
Setelah perjalanan mereka beberapa menit dari tempat mereka berhenti tadi dan akhirnya mereka sampai.
Sebuah padang rumput yang terhempar di depan keduanya, dengan luasnya tidak terhitung hektar lagi. sunyi dan senyap itulah kata untuk suasana di sana jika malam hari, hanya suara beberapa binatang malam yang yang mengisi padang rumput tersebut.
Deniz memarkirkan mobilnya sedikit jauh dari jalan yang mereka lewati tadi dan terlihat sedikit penerangan yang di sebabkan oleh lampu lampu di jalan.
Deniz mematikan mesin mobil, menarik nafas sembari menatap ke depan. di sini, hanya ada mereka berdua dan biasanya jalan ini di larang masuk jika malam hari dan hanya di perbolehkan sampai sore hari dan bagaimana ia bisa masuk, itu karna ia melewati jalan rahasia, sebuah jalan yang tembus ke sini meski sedikit jauh.
Cklekc...
Deniz menoleh ke samping melihat ayla yang keluar dari mobil, ia pun ikut keluar. ia melangkah perlahan sembari kedua matanya menatap wajah ayla yang di sinari sinar rembulan di atas mereka. ia mengalihkan matanya menatap ke langit dan ia pun tersenyum.
"langit malam, yang di hiasi taburan bintang dan di terangi cahaya bulan...deniz...?". ayla menoleh menatap deniz.
Deniz menatap ayla, menunggu ucapan ayla selanjutnya. cahaya bulan di atas mereka, sangat memperjelas penglihatan mereka satu sama lain. sehingga mereka bisa sangat jelas melihat masing masing.
"kamu sudah mengatur ini dengan baik bukan...? ".
Deniz tersenyum lalu mengalihkan matanya melihat ke depan.
"kamu suka...?". tanya deniz ketika sudah menatap ayla lagi dan wajahnya masih dengaj senyum tampannya.
Ayla mengerjap melihat ke depan. kepadang rumput di depan mereka bahkan di sekitar mereka. bisa di bilang, mereka berada di tengah tengah padang rumput. ia suka jika berada di sini karna entah kenapa, ketika melihat padang seperti ini seakan akan hidupnya pun bebas seperti padang di depannya, tidak ada dinding yang membatasi atau garis yang di tarik untuk mencekal.
Ayla berbalik lalu melangkah ke mobil lalu menyandarkan bokongnya di bagian depan mobil. Deniz yang melihat itu ikutan melangkah dan bersandar sama seperti ayla.
Ayla tersenyum lalu mengangguk sembari menarap deniz.
"aku tidak akan munafik untuk hal ini, aku suka! terima kasih deniz...?".
"selim! ". deniz menatap ayla seksama.
Ayla mengerjap tidak mengerti.
"ya?! ".
"panggil aku selim beyza? itu nama...yang pertama kali aku perkenalkan diriku denganmu, selim! ".
Keduanya saling melihat sebelum ayla mengerjap dan mengalihkan matanya ke arah lain.
"selim dan deniz, bukankah...sama juga? itu kamu".
Deniz menarik nafas. ia beralih menatap ke depan.
"sama seperti kamu beyza? hanya mengizinkan nama itu untuk orang orang yang terpenting untukmu, seperti mommy dan daddymu serta kedua kakakmu, begitu juga...dengan ku! nama selim! hanya di panggil oleh orang orang penting di hidupku". deniz menatap ayla.
"dan kamu izinkan aku, itu artinya aku...orang penting di hidupmu...?". ayla menatap deniz.
Deniz tersenyum.
"ku rasa kamu lebih daripada itu beyza...? untukku! ".
Keduanya saling bertatapan.
"kamu tidak sedang menggombal bukan...?".
"haruskah aku lakukan itu?! ". deniz tersenyum jahil.
"ceyda memanggilmu selim, beberapa kali aku pernah mendengar, itu artinya dia...juga penting untukmu dan tentu aku tahu bagaimana kamu sangat mencintainya, bahkan membuat beberapa perawat dan dokter di sana iri terhadap cintamu ke ceyda, deniz? kamu tidak sedang mau memiliki istri dua bukan? jika iya, maka lebih baik kamu mencari wanita lain karna aku sudah punya calon suami dan kamu tahu siapa dia".
Deniz menarik nafasnya.
"jika aku katakan aku yakin kamu tidak akan pernah percaya beyza? dari awal sampai akhir beyza? hanya kamu selalu yang tercinta dan hanya akan ada kamu...selalu istriku, tidak ada yang kedua atau yang pertama! karna kamu... sudah ada di awal kisahku".
Ayla mengerjap mencerna ucapan deniz kemudian ia menahan tawanya untuk tidak pecah.
"beyza...?". panggil deniz yang melihat ayla menahan tawa padahal tidak ada yang lucu.
"aneh tahu enggak deniz? seharusnya aku terlena dengan ucapanmu tapi kenapa rasanya aku ngeri ya? bahkan aku sampai merinding mendengarnya". Ayla tertawa karna tidak bisa menahan tawanya sedangkan deniz hanya menatap itu dengan mata yang sayu dan wajahnya yang lesu. ia memilih menunduk.
'itulah kenapa beyza? aku tidak yakin untuk mengatakan semuanya padamu dan menunggu sampai semua selesai dan kamu akan percaya padaku tapi sekarang...
__ADS_1
"semua tahu deniz...? ka...".
"selim!".
"deniz? jangan kekanakan".
"ini waktu kencanku beyza! ".
Ayla terdiam lalu ia mendesah lelah.
"baiklah, selim, puas...? ".
Deniz mengangguk namun wajahnya terlihat sedih. tapi hatinya sangat senang bahkan seakan mau melompat keluar.
"sel...ugh...aku belum terbiasa, deniz...? it's okay aku panggil deniz saja ya?! ".
Deniz menggeleng sedangkan wajahnya cemberut layaknya anak kecil.
Ayla menyatukan alisnya melihat hal tersebut.
'pria ini serius? ini tidak seperti dirinya'.
"den...". ayla menghentikan ucapannya karna merasa salah ucap dan melihat tatapan deniz yang merajuk.
"kamu seperti anak kecil yang sedang ngambek! dan itu sama sekali tidak cocok untukmu?". kesal ayla geram.
Deniz memilih tidak peduli dan malah menunduk tidak mau melihat ayla.
"kamu serius...?".
"...". deniz tetap menunduk dan tidak mau menjawab.
ughhh. ayla akhirnya memilih diam.
Deniz menoleh melihat beyza lalu menatap ke langit malam sembari menarik nafas.
"baiklah, katakan itu iya, lalu...bagaimana dengan cintamu ke ceyda...? ah... pelarian? ".
Deniz menggeleng dengan kedua manik matanya masih melihat ke langit yang di hiasi bintang.
Ayla tersenyum mendengus.
"kamu tidak berpikir untuk membuat kisah menjadi suami meninggalkan istri pertama karna kehadiran wanita cinta pertama bukan...?".
Deniz tersenyum geli.
"kamu terlalu banyak baca novel sayang...?".
Ayla menyatukan alisnya menatap deniz.
'ada yang beda dengan pria ini, dia...'.
"oh ya...? kamu dari tadi mau mengatakan sesuatu apa itu? kita tidak boleh lama di sini, aku sedang hamil".
Deniz menoleh menatap beyza lalu melangkah ke pintu mobil bagian belakang membukanya dan mengambil satu kain lalu kembali melangkah ke depan mobil mendekati beyza.
Deniz membuka kain tersebut yang berbentuk persegi empat dan cukup tebal untuk ukuran kain biasa.
"apa itu? kapan kamu membawanya? ".
"ini punya refat, dia selalu membawa satu di dalam mobilnya".
"ah...aku hampir lupa kalau aku naik mobil pinjaman dan kamu tahu selim? se umur hidup, ini kedua kali aku naik mobil pinjaman dan dengan orang yang sama".
Deniz terkekeh geli. ia melangkah mendekat ke ayla, lebih tepat ke belakang ayla.
"mau ngapain?! ". tanya ayla yang melihat deniz kebelakangnya dan sedetik kamudian matanya membulat.
"den...".
__ADS_1
"selim!". potong deniz yang memeluk ayla dari belakang setelah menyelimuti ayla dengan selimut tebal tersebut. supaya suhu tubuh ayla terjaga dan anak mereka baik baik saja.
Ayla mengerjap.
"aku belum terbiasa". jawab ayla yang masih memulihkan dirinya dari keterjutannya yang luar biasa.
Seorang deniz bersikap lembut padanya, ia bahkan tidak pernah bermimpi karna mengingat betapa deniz sangat tidak menyukainya. dan sikap deniz selama ini masih membuatnya kebingungan dan bertanya tanya.
"biasakan itu dari sekarang". ucap deniz sembari menguatkan pelukannya pada beyza.
Ayla menarik nafas.
"baik katakan, apa yang mau kamu katakan dari tadi, asal jangan menggombal, aku tidak akan percaya".
"dan aku yakin kamu juga tidak akan percaya, kita nikmati saja malam ini sebentar di sini lalu pulang, sampai waktu kencanku habis".
"de...selim...?..".
"jangan berbalik tetap lihat ke depan, biarkan seperti ini sebentar, biarkan waktu berjalan seperti ini...beyza".
Ayla mengerjap seperti bisa merasa kesedihan deniz yang sulit untuk pria ini ungkapkan padanya. ia menuruti deniz melihat ke pemandangan di depannya. tubuhnya sama sekali tidak dingin tapi hangat, hangat sekali.
"deniz katakan, percaya atau tidak, aku yang putuskan, kalau tidak aku tidak yakin bisa tidur malam ini". karna hatiku tidak tenang deniz?.
"jika aku katakan aku dulu mencintaimu, kamu percaya? ".
"...ya". sahut ayla dan sedikit menoleh melihat deniz.
"jika aku katakan, aku jatuh cinta padamu pada pandangan pertama kamu percaya? ".
"ya, bukan hanya kamu banyak cowok lain juga". ayla menjawab cepat dan dengan penuh rasa percaya diri. memang kenyataan.
Deniz terkekeh geli.
"lalu jika aku katakan dari dulu sampai sekarang perasaan itu tidak pernah berubah bahkan bertambah di dalam sana, kamu...percaya...?".
"...."
"beyza?! ".
Deg...
Jantung ayla berdetak dengan panggilan deniz.
"aku yakin kamu tidak percaya".
"karna aku tahu, bagaimana kamu...sangat mencintai ceyda, bahkan kamu...". ayla mengingat bagaimana deniz bermesraan di depannya dan selalu terlihat romantis di mana pun.
Ayla tersentak saat merasakan pelukan deniz semakin menguat.
"jika aku katakan semua itu tidak benar, kamu percaya? ". deniz menenggelamkan kepalanya di pundak ayla.
Ayla mengerjap. 'apa maksudnya? apanya yang tidak benar? jelas jelas aku melihat'.
"deniz? kamu tidak sedang mempermainkanku ku kan? ". geram ayla kesal.
"arghh.. ". jerit ayla tertahan saat tiba tiba deniz membalikka tubuhnya dan menatapnya.
Deniz menangkup wajah ayla dengan kedua tangannya sedangkan nafasnya naik turun dan kepalanya mengeleng geleng tidak membenarkan ucapan ayla.
"tidak pernah, tidak pernah sekalipun terlintas di kepalaku untuk mempermainkanmu beyza? tidak pernah, kamu sangat penting untukku, kamu hidupku, kamu nafasku, kamu duniaku, aku tidak akan bisa hidup tanpamu lagi beyza? tidak akan bisa, jika kamu meminta nyawaku untukmu maka dengan senang hati aku akan memberikannya untukmu beyza, dengan senang hati sayang, kamu...kamu selalu kucinta, percayalah".
Ayla membulatkan matanya menatap wajah deniz, panik dan menangis. deniz...menangis.
"de...selim...?". panggil ayla sembari mengangkat tangannya menyapu air mata deniz.
Deniz memejamkan matanya merasakan sentuhan tangan ayla di kulitnya. wanita, yang sangat ia cintai selalu.
Deniz membuka matanya dan kembali menatap ayla.
__ADS_1
"jika para aktor memainkan film mereka butuh waktu 6 bulan, maka aku sudah memainkan dramaku 10 tahun lebih, kamu percaya itu, beyza...?".