
"kenapa...?". itu adalah pertanyaan deniz yang pertama dari beberapa menit yang lalu setelah mereka masuk ke dalam mobil dan dalam perjalanan mau pulang ke rumah.
Deniz sudah meminta ayla untuk tinggal berdua saja di apartemen dan dengan segera akan dia beli begitu ayla menyetujui namun sayangnya ayla tidak setuju kata ayla dia mau berada di sisi daddy dan mommynya saat hamil pertama bahkan ayla menolak untuk ke turki sekedar menjenguk nenek deniz sebelum resepsi mereka. karna ke esokan hari setelah kejadian penculikan di swiss nenek menelpon deniz dan menyuruh membawa ayla sebentar karna rindu tapi...ya beginilah. ayla menolak sebelum resepsi dia tidak akan ke turki. wanita yang keras dan tegas.
Tinggal bersama mama mertua dan ayah mertua sama sekali tidak membuatnya nyaman dan bebas terutama untuk bermesraan dengan istrinya, sangat terbatas, hanya bisa di dalam kamar. padahal ia sangat ingin di semua tempat terutama di dapur, masak bersama, memeluk pinggang beyza dari belakang sedangkan ayla memasak, ck. ia akan kesal sendiri ketika mengingat hal itu karna apa? karna tidak mungkin terjadi jika mereka ada di rumah besar Okan. apalagi sekarang ada keponakan ayla yang bernama Zhafran anak dari omar yang berumur 4 tahun kira kira, tinggal di sana karna suatu hal buruk yang terjadi pada mami dan papinya omar.
"aku masih tidak percaya Farez bisa melakukan hal itu". ayla berbicara sedangkan matanya menatap keluar jendela.
Deniz menoleh menatap ayla setelah tersadar dari pikirannya. dia diam tidak tahu harus menjawab apa.
"dan juga...hhhh". ayla mendesah karna tidak bisa melanjutkan ucapannya sekaligus tidak percaya.
"yang terpenting farez tidak memperkosa ceyda beyza? mereka sama sama mau".
"tapi tetap saja deniz? itu tidak benar? ". ayla sedikit berteriak tidak terima. bagaimana pun ia juga wanita dan jika ia di tipu di buat begitu tentu saja ia...
"itu sudah terjadi sayang? lagian tadi kamu dengar kan? mama, papa ceyda yang menyuruh mereka menikah di saat mereka tahu farez adik reyyan namun di saat farez bilang kalau dia anak tiri yang tidak di akui mereka menyuruh ceyda menceraikan farez. jadi tidak ada yang salah suami istri berhubungan, hentikan pemikiranmu! kamu sudah menyelasaikan nya tadi". suara deniz tegas karna tidak mau kepala istrinya tercintanya di penuhi hal yang tidak berguna.
__ADS_1
Meminta maaf? ayla sudah menyuruh farez dan dua sahabat farez yang juga ikut terkait untuk ke dubai menemui ceyda meminta maaf dan mengaku semua kesalahan mereka.
"aku belum mendapat kabar dari can keberadaan ceyda, jadi bagaimana mereka bisa ke sana? rasanya lebih cepat lebih baik. tentu ceyda sangat terluka tapi farez harus minta maaf. suatu saat nanti, suatu hari nanti aku yakin ceyda akan tahu siapa farez sebenarnya, apalagi setelah farez menyelesaikan studynya dan segera akan di perkenalkan ke publik untuk menerus perusahaan papinya di saat itu...paling tidak ceyda tidak akan merasa di tipu karna farez yang sudah minta maaf dan mengakui semua kesalahannya tapi...". ayla menoleh menatap deniz dengan alisnya yang menyatu.
Deniz bersikap santai.
"deniz kamu yakin tidak tahu keberadaan ceyda? dan...tidak ada no handphone ceyda? ".
Deniz mengangguk santai sekilas melihat ayla sebelum kembali melihat ke jalanan karna dia sedang menyetir.
"sudahlah lupakan! lalu...kamu bilang kamu mau menemui reyyan untuk apa? bukankah urusan hubungan kita dengannya sudah terselesaikan? dan juga perusahaan maminya sudah kamu selesaikan dan tinggal orang perusahaan reyyan yang menangani sisanya...mau ngapain ke sana?... jangan bilang kamu menerima pertarungan itu, aku akan marah padamu deniz?! . geram ayla kesal di ujung kalimat.
Memang ya? para pria pantang saja di kasih tantangan maka dia tidak akan mau berniat untuk menolak terutama suaminya ini.
Deniz terkekeh geli.
__ADS_1
"aku tidak segila itu sayang? mau menerima ide gila itu tapi...aku juga tidak akan menolak jika suatu saat anakku atau anaknya saling mencintai dan mereka menikah, aku akan setuju tapi tidak untuk menjodohkan mereka sayang? itu salah satu hal yang akan membuat anakku membenciku. aku tidak mau itu".
Ayla mengerjap.
"lalu...ngapai kamu ke sana? aku...boleh ikut? ".
Deniz tersenyum manis.
"tentu tapi tidak hari ini, kita habiskan hari ini di rumah ya? kamu sudah terlalu capek apalagi setelah menghajar farez habis habisan tadi". deniz terkekeh.
Ayla menggerucut bibirnya lalu memilih melihat ke luar jendela.
__ADS_1