Rahim Pengganti

Rahim Pengganti
Membuat jalan lahir


__ADS_3

Sehabis makan malam Nayra terlihat duduk di gazebo dekat kolam bersama Kiara. Si kecil yang lumayan bar-bar itu terlihat mengelus perut Mamanya dengan gemas dan berbicara sendiri dengan dua adiknya yang sebentar lagi akan keluar itu.


"Mah..nanti kalau adik sudah lahir boleh ya tidur sama Kiara?" tanya Kiara yang masih setia mengelus perut Mamanya.


"Memang Kakak bisa jagain adiknya nanti?" tanya Nayra yang sesekali meringis karena merasakan sakit.


Tadi sore Devan menghubungi Dokter kandungan yang biasa memeriksa Nayra supaya datang ke rumah untuk melihat kondisi Nayra. Karena dia tidak tega melihat Nayra yang kesakitan. Dan Nayra sendiri tidak mau dibawa ke rumah sakit karena kontraksinya tidak sering terjadi.


Setelah diperiksa, Dokter mengatakan kalau belum ada pembukaan dan kontraksi yang Nayra rasakan hanya kontraksi palsu saja.


Dokter juga menyarankan lebih baik di rumah dulu daripada menunggu di rumah sakit nanti bakal lama. Tapi kalau memang mau menunggu di rumah sakit juga boleh. Karena Nayra inginnya di rumah saja, Devan akhirnya menyetujuinya.


"Bisa dong, Ma."


"Kiara kan anak pintar dan hebat."


"Kalau masalah jagain adik mah kecil." kata Kiara dengan gayanya yang sok dewasa.


Nayra tertawa kecil melihat putrinya itu. "Tapi kenapa kalau jagain Dik Eza selalu Kiara bikin nangis?" tanya Nayra mengingat Kiara yang selalu menjahili Eza dan membuat Eza menangis.


"Kiara gemes sama dik Eza,Ma. Bawaannya Kiara ingin gigit pipinya yang gembul itu." Kaira tertawa mengingat pipi Eza yang tembem seperti bakpau.


"Kamu ini." Nayra gemes sendiri dengan putri satu-satunya itu. Dia mengacak kasar rambut Kiara saking gemasnya.


"Ishhhh..Mama..Kan jadi berantakan rambut Kakak." gerutu Kiara sambil membenarkan rambutnya yang panjang.


"Mama.!!"


Nayra menoleh saat suara kecil anak laki-laki memanggilnya. Dia tersenyum pada anak kecil di gendongan Devan.


"Papa boleh gabung nggak nih?" tanya Devan yang datang sambil menggendong Eza di punggung.


"Adik Eza sini!!" seru Kiara yang melihat Eza.


"Kapan adik datangnya?" tanya Kiara setelah Eza sudah diturunkan sama Devan.


"Balu datang kak." jawab Eza yang langsung memeluk Nayra dan Kiara bergantian.


Kiara dan Eza akhirnya asik dengan dunianya sendiri. Mereka turun dari gazebo dan berlari masuk ke rumah mencari Kenan yang sedang asyik bermain PS.


"Sudah sering kontraksinya?" tanya Devan yang mengusap punggung Nayra dengan tangan satunya mengusap perut Nayra dan sesekali di cium perut buncit istrinya itu.


"Lumayan sih, sudah mulai sering meski baru sejam sekali." jawab Nayra yang bersandar di dada Devan.


"Kita kerumah sakit sekarang saja ya." ajak Devan, dia benar tidak tega melihat istrinya menahan sakit seperti itu.


"Nanti aja. Ini masih lama sayang." Nayra memeluk Devan, dia menghirup bau parfum suaminya dalam-dalam dan memejamkan matanya.

__ADS_1


"Kamu wangi banget sih. Aku suka." kata Nayra dengan manja.


Devan tersenyum, "Masa' sih? aku gak pakai parfum loh." kata Devan yang memang tadi sehabis mandi dia tidak memakai parfum, lebih tepatnya lupa.


"Nggak peduli. Aku suka wanginya."


"Dedeknya jadi tenang nggak nendang-nendang lagi." suara Nayra sudah terdengar lemah.


Devan menunduk dan melihat istrinya yang sudah memejamkan matanya dan nafasnya juga sudah teratur. Devan tersenyum tipis.


"Kok tidur sih sayang." Devan menjembel gemas pipi Nayra pelan saat melihat istrinya itu tertidur.


"Aku kuat gak nih gendong kamu?" tanya Devan pada Nayra yang hanya dijawab deheman saja.


Devan mengambil handphone Nayra dan di masukkannya ke saku celana dan mengangkat Nayra perlahan supaya tidak membangunkan istrinya juga tidak menyakiti kedua anaknya yang masih di dalam perut Nayra.


"Wihhhh!!!! Kak Devan gendong tiga orang sekaligus kuat, tapi menghajar satu orang aja gak mampu." ejek Dahlia saat melihat Devan melintas melewati Dahlia dan yang lainnya yang masih duduk di ruang keluarga.


Devan melirik Dahlia dan yang lainnya yang tertawa mengejek dirinya. Dia mendengkus kesal dan berlalu begitu saja masuk ke kamarnya.


Devan meletakkan Nayra di atas ranjang dengan perlahan. Dia ikut naik dan berbaring di samping istrinya sambil mengelus punggung Nayra.


"Keatas sedikit." gumam Nayra dengan mata terpejam.


"Apanya ini yang ke atas sedikit?" goda Devan dengan mengulum senyum menatap wajah istrinya yang semakin bulat karena hamil.


"Bukan yang disitu tapi disini." kesal Nayra karena tangan Devan tidak mengusap punggungnya dengan benar melainkan meremas squishy nya. Dia membuka matanya dan menatap Devan dengan kesal dan cemberut.


"Kenapa?" tanya Devan dengan tampang polos tanpa dosa itu.


"Kalau tangan kamu seperti itu terus yang ada nanti dedeknya minta dijenguk."sungut Nayra dengan kesal.


"Kalau minta dijenguk, Papa siap menjenguknya sekarang." kata Devan sambil memeras pelan squishy Nayra yang semakin membuatnya ketagihan.


"Devan isahh..Ahhh."


"Aku suka suara desahanmu sayang."


Devan mencium sekilas bibir kenyal milik Nayra.


"Kau telah membangunkan singa betina, Devandra Ayasi."


Nayra menarik tengkuk Devan dan mencium bibir Devan dengan rakus. Devan tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. Dia membalasnya tak kalah rakusnya. Devan melepaskan tautan bibirnya sebentar untuk membuka jilbab yang Nayra pakai. Dan kembali dia menyesap dua belahan kenyal itu bergantian atas bawah.


"Kenapa berhenti?" tanya Nayra heran menatap Devan.


"Aku takut kalau aku kelepasan dan membuat kamu kesakitan." jawab Devan sambil mengusap perut Nayra.

__ADS_1


"Nggah apa, sayang."


"Biar cepat lahirnya kamu beri jalan mereka supaya lebih mudah keluarnya." kata Nayra menatap Devan penuh harap.


"Tapi sayang." Devan ragu untuk melakukan itu. Kemarin saja dia begitu panik karena selepas mereka berhubungan Nayra langsung mengalami kontraksi walau kontraksi palsu. Tapi kalau sekarang dia takutnya justru belum sempat dia masuk anaknya keburu keluar lagi. Kan jadi berabe jadinya.


"Ayolah, Dev.." pinta Nayra dengan mengusap rahang tegas Devan dan mengecup rahang itu.


Devan menatap lekat Nayra, istrinya itu semenjak hamil tua tiada hentinya meminta untuk dijenguk. Tidak peduli Devan ada dikantor, Nayra akan menyusulnya dan main di sana.


"Baiklah...Aku akan membuatkan jalan untuk anak kita supaya cepat keluar dan tidak membuat Mamanya kesakitan lagi."


Nayra tersenyum saat Devan melancarkan aksinya. Suara ******* dan lenguhan akhirnya terdengar di kamar yang cukup luas itu.


Devan tak henti-hentinya membuat Nayra berteriak menyebutkan namanya saat dirasa dirinya sudah hampir puncak.


Devan tidak berani bermain kasar ataupun dengan tempo cepat. Dia bermain begitu lembut dengan tempo pelan namun sudah membuat Nayra blingsatan.


"Faster baby...!" geram Nayra yang melihat Devan bermain dengan pelan.


Devan yang sebenarnya juga sudah tidak tahan akhirnya mempercepat temponya.


"Aghhh...Devan sakit..." teriak Nayra yang merasakan sakit tidak seperti biasanya.


Devan sontak menghentikan gerakannya saat mendengar teriakan kesakitan Nyara.


"Sakit Dev..Sepertinya mau lahir." air mata Nayra jatuh begitu saja.


Devan yang sudah berada diujung tanduk dengan terpakasa mengeluarkan ular pitonnya dan segera membersihakan dirinya sebentar sebelum akhirnya membantu Nayra.


"Devan..!!!!" teriak Nayra saat melihat Devan masuk ke kamar mandi. Apa Devan gak mikir apa kondisi istrinya saat ini. Dia justru enak-enakan masuk ke kamar mandi.


"Iya sayang sebentar. Aku ambil wudhu dulu." teriak Devan dari dalam kamar mandi.


Devan kembali ke kamar dengan membawa tisu basah untuk membersikan area bawah istrinya terlebih dahulu.


"Sayang sakit.." Nayra meremas seprai dengan kuat.


"Iya sayang, sabar ya." Devan sudah selesai membersihkan Nayra dan mengambil kembali baju Nayra yang tadi dia lempar. Akan kelamaan jika harus mengganti yang baru karena harus mencari di almari.


"Pakai dulu bajunya." Devan memakaikan kembali baju Nayra yang tadi dia buka sambil membacakan ayat Kursi, ayat 54 surat Al-A’raf, surat Al-Falaq dan An-Nas berharap bisa membuat Nayra lebih tenang lagi.


"Gak kuat Dev, sakit!!" Nayra mencengkram tangan Devan yang akan memakaikan Jilbab di kepala Nayra.


"Sayang ayo cepat pakai jilbabnya, kita ke rumah sakit sekarang." perintah Devan dengan tegas, padahal dia sendiri panik melihat kondisi istrinya saat ini.


Coba saja tadi dia tidak mengikuti keinginann Nayra untuk membuat jalan lahir buat debaynya. Mungkin Devan sudah membawa Nayra dari tadi tanpa harus membersihkan dan membereskan ini itu.

__ADS_1


"Nayra...sayang!!!" pekik Devan saat melihat Nayra tiba-tiba pingsan.


__ADS_2