
Kedua mata khaled melebar. dia menggeram marah dengan wajahnya yang terlihat merah. istrinya, selma dan omer menampilkan wajah bingung mereka melihat khaled yang menampilkan wajah murka mengerikan.
Suara hp khaled berbunyi yaitu sebuah panggipan dari no yang bagi khaled sangat ia hafal meski tidak tersimpan di hpnya.
Lama menatap layar hpnya, khaled berbalik melangkah ke ruang kerjanya. menutup pintu bahkan menguncinya lalu menerima panggilan tersebut setelah beberapa kali.
"apa yang kamu lakukan pada cucuku brengsek! ". teriak khaled murka dengan nafasnya yang naik turun.
Terdengar tawa lebar dari seberang.
"apa itu sapaanmu untuk teman lamamu sobat?! ". kekehnya.
"kebencianmu padaku X? jangan bawa cucuku ke dalam urusan kita, dan apa yang kamu lakukan pada cucuku akan membalasmu serupa".
Lagi lagi terdengar tawa menggelegar di sebarang.
"ucapanmu persis seperti ucapan cucumu Z? ah...aku tidak sepengecut kamu Z dengan melampiaskan pada cucumu, aku hanya selalu setia padamu kawan? aku hanya mau kamu dan...itu, itu konsekuensi yang harus cucumu terima jika menyakiti cucuku".
Khaled menyatukan alisnya. menyakiti? apa maksudnya? apa dia tahu...deniz meminum obat? sial...
Khaled menggeram.
"X? selim...ah, maksudku deniz...".
"bersandiwara untuk cintanya, membiarkan cucuku melawan lebih dari 10 pria sendiri dan dia hanya melihat menyaksikan, cucuku kena tendangan di perutnya di saat dia sedang mengandung dan membuat kandungannya lemah karna shok, apa yang itu pembelaanmu Z? deniz, mencintai cucuku? ". terdengar suara teriakan murka di sebarang.
Khaled melebarkan matanya. ia tidak tahu ini, apa itu benar? kapan dan dimana, kenapa deniz...tidak memberitahunya. tunggu...jadi...pria ini belum tahu itu?.
Entah kenapa khaled merasa lega, paling tidak cucunya deniz dalam ke adaan aman meski tubuhnya sudah babak belur.
"kamu sangat murahan Z? cukup dengan mengambil keturunanmu tanpa memberi perlindungan pada cucuku, apa yang akan terjadi Z? jika aku tidak memberikan anak yang di kandung cucuku".
Khaled tertawa keji.
"kamu tidak akan melakukannya X? dan cucumu akan menepati janjinya, kembalikan keturunanku dan tempatkan semua pada semula! aku tidak mau ada hubungan apapun denganmu".
Gokhan tertawa keji dan keras.
"kamu benar benar brengsek Z? urusan kita tidak sampai di situ, kemarilah dan selesaikan semua brengsek? jangan jadi pecundang yang selalu bersembunyi, kami hanya membutuhkan penjelasan mu brengsek? jelaskan semuanya pada kami". teriak gokhan marah bahkan terlihat urat urat lehernya yang membiru.
"apa yang mau aku jelaskan huh? kalian sama sekali tidak percaya padaku, kalian hanya percaya pada diri kalian sendiri, itu juga berat untukku X? kamu juga tahu itu, kalian percaya? tidak, kalian bahkan menuduh dengan hal yang tidak pernah aku lakukan dan tidak mungkin aku melakukannya".
__ADS_1
"kalau begitu jelaskan pada kami hingga kami percaya, tunjukkan bukti buktimu Z? jangan bersembunyi dan melarikan diri, kami membiarkanmu dan tidak menuntut hanya kami yang masih menganggapmu sebagai teman hingga kamu datang dan menjelaskan semuanya"
"kamu kira V akan percaya? "
Gokhan terdiam. dia menunduk menatap ke lantai wajahnya terlihat sedih.
"kamu tahu? sampai sekarang dia setia sendiri tanpa menikah lagi, kemarilah Z dan selesaikan semuanya". gokhan bersuara lirih.
Khaled mendengus sinis namun dia terlihat sedih dan lemas.
"maksudmu keturunannya itu haram? dan dia menjadi calon menantumu"
Gokhan menarik nafas dan menghelanya dengan perlahan.
"itu rahim seorang wanita yang dia bayar untuk melahirkan anaknya karna dia butuh keturunan untuk mewarisi kekayaannya". gokhan bersuara lemah. setetes air mata mengalir di wajahnya mengingat sahabatnya itu.
Khaled terdiam. ia menarik nafas.
"lepaskan cucuku X? bukankah dia sudah menerima apa yang harus di terima? ".
Gokhan tertawa keras.
"aku menyangka kamu akan marah ketika melihat cucumu begitu".
Gokhan menggeram.
"dulu dan sekarang kamu tetap jadi pengecut Z? tidak bisakah kali ini kamu memperjuangkan cinta cucumu dan dulu kamu membiarkan cintamu di raih orang"
Khaled menatap lurus ke depan.
"semua sudah berlalu dan tidak ada yang melihat ke masa lalu X? "
Gokhan menggertakkan giginya.
"karna itu aku membencimu Z? kemarilah sebelum cucumu berada di tangan Ferdinand dan dia tidak akan melepaskannya".
Kedua mata khaled melebar sempurna. ketakutan jelas terpancar di matanya. dia mau ke sana dan menyelesaikan semuanya tapi sampai sekarang bukti satu satunya yang ia punya keberadaannya sulit untuk ia temui jadi ia hanya bisa terus menunggu sambil mencari lalu membersihkan namanya di benak mereka.
Pagi hari ayla terbangun dari tidurnya dan yang pertama dia lihat adalah sisi lain ranjangnya, yang semalam ada orang namun subuh subuh tadi saat ia bangun mau shalat subuh ia tidak mendapati deniz di ranjangnya, ia pikir deniz di kamar mandi jadi mencoba melihat setelah menunggu beberapa saat lalu saat ia hendak keluar setelah selesai shalat. sudut matanya melihat ke nakas dan mendapati satu kertas kecil di sana.
Menggeram dan memilih tidur kembali sembari menggenggam kertas tersebut.
__ADS_1
Ayla melihat kembali kata demi kata yang tertulis di sana.
"jahat kamu deniz, pergi tanpa membangunkanku". tidak mau memikirkan lagi dan perutnya sudah keroncongan. ayla beranjak turun dari ranjang melangkah ke kamar mandi menyegarkan dirinya dulu baru kemudian ia turun.
"kamu serius? dan...sekarang kamu tidak tahu kemana deniz...?". ayse bertanya khawatir sembari duduk di sofa sedangkan okan mondar mandir tidak jelas.
Omer dan zaki tiba di hadapan ayse dan okan dengan nafas mereka yang naik turun.
"kami sudah memeriksa cctv disekitar area yang kakek bilang tapi tidak ada apapun". omer melangkah duduk di sofa lain. sedangkan zaki memilih berdiri dengan berkacak pinggang.
"ini diluar perkiraanku, aku yakin deniz tidak sadarkan diri dan kakek membawanya ke suatu tempat yang tidak kita ketahui".
Ayse terlihat khawatir lalu matanya membulat ketika melihat ke arah lift yang baru terbuka.
"beyza di sini dan hentikan pembicaraan". ucap ayse lalu dia memperbaiki duduknya.
Okan, omer dan zaki sontak melihat ke arah ayla.
Ayla menyatukan alisnya. tumben kedua kakaknya berada di sini di tambah ini hari libur. juga, tidak ada deniz.
"daddy? daddy tahu deniz kemana? ". tanya ayla sembari melangkah mendekat ke daddynya.
Okan menarik nafas sebelum menjawab.
"dia tidak bilang padamu? "
Ayla menghela nafas pelan. ia menggeleng.
"hanya beberapa kata tertulis tapi tidak bilang dia kemana! daddy, mommy tidak tahu? ".
Ayse dengan cepat menggeleng, tengah malam. ia sedang berada di dunia mimpinya.
Mata omar dan zaki melihat ke dua abangnya.
Dengan alami keduanya menggeleng sedangkan ekspresi wajahnya memperlihatkan kalau mereka tidak peduli. padahal sudah cemas setengah mati.
Ayla menarik nafas malas membalik melangkah ke meja makan.
"kalian sudah sarapan? ". tanya sembari melangkah.
"akan". jawab omer dan zaki serentak mengikuti langkah ayla. omer dan ayse ikut di belakang. sekilas ayse menepuk punda suaminya sebelum melangkah mendahui suami dan kedua putranya.
__ADS_1