
"aku selalu memegang perjanjian, katakan! ". perintah deniez tegas dan tajam.
Ayla berdecak kesal sembari membanting pintu kulkas setelah mengambil beberapa sayuran yang ia butuhkan untuk membuat satu porsi nasi goreng, makanan khas indonesia yang sangat ia sukai.
"kamu bukannya hanya seorang bajingan ternyata keras kepala juga ya? baiklah, jika kamu yang minta, jangan pernah menyesal...pertama! lepaskan bajumu".
"kamu pikir aku mau?! " deniez menolak keras. ia sama sekali tidak sudi tubuhnya di lihat wanita lain selain ceyda.
"jangan membantah, ingat? malam ini tubuhmu milikku, buka se-ka-rang! ". ujar ayla sembari menatap deniez dengan melototkan matanya.
Deniz menggeram marah namun tetap melepaskan baju kemeja putihnya dengan membukakan kancingnya satu persatu sedangkan matanya menatap punggung ayla tajam.
Ayla merasakan panas dingin di bagian punggungnya jika saja mata si empunya di belakangnya ini memiliki laser sungguh sekarang punggung bagian tubuhnya sudah bolong bolong.
"sudah! ". geram deniz dengan matanya tetap menatap ayla.
Ayla asik bergulat dengan makanannya di dapur tanpa berniat mau meladenin deniz.
"sudah? kalau begitu duduklah di sana temenin aku makan". ayla menunjuk ke meja makan yang berada tepat di depan deniz dan tanpa melihat deniz.
"itu tidak sesuai perjanjian dan kamu kira aku sudi?! " deniz mendengus sinis.
Ayla menghela nafas. ia berbalik dengan malas untuk berhadapan dan berbicara dengan deniz namun seketika matanya sontak membulat saat melihat deniz yang tidak memakai baju. oh ayolah, ia juga perempuan yang mengidolakan pria bertubuh sixpack begitu.
Ayla menelan ludahnya gugup dan sontak berbalik membelakangi deniz lagi dengan suara jantungnya yang berdegup kencang.
"terserah aku dong? bukankah tadi janjiannya aku bebas mau melakukan apapun? termasuk itu juga, sudah duduk sana saja". kesal ayla setelah menenangkan dirinya agar bersikap tenang dan tidak terbawa perasaan.
Ayla menaruh nasi goreng yang sudah masak ke dalam piring yang sudah ia sediakan lalu mengambil gelas menuangkan air putih.
Deniz menggeram marah sembari melangkah ke meja makan lalu membanting bajunya di atas meja dan duduk di mana ayla perintahkan.
'jika tahu begini sungguh ia tidak akan menantang wanita ini tadi tapi...bagaimana dia bisa bela diri? '. deniz memerhatikan ayla yang melangkah ke meja makan sembari kedua tanganya terisi.
Tak...tak..
Ayla meletakkan nasi gorengnya serta air putih.
Deniz mengerjap melihat makanan yang di dalam piring tersebut.
"apa itu? terlihat sangat mengerikan"
Ayla beralih melihat deniz di saat ia sedang menarik kursi yang berada tepat di depan deniz.
"mengerikan...? ini makanan, namanya nasi goreng! kamu yang mengerikan di sini". geram ayla kesal lalu menyuap nasi gorengnya.
Deniz mendengus dan tersenyum keji.
"di mana aku yang mengerikan? ini pertama kali baru ku dengar semenjak umur ku sudah 33 tahun"
"oh, aku merasa sangat tersanjung menjadi yang pertama! anda tidak sadar kalau sifat anda sangat mengerikan, lebih tepat bajingan".
Deniz menetap ayla dengan giginya yang bergemelatuk karna geram dengan wanita yang duduk di depan matanya ini.
'baru kali ini ada orang yang berani mengatainya bajingan tunggu...jika di pikir pikir bukan ini pertama kalinya wanita ini mengatainya bajingan'.
Deniz mendengus sinis. "jangan katakan kalau aku bajingan karna aku memasukimu dari belakang atau? karna aku keras terhadapmu! apa yang kamu harapkan? kelembutan dariku? mimpi saja sana" deniz berkata kejam dan tajam dengan kedua tangannya terlipat di depan dada sembari menatap ayla dengan remeh.
'mungkin bagi pria pria lain wanita ini cantik dan juga sangat seksi namun tidak baginya, lihat saja, duduk dekat begini saja ia sama sekali tidak pangling atau tertarik'.
Ayla mencekram sendok di tangannya kuat kuat sebelum menatap deniz tajam.
"memang siapa yang berharap kelembutan dari pria bangsat seperti mu!"
Brakhhh...
"KAU...". geram deniz murka sembari membanting meja.
"jangan etikamu deniz, ini rumahku dan aku sedang makan". ayla takkalah keras suaranya seperti deniz.
"mulutmu jika saja bukan aku namun pria lain mungkin kamu sudah mati dari tadi"
"dan bersyukurlah kamu, aku tidak menghajarmu hingga harus di rawat seminggu di rumah sakitmu sendiri".
"Kau". geram deniz murka sembari menatap ayla tajam.
"kenapa? mau coba lagi?". tantang ayla tanpa takut.
Deniz serta ayla sama sama menatap tajam satu sama lain di sertai wajah mereka yang merah karna marah.
"jalang tetaplah jalang"
"tentu saja, karna sekali bajingan seumur hidupnya akan jadi bajingan". ayla membalas tajam namun tidak menatap deniz lagi. ia memilih mengambil nasi gorengnya dan pindah duduk ke depan ke ruang sofanya.
Deniz yang melihat itu hanya menatap punggung ayla acuh lalu ia pun bangkit berdiri menggunakan bajunya lagi dan melangkah keluar dari apartemen ayla.
Kedua pria bersetelan di sana tidak mencegah deniz karna mungkin waktu yang cukup lama deniz di dalam membuat mereka percaya.
__ADS_1
Deniz masuk ke dalam mobil dengan membanting pintu bahkan membuat kedua pria di sana tersentak terkejut.
"langsung pulang pak? "
"tidak? tentu saja". teriak deniz marah ke mereka berdua.
Deniz mengatur nafasnya yang naik turun. ia mengingat ceyda dan seketika emosinya turun dan nafasnya kembali normal.
💓💓💓
Ke esokan paginya.
Entah karna apa akhir akhir ini ia cukup sering ke perusahaan altan hanya sekedar ngobrol yang tidak penting atau berbaring saja di sana sembari melihat altan yang bergulat dengan berkas di depannya.
Sesekali ia akan bertanya ke altan apa enak memimpin sebuah perusahaan dan jawaban altan membuatnya menyesal dalam bertanya.
"jika bisa di pilih aku memilih untuk tidak melakukan apapun tapi bersenang senag saja menghabiskan apa yang sudah ada dengan liburan ke sana sini". itu jawabannya.
Ia bertanya karna dulu sempat kakeknya menawarinya untuk kerja di perusahaan. ia menolak keras karna selanjutnya ia bisa menebak kalau kakeknya akan melepaskan semua tanggung jawab perusahaan kepadanya. di tambah ceyda tidak suka kalau ia kerja di perusahaan, dia lebih suka kalau suaminya menjadi dokter seperti sekarang.
Beberapa hari sudah ia datang kemari begitu juga dengan wanita ini yang sudah beberapa hari terus ke kantor altan dengan berbagai berkas di tangannya lalu membantu altan mengerjakan berkas berkas tersebut di sofa hingga sampai malam. kenapa ia tahu? karna waktu pulangnya dari rumah sakit dan langsung ke apartemen wanita ini. wanita ini selalu habis pulang kerja, jika bukan melihatnya dengan handuk mandinya yang melilit tubuhnya hingga terpaksa ia harus menunggu sampai dia makan malam atau mereka berjumpa ketika mau naik lift atau berjumpa di pintu apartemen.
"aku kembali kerumah sakit dulu, makan siang tidak tahu mungkin tidak jadi". ujar deniz setelah bangkit berdiri.
"sekarang? cepat sekali, belum sampai beberapa jam seperti biasa! apa karna ayla? tenang saja, dia hanya membantu kerjaku dalam beberapa hal karna zena izin kerja beberapa hari ke depan, oh ya! tidak masalah karna aku ada meeting siang ini aku dan ayla akan makan siang di luar"
Ayla yang merasa namanya di sebut beralih melihat altan dari matanya melihat berkas di depan matanya lalu ia beralih melihat deniz yang juga melihatnya hingga manik mata keduanya bertemu namun hanya sebentar sebelum ayla kembali melihat ke berkasnya.
Ayla menggeram. bukan karna kesal dengan deniz melainkan kesal karna pekerjaannya.
'jika saja pak altan tidak terus memaksanya maka ogah baginya mau membantu, seperti sekarang'. ughhh.
"bukan karna itu, ada beberapa hal yang harus aku urus, pergi dulu" ujar deniz sembari melangkah ke pintu.
"baiklah, besok datang lagi! dan hati hatilah menyetir, wajahmu terlihat sangat lesu teman? pulanglah jika kamu merasa dirimu tidak sehat"ujar altan sembari melihat kepergian deniz.
Deniz hanya menjawab dengan gumaman dan mengangkat tangan acuh sebelum pintu tertutup kembali.
💓💓💓
Malam hari jam 10:13. ayla berada dirumah Al-khaled dan terlihat mereka sedang membicarakan sesuatu yang penting.
"aku dengar dari istriku katanya ada sesuatu yang penting yang mau kamu bicarakan, apa itu?! " tanya khaled yang duduk di sofa lain tepat di depan ayla.
"aku perlu bantuan anda karna hanya anda yang bisa menyelesaikan ini tanpa pak altan tahu"
Kedua alis khaled sontak bersatu.
"altan? ada masalah?! "
"
Ayla menggeleng. "sejauh ini tidak tapi aku khawatir akan memanjang jika tidak di tangani lebih awal"
"sepertinya serius"
"tidak seserius itu"
Pak khaled menarik nafas dan menegakkan duduknya pertanda kalau ia sudah serius.
"katakan, apa yang bisa aku bantu"
"nenek pak altan, memintaku untuk menjadi cucu menantunya!".
Pak khaled tersentak kaget. "nyonya tua almira?! ".
"maaf pak, aku tidak tahu nama beliau karna aku hanya sering memanggilnya nenek saja"
"kamu kenal nenek tua dari Group Almira?! "
Ayla yang sudah tahu apa itu Group almira hanya bersikap santai saja. sama seperti orang di negeri tersebut yang tahu Group Al-khaled karna kekayaan mereka menjuarai negeri tersebut bahkan sampai luar negeri perusahaan mereka.
"ceritanya panjang dan aku rasa aku tidak perlu menceritakannya ke anda"
Khaled sontak menarik nafasnya. 'gadis ini tidak bisa di ajak ngobrol jika sudah serius"
"jadi!"
"awalnya aku kira nenek hanya bercanda dan sekedar iseng namun saat melihat ke seriusan pak altan tadi...aku merasa ini sudah tidak baik! aku bisa menangani pak altan namun aku tidak bisa menangani nenek, aku tidak tahu harus berkata seperti apa kenapa aku menolak cucunya..."
"tunggu...! jadi altan sudah melamarmu? maksudmu tadi? ".
Ayla mengangguk samar. " saat makan siang, aku tidak tahu nenek juga datang dan...yah begitulah"
Khaled terkekeh sendiri.
__ADS_1
Ayla melihat hal tersebut dengan wajah bingung. 'memang ada yang lucu?! '
"maaf pak?! "
"oh ya ayla maaf! aku hanya tidak habis pikir saja! kamu tahu? biasanya altan itu pria yang suka gonta ganti wanita seperti mengganti baju saja tidak pernah serius dan kakek terkejut saat kamu bilang dia melamarmu padahal kalian tidak berkencan juga"
Ayla mengerjap. ia juga pernah dengar gosip tersebut di perusahaan. ia pikir itu hanya gosip murahan tapi ternyata bukan sekedar gosip.
"ya kamu benar, ini memang sudah mengkhawatirkan, tidak mungkin bagimu menerima lamarannya di saat kamu akan mengandung anak deniz dan melahirkan anaknya! deniz dan altan bersahabat baik..."
"pak? maaf menyela, saya sama sekali tidak memikirkan itu tapi yang saya perlu bantuan anda adalah nenek, jadi anda harus menjelaskan ke nenek siapa saya dan tugas saya sehingga nenek tidak akan terus memaksa karna saya tidak tahu harus menjelaskan apa"
Khaled mengangguk. "lalu bagaimana dengan altan, jika kamu bekerja di perusahaan altan bukankah cepat atau lambat dia akan tahu?! "
"dia tidak akan tahu, percayalah! karna yang aku tahu, pak altan akan menikah jika itu wanita pilihan neneknya dan jika nenek sudah tahu siapa saya maka aku yakin nenek tidak akan setuju lagi dan pak altan tidak bisa berbuat apapun lagi"
"aku hanya perlu menjelaskan"
Ayla mengangguk lagi.
Khaled mengangguk angguk mengerti.
"baiklah, besok saya akan bicara dengan nyonya tua almira, kamu tenang saja tapi...kakek punya pertanyaan"
"silahkan"
"apa selama seminggu ini, kalian... "
"percayalah pada cucu anda, dia menjalankan tugasnya dengan baik, kalau begitu saya permisi dulu pak?! ". pamit ayla sembari berdiri.
"oh tunggu! kami ada acara makan malam bersama di sini, maukah kamu ikut?sebentar lagi yang lain pada datang"khaled juga ikutan berdiri.
Ayla tersenyum tipis sebelum menjawab.
"terima kasih pak tapi maaf aku tidak bisa, setelah dari perusahaan tadi langsung ke sini jadi...maaf"
Khaled memerhatikan pakaian ayla lalu mengangguk mengerti.
'dari tadi ia tidak memerhatikan, ternyata gadis ini masih memakai pakaian kerjanya'.
"baiklah kalau begitu, hati hati di jalan! ke sini naik taksi atau..."
"menyetir sendiri, saya pamit pak, assalamu'alaikun"
"wa'alaikum salam".
Ayla melangkah keluar dari ruang kerja khaled begitu juga dengan khaled yang mengantar ayla hingga sampai di depan tangga.
Suara sepatu high heels ayla memenuhi rumah khaled. langkah ayla terhenti saat melihat deniz dan ceyda di depannya yang sedang melangkah dengan bergandengan tangan.
Ayla memasang wajah dingin dan datar lalu kembali melangkah setelah berpamit sekali lagi ke khaled yang berdiri di depan tangga.
Bukan hanya ayla yang berhenti, deniz dan ceyda juga berhenti saat melihat ayla di depan mereka. bagi ceyda mungkin terakhir melihat ayla adalah saat hari pernikahan suaminya tapi bagi deniz. ia baru saja tadi melihat di perusahaan altan. karna malam ini ada acara kumpul bersama di rumah besar kakeknya jadinya ia malam ini tidak perlu ke tempat tinggal wanita itu. bisa di katakan ia sangat senang dan bahagia malam ini seperti hidupnya kembali normal.
Ayla melangkah melewati deniz dan ceyda bahkan ayla tidak menjawab sapaan ceyda untuknya. lagian tidak perlu basa basi karna inilah ia yang terlihat angkuh dan sombong.
Deniz tidak membuang matanya dari menatap ayla sampai wanita itu dekat di hadapannya hingga melewati dirinya dan ceyda.
Pikirannya bertanya tanya kenapa wanita itu kesini? apa yang perlu dia bahas dengan kakek?!.
Ceyda melepaskan tangan deniz dan melangkah cepat ke arah khaled yang masih berdiri ditangga.
"kakek? kenapa ayla datang kemari? ada apa?! ". tanya ceyda begitu tiba di depan khaled.
Khaled melihat ceyda lalu melihat ke arah cucunya deniz.
"tidak ada apa apa, tidak ada hubungannya dengan kalian tenang saja"
"bukan begitu kakek tapi kelihatannya penting banget"
"tidak ada, tunggulah yang lain datang baru kita mulai" ujar khaled acuh lalu berlalu dari san sembari meletakkan kedua tangannya di kantong celananya.
__ADS_1