Rahim Pengganti

Rahim Pengganti
Gila kamu, Ilyas


__ADS_3

"Welcome to Under Black, Mr. Faiz Askara."


Ilyas membalikkan badannya menatap Faiz dengan seringai jahatnya.


"Kau..." geram Faiz mengepalkan tangannya kuat hingga membuat buku jarinya memutih. Nafasnya memburu menatap tajam Ilyas, bahkan dia juga mengeraskan rahangnya tak percaya dan marah akan apa yang telah Ilyas lakukan kepadanya. Tangan kanannya telah berkhianat.


"Kenapa?" tanya Ilyas dengan congkaknya.


"Kau pasti nggak percaya kalau Under Black itu aku." sambung Ilyas dengan menarik Nayra yang ada di tikaman Carol.


Akkhhhh


Rintih Nayra saat dia merasakan kram diperutnya, hingga membuat air matanya semakin deras mengalir di pipinya.


Apa salahnya hingga dia jadi korban penculikan Kak Ilyas?


Apa yang telah dia perbuat hingga Kak Ilyas menculiknya?


Nayra benar-benar tidak tahu kenapa Kak Ilyas berani melakukan semua ini pada dirinya dan semua keluarga Arasyid juga suaminya, Devan. Dimana Kak Ilyas yang dulu selalu membela dan jadi garda terdepan untuk keluarga Arasyid termasuk dirinya.


"Lepaskan istriku Ilyas." bentak Devan saat melihat Nayra yang merintih kesakitan.


Dia begitu tidak tega melihat istrinya yang kesakitan apalagi sekarang kondisinya sedang hamil. Harapannya hanya satu, semoga Nayra dan janinnya baik-baik saja.


"Ck.. Istri kau bilang."


"Kemana saja kamu selama lima tahun terakhir saat Nayra harus merawat anak kembarnya seorang diri. hah." bentak Ilyas balik pada Devan.


"Disana aku lah yang yang membantu Nayra bahkan aku yang merawat si kembar dari bayi sampai dia sudah mulai sekolah."


"Tapi apa..setelah dia tahu siapa Ayahnya dia langsung melupakanku."


"Bahkan Nayra yang aku cintai dari dulu dengan mudahnya memilih lelaki breng sek seperti mu." kata Ilyas dengan menggebu penuh amarah.


Nayra maupun Faiz tidak terkejut mendengar pengakuan cinta Ilyas, karena mereka tahu kalau Ilyas memang mencintai Nayra sejak dulu sebelum Nayra diusir dari rumah dan tinggal di Turki.


Tidak dengan Devan, dia begitu terkejut kalau Ilyas memang benar mencintai Nayra. Karena setahu dia Ilyas laki-laki yang dijodohkan Papa Rasyid untuk Nayra.


"Lepaskan Nayra Ilyas." perintah Faiz dengan tenang setelah berhasil menguasai diri dari amarahnya pada Ilyas.


"Buat apa?"


"Apa kalian takut kalau ahli waris utama keluarga Arasyid terluka atau mungkin mati." ucap Ilyas dengan mengeluarkan pistolnya dan diarahkannya di pelipis Nayra.


"Nayra." pekik Devan saat melihat pistol yang Ilyas pegang diarahkan di pelipis istrinya.


"Lepas." teriak Maya juga Carol yang tiba-tiba dipegangi pengawal Ilyas.


"Singkirkan pistol mu dari adik ku Ilyas." sentak Nathan yang baru sampai ke lantai dua.


"Nathan.." batin Maya saat melihat Nathan ada disana dan meminta Ilyas untuk menyingkirkan pistolnya dari Nayra.


"Jadi Nayra adiknya Nathan?" batin Maya bertanya-tanya. Jadi dulu dia meminta pewaris utama dari keluarga Arasyid untuk menggantikan rahimnya dan dengan jahatnya dia tidak mau berbagi suami dengan Nayra.


"Pantas saja Aska waktu itu selalu melindungi Nayra." batin Maya menatap tak percaya Nayra yang sekarang berada di genggaman Ilyas.


"Mama.." teriak Kiara juga Kenan saat melihat Mamanya ditodong pistol sama Ilyas.


Romi tadi belum sempat membawa mereka pergi karena Kiara juga Kenan masih ingin makan dengan alasan masih lapar dan gak kuat untuk berjalan.


Devan juga Nayra begitu kaget saat si kembar ada di sana. Kenapa anaknya itu suka sekali berada dalam situsai bahaya.


Tidak hanya Devan ataupun Nayra. Bahkan Faiz sama Nathan juga terkejut saat si kembar belum dibawa Romi keluar dari sana.


Maya menatap tak percaya pada sepasang anak kecil berteriak histeris memanggil 'Mama'.


"Apa mereka anak Devan dan Nayra?" tanya Maya dalam hati.


"Ken..Kia.." Devan ingin mendekat ke anaknya namun langsung di hadang dan dipegang sama pengawal Ilyas.


"Wah..wah...wah...Semua pewaris keluarga Arasyid sudah terkumpul ternyata. Tanpa harus menculiknya satu-persatu." kata Ilyas dengan senangnya.


Ilyas tidak tahu saja kalau semua pengawalnya sudah dibekukan sama Faiz, Romi juga Nathan sebelum masuk ke vila.


"Romi..Bawa mereka pergi cepat!!!!." perintah Faiz yang geram karena Romi tidak bisa menjalankan tugasnya dengan baik.

__ADS_1


"Nggak mau..." berontak Kiara saat Romi memegang pinggang Kiara untuk dibawanya ke gendongannya.


"Mama Papa." teriak Kenan juga Kiara yang di gendong paksa para anggota yang Faiz bawa.


"Nggak mau..Nggak mau..." berontak Kenan dan Kiara saat digendong.


"Tulunkan Kiala." iiichhhh. Kiara menggigit pundak anggota time yang menggendong Kiara begitupun Kenan juga melakukan hal yang sama.


"Sayang..nurut sama Paman yah." ucap Devan lembut pada kedua anaknya yang memberontak tidak mau di gendong itu.


"Nanti Papa sama Mama nyusul Kiara sama Kenan untuk pulang." sambung Devan menatap kedua anaknya yang sudah mulai tenang itu.


Kenan dan Kiara mengangguk lemah dengan tangis yang masih terdengar.


"Cepat bawa mereka keluar." perintah Faiz pada Romi.


"Mau dibawa kemana mereka?" Ilyas menodongkan pistolnya ke arah si kembar.


"Aku tidak mengizinkan siapapun keluar dari sini." kata Ilyas tegas mengarah pada semua yang ada di hadapannya.


"Pengawal!!!" teriak Ilyas memanggil pengawalnya.


Nathan terkekeh mendengar Ilyas yang memanggil-manggil pengawalnya. Ilyas tidak tahu saja kalai pengawalnya semuanya sudah dia bekukan.


"Mau apa kamu panggil pengawal Ilyas?" tanya Nathan dengan santainya bersandar di punggung sofa.


"Kamu kan hebat Ilyas. Kenapa juga harus panggil pengawal segala." sambung Nathan yang terlihat cuek sambil memainkan korek api.


"Sial!!! apa pengawalku sudah mereka bekukan." umpat Ilyas saat melihat Nathan dan Faiz terlihat tenang saja itu.


"Kalau kalian membawa dua bocah itu keluar dari sini."


"Nona Muda kalian akan mati sekarang juga." Ilyas kembali mengarahkan pistolnya pada Nayra.


"Mereka tidak tahu apa-apa Ilyas. Biarkan mereka pergi." pinta Faiz pada Ilyas.


"Baiklah, aku akan membiarkan mereka pergi." akhirnya Ilyas mengalah juga. Karena dia tidak ada urusan apapun dengan bocah kecil itu.


Romi akhirnya membawa si kembar pergi dari sana sebelum mereka membuat si kembar trauma.


"Mau kamu apa?" tanya Faiz setelah hening beberapa saat


Faiz dapat melihat kalau adiknya itu wajahnya semakin pucat dan akan bahaya pada kandungannya jika dia tertekan dan jatuh pingsan.


"Sebutkan apa mau kamu Ilyas?" bentak Faiz yang sudah tidak sabar karena Ilyas tak kunjung menjawabnya. Dia juga tidak mau terjadi apa-apa sama Nayra.


"Aku mau Devan mentalak Nayra sekarang juga. Dan aku akan melepaskan Nayra dengan segera." jawab Ilyas dengan entengnya.


Mentalak??


Semua tidak percaya dengan apa yang baru saja Ilyas katakan. Dengan mudahnya dia meminta Devan mentalak Nayra dalam kondisi hamil. Dimana otak Ilyas sekarang hingg dia dengan mudahnya berkata seperti itu.


"Jangan gila kamu, Ilyas." sentak Devan yang tidak percaya akan permintaan Ilyas.


Dia dan Nayra baru saja bersama kembali dan dengan mudahnya Ilyas memintanya untuk mentalak Nayra. Ilyas gila!! umpat Devan.


"Aku nggak akan pernah melakukan itu." kata Devan menatap tajam Ilyas.


"Dan aku tidak akan melepaskan Nayra kalau kamu tak kunjung melakukannya." sahut Ilyas cepat.


"Gila kamu, Ilyas." umpat Nathan.


"Yaaa...aku memang gila karena telah jatuh cinta pada pewaris Arasyid Grup, Nayra Arsyid."


"Dan akan aku lakukan apapun untuk mendapatkannya."


"Termasuk membunuhnya."


Mereka semua menatap tak percaya apa yang baru saja mereka dengar. Ilyas sudah cinta mati sama Nayra dan akan melakukan apapun untuk mendapatkan Nayra Termasuk membunuh Nayra.


Devan yang sudah kesal dan geram akan perkataan Ilyas, sekuat tenaga dia melumpuhkan dua pengawal yang memeganginya. Hingga apa yang dilakukan Devan memicu semua akhirnya melawan pengawal yang dimiliki Ilyas yang tersisa lima orang itu.


Nayra di bawa Ilyas menjauh dari kerumunan mereka.


"Diam dan jangan berisik." ucap Ilyas dengan nada rendah menahan amarahnya setelah mengikat tangan dan kaki Nayra juga membungkam mulut Nayra dengan kain. Dia tidak peduli dengan Nayra yang terus menangis dan wajahnya yang sudah mulai memucat.

__ADS_1


Ilyas mengotak atik handphone nya dan terlihat menghubungi seseorang.


"Ya Allah, kenapa sakit banget perut aku." rintih Nayra dalam hati. Dia merasakan sakit yang begitu hebat di perutnya.


"Ya Allah, lindungilah hamba juga janin yang ada di rahim hambamu ini."


"Semoga tidak terjadi apa-apa denganmu, Nak."


Nayra terus menangis, dia masih mencoba menahan sakit di perutnya.


"Dev..Aku nggak kuat. Tolong aku."


Kringat dingin sudah mulai membasahi kening Nayra. Dia merasa kalau tubuhnya sudah begitu lemas. Apalagi dia tadi mengingat kalau belum mengisi perutnya dengan makanan.


"Dev!!!"


Mata Nayra sudah mulai berkunang-kunang.


"Ngapain kamu disini?" tanya Ilyas saat melihat Maya masuk ke ruang bawah tanah.


"Aku hanya ingin mengucapkan terima kasih karena sudah mau menjamin kebebasanku, juga ingin membantumu menjaga Nayra." ujar Maya sambil melirik Nayra yang terlihat pucat itu.


"Kenapa Nayra pucat sampai segitunya?" pikir Maya dalam benaknya. Karena kalau hanya ketakutan tidak akan seperti itu.


"Apa dia sakit?" pikir Maya yang mencuri pandang pada Nayra yang dimana dia duduk di kursi dalam keadaan tangan dan kaki diikat juga mulut yang dibungkam.


"Yakin kamu mau membantuku?" tanya Ilyas menatap Maya tajam.


"Yakinlah..Kamu pasti tahu aku ini siapa." kata Maya dengan gaya arogant nya.


"Aku gak mungkin berkhianat sama kamu." sambung Maya saat melihat Ilyas yang tidak percaya padanya.


"Kamu tahu sendirikan. Kalau mereka yang diluarlah yang telah membuat hidupku hancur dan harus masuk penjara." kata Maya penuh amarah dan kebencian.


Ilyas menyeringai melihat amarah dan kebencian di wajah Maya. Partner yang cocok untuk diajak kerja sama, batin Ilyas yang merasa senang.


"Baiklah, kamu jaga disini dan jangan biarkan siapapun masuk." perintah Ilyas pada Maya yang langsung diiyakan dengan tegas oleh Maya.


Ilyas pergi dan mengunci pintu gudang dari luar meninggalkan Nayra dan Maya di dalam gudang.


"Sial!!! kenapa pakai dikunci segala sih." umpat Maya saat melihat pintunya di kunci dari luar.


Maya berjalan mendekat ke arah Nayra. Dia melepas kain yang membungkam mulut Nayra.


"Bangunlah!" seru Maya setelah membuang kain bekas membungkam mulut Nayra


Dengan kepala yang terasa berat karena pusing dan juga pandangan mata yang sudah mulai buram, Nayra mencoba melihat wajah Maya yang tadi membangunkannya.


"Kau masih kuat?" tanya Maya menelisik seluruh wajah Nayra dengan mata sipitnya.


Nayra mengangguk samar, dia sudah tidak sanggup untuk mengeluarkan suaranya ataupun memggerakkan badannya. Tapi kenapa dia mengangguk saat ditanya masih kuat apa tidak? jawabannya satu, dia ingin tetap kuat untuk tetap bisa kumpul bersama keluarga kecilnya.


"Baiklah kalau kamu masih kuat." Maya menegakkan badannya.


"Tunggu saja di sini." sambung Maya yang melihat-lihat sekeliling gudang yang begitu minim pencahayaan juga terlihat pengap.


...............


"Nayra.." gumam Devan saat tidak melihat adanya Nayra di sekitar tempatnya tadi.


"Bukannya tadi disini?" Devan masuk ke kamar lagi dan melihat tidak ada orang sama sekali.


"Nayra.." teriak Devan saat Nayra benar-benar tidak ada di sana.


Faiz dan Nathan mendekati Devan saat mendengar teriakan Devan yang memanggil adik mereka. Mereka kira terjadi sesuatu sama Nayra ternyata memang benar adanya,Nayra tidak ada di tempat terakhir mereka lihat.


"Ayo kita cari. Aku rasa belum jauh dari sini." ajak Faiz pada Devan juga Nathan.


Mereka bergegas keluar dan berpapasan dengan Romi.


"Kalian mau kemana?" tanya Romi


"Ilyas membawa Nayra kabur." jawab Faiz.


Dengan tidak sabar mereka keluar tanpa mencari lagi di dalam vila.

__ADS_1


"Tuan, mobil Ilyas telah pergi, dan sudah ada yang mengikutinya." kata salah seorang anggota timnya Faiz.


Faiz mengangguk dan mereka semua meninggalkan villa tersebut tanpa pengecekan ulang.


__ADS_2