarnya melihat siapa yang memanggilku.
Aku mendesah lelah saat melihat nama siapa di layar hpku.
"Aliye..." ayla dengan cepat menjauhkan hp dari telinganya saat suara memekik keras di seberang sana.
"JANGAN BILANG KAMU MASIH DIPERUSAHAAAN".
Aku memejamkan mataku sembari menarik nafas.
"5 menit aku akan ada di sana okey?! " ujarku penuh kesabaran.
"3 menit, jika tidak seminggu ini aku akan nginap di tempat mu". klik...
Aku menatap layar hpku sebentar mencerna apa yang baru saja di ucapkan temanku lebih tepat ancaman. aku kembali memasukkan ke dalam kantong jas kerjaku lalu menyebrang jalan di ikuti para penyebrang lain juga.
Karna kemarin kemarin di sibukkan dengan kerja dan aktifitas relawanku, aku tidak sempat melihat sahabatku yang di rawat di rumah sakit tersebut. padahal hari ini aku tidak sempat juga karna sangat banyak pekerjaan yang akan menumpuk jika aku pergi walau sebentar saja tapi mau gimana lagi, jika aku tidak pergi maka mereka akan terus menelponku seperti tadi pagi, di saat aku sedang rapat penting, hpku terus menerus bunyi bahkan sampai aku harus menonktifkan dan sepertinya, hari ini aku tidak bisa cuci mata yaitu melihat orang yang aku cintai.
"assalamu'alaikum". Aku memberi salam begitu masuk ke dalam kamar pasien milik aliye.
"wa'alaikum salam, datang juga kamu". sahut aliye dengan nada kesal.
Langkahku berhenti saat melihat apa yang sedang di lakukan temanku aliye.
"apa yang sedang kamu lakukan?! ". tanyaku sembari mendekat ke arahnya.
Aliye mengedikkan bahunya. "seperti yang kamu lihat".
"kamu keluar hari ini? ". tanyaku menoleh melihat aliye.
Aliye mengangguk.
"kenapa? baru 2 hari kamu di rawat".
Aliye meletakkan punggung tangannya ke kening ayla.
"sekarang aku sudah baik baik saja"
"apa masalah pekerjaan? bukankah kamu sudah izin?! ".
"banyak yang tidak bisa mereka lakukan jadinya banyak pekerjaan menumpuk". Aliye terus memasukkan barangnya ke dalam tas.
Aku mendesah lelah lalu ikut membantu.
"maafkan aku, seharusnya aku bisa mengantarmu"
Aliye mengedikkan bahunya. "kita sama sama bekerja, mencari uang menafkahi diri sendiri".
Aku menarik nafas. "bagaimana kalau pulang ke tempat ku saja? siapa tahu ada waktu luang aku akan membantumu, kita kerjakan sama sama".
Aliye sontak saja menatap ayla lalu ia tersenyum senang. "ide bagus tuh"
Aku tersenyum.
"baiklah, ayo aku bantu bawa ke taksi".
"tidak taksi, emran menjemputku".
"dan sekarang dia? "
__ADS_1
"aku lapar jadinya aku suruh beli makanan"
Aku hanya ber oh saja. oh ya.
"euhmmm...aliye? jika kamu sudah mau keluar telpon aku ya? aku keluar sebentar".
Aliye menatap ayla. "cuci mata?! ".
Aku tersenyum malu. "hanya sebentar" aku membentuk tangan untuk ukuran kecil.
Aliye mendesah lelah. "terserah kamu deh ayla, jangan tersakiti saja".
"siap" jawabku sembari melangkah ke pintu.
Di tengah jalan menuju ruangan praktek dr. deniz aku mendengar banyak kasak kusuk salah satunya dan yang paling penting bagiku adalah, istri dr. deniz datang dan yang aku dengar dari mereka para perawat, dr. deniz dan istrinya bertengkar. memang iya? aku rasa itu hanya gosip.
Aku menggelengkan kepalaku tidak percaya sembari mempercepat langkahku.
Setelah sampai di ruangan dr. deniz aku harus kecewa karna dr. deniz tidak ada di sana. dan setelah bertanya ke perawat di sana, mereka bilang dr. deniz dan istrinya sudah keluar.
Aku mendesah lelah. sia sia saja.
Aku melangkah malas menuju kamar rawat aliye.
kleck...
Mataku melebar sempurna saat melihat pemandangan yang ada di dalam kamar tersebut. dengan cepat aku menutup pintu lalu mendongak menatap no kamar dan nama siapa yang tertulis di sana.
"oh...tidak! aku salah masuk...? oh ayla kamu benar benar".
"siapa di sana? ". suara pria dari dalam kamar yang aku buka tadi sukses membuatku terkejut dan ketakutan.
'bagaimana ini? bagaimana ini'. aku melihat ke segala arah yang bisa aku jadikan tempat sembunyi.
Mendengar suara sepatu pria yang mendekat membuatku semakin panik al hasil dengan cepat aku berlari ke arah tangga yang aku tidak tahu kemana jatuhnya.
Sampai di tangga teratas dengan nafasku yang naik turun sembari menopang kedua tangan pada lututku.
"hah...hah.. hah...oh aku benar benar sial hari ini, arghhh...". aku berteriak melepaskan nafasku yang lelah.
Aku mencoba melihat ke bawah siapa tahu pria itu mengejarnya. aku sudah mengganggu aktifitas sex orang lain. oh benar benar. entah suami istri atau tidak. bukan urusanku. yang jadi masalahnya...ini di mana.
Aku melihat ke sekitar. mataku melihat satu pintu tanpa banyak tanya aku langsung membukannya dan apa yang aku lihat kali ini...sungguh membuat jantungku kembali sehat.
Aku melangkah ke sana dengan pelan dan pintu di belakangku tertutup otomatis.
"ini...atap rumah sakit?! ". ujarku tidak percaya. mataku menatap ke langit siang yang begitu cerah. Aku terus melangkah hingga sampai di pembatas atap.
Di atap perusahaan ingin sekali aku naik ke sana jam makan siang namun selalu saja ada para pria di sana, entah minum kopilah, merokoklah bahkan ada yang berkencan. tapi di sini tidak ada siapapun.
"HENTIKAN CEYDA".
Ayla tersentak kaget saat mendengar suara teriakan seseorang yang berasal dari atap tersebut.
'tunggu...bukankah tadi tidak ada orang? '.
"selim? aku sudah bilang aku baik baik saja, dan aku sudah putuskan aku mengizinkannya, aku setuju dengan keputusan kakek".
"kamu sudah gila ceyda? "
"selim? kita...".
"kamu membiarkan aku tidur dengan wanita lain?".
"aku harus ikhlas, ini demi kita juga, demi bersama, aku tidak mau berpisah darimu deniz? aku takut? ".
Mata ayla sontak melebar. 'deniz? Ceyda?... bukankah itu...nama istri dr. deniz? '.
"ceyda kamu tahu kalau wanita itu adalah arin"
"aku sudah bilang sama papa dan kakek kalau aku setuju, dan juga aku sudah minta sama mereka kalau bisa wanita itu jangan arin tapi lain".
Deniz menatap ceyda tajam. "kamu yakin dengan keputusanmu ceyda? ". geram deniz.
Ceyda mengangguk. "aku percaya dengan hatimu dan cinta kita".
"lagian...seperti kata nenek, hanya sebentar lalu tidak lagi"
Deniz menarik nafas sembari membawa ceyda ke dalam pelukannya.
'apa semua harus berakhir begini? '
"tidak ada cara lain? ". deniz bertanya sambil mengusap rambut ceyda.
"kita sudah mencoba semuanya, jangan membohongi dirimu deniz?..". ceyda menatap ke dalam mata deniz.
"kalau ternyata kamu juga menginginkan seorang bayi, sama sepertiku".
Deniz kembali memeluk ceyda.
"bukan dengan wanita lain tapi denganmu". balas deniz lembut. seketika amarahnya turun melihat wajah istri tercintanya.
"maafkan aku yang cacat dan kekurangan ini".
__ADS_1
"sshttt...". deniz meletakkan jari telunjuknya di bibir ceyda.
"tidak ada yang sempurna ceyda, begitu juga denganku, jangan membahas itu lagi, aku mencintaimu dengan gila".
Ceyda tersenyum senang. itu adalah kata kata yang sangat sering ia dengar selalu dari suaminya. mencintai dengan gila.
"sama". balas ceyda di sertai anggukan kepalanya.
"lalu...jika kamu sudah setuju, apa kakek atau papa sudah menyiapkan wanitanya? kamu sudah kenal dia? ". deniz menatap wajah ceyda.
Ceyda menggeleng. "papa dan kakek belum memberikan kabar dan aku tidak berani mencari sendiri".
"takut suamimu di ambil orang eh? ". deniz menggoda ceyda.
"sudah ku bilang, aku percaya hati dan cintamu".
Deniz tersenyum bahagia. "ya! itu benar, percaya padaku". lagi lagi deniz memeluk ceyda dengan sangat erat dan sesekali ia akan mengecup kepala ceyda.
Ayla yang mendengar semua dari balik dinding mencekram kuat ujung jas kerjanya.
Sedih, hancur, semuanya terserang di saat bersamaan. cinta mereka tidak akan pernah terpisahkan dan aku...memang hanyalah seorang pengagum saja.
Tanpa terasa air mata ku jatuh. kurasa ini saatnya aku menyerah dengan perasaanku dan membunuhnya.
Aku tersenyum miris sembari menghapus air mataku. Aku berbalik mau melangkah pergi dari sana namun terhenti saat pikiran gila masuk ke dalam otakku. benar benar gila.
"aku mau". ujarku mengejutkan dua sejoli di sana yang sedang berpelukan.
Entah bagaimana aku bisa berdiri di depan mereka aku juga tidak tahu. hati dan pikiranku membawaku ke depan mereka.
"maaf?! ". itu adalah suara ceyda yang tidak mengerti maksud ayla.
Deniz mengerutkan dahinya dengan kehadiran seorang wanita di sana dan tiba tiba bilang 'aku mau, apa maksudnya? '
"aku bilang aku mau jadi rahim pengganti! bukankah kalian sedang mencari itu?! ". iya benar ayla, kamu benar benar sudah gila.
Kedua mata deniz dan ceyda sontak membulat. mereka saling melihat sebelum kembali melihat ayla.
"kamu..."
"tenang saja, aku tidak akan menceritakan pada siapapun, hanya saja tadi aku tidak sengaja mendengarkan! untuk itu aku minta maaf" kamu memang sengaja mendengarkan ayla.
Deniz mengusap wajahnya kasar.
Ceyda melihat deniz dan ayla bergantian. di hatinya ada semburat rasa ketakutan. lihat saja wanita ini sangat cantik dan juga tubuhnya...sangat seksi. aku yakin banyak pria yang tergila gila padanya lalu...kenapa dia menawari dirinya untuk jadi rahim pengganti?. apa dia...wanita simpanan?.
"lebih baik kamu pergi dan tutup mulutmu rapat rapat". ancam deniz ke ayla.
"pertama aku bisa memperoleh uang dengan menyebar gosip ke media berita dan kedua, aku bisa memperoleh uang dari kesepakatan ini". karna aku tidak tega wanita lain hadir dan merusak rumah tangga kalian yang sangat bahagia ini.
"apa tujuanmu? ". ceyda menatap ayla tajam. benar, sepertinya wanita ini wanita simpanan.
Ayla mengedikkan bahunya acuh.
"tidak lain, uang". ucap ayka meyakinkan.
Dan tebakan ceyda semakin membenarkan.
"baiklah tutup mulutmu, berapa kamu mau? ". tawar deniz tidak mau ambil pusing.
Ceyda dengan cepat melihat deniz.
"apa maksudnya? jadi tidak mau meminjam? ".
Deniz menggeram marah. "jika kamu sudah menjadi wanita jalang maka lebih baik kamu menjual tubuhmu di pasar malam sana, aku tidak akan meminjam rahim dari wanita jalang seperti kamu". ucap deniz dengan wajah dingin dan kejam.
'apa jadinya anakku jika terlahir dari rahim wanita jalang'.
Ayla sangat terkejut dengan ucapan deniz namun ia menguatkan dirinya.
"anda benar aku wanita jalang atau di sebut wanita panggilan tapi tidak seharusnya anda juga berkata kasar, kalau begitu aku permisi". Aku berbalik pergi namun aku tidak benar benar pergi karna aku yakin istrinya akan setuju.
'1 2 3 4 li... '
"tidak tunggu! ". panggil ceyda menghentikan langkahku. aku tersenyum kemenangan.
"ceyda! ".
"tidak deniz? dia yang kita cari, dia yang cocok"
"kamu bercanda? dia wanita panggilan, kamu dengar tadi? ".
"karna itu...aku setuju".
Deniz mengerutkan keningnya. "maksudmu? ".
Ceyda tersenyum tipis. "karna aku tahu dia wanita panggilan dan aku yakin kamu membencinya di tambah, yang di butuhkan wanita itu adalah uang setelahnya dia mau apa? ".
"ceyda..! "
"euhmmm...bisakah kita membicarakan ini lebih lanjut? maafkan ucapan suamiku tadi". ceyda mengacuhkan deniz dan memilih melangkah mendekati ayla.
"tidak masalah, asal permintaan maafnya di jumlahkan dengan uang, aku terima". jawab ayla sembari menatap wajah deniz dengan tajam. ayla berakting dengan sangat bagus.
__ADS_1