
"Assalamualaikum." teriak Kenan dan Kiara saat mereka baru kembali dari menangkap ikan di emang milik mang Jali.
"Walaikumsalam ponakan Bibi yang cantik dan ganteng." jawab Dahlia yang baru saja turun dari lantai dua.
"Mana ikan nya? tadi katanya mancing di empang." tanya Dahlia yang melihat Kenan dan kiara tidak membawa ikan justru membawa buah naga.
"Di bawa Papa sama Paman Romi." jawab Kenan.
"Dek Eza nya mana, Bi?" tanya Kiara yang tak melihat Eza.
"Ada di belakang sama Daddy." jawab Dahlia.
"Sayang, kalian mau kemana? Ganti baju dulu!" teriak Nayra yang melihat si kembar berlari ke belakang rumah.
"Nanti Mama." teriak Kenan dan Kiara bersamaan.
Nayra menggeleng kepalanya dia lantas berjalan menuju sofa untuk duduk sebentar. Kepalanya merasa pusing.
"Kak Nayra kenapa?" tanya Dahlia ikut duduk di sofa.
"Entahlah, pusing banget kepalaku." jawab Nayra sambil memejamkan matanya.
"Istirahat aja dulu Kak di kamar. Mungkin Kakak kecapekan." kata Dahlia.
"Ehmmm.."
"Yang lain mana Kak. Kok gak kelihatan." tanya Dahlia.
"Mungkin lewat samping. Tadi dapat banyak ikannya." jawab Nayra.
"Kenan sama Kiara saja tadi sampai masuk ke kolam nangkap ikan pakai jaring." cerita Nayra.
"Serius??" Nayra mengangguk. "Kok bisa?" Dahlia sepertinya heran melihat tingkah si kembar.
Nayra memposisikan dirinya duduk tegak menghadap Dahlia. "Kamu pernah dengar Papa atau Mama cerita awal si kembar kesini nggak?" tanya Nayra.
Dahlia menggeleng sekali, "Nggak." jawabnya.
"Mereka datang membawa ikan emas yang mereka tangkap dari kolam depan rumah." kata Nayra mengingat pertama kali datang ke rumah Papa Damar bersama si kembar.
"Kolam depan rumah Papa?" tanya Dahlia memastikan, pasalnya ikan emas yang di kolam depan rumah itu besar-besar.
"Iya...Dan mereka bilangnya oleh-oleh." Nayra tertawa mengingat kejadian beberapa bulan yang lalu sebelum dia kembali menikah dengan Devan.
__ADS_1
Dahlia ikut tertawa mendengar cerita Nayra. Ternyata keponakannya itu bar-bar juga ya. Dia baru tahu. Karena setahu dia Kakaknya, Devan itu orang nya pendiam, tidak berani macam-macam waktu kecil, penurut. Mungkin si kembar nurun Kak Nayra, pikir Dahlia.
"Katanya tadi mau langsung istirahat. Kenapa masih disini?" tanya Devan yang baru saja keluar dari dapur bersama Romi juga Linda.
"Ini juga mau istirahat sayang." Nayra beranjak berdiri dan mendekati suaminya itu.
"Kenapa?" tanya Devan yang melihat Nayra mendekatinya. Dia harus waspada kalau-kalau diminta hal aneh lagi sama istrinya itu. Kalau diminta mancing Devan angkat tangan. Lebih baik mencari mangga muda dan memanjat pohonnya sekalian. Atau membelikan makanan yang menurutnya aneh.
"Panggil si kembar ya di belakang sama Eza. Mereka belum ganti baju juga belum tidur siang." pinta Nayra pada suaminya itu.
"Tolong yaaa..!!!" Nayra menampilkan wajah imut nya pada suaminya itu.
"Hhmmm...kalau ada maunya aja seperti ini." Devan mencubit hidung Nayra pelan. Nayra terkekeh pelan.
"Sudah sana masuk ke kamar!!" perintah Devan pada Nayra.
Nayra mengangguk dan berlalu ke kamar duluan setelah berpamitan dengan yang lain.
"Untung suami ku sudah sadar, jadi gak baper lihat keuwuan mereka." celetuk Dahlia dan pergi menyusul suaminya yang sedang main sama Eza dan si kembar.
Devan cuek saja dan mengikuti Dahlia.
"Aku istirahat dulu." pamit Linda pada Romi dan bergegas masuk ke kamar Romi yang biasa Romi tempati jika menginap di rumah Bibi nya dulu.
"Huffftttt....Kapan aku bisa unboxing nya kalau sikapnya seperti itu terus." keluh Romi menatap kepergian istrinya.
Sekarang mereka semua memasak ikan hasil tangkapan si kembar, karena hasil pancingan Devan dan Romi sudah dibakar saat mereka masih di empang untuk makan siang.
"Ini dibakar semua, Ma?" tanya Dahlia saat dia kebagian membakar ikan.
"Emang habis nanti." sambungnya. Karena hampir 5 kilo gram ikan gurame yang harus Dahlia bakar.
"Habis, tadi Mama sudah minta Nayra menelepon Kakaknya untuk datang kesini.
"Sudah cepat bakar sana. Di bantu sama mbak nya juga" kata Mama Arumi lantas pergi dari sisi tempat khusus membakar ikan.
"Nayra...Kenapa kamu disitu?" pekik Mama Arumi saat melihat menantunya yang hamil itu sedang menggoreng ikan gurame buat di jadikan gurame asam manis.
"Goreng ikan, Ma." jawabnya dengan menyunggingkan senyum pada Mama Arumi.
"Mama kan tadi sudah bilang sama kamu untuk duduk manis saja gak usah bantu-bantu. Nanti kamu kecapekan kasihan cucu Mama nanti." kata Mama Arumi mengingatkan menantunya itu.
"Gak apa, Ma." ucap Nayra karena dia merasa bosan kalau harus berdiam diri saja tidak melakukan apapun.
__ADS_1
"Mama bilang tidak berarti tidak Nayra." kata Mama Arumi tegas. Kalau tidak begitu menantunya ini akan sulit untuk menuruti kemauannya.
"Baiklah, Ma." Akhirnya Nayra menurut daripada nanti dibilang menantu durhaka yang tak mau menurut sama mertuanya. Tapi kalau hanya duduk saja dan melihat yang lain sibuk itu bukannya lebih durhaka lagi ya. Dikiranya nanti menantu tak tahu diri. Entahlah, yang penting Nayra menurut saja daripada Mama Arumi memarahinya.
"Kamu kenapa sayang?" tanya Devan yang melihat Nayra duduk disampingnya dengan wajah cemberut.
"Aku gak boleh bantu-bantu mereka. Mama tadi marah sama aku."
Devan tersenyum melihat istrinya yang menggemaskan kalau lagi cemberut seperti itu. Devan mengecup sekilas bibir istrinya.
"Ishhh...Sayang!!!" protes Nayra pada kelakuan suaminya yang menciumnya tiba-tiba itu. Dia melirik sekitar, untungnya tidak ada orang.
"Kenapa?" tanya Devan dengan senyum menyebalkannya.
"Tau ah." Nayra memalingkan wajahnya malas melihat wajah Devan yang menyebalkan itu.
"Jangan marah gitu. Ntar malam gak bisa tidur loh kamu." kata Devan yang membuat Nayra bingung.
Nayra melirik Devan dengan tanda tanya besar di atas kepalanya. Apa maksudnya, pikirnya.
"Bukannya tiap malam dedeknya mau ditengok Papanya terus." kata Devan pelan sambil menatap wajah istrinya itu dengan senyum tertahan.
Blush
Wajah Nayra langsung memerah mendengar perkataan suaminya, Nayra yang malu karena salah tingkah sendiri akhirnya memeluk suaminya itu dan menyembunyikan wajahnya di ceruk leher suaminya.
Devan terkekeh pelan melihat istrinya yang salah tingkah. Dia membalas memeluk istrinya dengan erat dan diciuminya rambut istrinya.
"Pacaran terus...Terus aja seperti itu. Gak ingat siang tadi seperti apa." teriak Romi yang duduk tidak jauh dari mereka.
"Serasa dunia milik berdua." sahut Doni yang duduk disebelah Romi.
"Kalau kalian iri, sana samperin istri kalian masing-masing. Gitu saja kok repot." Timpal Papa Damar yang baru saja bergabung dengan mereka.
Nayra yang malu semakin menyembunyikan wajahnya di dada Devan.
🍁🍁🍁
have a nice day
Jangan lupa berikan like dan vote kalian ya kakak-kakak readers
Biar lebih semangat lagi menghalunya
__ADS_1
Makasih🤗🤗
dewi widya