
Ayla menekan tombol kode pintu apartemennya dan deniz diam diam mengintip hal itu karna ia sudah pengalaman harus menunggu di luar selama sejam dan terus mengedor pintu dengan menekan bel yang ternyata si empunya tidak ada di tempat.
"kamu mengintip den? ". seru ayla sinis dengan tangannya masih di tombol pintu sedangkan matanya menatap deniz.
Deniz mendengus sinis. 'den?! '.
"den...? perbaiki ucapan mu, namaku deniz bukan den! huh...baru kali ini aku mendengar ada manusia yang berani memanggilku den".
Ayla bersikap acuh tidak peduli. ia memilih membuka pintunya dan masuk ke dalam lalu menunggu deniz masuk.
Deniz melangkah masuk. jika bukan karna takut di lihat ceyda ia dalam ke adaan begini, sungguh ia tidak akan kemari.
"ah satu lagi, mengintip? aku hanya berjaga jaga, siapa tahu akan ada kejadian seperti tadi pagi di mana aku harus menunggu di luar selama 1 jam dan itu sangat membosankan serta membuat darahku naik".
"apa kamu diabetes?! ". ujar ayla sembari merapikan bantal sofa.
Deniz yang dari tadi sudah berdiri di belakang ayla karna ia menunggu ayla minggir supaya ia bisa duduk.
"apa aku terlihat seperti pria yang berpenyakitan?! ".
Ayla mengedikkan bahunya acuh tidak peduli.
"terlihat kamu yang sering marah marah"
Deniz menggeram. "itu terjadi hanya ketika aku denganmu, aku pun bertanya tanya kenapa ketika melihat wajahmu selalu membuat emosiku naik".
Ayla tertawa kecil.
"apa artinya kamu jatuh cinta padaku? ". Goda ayla bercanda lalu ia melangkah ke pantry.
Deniz memilih diam tidak peduli karna ia tahu ayla hanya bercanda dan mau membuatnya marah.
Deniz melihat sekeliling mencari sesuatu.
"kamu mencari ini?! ". ayla menyodorkan kotak P3K ke deniz dan deniz langsung meraihnya.
"terima kasih"
"wowww...sangat mengejutkan, seorang deniz bisa berbicara lembut".
Deniz menggertakkan giginya sembari menatap ayla tajam.
"aku sudah bilang marahku hanya padamu"
Ayla lagi lagi mengedikkan bahunya acuh sembari memperhatikan gerakan tangan deniz yang mau mengobati luka di wajahnya.
"mau di bantu? ". ayla menawari dirinya karna tidak tega melihat deniz yang kesusahan.
"apa kamu punya kaca besar? itu lebik baik".
Ayla bangkit berdiri setelah tadi ia duduk di sofa depan deniz. ia melangkah ke mari kecil samping tv di sana.
"hanya ini, bisa? ".
Deniz meraih kaca yang sedikit berukuran besar tapi bisa untuk memperlihatkan seluruh wajahnya.
Ayla kembali duduk memperhatikan aktifitas deniz. ia sempat mendengar deniz yang menggertakkan giginya saat melihat wajahnya yang babak belur.
"tenang saja, ketampananmu masih utuh tidak rusak".
Deniz beralih menatap ayla tajam.
"aku bertanya? ".
Ayla mengedikkan bahunya sembari memajukan bibirnya.
"hanya menenangkan hatimu saja"
"kenapa kamu tidak masuk ke kamarmu saja sana? apa aku menyuruhmu menemaniku di sini?".
Ayla melihat ke sekeliling apartemennya sebelum ia menjawab.
"jika jika kamu lupa Mr, deniz? ini tempatku jadi aku bebas untuk duduk di manapun, termasuk di-si-ni! ". ujar ayla menekan setiap kata di sini.
Deniz memilih kembali ke aktifitasnya.
"arghh...". rintih deniz sakit saat mengenai luka di sudut bibirnya.
'eughh...resyad awas kau'. batin deniz menggeram.
Ayla ikut meringis sakit seakan akan ia pun ikut merasakannya.
Bosan melihat deniz yang sangat lamban baginya, akhirnya ia bangkit berdiri dan melangkah ke pantry dan tidak lama ia sudah muncul lagi dengan satu baskom di tangannya yang berisi air hangat dan handuk kecil serta satu kantong es.
__ADS_1
Ayla meletakkannya di samping deniz duduk lalu ia menatap deniz.
"aku kira kamu dokter yang jenius, bukankah di ilmu kedokteran ada di bilang yang namanya setiap luka harus di bersihkan dulu sebelum di beri obat? ".
Deniz menoleh menatap ayla malas. 'ia tahu tentu saja ia tahu namun ia malas meminta'.
"minggir tanganmu, biar aku saja".
Deniz menoleh menatap ayla malas lalu kembali mengolesi obat di wajahnya.
Ayla menarik nafas lalu dengan cepat ia meraih kaca di tangan deniz dan meleparnya ke sofa samping deniz selanjutnya ayla menduduki bokongnya di atas paha deniz.
Sontak saja kedua mata deniz membulat menatap ayla namun yang namanya ayla sama sekali tidak peduli tatapan mata deniz padanya, yang jika ada sinar laser di sana maka ia yakin tubuhnya sekarang sudah hancur lebur.
"apa yang kamu lakukan? pindah!". perintah deniz dingin di sertai teriakan marahnya.
Ayla memeras air di handuk kecil dan membawanya ke depan wajah deniz.
"pejamkan matamu jika kamu tidak mau melihat wajahku, lukamu harus di bersihkan dulu baru di obati atau...perlu aku telpon ceyda kemari? untuk mengobatimu".
"bodoh, jika aku membiarkan ceyda tahu tentu saja aku akan memilih pulang ke rumah dari pada ke sini, otakmu kamu taruh di mana? ".
Ayla mengerjap. 'benar juga ya? '. ayla menarik nafas. ia sendiri pun gelagapan melihat tatapan mata deniz sedekat ini dengannya karna itu ia juga menyuruh deniz memejamkan matanya dengan begitu, ini akan cepat selesai.
'oh jantungku, kamu harus tenang'.
"sudahlah, pokoknya pejamkan matamu saja biar cepat selesai, aku yakin kamu kesusahan mengobati diri sendiri tadi iya kan?! ".
Deniz mengerjap dan akhirnya ia pun menurut dengan memejamkan matanya.
"jangan lama lama"
"aku juga tidak suka duduk di atasmu, paha mu sangat keras seperti jalan aspal saja".
Sontak saja kedua mata deniz kembali terbuka dan melihat menatap ayla geram.
"aspal? ".
Ayla yang kesal karna terkejut melihat mata deniz yang baginya sangat indah sontak saja mengangkat tangannya meraup wajah deniz agar kembali menutup mata.
"kau... ".geram deniz karna tidak suka di sentuh ayla.
"deniz, jika lama lama luka di wajahmu bisa membekas, kamu mau ceyda tahu? ".
Ayla mendengus. 'memang kelemahanmu adalah ceyda'. Ayla menggeleng kepalanya. sakit? baginya sudah biasa hingga tidak ada tempat lagi di hatinya untuk bersedih.
Ayla mulai membersihkan wajah deniz dengan air hangat yang ia bawakan tadi dengan telaten dan lembut, sesekali ia pun akan meringis sakit saat deniz meringis. sama sekali tidak ada suara yang keluar dari mulut deniz untuk menyuruhnya bersikap lembut dalam mengobati lukanya.
Ayla selesai membersihkan lalu ia beralih mengambil obat dan luka pertama yang ayla olesi obat adalah sudut bibir deniz yang sobek meski ia berdecak kesal membayangkan bagaimana pukulan resyad pada deniz.
Deniz entah sengaja atau reflek kedua tangannya terangkat memegang pinggang ramping ayla namun ayla tidak menyadari hal itu karna ia sangat fokus dalam mengolesi obat di luka deniz.
Ayla mengolesi obat di wajah deniz di sertai dengan tiupan lembutnya agar deniz tidak merasakan sakit.
"sudah, ini tinggal kamu kompres menggunakan es". ayla menunjuk ke lebam di wajah deniz.
Deniz membuka matanya dan seketika matanya melebar begitu juga dengan ayla yang tubuhnya seketika mematung. mereka berdua sadar dengan posisi mereka yang duduk dari awal di mana ayla berada dalam pangkuan deniz namun tadi wajah ayla berada sedikit jauh dan sekarang wajah ayla sangat dekat dengan deniz di sebabkan ayla tadi mengobati deniz.
Karna terkejut tangan deniz reflek menolak tubuh ayla dari atas pangkuannya dan ia pun ikut bangkit.
"kyaa...". jerit ayla saat tubuhnya terhuyung kebelakang dan ia yakin dirinya akan jatuh dan mengenai meja kaca di belakangnya.
Ayla sontak memejamkan matanya sembari memegang perutnya melindungi buah hati tercintanya.
Kedua mata deniz melebar saat melihat ke belakang ayla dan dengan cepat ia menjatuhkan tubuhnya ke atas ayla memeluknya lalu membalikkan tubuh ayla hingga punggungnya lah yang mengenai meja kaca di belakangnya.
Dughhh...
"aghhhh...ughhh...". ringis deniz menahan sakit.
Kedua mata ayla terbuka dan ia menoleh melihat ke samping di mana deniz yang sedang memejamkan matanya menahan sakit.
Ayla sadar saat tiba tiba tubuhnya di peluk seseorang lalu di balik hingga setelahnya ia tidak merasakan apapun yang ia rasa sesuatu yang empuk dan hangat.
"deniz...? kamu baik baik saja?". wajah ayla terlihat panik menatap deniz.
Deniz membuka matanya dan hal pertama yang ia lihat adalah wajah ayla yang panik.
Deniz melihat ke tubuh ayla di mana ayla duduk di atasnya sangat tepat di atas juniornya sedangkan tubuhnya setengah berbaring karna terhalangi meja kaca di belakang punggungnya.
"kamu sadar di mana kamu duduk sekarang?! ".
Seketika ayla menatap ke bawah dan wajahnya sontak saja memerah karna malu di sertai matanya yang membulat. Ayla dengan cepat meloncat pindah dari pangkuan deniz hingga jarak mereka 1 meter.
__ADS_1
Mata ayla mencerna cerna bagaimana ia bisa duduk di atas pangkuan deniz, sejak kapan ia naik ke sana.
Ayla terus mengerjap ngerjap sembari menenangkan detak jantungnya sedangkan deniz bersikap biasa dan santai. ia bangkit berdiri.
"aghhh...". ringis deniz saat merasakan punggung yang sakit. ia berbalik menatap meja kaca di belakangnya.
"kamu baik baik saja? haruskah kita kerumah sakit? ".
Deniz menolah menatap ayla.
"jika aku memilih rumah sakit maka aku tidak akan ke sini".
Ayla menelan ludahnya.
"tapi sepertinya tubuhmu harus di periksa, tadi kamu kena pukulan resyad dan sekarang kamu kena...meja, jadi aku rasa kamu perlu".
"semua terjadi hanya karna kamu".
Ayla mengernyit tidak suka.
"excuse me? "
Deniz berdecak kesal.
"sudahlah, aku capek berdebat denganmu".
Ayla semakin geram.
"aku perlu menjelaskan ini deniz? pertama, kamu kena pukul...". ayla menghentikan ucapannya karna melihat tatapan tajam deniz namum sedetik kemudian ayla kembali melanjutkan ucapannya.
"itu karna kekejaman mu sendiri tahu?... coba saja kamu tidak kejam denganku tentu saja resyad tidak akan memukulmu".
Deniz mendengus sinis sembari tersenyum keji.
"apa kamu sekarang sedang meminta padaku untuk bersikap lembut padamu?! ".
Ayla menggeram. "bukankah tadi aku bilang aku perlu menjelaskan kenapa kamu di pukuli...?".
Deniz mengerjap dan ia tersentak saat menyadari sesuatu.
"oh ya? kamu...punya hubungan apa dengan resyad? kekasihnya atau mantan?! ".
Ayla tersedak dengan air liurnya sendiri sehingga ia terbatuk batuk dan deniz mengernyit melihat hal itu.
'benar benar aneh'.
'kekasihnya? yang benar saja'. batin ayla sembari melihat deniz yang memerhatikannya dengan menyelidiki.
"aku...aku hanya...".
"jangan mencoba membohongiku ayla? ".
'sekalipun aku menipumu kamu tidak akan tahu bodoh? '.
"aku adik dari kekasihnya dulu yang sangat dia cintai namun kakakku sudah tidak ada lagi jadinya...dia merasa bertanggung jawab menjagaku, begitu saja".
Kedua alis deniz menyatu menatap ayla mencari kebohongan di sana namun apa dayanya ia sama sekali tidak mengenal dan dekat dengan wanita ini bagaimana ia tahu wanita ini bohong atau tidak.
"kamu mencoba menipuku bukan? tapi sayangnya aku mengenal semua kekasih resyad termasuk mantannya dan melihat dari resyad yang sangat menuruti semua katamu, siapa kamu sebenarnya ayla...?".
Ayla tersentak kaget dengan deniz yang memanggil namanya dan ini pertama kali ia dengar.
"aku akan menjawabmu tapi sebelum itu...bisakah aku bertanya sesuatu padamu? dan kamu harus jawab jujur". ayla menatap deniz.
"kita tidak sedang bernegosiasi ayla...?".
"terserah padamu, ya atau tidak".
Deniz berdecak kesal. ia sama sekali tidak tertarik mau mengetahui siapa ayla sebenarnya tapi yang membuatnya tertarik adalah kenapa resyad sangat penurut dengan ayla siapa ayla bagi resyad.
"baiklah, tanyakan".
Ayla tersenyum dan menarik nafasnya sebelumnya bicara.
__ADS_1